alexametrics
24.3 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Ternyata Ini Kronologi Perampokan dan Pembunuhan di Sekitar Stasiun Jember

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bercak darah segar itu masih berceceran di salah satu ruangan dalam rumah di sekitar stasiun Jember. Persis di depan sofa panjang dan kursi roda. Di luar rumah, warga terus berdatangan. Mereka menyela polisi yang tengah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di sekitar lokasi dugaan perampokan dan pembunuhan, di sekitar Stasiun Jember, Jalan Wijaya Kusuma, Lingkungan Kampung Osing, Kelurahan Jember Lor, Kecamatan Patrang Jember, kemarin (18/1).

Tragedi dugaan perampokan dan pembunuhan ini berawal ketika sang tuan rumah berniat menyambut seseorang yang hendak memperbaiki televisi. Rupanya, niat baik itu harus dibayar dengan nyawa salah satu penghuninya. Siang sekitar pukul 13.30 kemarin, duka menyelimuti keluarga yang tinggal dekat lapangan tenis kawasan Stasiun Jember itu. Meski berada di jantung kota Jember, namun ternyata tidak membuat nyali pelaku dugaan perampokan dan pembunuhan itu ciut.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Jember, siang sebelum kejahatan itu terjadi, pemilik rumah sempat menghubungi Hafid Prasetyo Hadi, warga Dusun Krajan Lama, Desa Bedadung, Kecamatan Pakusari Jember. Oleh pemilik rumah, pelaku dugaan perampokan dan pembunuhan itu diminta memperbaiki televisinya yang rusak. Setibanya di rumah sekitar stasiun Jember itu, pelaku menyimpulkan bahwa perangkat elektronik tersebut tidak bisa digunakan lagi. Sehingga pemilik rumah memintanya membelikan TV baru dengan memberikan uang Rp 2,8 juta.

Mobile_AP_Rectangle 2

Petaka terjadi dari sini. Melihat ada duit di tangan, alih-alih berangkat ke toko, pelaku justru meminta uang tambahan dengan alasan meminjam. Kabarnya, pemilik rumah dengan pelaku dugaan perampokan dan pembunuhan itu sudah saling mengenal sebelumnya, sehingga pelaku berani meminjam uang kepada korban. Namun, korban enggan meminjamkan uang tersebut, hingga membuat lelaki 31 tahun itu marah.

Menurut kepolisian, penghuni rumah ada dua orang. Yakni Sri Budi Asmara Rini alias Ibu Hartono dan Prita Hapsari, anaknya. Belum diketahui secara pasti, kepada siapa pelaku dugaan perampokan dan pembunuhan itu meminta tambahan uang itu. Apakah kepada sang ibu atau anaknya. Namun, berdasarkan laporan kepolisian, yang menjadi korban pertama adalah Prita Hapsari. Perempuan 48 tahun ini ditemukan tewas bersimbah darah di kamar mandi rumahnya. Ditengarai, guru piano tersebut meninggal akibat sabetan pisau yang dilayangkan oleh pelaku. Di lehernya ada luka bekas sayatan benda tajam.

Mengetahui anaknya menjadi korban kekerasan, Ibu Hartono berteriak. Lansia 76 tahun ini meminta tolong. Pekikan itu didengar oleh para tetangga. Pelaku panik dan menganiaya ibu korban. “Kondisi Ibu Hartono mengalami luka mimisan di hidung. Sedangkan Ibu Prita Hapsari kondisinya meninggal dunia,” kata AKP Heri Supadmo, Kapolsek Patrang, melalui keterangan tertulisnya.

Para tetangga yang mendengar jeritan itu segera bergegas. Ada dua orang datang ke lokasi. Pelaku dugaan perempokan dan pembunuhan itu yang melihat dua orang itu kalang kabut. Dia berusaha kabur meninggalkan dua korbannya. Namun, sesampainya di pintu rumah, pelaku dugaan perempokan dan pembunuhan itu sudah dihadang oleh dua lelaki tetangga korban. Mereka sempat berduel.

Namun, pertarungan dua lawan satu tersebut tak berimbang. Sebab, pelaku dugaan perempokan dan pembunuhan itu membawa sebilah pisau, sedangkan warga tidak. Sehingga kedua warga ini turut menjadi sasaran kebrutalan pelaku dugaan perempokan dan pembunuhan itu. Benaya Sangkakala, 35, menderita luka tusuk di bagian leher. Sementara Juan Felix, 20, mengalami luka sayatan di paha kaki sebelah kiri. Mereka dilarikan ke rumah sakit menyusul dua korban sebelumnya.

