alexametrics
31.3 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Rektor Unipar Lengser Keprabon

Suami Korban Pelecehan Tuntut Permintaan Maaf Terbuka

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus dugaan pelecehan seksual terhadap salah seorang dosen di Universitas PGRI Argopuro (Unipar) Jember memasuki babak baru. Rektor Unipar Prof Rudi Sumiharsono resmi mengundurkan diri dari jabatannya. Guru besar inilah yang diadukan oleh suami korban ke yayasan sebagai terduga pelaku pelecehan.

Kepala Biro Tiga Unipar Zaky Emyus mengatakan, keputusan pencopotan rektor berdasar surat pengunduran diri itu setelah Yayasan Perkumpulan Pembina Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi (PPLP PT) PGRI Jember menggelar rapat internal seusai suami korban melayangkan tuntutan atas penyelesaian kasus asusila tersebut.

Pada pertemuan Kamis (17/6), Zaky memaparkan, sudah dihasilkan keputusan. “Di antaranya, berdasarkan aturan pokok kepegawaian, para pejabat yang melakukan pelanggaran yang dikategorikan pelanggaran berat, maka mau tidak mau harus mengundurkan diri,” kata Zaky, kemarin (18/6).

Mobile_AP_Rectangle 2

Apa yang disampaikan kepala biro yang membidangi perencanaan, humas, dan kerja sama tersebut, rupanya berbeda dengan Surat Keputusan PPLP PT PGRI Jember tertanggal 16 Juni. Surat itu menerangkan, Rektor Rudi bukan mengundurkan diri, melainkan diberhentikan secara hormat oleh yayasan. Selanjutnya, posisi rektor digantikan oleh Wakil Rektor I Unipar Basuki Hadi Prayogo, dengan status pelaksana tugas (Plt).

Zaky menegaskan, yayasan sudah memberikan kebijakan atas kasus tersebut. Ini artinya, apa yang dilakukan oleh Rudi, selanjutnya bersifat pribadi. Jika pihak korban akan meneruskan perkara itu ke jalur hukum, maka bukan lagi wilayah yayasan untuk memberikan intervensi. “Kami dari lembaga tetap menjunjung asas praduga tak bersalah. Ini murni perilaku pribadi, yang sifatnya bukan institusional,” ungkapnya.

Meski telah dilengserkan, bukan berarti status Rudi sebagai dosen juga dicopot. Sebab, perlu proses dan telaah yang mendalam. Dia tetap berstatus tenaga pengajar, meski sampai saat ini Rudi masih dinonaktifkan untuk sementara waktu sebagai dosen, hingga persoalan yang membelitnya ada titik terang. “Kami tidak serta-merta. Masih ditelaah dulu kasusnya,” ucap Zaki, ketika ditemui di Kampus Unipar I, Jalan Jawa, Sumbersari.

Zaki mengungkapkan, dalam penanganan kasus ini, pihaknya tidak membentuk tim khusus. Sebab, ranah dari kasus ini adalah personal, bukan institusional.

Apakah sebelumnya, ada kasus serupa yang dilakukan oleh mantan rektor itu? Zaki menuturkan, peristiwa ini merupakan kali pertama. Sebab, sebelumnya tidak pernah ada laporan atau kasus serupa yang terjadi. “Ini baru yang pertama. Sebelumnya tidak ada riwayat kasus,” tuturnya.

Penelusuran Jawa Pos Radar Jember, kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh guru besar itu bukanlah yang pertama. Sebelumnya, saat menjabat sebagai dekan, Rudi juga dikabarkan melakukan perbuatan yang sama. Korbannya adalah karyawan dan dosen di Unipar. Namun, kasus ini selesai tanpa ada tindak lanjut. Sebab, muncul kekhawatiran jika korban sampai mengadukan hal itu, posisi mereka bisa terancam. “Karena ada relasi kuasa. Dan jika melapor, posisi korban bisa terancam,” ungkap sumber yang enggan disebutkan identitasnya itu.

Rudi Sumiharsono mengakui perbuatannya. Kala itu, dia memang berupaya mencium korban ketika sedang mendatangi kamar hotel tempat anak buahnya tersebut menginap. Namun, usahanya mencium tidak berhasil karena korban terlebih dulu menghindar. “Saya spontanitas ingin mencium dia, tapi dia mengelak. Lalu, saya minta maaf,” bebernya.

