alexametrics
26.2 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Makan Bersama, Kunjungi Teman, hingga Ziarah Makam Ulama

Dulu, setiap tahun mereka merayakan Lebaran bersama keluarga. Namun sejak pandemi, kebiasaan itu sudah tidak ada lagi. Kendati jauh dari kampung halaman, mereka masih bisa merayakan Idul Fitri bersama. Meski sederhana dan terbatas.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Gema suara takbir bersahutan pagi itu, Kamis (13/5). Banyak orang terlihat berbondong-bondong menuju ke salah satu masjid di sekitar kampus Universitas Jember (Unej). Salah satunya kalangan pemuda yang tak lain adalah mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Jember.

Berpakaian khas daerah, mereka menuju masjid untuk menunaikan salat Idul Fitri. Kendati bukan pakaian baru, sepertinya hal itu tak jadi masalah. Mereka seperti memiliki cara lain dalam memaknai Idul Fitri. “Kami jauh dari keluarga dan kampung halaman. Bisa kumpul silaturahmi seperti ini sudah cukup,” kata Maruwan Wanni, salah satu dari rombongan mahasiswa itu.

Rupanya, para mahasiswa itu berasal dari Himpunan Mahasiswa Pattani di Indonesia (HMPI) Jember. Sejak pandemi 2020 lalu, mahasiswa yang berasal dari wilayah selatan Thailand yang didominasi masyarakat muslim itu sudah dua kali merayakan Lebaran di perantauan. Mereka tidak bisa pulang kampung dan berkumpul bersama keluarganya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Biasanya, kata Maruwan, mereka balik ke kampung halaman. Ongkos pesawat sekali jalan ke Pattani juga terjangkau, sekitar Rp 1-2 juta. Namun sejak pandemi, mereka sudah tidak mudik. Selain karena alasan pembatasan, juga lantara ongkosnya jauh lebih mahal. Sampai Rp 8 jutaan sekali jalan. “Untuk biaya kuliah, itu sudah berapa semester?” ucapnya, membandingkan.

Para mahasiswa ini pun tidak memiliki banyak pilihan saat Lebaran. Meski kerap terkepung rindu suasana kampung halaman dan keluarga di rumah, tapi mereka seperti tidak ada pilihan lain. Untuk mengobati kangen itu, salah satu yang dilakukan adalah merayakan Lebaran bersama teman-teman seperantauan di Jember. “Mereka teman-teman kami. Sudah seperti saudara sendiri,” imbuhnya.

Usai salat Idul Fitri, mereka tak bergegas pulang. Di sekitar area masjid, para mahasiswa ini berbaur dengan orang-orang lain di masjid itu. Seperti ikut tradisi halalbihalal atau saling maaf-memaafkan.

Tak hanya kepada orang-orang, antarsesama kawan seperantauan, mereka juga melakukan hal serupa. Sekitar 40-an mahasiswa anggota HMPI Jember yang berasal dari berbagai kampus, seperti IAIN Jember, Universitas Muhammadiyah Jember, Unej, Universitas Islam Jember (UIJ), dan beberapa kampus lainnya di Jember. “Setelah halalbihalal itu, kami makan bareng,” terang Maruwan, yang juga Sekretaris HMPI Jember.

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UM Jember itu juga menceritakan bedanya nuansa Lebaran di Pattani dan di Jember. Jika di Thailand, banyak daerah jujukan yang bisa mereka datangi. Namun, kalau di Jember, hanya beberapa saja. Meski begitu, soal tradisi, baik di Pattani maupun Jember, tidak jauh berbeda. Yakni sama-sama ada tradisi berkunjung ke rumah keluarga atau sejenis mudik. “Yang pasti pertama kami datangi adalah kosan dan kontrakan teman-teman kami. Sekitaran Jember,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Gema suara takbir bersahutan pagi itu, Kamis (13/5). Banyak orang terlihat berbondong-bondong menuju ke salah satu masjid di sekitar kampus Universitas Jember (Unej). Salah satunya kalangan pemuda yang tak lain adalah mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Jember.

Berpakaian khas daerah, mereka menuju masjid untuk menunaikan salat Idul Fitri. Kendati bukan pakaian baru, sepertinya hal itu tak jadi masalah. Mereka seperti memiliki cara lain dalam memaknai Idul Fitri. “Kami jauh dari keluarga dan kampung halaman. Bisa kumpul silaturahmi seperti ini sudah cukup,” kata Maruwan Wanni, salah satu dari rombongan mahasiswa itu.

Rupanya, para mahasiswa itu berasal dari Himpunan Mahasiswa Pattani di Indonesia (HMPI) Jember. Sejak pandemi 2020 lalu, mahasiswa yang berasal dari wilayah selatan Thailand yang didominasi masyarakat muslim itu sudah dua kali merayakan Lebaran di perantauan. Mereka tidak bisa pulang kampung dan berkumpul bersama keluarganya.

Biasanya, kata Maruwan, mereka balik ke kampung halaman. Ongkos pesawat sekali jalan ke Pattani juga terjangkau, sekitar Rp 1-2 juta. Namun sejak pandemi, mereka sudah tidak mudik. Selain karena alasan pembatasan, juga lantara ongkosnya jauh lebih mahal. Sampai Rp 8 jutaan sekali jalan. “Untuk biaya kuliah, itu sudah berapa semester?” ucapnya, membandingkan.