“Neneknya teriak dan didengar warga sekitar. Lalu, asisten rumah tangga dari tetangga sekitar juga berteriak hingga terdengar warga yang lain,” terang Eko, ketua RW setempat, ketika berada di lokasi kejadian. Menurutnya, korban Prita tinggal berdua bersama sang ibu.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bercak darah segar itu masih berceceran di salah satu ruangan dalam rumah di sekitar stasiun Jember. Persis di depan sofa panjang dan kursi roda. Di luar rumah, warga terus berdatangan. Mereka menyela polisi yang tengah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di sekitar lokasi dugaan perampokan dan pembunuhan, di sekitar Stasiun Jember, Jalan Wijaya Kusuma, Lingkungan Kampung Osing, Kelurahan Jember Lor, Kecamatan Patrang Jember, kemarin (18/1).

Tragedi dugaan perampokan dan pembunuhan ini berawal ketika sang tuan rumah berniat menyambut seseorang yang hendak memperbaiki televisi. Rupanya, niat baik itu harus dibayar dengan nyawa salah satu penghuninya. Siang sekitar pukul 13.30 kemarin, duka menyelimuti keluarga yang tinggal dekat lapangan tenis kawasan Stasiun Jember itu. Meski berada di jantung kota Jember, namun ternyata tidak membuat nyali pelaku dugaan perampokan dan pembunuhan itu ciut.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Jember, siang sebelum kejahatan itu terjadi, pemilik rumah sempat menghubungi Hafid Prasetyo Hadi, warga Dusun Krajan Lama, Desa Bedadung, Kecamatan Pakusari Jember. Oleh pemilik rumah, pelaku dugaan perampokan dan pembunuhan itu diminta memperbaiki televisinya yang rusak. Setibanya di rumah sekitar stasiun Jember itu, pelaku menyimpulkan bahwa perangkat elektronik tersebut tidak bisa digunakan lagi. Sehingga pemilik rumah memintanya membelikan TV baru dengan memberikan uang Rp 2,8 juta.

Petaka terjadi dari sini. Melihat ada duit di tangan, alih-alih berangkat ke toko, pelaku justru meminta uang tambahan dengan alasan meminjam. Kabarnya, pemilik rumah dengan pelaku dugaan perampokan dan pembunuhan itu sudah saling mengenal sebelumnya, sehingga pelaku berani meminjam uang kepada korban. Namun, korban enggan meminjamkan uang tersebut, hingga membuat lelaki 31 tahun itu marah.

Menurut kepolisian, penghuni rumah ada dua orang. Yakni Sri Budi Asmara Rini alias Ibu Hartono dan Prita Hapsari, anaknya. Belum diketahui secara pasti, kepada siapa pelaku dugaan perampokan dan pembunuhan itu meminta tambahan uang itu. Apakah kepada sang ibu atau anaknya. Namun, berdasarkan laporan kepolisian, yang menjadi korban pertama adalah Prita Hapsari. Perempuan 48 tahun ini ditemukan tewas bersimbah darah di kamar mandi rumahnya. Ditengarai, guru piano tersebut meninggal akibat sabetan pisau yang dilayangkan oleh pelaku. Di lehernya ada luka bekas sayatan benda tajam.

Mengetahui anaknya menjadi korban kekerasan, Ibu Hartono berteriak. Lansia 76 tahun ini meminta tolong. Pekikan itu didengar oleh para tetangga. Pelaku panik dan menganiaya ibu korban. “Kondisi Ibu Hartono mengalami luka mimisan di hidung. Sedangkan Ibu Prita Hapsari kondisinya meninggal dunia,” kata AKP Heri Supadmo, Kapolsek Patrang, melalui keterangan tertulisnya.

Para tetangga yang mendengar jeritan itu segera bergegas. Ada dua orang datang ke lokasi. Pelaku dugaan perempokan dan pembunuhan itu yang melihat dua orang itu kalang kabut. Dia berusaha kabur meninggalkan dua korbannya. Namun, sesampainya di pintu rumah, pelaku dugaan perempokan dan pembunuhan itu sudah dihadang oleh dua lelaki tetangga korban. Mereka sempat berduel.

Namun, pertarungan dua lawan satu tersebut tak berimbang. Sebab, pelaku dugaan perempokan dan pembunuhan itu membawa sebilah pisau, sedangkan warga tidak. Sehingga kedua warga ini turut menjadi sasaran kebrutalan pelaku dugaan perempokan dan pembunuhan itu. Benaya Sangkakala, 35, menderita luka tusuk di bagian leher. Sementara Juan Felix, 20, mengalami luka sayatan di paha kaki sebelah kiri. Mereka dilarikan ke rumah sakit menyusul dua korban sebelumnya.

