alexametrics
23.7 C
Jember
Saturday, 24 September 2022

Ketimpangan Penguasaan Lahan, Akar Premanisme Berujung Pembakaran di Silo

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Polres Jember terus mengusut teror pembakaran dan perusakan rumah serta kendaraan di dua padukuhan Dusun Baban Timur, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, Jember.

Hasil pendalaman pihak kepolisian, aksi pembakaran sejumlah rumah dan kendaraan milik warga Padukuhan Patungrejo dan Dampikrejo itu, tidak berdiri sendiri. Ada serentetan perkara lain yang mengiringinya. 

Ternyata, mulanya perkara itu dipicu oleh aksi pengeroyokan yang dilakukan oleh sejumlah warga Desa Mulyorejo. Polres Jember telah membekuk lima tersangka yang terlibat dalam aksi tersebut. Kelima tersangka berasal dari Dusun Baban Timur.

Mobile_AP_Rectangle 2

BACA JUGA: Premanisme Disebut Menjadi Muasal Tragedi Pembakaran Rumah di Silo Jember

Mereka adalah AL, 23, warga Patungrejo. AL lebih dulu diamankan polisi pada awal Juli lalu. Berikutnya SL, 37,YN, 50, ZN, 33, dan AZ, 27. Mereka diduga terlibat dalam aksi pengeroyokan terhadap petani kopi asal Desa Banyuanyar, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi.

Pengeroyokan tersebut dilakukan kepada J dan C yang bertempat di Patungrejo. Perkara inilah yang ditengarai menjadi puncak kejengkelan warga Kalibaru yang berujung pembakaran dan perusakan. 

Apalagi, jauh sebelumnya juga telah ada aksi premanisme yang dilakukan oleh beberapa orang dari Mulyorejo. Termasuk kelima tersangka ini.

BACA JUGA: Ini Kronologi dan Data Korban Tragedi Perusakan Pembakaran di Silo Jember

Kapolres Jember AKBP Hery Purnomo membenarkan, kelima tersangka itu juga melakukan aksi premanisme berupa pemalakan. Terutama kepada warga Kalibaru. 

“Dari hasil pemeriksaan yang kami lakukan, kelima tersangka ini memang menjalankan aksi premanismenya sejak tahun 2012 lalu. Terutama kepada warga Kalibaru. Salah satu bentuknya adalah pemalakan setiap panen kopi,” terangnya dalam konferensi pers, hari ini (18/8).

Motif premanisme yang menjadi akar pembalasan itu, lanjut Hery, karena adanya ketimpangan penguasaan lahan kopi. Warga Kalibaru lebih banyak menggarap lahan. Padahal, secara geografis, lahan itu berada di wilayah Mulyorejo, Jember. 

BACA JUGA: Sembilan Orang Ditetapkan Tersangka Kasus Pembakaran di Silo Jember

Ditambah, Hery menyebut, banyak warga Kalibaru petani kopi tidak memiliki izin resmi. Sehingga kondisi inilah yang dimanfaatkan bagi para preman itu untuk menarik upeti dari petani tersebut. 

“Konflik ini terjadi karena penguasaan lahan oleh warga Kalibaru di Jember yang kurang jelas izinnya,” imbuhnya.

Berawal dari gesekan ini, selanjutnya merembet ke aksi pidana lain. Seperti dugaan pengeroyokan dan pemalakan terhadap petani Kalibaru. 

BACA JUGA: Analisis Sosiolog tentang Tragedi Silo: Dipicu Ekonomi hingga Kekuasaan

“Kerusuhan yang terjadi selama ini, diketahui terdapat perselisihan dari dua kelompok. Yakni kelompok petani kpi asal Desa Banyuanyar dan kelompok pman asal Dusun Baban Timur,” jelas Hery.

Saat ini, kelima tersangka telah menjalani pemeriksaan di Polres Jember. Mereka dijerat dengan pasal 170 ayat 1 dan 2 KUHP. Ancaman hukumannya mencapai lima tahun enam bulan penjara. “Hal ini telah melalui proses penyidikan yang kami lakukan,” pungkasnya. (*)

Reporter: Ahmad Ma’mun

Foto      : Ahmad Ma’mun

Editor    : Mahrus Sholih

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Polres Jember terus mengusut teror pembakaran dan perusakan rumah serta kendaraan di dua padukuhan Dusun Baban Timur, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, Jember.