Menurutnya, perbuatan itu dia lakukan di hotel tempat diklat di kawasan Tretes, Pasuruan, antara tanggal 4-5 Juni. Saat itu, Rudi berdalih ingin mengajak korban sarapan bersama. Karena itu, dia mendatangi dan mengetuk pintu kamar korban. “Saya ketuk pintu kamarnya. Begitu buka, saya spontanitas ingin mencium dia,” tuturnya.

Seusai peristiwa itu, Rudi keluar. Setelahnya, ia tidak melakukan perbuatan lain yang menjurus pada pelecehan seksual. “Lebih dari itu, tidak ada paksaan,” ungkapnya.

Namun demikian, Rudi menampik jika perbuatan ketika dalam perjalanan di mobil dianggap sebagai bentuk pelecehan seksual. Karena saat itu, dirinya beralasan hanya ingin selonjoran. Sehingga kakinya mengenai tangan korban. “Mungkin kesenggol saja. Saya ya malu melakukan pelecehan dalam mobil. Dikira saya apa-apa,” ucapnya.

Rudi menyatakan sudah berupaya untuk melakukan mediasi dengan korban. Namun, hal itu tidak membuahkan hasil. “Saya minta adanya mediasi. Saya buat pernyataan kesalahan dan kronologisnya,” jelasnya.

Sementara itu, terkait pengunduran dirinya, Rudi menuding ada yang berusaha memolitisasi kasus yang membelitnya itu. Sebab, upaya meminta mediasi agar perkara itu diselesaikan secara kekeluargaan selalu menemui jalan buntu. Bahkan, kemudian muncul gerakan dari dalam kampus yang menuntut dirinya agar lengser keprabon. Inilah yang disebutnya sebagai bentuk ketidakadilan.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus dugaan pelecehan seksual terhadap salah seorang dosen di Universitas PGRI Argopuro (Unipar) Jember memasuki babak baru. Rektor Unipar Prof Rudi Sumiharsono resmi mengundurkan diri dari jabatannya. Guru besar inilah yang diadukan oleh suami korban ke yayasan sebagai terduga pelaku pelecehan.

Kepala Biro Tiga Unipar Zaky Emyus mengatakan, keputusan pencopotan rektor berdasar surat pengunduran diri itu setelah Yayasan Perkumpulan Pembina Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi (PPLP PT) PGRI Jember menggelar rapat internal seusai suami korban melayangkan tuntutan atas penyelesaian kasus asusila tersebut.

Pada pertemuan Kamis (17/6), Zaky memaparkan, sudah dihasilkan keputusan. “Di antaranya, berdasarkan aturan pokok kepegawaian, para pejabat yang melakukan pelanggaran yang dikategorikan pelanggaran berat, maka mau tidak mau harus mengundurkan diri,” kata Zaky, kemarin (18/6).

Apa yang disampaikan kepala biro yang membidangi perencanaan, humas, dan kerja sama tersebut, rupanya berbeda dengan Surat Keputusan PPLP PT PGRI Jember tertanggal 16 Juni. Surat itu menerangkan, Rektor Rudi bukan mengundurkan diri, melainkan diberhentikan secara hormat oleh yayasan. Selanjutnya, posisi rektor digantikan oleh Wakil Rektor I Unipar Basuki Hadi Prayogo, dengan status pelaksana tugas (Plt).

Zaky menegaskan, yayasan sudah memberikan kebijakan atas kasus tersebut. Ini artinya, apa yang dilakukan oleh Rudi, selanjutnya bersifat pribadi. Jika pihak korban akan meneruskan perkara itu ke jalur hukum, maka bukan lagi wilayah yayasan untuk memberikan intervensi. “Kami dari lembaga tetap menjunjung asas praduga tak bersalah. Ini murni perilaku pribadi, yang sifatnya bukan institusional,” ungkapnya.

Meski telah dilengserkan, bukan berarti status Rudi sebagai dosen juga dicopot. Sebab, perlu proses dan telaah yang mendalam. Dia tetap berstatus tenaga pengajar, meski sampai saat ini Rudi masih dinonaktifkan untuk sementara waktu sebagai dosen, hingga persoalan yang membelitnya ada titik terang. “Kami tidak serta-merta. Masih ditelaah dulu kasusnya,” ucap Zaki, ketika ditemui di Kampus Unipar I, Jalan Jawa, Sumbersari.

Zaki mengungkapkan, dalam penanganan kasus ini, pihaknya tidak membentuk tim khusus. Sebab, ranah dari kasus ini adalah personal, bukan institusional.

