alexametrics
25 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Desak Kasus Diusut Tuntas

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus pemerasan berkedok wartawan yang dilakukan empat tersangka, memantik reaksi dari organisasi jurnalis di Jember. Mereka menuntut agar polisi mengusut tuntas kasus tersebut. Sebab, yang dilakukan oleh para tersangka sama sekali tidak mencerminkan tugas seorang jurnalis. Dan yang mereka lakukan murni perbuatan kriminal

Menurut Ketua AJI Jember Ira Rachmawati, unsur pemerasan sangat bertolak belakang dengan kerja-kerja profesi jurnalis. Karena itu, AJI Jember mendesak polisi mengusut tuntas kasus ini. Termasuk kemungkinan adanya korban atau pelaku lain dengan modus yang sama. “Kerja jurnalis terikat dengan kode etik jurnalistik (KEJ). Jadi, sangat berbeda dengan pihak-pihak yang melakukan pemerasan dengan mengatasnamakan wartawan,” katanya, kemarin (16/6).

Ira menegaskan, dalam KEJ pasal 1 disebutkan, wartawan tidak boleh beriktikad buruk dalam melakukan peliputan. Artinya, wartawan tidak boleh memiliki niat secara sengaja untuk menimbulkan kerugian pihak lain. “Selain itu, peliputan juga tidak boleh masuk pada ranah privasi seseorang. Jurnalis yang profesional digaji oleh medianya, bukan dengan cara meminta kepada narasumber,” tuturnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selain itu, dalam pasal 2 KEJ juga ditegaskan bahwa wartawan harus menempuh cara yang profesional dalam melakukan peliputan. Karena itu, dalam melakukan wawancara harus secara patut dan tidak dengan ancaman. “Tidak bisa hanya dengan berbekal kartu pers yang bisa dicetak di mana saja, lantas merasa melakukan perbuatan semena-mena seperti pengancaman,” tambah Ira.

Oleh karena itu, AJI Jember juga menilai, pihak yang melakukan pemerasan tidak bisa berlindung dengan menggunakan dalih kebebasan pers maupun Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. “Kami menilai, ini masuk pidana murni sebagaimana yang diatur dalam KUHP,” jelasnya.

Melalui kasus ini, AJI Jember juga mengajak semua pihak agar berani bersikap tegas menolak pemerasan atau permintaan tertentu dengan ancaman pemberitaan. Dia juga menyarankan agar narasumber melaporkan perbuatan itu kepada polisi jika ada pihak-pihak yang mengatasnamakan jurnalis melakukan hal tersebut. “Tidak semua berani melawan atau melapor. Sehingga terjadi pembiaran yang pada akhirnya merusak citra jurnalis di masyarakat umum. Makanya, hal seperti ini harus dilawan bersama-sama,” tegas Ira.

Organisasi wartawan yang lain juga meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus itu. Sebab, atas ulah mereka, citra wartawan yang benar-benar bekerja untuk publik menjadi tercoreng. “Kami mendukung pihak berwajib agar menuntaskan kasus ini. Termasuk jika ada kemungkinan pelaku lain. Jangan biarkan perkara ini mencoreng nama baik wartawan,” tambah Ihya Ulumuddin, Ketua Forum Wartawan Lintas Media (FWLM) Jember.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus pemerasan berkedok wartawan yang dilakukan empat tersangka, memantik reaksi dari organisasi jurnalis di Jember. Mereka menuntut agar polisi mengusut tuntas kasus tersebut. Sebab, yang dilakukan oleh para tersangka sama sekali tidak mencerminkan tugas seorang jurnalis. Dan yang mereka lakukan murni perbuatan kriminal

Menurut Ketua AJI Jember Ira Rachmawati, unsur pemerasan sangat bertolak belakang dengan kerja-kerja profesi jurnalis. Karena itu, AJI Jember mendesak polisi mengusut tuntas kasus ini. Termasuk kemungkinan adanya korban atau pelaku lain dengan modus yang sama. “Kerja jurnalis terikat dengan kode etik jurnalistik (KEJ). Jadi, sangat berbeda dengan pihak-pihak yang melakukan pemerasan dengan mengatasnamakan wartawan,” katanya, kemarin (16/6).

Ira menegaskan, dalam KEJ pasal 1 disebutkan, wartawan tidak boleh beriktikad buruk dalam melakukan peliputan. Artinya, wartawan tidak boleh memiliki niat secara sengaja untuk menimbulkan kerugian pihak lain. “Selain itu, peliputan juga tidak boleh masuk pada ranah privasi seseorang. Jurnalis yang profesional digaji oleh medianya, bukan dengan cara meminta kepada narasumber,” tuturnya.