Hasil pendalaman pihak kepolisian, aksi pembakaran sejumlah rumah dan kendaraan milik warga Padukuhan Patungrejo dan Dampikrejo itu, tidak berdiri sendiri. Ada serentetan perkara lain yang mengiringinya. 

Ternyata, mulanya perkara itu dipicu oleh aksi pengeroyokan yang dilakukan oleh sejumlah warga Desa Mulyorejo. Polres Jember telah membekuk lima tersangka yang terlibat dalam aksi tersebut. Kelima tersangka berasal dari Dusun Baban Timur.

BACA JUGA: Premanisme Disebut Menjadi Muasal Tragedi Pembakaran Rumah di Silo Jember

Mereka adalah AL, 23, warga Patungrejo. AL lebih dulu diamankan polisi pada awal Juli lalu. Berikutnya SL, 37,YN, 50, ZN, 33, dan AZ, 27. Mereka diduga terlibat dalam aksi pengeroyokan terhadap petani kopi asal Desa Banyuanyar, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi.

Pengeroyokan tersebut dilakukan kepada J dan C yang bertempat di Patungrejo. Perkara inilah yang ditengarai menjadi puncak kejengkelan warga Kalibaru yang berujung pembakaran dan perusakan. 

Apalagi, jauh sebelumnya juga telah ada aksi premanisme yang dilakukan oleh beberapa orang dari Mulyorejo. Termasuk kelima tersangka ini.

BACA JUGA: Ini Kronologi dan Data Korban Tragedi Perusakan Pembakaran di Silo Jember

Kapolres Jember AKBP Hery Purnomo membenarkan, kelima tersangka itu juga melakukan aksi premanisme berupa pemalakan. Terutama kepada warga Kalibaru. 

“Dari hasil pemeriksaan yang kami lakukan, kelima tersangka ini memang menjalankan aksi premanismenya sejak tahun 2012 lalu. Terutama kepada warga Kalibaru. Salah satu bentuknya adalah pemalakan setiap panen kopi,” terangnya dalam konferensi pers, hari ini (18/8).

Motif premanisme yang menjadi akar pembalasan itu, lanjut Hery, karena adanya ketimpangan penguasaan lahan kopi. Warga Kalibaru lebih banyak menggarap lahan. Padahal, secara geografis, lahan itu berada di wilayah Mulyorejo, Jember. 

BACA JUGA: Sembilan Orang Ditetapkan Tersangka Kasus Pembakaran di Silo Jember

Ditambah, Hery menyebut, banyak warga Kalibaru petani kopi tidak memiliki izin resmi. Sehingga kondisi inilah yang dimanfaatkan bagi para preman itu untuk menarik upeti dari petani tersebut. 

“Konflik ini terjadi karena penguasaan lahan oleh warga Kalibaru di Jember yang kurang jelas izinnya,” imbuhnya.

Berawal dari gesekan ini, selanjutnya merembet ke aksi pidana lain. Seperti dugaan pengeroyokan dan pemalakan terhadap petani Kalibaru. 

BACA JUGA: Analisis Sosiolog tentang Tragedi Silo: Dipicu Ekonomi hingga Kekuasaan

“Kerusuhan yang terjadi selama ini, diketahui terdapat perselisihan dari dua kelompok. Yakni kelompok petani kpi asal Desa Banyuanyar dan kelompok pman asal Dusun Baban Timur,” jelas Hery.

Saat ini, kelima tersangka telah menjalani pemeriksaan di Polres Jember. Mereka dijerat dengan pasal 170 ayat 1 dan 2 KUHP. Ancaman hukumannya mencapai lima tahun enam bulan penjara. “Hal ini telah melalui proses penyidikan yang kami lakukan,” pungkasnya. (*)

Reporter: Ahmad Ma’mun

Foto      : Ahmad Ma’mun

Editor    : Mahrus Sholih

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Polres Jember terus mengusut teror pembakaran dan perusakan rumah serta kendaraan di dua padukuhan Dusun Baban Timur, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, Jember.

