alexametrics
28.6 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Kalau Dirumahkan, Mereka Mau Bekerja di Mana?

Badai pandemi mengakibatkan jasa penginapan terkena turbulensi. Bahkan, ada yang sampai melakukan efisiensi dengan merumahkan pegawai. Meski begitu, ada juga yang sekuat tenaga mempertahankan karyawannya. Salah satunya adalah pemilik hotel di Jalan Kalimantan, Sumbersari.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID –  Senyum dua orang yang sedang bercengkerama itu tampak jelas dari depan meja resepsionis. Mereka tampak hangat seperti dua saudara yang lama tak bersua. Hingga kemudian, ucapan salah seorang di antara mereka memecah sore yang dingin itu. “Mau pesan berapa kamar, Mas?” canda salah seorang pegawai, Rafi, kepada bosnya sendiri, Ahmad Muntaha. Kelakar itu kerap dilontarkan Rafi ketika bosnya meninjau penginapan.

Seperti diketahui, sektor pariwisata dan jasa penginapan merupakan salah satu jenis usaha yang paling terdampak pandemi. Termasuk tempat kerja Rafi. “Dulu saya kewalahan menjawab pertanyaan pelanggan yang datang. Sekarang sangat sepi. Jadi, suka bercanda dengan bos seperti ketika melayani tamu,” ungkap pria berusia 21 tahun itu.

Warga yang tinggal di Jalan Moch Sroedji, Kelurahan/Kecamatan Patrang, tersebut mengaku, pengunjung mengalami penurunan drastis saat kampus diliburkan. “Saking terpuruknya, bahkan untuk membayar operasional listrik saja tidak cukup,” ucap Muntaha, sang juragan. Sementara di tempat usahanya, ada tujuh karyawan yang harus dihidupi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Di tengah situasi sulit, dia mulai mendengar ada kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan istilah ‘dirumahkan’ di sektor jasa penginapan. Sempat berpikir hal itu menjadi pilihan untuk mengurangi biaya operasional. Namun, niat itu diurungkan. Dia menegaskan, tak akan merumahkan para pegawainya. “Kalau dirumahkan, mereka mau bekerja di mana?” ujarnya.

Sebab, Muntaha berprinsip, adalah hal yang kurang baik jika memecat karyawan hanya untuk menjaga supaya usaha miliknya terus berjalan. Sebab, setiap jenis usaha apa pun, pasti bakal mengalami keterpurukan. “Mereka sudah susah payah dengan saya. Masa pas terpuruk, saya menyingkirkan mereka. Kan kasihan,” katanya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID –  Senyum dua orang yang sedang bercengkerama itu tampak jelas dari depan meja resepsionis. Mereka tampak hangat seperti dua saudara yang lama tak bersua. Hingga kemudian, ucapan salah seorang di antara mereka memecah sore yang dingin itu. “Mau pesan berapa kamar, Mas?” canda salah seorang pegawai, Rafi, kepada bosnya sendiri, Ahmad Muntaha. Kelakar itu kerap dilontarkan Rafi ketika bosnya meninjau penginapan.

Seperti diketahui, sektor pariwisata dan jasa penginapan merupakan salah satu jenis usaha yang paling terdampak pandemi. Termasuk tempat kerja Rafi. “Dulu saya kewalahan menjawab pertanyaan pelanggan yang datang. Sekarang sangat sepi. Jadi, suka bercanda dengan bos seperti ketika melayani tamu,” ungkap pria berusia 21 tahun itu.

Warga yang tinggal di Jalan Moch Sroedji, Kelurahan/Kecamatan Patrang, tersebut mengaku, pengunjung mengalami penurunan drastis saat kampus diliburkan. “Saking terpuruknya, bahkan untuk membayar operasional listrik saja tidak cukup,” ucap Muntaha, sang juragan. Sementara di tempat usahanya, ada tujuh karyawan yang harus dihidupi.

Di tengah situasi sulit, dia mulai mendengar ada kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan istilah ‘dirumahkan’ di sektor jasa penginapan. Sempat berpikir hal itu menjadi pilihan untuk mengurangi biaya operasional. Namun, niat itu diurungkan. Dia menegaskan, tak akan merumahkan para pegawainya. “Kalau dirumahkan, mereka mau bekerja di mana?” ujarnya.

Sebab, Muntaha berprinsip, adalah hal yang kurang baik jika memecat karyawan hanya untuk menjaga supaya usaha miliknya terus berjalan. Sebab, setiap jenis usaha apa pun, pasti bakal mengalami keterpurukan. “Mereka sudah susah payah dengan saya. Masa pas terpuruk, saya menyingkirkan mereka. Kan kasihan,” katanya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID –  Senyum dua orang yang sedang bercengkerama itu tampak jelas dari depan meja resepsionis. Mereka tampak hangat seperti dua saudara yang lama tak bersua. Hingga kemudian, ucapan salah seorang di antara mereka memecah sore yang dingin itu. “Mau pesan berapa kamar, Mas?” canda salah seorang pegawai, Rafi, kepada bosnya sendiri, Ahmad Muntaha. Kelakar itu kerap dilontarkan Rafi ketika bosnya meninjau penginapan.

Seperti diketahui, sektor pariwisata dan jasa penginapan merupakan salah satu jenis usaha yang paling terdampak pandemi. Termasuk tempat kerja Rafi. “Dulu saya kewalahan menjawab pertanyaan pelanggan yang datang. Sekarang sangat sepi. Jadi, suka bercanda dengan bos seperti ketika melayani tamu,” ungkap pria berusia 21 tahun itu.

Warga yang tinggal di Jalan Moch Sroedji, Kelurahan/Kecamatan Patrang, tersebut mengaku, pengunjung mengalami penurunan drastis saat kampus diliburkan. “Saking terpuruknya, bahkan untuk membayar operasional listrik saja tidak cukup,” ucap Muntaha, sang juragan. Sementara di tempat usahanya, ada tujuh karyawan yang harus dihidupi.

Di tengah situasi sulit, dia mulai mendengar ada kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan istilah ‘dirumahkan’ di sektor jasa penginapan. Sempat berpikir hal itu menjadi pilihan untuk mengurangi biaya operasional. Namun, niat itu diurungkan. Dia menegaskan, tak akan merumahkan para pegawainya. “Kalau dirumahkan, mereka mau bekerja di mana?” ujarnya.

Sebab, Muntaha berprinsip, adalah hal yang kurang baik jika memecat karyawan hanya untuk menjaga supaya usaha miliknya terus berjalan. Sebab, setiap jenis usaha apa pun, pasti bakal mengalami keterpurukan. “Mereka sudah susah payah dengan saya. Masa pas terpuruk, saya menyingkirkan mereka. Kan kasihan,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/