Selain itu, dalam pasal 2 KEJ juga ditegaskan bahwa wartawan harus menempuh cara yang profesional dalam melakukan peliputan. Karena itu, dalam melakukan wawancara harus secara patut dan tidak dengan ancaman. “Tidak bisa hanya dengan berbekal kartu pers yang bisa dicetak di mana saja, lantas merasa melakukan perbuatan semena-mena seperti pengancaman,” tambah Ira.

Oleh karena itu, AJI Jember juga menilai, pihak yang melakukan pemerasan tidak bisa berlindung dengan menggunakan dalih kebebasan pers maupun Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. “Kami menilai, ini masuk pidana murni sebagaimana yang diatur dalam KUHP,” jelasnya.

Melalui kasus ini, AJI Jember juga mengajak semua pihak agar berani bersikap tegas menolak pemerasan atau permintaan tertentu dengan ancaman pemberitaan. Dia juga menyarankan agar narasumber melaporkan perbuatan itu kepada polisi jika ada pihak-pihak yang mengatasnamakan jurnalis melakukan hal tersebut. “Tidak semua berani melawan atau melapor. Sehingga terjadi pembiaran yang pada akhirnya merusak citra jurnalis di masyarakat umum. Makanya, hal seperti ini harus dilawan bersama-sama,” tegas Ira.

Organisasi wartawan yang lain juga meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus itu. Sebab, atas ulah mereka, citra wartawan yang benar-benar bekerja untuk publik menjadi tercoreng. “Kami mendukung pihak berwajib agar menuntaskan kasus ini. Termasuk jika ada kemungkinan pelaku lain. Jangan biarkan perkara ini mencoreng nama baik wartawan,” tambah Ihya Ulumuddin, Ketua Forum Wartawan Lintas Media (FWLM) Jember.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus pemerasan berkedok wartawan yang dilakukan empat tersangka, memantik reaksi dari organisasi jurnalis di Jember. Mereka menuntut agar polisi mengusut tuntas kasus tersebut. Sebab, yang dilakukan oleh para tersangka sama sekali tidak mencerminkan tugas seorang jurnalis. Dan yang mereka lakukan murni perbuatan kriminal

Menurut Ketua AJI Jember Ira Rachmawati, unsur pemerasan sangat bertolak belakang dengan kerja-kerja profesi jurnalis. Karena itu, AJI Jember mendesak polisi mengusut tuntas kasus ini. Termasuk kemungkinan adanya korban atau pelaku lain dengan modus yang sama. “Kerja jurnalis terikat dengan kode etik jurnalistik (KEJ). Jadi, sangat berbeda dengan pihak-pihak yang melakukan pemerasan dengan mengatasnamakan wartawan,” katanya, kemarin (16/6).

Ira menegaskan, dalam KEJ pasal 1 disebutkan, wartawan tidak boleh beriktikad buruk dalam melakukan peliputan. Artinya, wartawan tidak boleh memiliki niat secara sengaja untuk menimbulkan kerugian pihak lain. “Selain itu, peliputan juga tidak boleh masuk pada ranah privasi seseorang. Jurnalis yang profesional digaji oleh medianya, bukan dengan cara meminta kepada narasumber,” tuturnya.

Selain itu, dalam pasal 2 KEJ juga ditegaskan bahwa wartawan harus menempuh cara yang profesional dalam melakukan peliputan. Karena itu, dalam melakukan wawancara harus secara patut dan tidak dengan ancaman. “Tidak bisa hanya dengan berbekal kartu pers yang bisa dicetak di mana saja, lantas merasa melakukan perbuatan semena-mena seperti pengancaman,” tambah Ira.

Oleh karena itu, AJI Jember juga menilai, pihak yang melakukan pemerasan tidak bisa berlindung dengan menggunakan dalih kebebasan pers maupun Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. “Kami menilai, ini masuk pidana murni sebagaimana yang diatur dalam KUHP,” jelasnya.

Melalui kasus ini, AJI Jember juga mengajak semua pihak agar berani bersikap tegas menolak pemerasan atau permintaan tertentu dengan ancaman pemberitaan. Dia juga menyarankan agar narasumber melaporkan perbuatan itu kepada polisi jika ada pihak-pihak yang mengatasnamakan jurnalis melakukan hal tersebut. “Tidak semua berani melawan atau melapor. Sehingga terjadi pembiaran yang pada akhirnya merusak citra jurnalis di masyarakat umum. Makanya, hal seperti ini harus dilawan bersama-sama,” tegas Ira.

Organisasi wartawan yang lain juga meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus itu. Sebab, atas ulah mereka, citra wartawan yang benar-benar bekerja untuk publik menjadi tercoreng. “Kami mendukung pihak berwajib agar menuntaskan kasus ini. Termasuk jika ada kemungkinan pelaku lain. Jangan biarkan perkara ini mencoreng nama baik wartawan,” tambah Ihya Ulumuddin, Ketua Forum Wartawan Lintas Media (FWLM) Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/