“Neneknya teriak dan didengar warga sekitar. Lalu, asisten rumah tangga dari tetangga sekitar juga berteriak hingga terdengar warga yang lain,” terang Eko, ketua RW setempat, ketika berada di lokasi kejadian. Menurutnya, korban Prita tinggal berdua bersama sang ibu.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bercak darah segar itu masih berceceran di salah satu ruangan dalam rumah di sekitar stasiun Jember. Persis di depan sofa panjang dan kursi roda. Di luar rumah, warga terus berdatangan. Mereka menyela polisi yang tengah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di sekitar lokasi dugaan perampokan dan pembunuhan, di sekitar Stasiun Jember, Jalan Wijaya Kusuma, Lingkungan Kampung Osing, Kelurahan Jember Lor, Kecamatan Patrang Jember, kemarin (18/1).

Tragedi dugaan perampokan dan pembunuhan ini berawal ketika sang tuan rumah berniat menyambut seseorang yang hendak memperbaiki televisi. Rupanya, niat baik itu harus dibayar dengan nyawa salah satu penghuninya. Siang sekitar pukul 13.30 kemarin, duka menyelimuti keluarga yang tinggal dekat lapangan tenis kawasan Stasiun Jember itu. Meski berada di jantung kota Jember, namun ternyata tidak membuat nyali pelaku dugaan perampokan dan pembunuhan itu ciut.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Jember, siang sebelum kejahatan itu terjadi, pemilik rumah sempat menghubungi Hafid Prasetyo Hadi, warga Dusun Krajan Lama, Desa Bedadung, Kecamatan Pakusari Jember. Oleh pemilik rumah, pelaku dugaan perampokan dan pembunuhan itu diminta memperbaiki televisinya yang rusak. Setibanya di rumah sekitar stasiun Jember itu, pelaku menyimpulkan bahwa perangkat elektronik tersebut tidak bisa digunakan lagi. Sehingga pemilik rumah memintanya membelikan TV baru dengan memberikan uang Rp 2,8 juta.

Petaka terjadi dari sini. Melihat ada duit di tangan, alih-alih berangkat ke toko, pelaku justru meminta uang tambahan dengan alasan meminjam. Kabarnya, pemilik rumah dengan pelaku dugaan perampokan dan pembunuhan itu sudah saling mengenal sebelumnya, sehingga pelaku berani meminjam uang kepada korban. Namun, korban enggan meminjamkan uang tersebut, hingga membuat lelaki 31 tahun itu marah.

Menurut kepolisian, penghuni rumah ada dua orang. Yakni Sri Budi Asmara Rini alias Ibu Hartono dan Prita Hapsari, anaknya. Belum diketahui secara pasti, kepada siapa pelaku dugaan perampokan dan pembunuhan itu meminta tambahan uang itu. Apakah kepada sang ibu atau anaknya. Namun, berdasarkan laporan kepolisian, yang menjadi korban pertama adalah Prita Hapsari. Perempuan 48 tahun ini ditemukan tewas bersimbah darah di kamar mandi rumahnya. Ditengarai, guru piano tersebut meninggal akibat sabetan pisau yang dilayangkan oleh pelaku. Di lehernya ada luka bekas sayatan benda tajam.

Mengetahui anaknya menjadi korban kekerasan, Ibu Hartono berteriak. Lansia 76 tahun ini meminta tolong. Pekikan itu didengar oleh para tetangga. Pelaku panik dan menganiaya ibu korban. “Kondisi Ibu Hartono mengalami luka mimisan di hidung. Sedangkan Ibu Prita Hapsari kondisinya meninggal dunia,” kata AKP Heri Supadmo, Kapolsek Patrang, melalui keterangan tertulisnya.

Para tetangga yang mendengar jeritan itu segera bergegas. Ada dua orang datang ke lokasi. Pelaku dugaan perempokan dan pembunuhan itu yang melihat dua orang itu kalang kabut. Dia berusaha kabur meninggalkan dua korbannya. Namun, sesampainya di pintu rumah, pelaku dugaan perempokan dan pembunuhan itu sudah dihadang oleh dua lelaki tetangga korban. Mereka sempat berduel.

Namun, pertarungan dua lawan satu tersebut tak berimbang. Sebab, pelaku dugaan perempokan dan pembunuhan itu membawa sebilah pisau, sedangkan warga tidak. Sehingga kedua warga ini turut menjadi sasaran kebrutalan pelaku dugaan perempokan dan pembunuhan itu. Benaya Sangkakala, 35, menderita luka tusuk di bagian leher. Sementara Juan Felix, 20, mengalami luka sayatan di paha kaki sebelah kiri. Mereka dilarikan ke rumah sakit menyusul dua korban sebelumnya.

“Neneknya teriak dan didengar warga sekitar. Lalu, asisten rumah tangga dari tetangga sekitar juga berteriak hingga terdengar warga yang lain,” terang Eko, ketua RW setempat, ketika berada di lokasi kejadian. Menurutnya, korban Prita tinggal berdua bersama sang ibu.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/