Para mahasiswa ini pun tidak memiliki banyak pilihan saat Lebaran. Meski kerap terkepung rindu suasana kampung halaman dan keluarga di rumah, tapi mereka seperti tidak ada pilihan lain. Untuk mengobati kangen itu, salah satu yang dilakukan adalah merayakan Lebaran bersama teman-teman seperantauan di Jember. “Mereka teman-teman kami. Sudah seperti saudara sendiri,” imbuhnya.

Usai salat Idul Fitri, mereka tak bergegas pulang. Di sekitar area masjid, para mahasiswa ini berbaur dengan orang-orang lain di masjid itu. Seperti ikut tradisi halalbihalal atau saling maaf-memaafkan.

Tak hanya kepada orang-orang, antarsesama kawan seperantauan, mereka juga melakukan hal serupa. Sekitar 40-an mahasiswa anggota HMPI Jember yang berasal dari berbagai kampus, seperti IAIN Jember, Universitas Muhammadiyah Jember, Unej, Universitas Islam Jember (UIJ), dan beberapa kampus lainnya di Jember. “Setelah halalbihalal itu, kami makan bareng,” terang Maruwan, yang juga Sekretaris HMPI Jember.

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UM Jember itu juga menceritakan bedanya nuansa Lebaran di Pattani dan di Jember. Jika di Thailand, banyak daerah jujukan yang bisa mereka datangi. Namun, kalau di Jember, hanya beberapa saja. Meski begitu, soal tradisi, baik di Pattani maupun Jember, tidak jauh berbeda. Yakni sama-sama ada tradisi berkunjung ke rumah keluarga atau sejenis mudik. “Yang pasti pertama kami datangi adalah kosan dan kontrakan teman-teman kami. Sekitaran Jember,” jelasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Gema suara takbir bersahutan pagi itu, Kamis (13/5). Banyak orang terlihat berbondong-bondong menuju ke salah satu masjid di sekitar kampus Universitas Jember (Unej). Salah satunya kalangan pemuda yang tak lain adalah mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Jember.

Berpakaian khas daerah, mereka menuju masjid untuk menunaikan salat Idul Fitri. Kendati bukan pakaian baru, sepertinya hal itu tak jadi masalah. Mereka seperti memiliki cara lain dalam memaknai Idul Fitri. “Kami jauh dari keluarga dan kampung halaman. Bisa kumpul silaturahmi seperti ini sudah cukup,” kata Maruwan Wanni, salah satu dari rombongan mahasiswa itu.

Rupanya, para mahasiswa itu berasal dari Himpunan Mahasiswa Pattani di Indonesia (HMPI) Jember. Sejak pandemi 2020 lalu, mahasiswa yang berasal dari wilayah selatan Thailand yang didominasi masyarakat muslim itu sudah dua kali merayakan Lebaran di perantauan. Mereka tidak bisa pulang kampung dan berkumpul bersama keluarganya.

Biasanya, kata Maruwan, mereka balik ke kampung halaman. Ongkos pesawat sekali jalan ke Pattani juga terjangkau, sekitar Rp 1-2 juta. Namun sejak pandemi, mereka sudah tidak mudik. Selain karena alasan pembatasan, juga lantara ongkosnya jauh lebih mahal. Sampai Rp 8 jutaan sekali jalan. “Untuk biaya kuliah, itu sudah berapa semester?” ucapnya, membandingkan.

Para mahasiswa ini pun tidak memiliki banyak pilihan saat Lebaran. Meski kerap terkepung rindu suasana kampung halaman dan keluarga di rumah, tapi mereka seperti tidak ada pilihan lain. Untuk mengobati kangen itu, salah satu yang dilakukan adalah merayakan Lebaran bersama teman-teman seperantauan di Jember. “Mereka teman-teman kami. Sudah seperti saudara sendiri,” imbuhnya.

Usai salat Idul Fitri, mereka tak bergegas pulang. Di sekitar area masjid, para mahasiswa ini berbaur dengan orang-orang lain di masjid itu. Seperti ikut tradisi halalbihalal atau saling maaf-memaafkan.

Tak hanya kepada orang-orang, antarsesama kawan seperantauan, mereka juga melakukan hal serupa. Sekitar 40-an mahasiswa anggota HMPI Jember yang berasal dari berbagai kampus, seperti IAIN Jember, Universitas Muhammadiyah Jember, Unej, Universitas Islam Jember (UIJ), dan beberapa kampus lainnya di Jember. “Setelah halalbihalal itu, kami makan bareng,” terang Maruwan, yang juga Sekretaris HMPI Jember.

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UM Jember itu juga menceritakan bedanya nuansa Lebaran di Pattani dan di Jember. Jika di Thailand, banyak daerah jujukan yang bisa mereka datangi. Namun, kalau di Jember, hanya beberapa saja. Meski begitu, soal tradisi, baik di Pattani maupun Jember, tidak jauh berbeda. Yakni sama-sama ada tradisi berkunjung ke rumah keluarga atau sejenis mudik. “Yang pasti pertama kami datangi adalah kosan dan kontrakan teman-teman kami. Sekitaran Jember,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/