Apakah sebelumnya, ada kasus serupa yang dilakukan oleh mantan rektor itu? Zaki menuturkan, peristiwa ini merupakan kali pertama. Sebab, sebelumnya tidak pernah ada laporan atau kasus serupa yang terjadi. “Ini baru yang pertama. Sebelumnya tidak ada riwayat kasus,” tuturnya.

Penelusuran Jawa Pos Radar Jember, kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh guru besar itu bukanlah yang pertama. Sebelumnya, saat menjabat sebagai dekan, Rudi juga dikabarkan melakukan perbuatan yang sama. Korbannya adalah karyawan dan dosen di Unipar. Namun, kasus ini selesai tanpa ada tindak lanjut. Sebab, muncul kekhawatiran jika korban sampai mengadukan hal itu, posisi mereka bisa terancam. “Karena ada relasi kuasa. Dan jika melapor, posisi korban bisa terancam,” ungkap sumber yang enggan disebutkan identitasnya itu.

Rudi Sumiharsono mengakui perbuatannya. Kala itu, dia memang berupaya mencium korban ketika sedang mendatangi kamar hotel tempat anak buahnya tersebut menginap. Namun, usahanya mencium tidak berhasil karena korban terlebih dulu menghindar. “Saya spontanitas ingin mencium dia, tapi dia mengelak. Lalu, saya minta maaf,” bebernya.

Menurutnya, perbuatan itu dia lakukan di hotel tempat diklat di kawasan Tretes, Pasuruan, antara tanggal 4-5 Juni. Saat itu, Rudi berdalih ingin mengajak korban sarapan bersama. Karena itu, dia mendatangi dan mengetuk pintu kamar korban. “Saya ketuk pintu kamarnya. Begitu buka, saya spontanitas ingin mencium dia,” tuturnya.

Seusai peristiwa itu, Rudi keluar. Setelahnya, ia tidak melakukan perbuatan lain yang menjurus pada pelecehan seksual. “Lebih dari itu, tidak ada paksaan,” ungkapnya.

Namun demikian, Rudi menampik jika perbuatan ketika dalam perjalanan di mobil dianggap sebagai bentuk pelecehan seksual. Karena saat itu, dirinya beralasan hanya ingin selonjoran. Sehingga kakinya mengenai tangan korban. “Mungkin kesenggol saja. Saya ya malu melakukan pelecehan dalam mobil. Dikira saya apa-apa,” ucapnya.

Rudi menyatakan sudah berupaya untuk melakukan mediasi dengan korban. Namun, hal itu tidak membuahkan hasil. “Saya minta adanya mediasi. Saya buat pernyataan kesalahan dan kronologisnya,” jelasnya.

Sementara itu, terkait pengunduran dirinya, Rudi menuding ada yang berusaha memolitisasi kasus yang membelitnya itu. Sebab, upaya meminta mediasi agar perkara itu diselesaikan secara kekeluargaan selalu menemui jalan buntu. Bahkan, kemudian muncul gerakan dari dalam kampus yang menuntut dirinya agar lengser keprabon. Inilah yang disebutnya sebagai bentuk ketidakadilan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus dugaan pelecehan seksual terhadap salah seorang dosen di Universitas PGRI Argopuro (Unipar) Jember memasuki babak baru. Rektor Unipar Prof Rudi Sumiharsono resmi mengundurkan diri dari jabatannya. Guru besar inilah yang diadukan oleh suami korban ke yayasan sebagai terduga pelaku pelecehan.

Kepala Biro Tiga Unipar Zaky Emyus mengatakan, keputusan pencopotan rektor berdasar surat pengunduran diri itu setelah Yayasan Perkumpulan Pembina Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi (PPLP PT) PGRI Jember menggelar rapat internal seusai suami korban melayangkan tuntutan atas penyelesaian kasus asusila tersebut.

Pada pertemuan Kamis (17/6), Zaky memaparkan, sudah dihasilkan keputusan. “Di antaranya, berdasarkan aturan pokok kepegawaian, para pejabat yang melakukan pelanggaran yang dikategorikan pelanggaran berat, maka mau tidak mau harus mengundurkan diri,” kata Zaky, kemarin (18/6).

Apa yang disampaikan kepala biro yang membidangi perencanaan, humas, dan kerja sama tersebut, rupanya berbeda dengan Surat Keputusan PPLP PT PGRI Jember tertanggal 16 Juni. Surat itu menerangkan, Rektor Rudi bukan mengundurkan diri, melainkan diberhentikan secara hormat oleh yayasan. Selanjutnya, posisi rektor digantikan oleh Wakil Rektor I Unipar Basuki Hadi Prayogo, dengan status pelaksana tugas (Plt).