Hasil pendalaman pihak kepolisian, aksi pembakaran sejumlah rumah dan kendaraan milik warga Padukuhan Patungrejo dan Dampikrejo itu, tidak berdiri sendiri. Ada serentetan perkara lain yang mengiringinya. 

Ternyata, mulanya perkara itu dipicu oleh aksi pengeroyokan yang dilakukan oleh sejumlah warga Desa Mulyorejo. Polres Jember telah membekuk lima tersangka yang terlibat dalam aksi tersebut. Kelima tersangka berasal dari Dusun Baban Timur.

BACA JUGA: Premanisme Disebut Menjadi Muasal Tragedi Pembakaran Rumah di Silo Jember

Mereka adalah AL, 23, warga Patungrejo. AL lebih dulu diamankan polisi pada awal Juli lalu. Berikutnya SL, 37,YN, 50, ZN, 33, dan AZ, 27. Mereka diduga terlibat dalam aksi pengeroyokan terhadap petani kopi asal Desa Banyuanyar, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi.

Pengeroyokan tersebut dilakukan kepada J dan C yang bertempat di Patungrejo. Perkara inilah yang ditengarai menjadi puncak kejengkelan warga Kalibaru yang berujung pembakaran dan perusakan. 

Apalagi, jauh sebelumnya juga telah ada aksi premanisme yang dilakukan oleh beberapa orang dari Mulyorejo. Termasuk kelima tersangka ini.

BACA JUGA: Ini Kronologi dan Data Korban Tragedi Perusakan Pembakaran di Silo Jember

Kapolres Jember AKBP Hery Purnomo membenarkan, kelima tersangka itu juga melakukan aksi premanisme berupa pemalakan. Terutama kepada warga Kalibaru. 

“Dari hasil pemeriksaan yang kami lakukan, kelima tersangka ini memang menjalankan aksi premanismenya sejak tahun 2012 lalu. Terutama kepada warga Kalibaru. Salah satu bentuknya adalah pemalakan setiap panen kopi,” terangnya dalam konferensi pers, hari ini (18/8).

Motif premanisme yang menjadi akar pembalasan itu, lanjut Hery, karena adanya ketimpangan penguasaan lahan kopi. Warga Kalibaru lebih banyak menggarap lahan. Padahal, secara geografis, lahan itu berada di wilayah Mulyorejo, Jember. 

BACA JUGA: Sembilan Orang Ditetapkan Tersangka Kasus Pembakaran di Silo Jember

Ditambah, Hery menyebut, banyak warga Kalibaru petani kopi tidak memiliki izin resmi. Sehingga kondisi inilah yang dimanfaatkan bagi para preman itu untuk menarik upeti dari petani tersebut. 

“Konflik ini terjadi karena penguasaan lahan oleh warga Kalibaru di Jember yang kurang jelas izinnya,” imbuhnya.

Berawal dari gesekan ini, selanjutnya merembet ke aksi pidana lain. Seperti dugaan pengeroyokan dan pemalakan terhadap petani Kalibaru. 

BACA JUGA: Analisis Sosiolog tentang Tragedi Silo: Dipicu Ekonomi hingga Kekuasaan

“Kerusuhan yang terjadi selama ini, diketahui terdapat perselisihan dari dua kelompok. Yakni kelompok petani kpi asal Desa Banyuanyar dan kelompok pman asal Dusun Baban Timur,” jelas Hery.

Saat ini, kelima tersangka telah menjalani pemeriksaan di Polres Jember. Mereka dijerat dengan pasal 170 ayat 1 dan 2 KUHP. Ancaman hukumannya mencapai lima tahun enam bulan penjara. “Hal ini telah melalui proses penyidikan yang kami lakukan,” pungkasnya. (*)

Reporter: Ahmad Ma’mun

Foto      : Ahmad Ma’mun

Editor    : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/