alexametrics
24 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Hidup Segan, Mati pun Enggan

Di tengah kemajuan zaman, beragam moda transportasi modern banyak ditawarkan. Lalu, bagaimana dengan jasa angkutan umum yang sudah melegenda seperti lin kuning. Apakah mereka mampu bertahan?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Cuaca siang itu kurang bersahabat. Sedikit mendung. Terlihat, sejumlah orang tengah nongkrong tepat di pintu keberangkatan Terminal Arjasa. Beberapa dari mereka ada yang hanya ngopi, melepas penat, dan leyeh-leyeh.

Namun, di antara mereka, sebagian ada yang terlihat menghitung uang. Tak banyak. Yang kelihatan sepertinya hanya pecahan dua ribuan dan lima ribuan. “Olle berempah gellek? (dapat berapa sejak tadi pagi, Red),” tanya salah seorang yang nongkrong itu ke rekannya. Sang teman tak menjawab. Dia justru sambat.

Sementara, tak jauh dari lokasi mereka nongkrong, sejumlah lin atau angkot kuning berbaris rapi. Tepat di pintu pemberangkatan terminal itu. Jumlahnya ada enam angkot. Dua di antaranya tertulis trayek Pakusari-Arjasa. Sementara sisanya, Arjasa-Tawangalun.

Mobile_AP_Rectangle 2

Jawa Pos Radar Jember mendatangi bapak-bapak yang diketahui para sopir angkutan yang sudah melegenda di Kota Tembakau ini. Rata-rata mereka berusia di atas 30 tahun. “Dapat dua penumpang. Satu ibu-ibu pasar, satunya pengamen,” kata Tono, sopir lin kuning yang baru saja turun dan memarkirkan mobilnya.

Pria yang mengaku dari Lingkungan Sukorejo, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, itu tampak murung. Sebab, sedari pagi, ia baru dapat dua penumpang saja. Itu pun satunya pengamen. Padahal, ia memiliki trayek Terminal Arjasa- Pakusari dan sebaliknya. Wajah muramnya saat itu seolah menampakkan kondisi batinnya. “Yak apa lagi. Angkot ini sudah tidak setenar tahun 90-an dulu,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini.

Seperti halnya angkutan lain, angkot yang dikemudikan Tono itu juga milik seorang juragan. Dia harus menyetor harian. Meski diakuinya, saat ini setoran tersebut tidak begitu ketat. “Karena juragan sudah paham betul kondisi sekarang. Sulit. Ini saja, angkot Arjasa-Pakusari, dari 16 armada, baru tiga yang keluar,” terangnya, sambil menunjuk ke lin kuning miliknya.

Tono mengaku, ia sendiri bukan pendatang baru sebagai sopir angkutan legenda itu. Sejak 1993 lalu, dirinya sudah bekerja menjadi sopir. Ia mengaku, jelas ada perbedaan besar antara zaman dulu dengan sekarang. Terlebih, sejak banyaknya moda transportasi modern macam ojek online, angkot online, dan sejenisnya. Hal itu dirasa menjadi pukulan telak bagi para supir angkot seperti dirinya. “Apalagi ada korona. Waduh! Malah nggak karu-karuan nasib kami,” keluh pria 52 tahun itu.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Cuaca siang itu kurang bersahabat. Sedikit mendung. Terlihat, sejumlah orang tengah nongkrong tepat di pintu keberangkatan Terminal Arjasa. Beberapa dari mereka ada yang hanya ngopi, melepas penat, dan leyeh-leyeh.

Namun, di antara mereka, sebagian ada yang terlihat menghitung uang. Tak banyak. Yang kelihatan sepertinya hanya pecahan dua ribuan dan lima ribuan. “Olle berempah gellek? (dapat berapa sejak tadi pagi, Red),” tanya salah seorang yang nongkrong itu ke rekannya. Sang teman tak menjawab. Dia justru sambat.

Sementara, tak jauh dari lokasi mereka nongkrong, sejumlah lin atau angkot kuning berbaris rapi. Tepat di pintu pemberangkatan terminal itu. Jumlahnya ada enam angkot. Dua di antaranya tertulis trayek Pakusari-Arjasa. Sementara sisanya, Arjasa-Tawangalun.

Jawa Pos Radar Jember mendatangi bapak-bapak yang diketahui para sopir angkutan yang sudah melegenda di Kota Tembakau ini. Rata-rata mereka berusia di atas 30 tahun. “Dapat dua penumpang. Satu ibu-ibu pasar, satunya pengamen,” kata Tono, sopir lin kuning yang baru saja turun dan memarkirkan mobilnya.

