alexametrics
22.9 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Sepi Penumpang Tidak Masalah, Keluarga Jadi Motivasi

Menyerah bukan kata yang tepat kala mengabadikan senyuman para tukang becak di tengah peliknya mencari rupiah. Tentu saja, semangat mereka patut ditiru oleh siapa pun. Meski hidup dalam keterbatasan, mereka tidak meminta-minta, apalagi mengambil hak orang lain.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mendung kemarin sore sangat menggugah gairah Suwardi alias Pak Ad untuk mengistirahatkan punggungnya. Dengan gaya khas setiap tukang becak, dia tidur menyamping di atas becaknya dan menyanggakan kepalanya di sela-sela besi penutup becak itu. Tak berselang lama, matanya mulai sayu. Belum lagi, semilir angin kala itu membantunya terlelap.

Dari kejauhan, tidurnya tampak pulas meski lalu lalang kendaraan sangat membisingkan. Belum lagi suara-suara klakson bersahutan di salah satu lampu lalu lintas Jalan Letjen Panjaitan tersebut. Maklum, beberapa jam sebelumnya, kaki ringkihnya baru saja mengayuh becak berkeliling di Pasar Tanjung. Saking lelahnya, keramaian kendaraan itu tak diindahkan olehnya.

Sedang asyik mendengkur, samar-samar bunyi seseorang memanggilnya mulai terdengar. “Ad! Ad!” teriak salah seorang rekannya dari seberang jalan. Suwardi pun mulai terbangun sambil mengernyitkan matanya yang masih terasa kantuk. “Ad! Bangun, Ad!” Panggilan itu semakin nyaring terdengar dengan gestur melambaikan tangan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sontak, Suwardi bangun dari tidurnya dan mulai menarik becaknya. Pikirnya, ada salah seorang penumpang yang hendak menggunakan jasanya. Salah! Teriakan itu ternyata berasal dari salah seorang temannya yang baru saja mendapatkan nasi bungkus. Meski begitu, dia tak mengurungkan niat untuk menyeberang jalan. Pandangannya memperhatikan kepadatan jalan, lalu mencari peluang untuk menyeberang.

“Terima kasih banyak, Pak,” tuturnya kepada salah seorang pembagi nasi bungkus itu. Beberapa tukang becak lain langsung memakan nasi bungkus itu. Namun, Suwardi tampak enggan untuk memakannya dan mengemasnya di sela-sela becaknya. “Biar bisa dinikmati bersama orang rumah,” ungkap warga Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Sumbersari, itu.

Menurut pria yang kerap disapa Pak Ad tersebut, berprofesi sebagai tukang becak saat ini sangatlah susah. Banyak sekali kendalanya. “Mulai kalah saing dengan angkutan lain seperti ojek dan lin kuning, korona, hingga usia,” ungkap pria yang berusia 85 tahun itu.

Apalagi, lanjut dia, sekarang jarang yang mau naik becak. Semua serba dipesan dari HP. Seperti ojek daring. “Belum lagi terkendala usia. Mau ikut orang? Jelas ndak ada yang mau,” ucapnya sembari bercanda.

Menurut dia, kisahnya tak berbeda jauh dengan tukang becak yang mangkal di pinggir-pinggir jalan itu. Hampir semua masalahnya sama. Meski demikian, dia tak lantas berpangku tangan. “Karena itu, kami telateni, sabar, yang ada saja. Yang penting, setiap hari harus narik becak,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mendung kemarin sore sangat menggugah gairah Suwardi alias Pak Ad untuk mengistirahatkan punggungnya. Dengan gaya khas setiap tukang becak, dia tidur menyamping di atas becaknya dan menyanggakan kepalanya di sela-sela besi penutup becak itu. Tak berselang lama, matanya mulai sayu. Belum lagi, semilir angin kala itu membantunya terlelap.

Dari kejauhan, tidurnya tampak pulas meski lalu lalang kendaraan sangat membisingkan. Belum lagi suara-suara klakson bersahutan di salah satu lampu lalu lintas Jalan Letjen Panjaitan tersebut. Maklum, beberapa jam sebelumnya, kaki ringkihnya baru saja mengayuh becak berkeliling di Pasar Tanjung. Saking lelahnya, keramaian kendaraan itu tak diindahkan olehnya.

Sedang asyik mendengkur, samar-samar bunyi seseorang memanggilnya mulai terdengar. “Ad! Ad!” teriak salah seorang rekannya dari seberang jalan. Suwardi pun mulai terbangun sambil mengernyitkan matanya yang masih terasa kantuk. “Ad! Bangun, Ad!” Panggilan itu semakin nyaring terdengar dengan gestur melambaikan tangan.