Zaky menegaskan, yayasan sudah memberikan kebijakan atas kasus tersebut. Ini artinya, apa yang dilakukan oleh Rudi, selanjutnya bersifat pribadi. Jika pihak korban akan meneruskan perkara itu ke jalur hukum, maka bukan lagi wilayah yayasan untuk memberikan intervensi. “Kami dari lembaga tetap menjunjung asas praduga tak bersalah. Ini murni perilaku pribadi, yang sifatnya bukan institusional,” ungkapnya.

Meski telah dilengserkan, bukan berarti status Rudi sebagai dosen juga dicopot. Sebab, perlu proses dan telaah yang mendalam. Dia tetap berstatus tenaga pengajar, meski sampai saat ini Rudi masih dinonaktifkan untuk sementara waktu sebagai dosen, hingga persoalan yang membelitnya ada titik terang. “Kami tidak serta-merta. Masih ditelaah dulu kasusnya,” ucap Zaki, ketika ditemui di Kampus Unipar I, Jalan Jawa, Sumbersari.

Zaki mengungkapkan, dalam penanganan kasus ini, pihaknya tidak membentuk tim khusus. Sebab, ranah dari kasus ini adalah personal, bukan institusional.

Apakah sebelumnya, ada kasus serupa yang dilakukan oleh mantan rektor itu? Zaki menuturkan, peristiwa ini merupakan kali pertama. Sebab, sebelumnya tidak pernah ada laporan atau kasus serupa yang terjadi. “Ini baru yang pertama. Sebelumnya tidak ada riwayat kasus,” tuturnya.

Penelusuran Jawa Pos Radar Jember, kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh guru besar itu bukanlah yang pertama. Sebelumnya, saat menjabat sebagai dekan, Rudi juga dikabarkan melakukan perbuatan yang sama. Korbannya adalah karyawan dan dosen di Unipar. Namun, kasus ini selesai tanpa ada tindak lanjut. Sebab, muncul kekhawatiran jika korban sampai mengadukan hal itu, posisi mereka bisa terancam. “Karena ada relasi kuasa. Dan jika melapor, posisi korban bisa terancam,” ungkap sumber yang enggan disebutkan identitasnya itu.

Rudi Sumiharsono mengakui perbuatannya. Kala itu, dia memang berupaya mencium korban ketika sedang mendatangi kamar hotel tempat anak buahnya tersebut menginap. Namun, usahanya mencium tidak berhasil karena korban terlebih dulu menghindar. “Saya spontanitas ingin mencium dia, tapi dia mengelak. Lalu, saya minta maaf,” bebernya.

Menurutnya, perbuatan itu dia lakukan di hotel tempat diklat di kawasan Tretes, Pasuruan, antara tanggal 4-5 Juni. Saat itu, Rudi berdalih ingin mengajak korban sarapan bersama. Karena itu, dia mendatangi dan mengetuk pintu kamar korban. “Saya ketuk pintu kamarnya. Begitu buka, saya spontanitas ingin mencium dia,” tuturnya.

Seusai peristiwa itu, Rudi keluar. Setelahnya, ia tidak melakukan perbuatan lain yang menjurus pada pelecehan seksual. “Lebih dari itu, tidak ada paksaan,” ungkapnya.

Namun demikian, Rudi menampik jika perbuatan ketika dalam perjalanan di mobil dianggap sebagai bentuk pelecehan seksual. Karena saat itu, dirinya beralasan hanya ingin selonjoran. Sehingga kakinya mengenai tangan korban. “Mungkin kesenggol saja. Saya ya malu melakukan pelecehan dalam mobil. Dikira saya apa-apa,” ucapnya.

Rudi menyatakan sudah berupaya untuk melakukan mediasi dengan korban. Namun, hal itu tidak membuahkan hasil. “Saya minta adanya mediasi. Saya buat pernyataan kesalahan dan kronologisnya,” jelasnya.

Sementara itu, terkait pengunduran dirinya, Rudi menuding ada yang berusaha memolitisasi kasus yang membelitnya itu. Sebab, upaya meminta mediasi agar perkara itu diselesaikan secara kekeluargaan selalu menemui jalan buntu. Bahkan, kemudian muncul gerakan dari dalam kampus yang menuntut dirinya agar lengser keprabon. Inilah yang disebutnya sebagai bentuk ketidakadilan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/