alexametrics
28.6 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Hidup Segan, Mati pun Enggan

Di tengah kemajuan zaman, beragam moda transportasi modern banyak ditawarkan. Lalu, bagaimana dengan jasa angkutan umum yang sudah melegenda seperti lin kuning. Apakah mereka mampu bertahan?

Mobile_AP_Rectangle 1

Memilih jadi supir di masa-masa sulit seperti sekarang, jelas tak pernah tebersit di benak mereka. Namun, mau bagaimana lagi? Mereka sulit banting setir atau mencari alternatif pekerjaan lain. “Kerja apa? Sawah ndak punya. Pingin ikut bus antarkota, nasibnya juga hampir sama,” timpal rekan Tono menyela obrolan.

Selama obrolan, keenam sopir angkot itu belum ada yang jalan. Padahal, kala itu sudah menjelang Duhur. Alih-alih menantikan sopir angkot ini jalan, dari arah belakang malah disusul lagi angkot dari Tawangalun yang baru datang. Juga tanpa penumpang. Sehingga tujuh lin kuning itu sama-sama parkir menanti penumpang. “Ya wis gini ini keseharian kami,” sambung Jimi, sopir angkot lain asal Arjasa.

Ia sepertinya juga merasakan apa yang dirasakan oleh kawan seperjuangannya seperti Tono. Sepi penumpang, sepi pemasukan, dan pasti mengeluarkan duit setiap hari. Kadang, uang di sakunya sebagai modal membeli bahan bakar juga beralih jadi uang makan. “Modal pribadi katut. Bukan sekali dua kali, tapi sering,” tambahnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sebenarnya, dilihat dari kondisi kendaraan, para sopir itu cukup rajin merawat angkot mereka. Karena di sela-sela obrolan, ada dari beberapa sopir yang bersih-bersih armadanya. Bisa jadi mereka berharap, dengan kondisi angkot yang bersih dan kinclong, bisa menjadi daya tarik bagi calon penumpang untuk menggunakan jasa mereka.

Pinginnya itu, ada program khusus untuk sopir angkot. Entah apa. Yang penting kerja kami lebih mudah,” ujar Tono, menambahkan. Ia meyakini, hal itu juga menjadi harapan semua sopir angkot yang lain. “Jalan atau tidak jalan sebenarnya risikonya itu sama. Namun, kami tetap bertahan. Dan tidak ingin mati,” tukasnya.

 

Jurnalis : Maulana
Fotografer : Maulana
Redaktur : Mahrus Sholih

- Advertisement -

Memilih jadi supir di masa-masa sulit seperti sekarang, jelas tak pernah tebersit di benak mereka. Namun, mau bagaimana lagi? Mereka sulit banting setir atau mencari alternatif pekerjaan lain. “Kerja apa? Sawah ndak punya. Pingin ikut bus antarkota, nasibnya juga hampir sama,” timpal rekan Tono menyela obrolan.

Selama obrolan, keenam sopir angkot itu belum ada yang jalan. Padahal, kala itu sudah menjelang Duhur. Alih-alih menantikan sopir angkot ini jalan, dari arah belakang malah disusul lagi angkot dari Tawangalun yang baru datang. Juga tanpa penumpang. Sehingga tujuh lin kuning itu sama-sama parkir menanti penumpang. “Ya wis gini ini keseharian kami,” sambung Jimi, sopir angkot lain asal Arjasa.

Ia sepertinya juga merasakan apa yang dirasakan oleh kawan seperjuangannya seperti Tono. Sepi penumpang, sepi pemasukan, dan pasti mengeluarkan duit setiap hari. Kadang, uang di sakunya sebagai modal membeli bahan bakar juga beralih jadi uang makan. “Modal pribadi katut. Bukan sekali dua kali, tapi sering,” tambahnya.

Sebenarnya, dilihat dari kondisi kendaraan, para sopir itu cukup rajin merawat angkot mereka. Karena di sela-sela obrolan, ada dari beberapa sopir yang bersih-bersih armadanya. Bisa jadi mereka berharap, dengan kondisi angkot yang bersih dan kinclong, bisa menjadi daya tarik bagi calon penumpang untuk menggunakan jasa mereka.

Pinginnya itu, ada program khusus untuk sopir angkot. Entah apa. Yang penting kerja kami lebih mudah,” ujar Tono, menambahkan. Ia meyakini, hal itu juga menjadi harapan semua sopir angkot yang lain. “Jalan atau tidak jalan sebenarnya risikonya itu sama. Namun, kami tetap bertahan. Dan tidak ingin mati,” tukasnya.

 

Jurnalis : Maulana
Fotografer : Maulana
Redaktur : Mahrus Sholih

Memilih jadi supir di masa-masa sulit seperti sekarang, jelas tak pernah tebersit di benak mereka. Namun, mau bagaimana lagi? Mereka sulit banting setir atau mencari alternatif pekerjaan lain. “Kerja apa? Sawah ndak punya. Pingin ikut bus antarkota, nasibnya juga hampir sama,” timpal rekan Tono menyela obrolan.

Selama obrolan, keenam sopir angkot itu belum ada yang jalan. Padahal, kala itu sudah menjelang Duhur. Alih-alih menantikan sopir angkot ini jalan, dari arah belakang malah disusul lagi angkot dari Tawangalun yang baru datang. Juga tanpa penumpang. Sehingga tujuh lin kuning itu sama-sama parkir menanti penumpang. “Ya wis gini ini keseharian kami,” sambung Jimi, sopir angkot lain asal Arjasa.

Ia sepertinya juga merasakan apa yang dirasakan oleh kawan seperjuangannya seperti Tono. Sepi penumpang, sepi pemasukan, dan pasti mengeluarkan duit setiap hari. Kadang, uang di sakunya sebagai modal membeli bahan bakar juga beralih jadi uang makan. “Modal pribadi katut. Bukan sekali dua kali, tapi sering,” tambahnya.

Sebenarnya, dilihat dari kondisi kendaraan, para sopir itu cukup rajin merawat angkot mereka. Karena di sela-sela obrolan, ada dari beberapa sopir yang bersih-bersih armadanya. Bisa jadi mereka berharap, dengan kondisi angkot yang bersih dan kinclong, bisa menjadi daya tarik bagi calon penumpang untuk menggunakan jasa mereka.

Pinginnya itu, ada program khusus untuk sopir angkot. Entah apa. Yang penting kerja kami lebih mudah,” ujar Tono, menambahkan. Ia meyakini, hal itu juga menjadi harapan semua sopir angkot yang lain. “Jalan atau tidak jalan sebenarnya risikonya itu sama. Namun, kami tetap bertahan. Dan tidak ingin mati,” tukasnya.

 

Jurnalis : Maulana
Fotografer : Maulana
Redaktur : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/