Sontak, Suwardi bangun dari tidurnya dan mulai menarik becaknya. Pikirnya, ada salah seorang penumpang yang hendak menggunakan jasanya. Salah! Teriakan itu ternyata berasal dari salah seorang temannya yang baru saja mendapatkan nasi bungkus. Meski begitu, dia tak mengurungkan niat untuk menyeberang jalan. Pandangannya memperhatikan kepadatan jalan, lalu mencari peluang untuk menyeberang.

“Terima kasih banyak, Pak,” tuturnya kepada salah seorang pembagi nasi bungkus itu. Beberapa tukang becak lain langsung memakan nasi bungkus itu. Namun, Suwardi tampak enggan untuk memakannya dan mengemasnya di sela-sela becaknya. “Biar bisa dinikmati bersama orang rumah,” ungkap warga Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Sumbersari, itu.

Menurut pria yang kerap disapa Pak Ad tersebut, berprofesi sebagai tukang becak saat ini sangatlah susah. Banyak sekali kendalanya. “Mulai kalah saing dengan angkutan lain seperti ojek dan lin kuning, korona, hingga usia,” ungkap pria yang berusia 85 tahun itu.

Apalagi, lanjut dia, sekarang jarang yang mau naik becak. Semua serba dipesan dari HP. Seperti ojek daring. “Belum lagi terkendala usia. Mau ikut orang? Jelas ndak ada yang mau,” ucapnya sembari bercanda.

Menurut dia, kisahnya tak berbeda jauh dengan tukang becak yang mangkal di pinggir-pinggir jalan itu. Hampir semua masalahnya sama. Meski demikian, dia tak lantas berpangku tangan. “Karena itu, kami telateni, sabar, yang ada saja. Yang penting, setiap hari harus narik becak,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mendung kemarin sore sangat menggugah gairah Suwardi alias Pak Ad untuk mengistirahatkan punggungnya. Dengan gaya khas setiap tukang becak, dia tidur menyamping di atas becaknya dan menyanggakan kepalanya di sela-sela besi penutup becak itu. Tak berselang lama, matanya mulai sayu. Belum lagi, semilir angin kala itu membantunya terlelap.

Dari kejauhan, tidurnya tampak pulas meski lalu lalang kendaraan sangat membisingkan. Belum lagi suara-suara klakson bersahutan di salah satu lampu lalu lintas Jalan Letjen Panjaitan tersebut. Maklum, beberapa jam sebelumnya, kaki ringkihnya baru saja mengayuh becak berkeliling di Pasar Tanjung. Saking lelahnya, keramaian kendaraan itu tak diindahkan olehnya.

Sedang asyik mendengkur, samar-samar bunyi seseorang memanggilnya mulai terdengar. “Ad! Ad!” teriak salah seorang rekannya dari seberang jalan. Suwardi pun mulai terbangun sambil mengernyitkan matanya yang masih terasa kantuk. “Ad! Bangun, Ad!” Panggilan itu semakin nyaring terdengar dengan gestur melambaikan tangan.

Sontak, Suwardi bangun dari tidurnya dan mulai menarik becaknya. Pikirnya, ada salah seorang penumpang yang hendak menggunakan jasanya. Salah! Teriakan itu ternyata berasal dari salah seorang temannya yang baru saja mendapatkan nasi bungkus. Meski begitu, dia tak mengurungkan niat untuk menyeberang jalan. Pandangannya memperhatikan kepadatan jalan, lalu mencari peluang untuk menyeberang.

“Terima kasih banyak, Pak,” tuturnya kepada salah seorang pembagi nasi bungkus itu. Beberapa tukang becak lain langsung memakan nasi bungkus itu. Namun, Suwardi tampak enggan untuk memakannya dan mengemasnya di sela-sela becaknya. “Biar bisa dinikmati bersama orang rumah,” ungkap warga Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Sumbersari, itu.

Menurut pria yang kerap disapa Pak Ad tersebut, berprofesi sebagai tukang becak saat ini sangatlah susah. Banyak sekali kendalanya. “Mulai kalah saing dengan angkutan lain seperti ojek dan lin kuning, korona, hingga usia,” ungkap pria yang berusia 85 tahun itu.

Apalagi, lanjut dia, sekarang jarang yang mau naik becak. Semua serba dipesan dari HP. Seperti ojek daring. “Belum lagi terkendala usia. Mau ikut orang? Jelas ndak ada yang mau,” ucapnya sembari bercanda.

Menurut dia, kisahnya tak berbeda jauh dengan tukang becak yang mangkal di pinggir-pinggir jalan itu. Hampir semua masalahnya sama. Meski demikian, dia tak lantas berpangku tangan. “Karena itu, kami telateni, sabar, yang ada saja. Yang penting, setiap hari harus narik becak,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/