Pria yang mengaku dari Lingkungan Sukorejo, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, itu tampak murung. Sebab, sedari pagi, ia baru dapat dua penumpang saja. Itu pun satunya pengamen. Padahal, ia memiliki trayek Terminal Arjasa- Pakusari dan sebaliknya. Wajah muramnya saat itu seolah menampakkan kondisi batinnya. “Yak apa lagi. Angkot ini sudah tidak setenar tahun 90-an dulu,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini.

Seperti halnya angkutan lain, angkot yang dikemudikan Tono itu juga milik seorang juragan. Dia harus menyetor harian. Meski diakuinya, saat ini setoran tersebut tidak begitu ketat. “Karena juragan sudah paham betul kondisi sekarang. Sulit. Ini saja, angkot Arjasa-Pakusari, dari 16 armada, baru tiga yang keluar,” terangnya, sambil menunjuk ke lin kuning miliknya.

Tono mengaku, ia sendiri bukan pendatang baru sebagai sopir angkutan legenda itu. Sejak 1993 lalu, dirinya sudah bekerja menjadi sopir. Ia mengaku, jelas ada perbedaan besar antara zaman dulu dengan sekarang. Terlebih, sejak banyaknya moda transportasi modern macam ojek online, angkot online, dan sejenisnya. Hal itu dirasa menjadi pukulan telak bagi para supir angkot seperti dirinya. “Apalagi ada korona. Waduh! Malah nggak karu-karuan nasib kami,” keluh pria 52 tahun itu.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Cuaca siang itu kurang bersahabat. Sedikit mendung. Terlihat, sejumlah orang tengah nongkrong tepat di pintu keberangkatan Terminal Arjasa. Beberapa dari mereka ada yang hanya ngopi, melepas penat, dan leyeh-leyeh.

Namun, di antara mereka, sebagian ada yang terlihat menghitung uang. Tak banyak. Yang kelihatan sepertinya hanya pecahan dua ribuan dan lima ribuan. “Olle berempah gellek? (dapat berapa sejak tadi pagi, Red),” tanya salah seorang yang nongkrong itu ke rekannya. Sang teman tak menjawab. Dia justru sambat.

Sementara, tak jauh dari lokasi mereka nongkrong, sejumlah lin atau angkot kuning berbaris rapi. Tepat di pintu pemberangkatan terminal itu. Jumlahnya ada enam angkot. Dua di antaranya tertulis trayek Pakusari-Arjasa. Sementara sisanya, Arjasa-Tawangalun.

Jawa Pos Radar Jember mendatangi bapak-bapak yang diketahui para sopir angkutan yang sudah melegenda di Kota Tembakau ini. Rata-rata mereka berusia di atas 30 tahun. “Dapat dua penumpang. Satu ibu-ibu pasar, satunya pengamen,” kata Tono, sopir lin kuning yang baru saja turun dan memarkirkan mobilnya.

Pria yang mengaku dari Lingkungan Sukorejo, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, itu tampak murung. Sebab, sedari pagi, ia baru dapat dua penumpang saja. Itu pun satunya pengamen. Padahal, ia memiliki trayek Terminal Arjasa- Pakusari dan sebaliknya. Wajah muramnya saat itu seolah menampakkan kondisi batinnya. “Yak apa lagi. Angkot ini sudah tidak setenar tahun 90-an dulu,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini.

Seperti halnya angkutan lain, angkot yang dikemudikan Tono itu juga milik seorang juragan. Dia harus menyetor harian. Meski diakuinya, saat ini setoran tersebut tidak begitu ketat. “Karena juragan sudah paham betul kondisi sekarang. Sulit. Ini saja, angkot Arjasa-Pakusari, dari 16 armada, baru tiga yang keluar,” terangnya, sambil menunjuk ke lin kuning miliknya.

Tono mengaku, ia sendiri bukan pendatang baru sebagai sopir angkutan legenda itu. Sejak 1993 lalu, dirinya sudah bekerja menjadi sopir. Ia mengaku, jelas ada perbedaan besar antara zaman dulu dengan sekarang. Terlebih, sejak banyaknya moda transportasi modern macam ojek online, angkot online, dan sejenisnya. Hal itu dirasa menjadi pukulan telak bagi para supir angkot seperti dirinya. “Apalagi ada korona. Waduh! Malah nggak karu-karuan nasib kami,” keluh pria 52 tahun itu.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/