Tukad Banyuraras yang berada di Desa Banjarasem yang mulai mengalami surut aliran air sungai karena kemarau panjang. (Juliadi/Radar Bali)

DENPASAR – Kemarau panjang yang sedang terjadi di Bali berdampak panjang. Sejumlah kabupaten di sisi barat, utara, dan timur Bali krisis air bersih.

IKLAN

Pemerintah, swasta, dan kalangan LSM ikut turun tangan mengatasi kekeringan panjang ini. Berikut tips mengatasi kekeringan versi BPBD Bali:

Pertama, manfaatkan sumber air yang ada secara efektif dan efesien.

Kedua, Tanam pohon sebanyak-banyaknya dilingkungan kita.

Ketiga, membuat dan memperbanyak resapan air dengan sumur resapan dan ruang terbuka hijau.

Keempat, membuat waduk (embung) disesuaikan dengan keadaan lingkungan.

Kelima, memberikan perlindungan sumber-sumber air bersih yang tersedia dan melakukan konservasi air.

Keenam, memprioritaskan pemanfaatan sumber air yang tersedia untuk keperluan air baku untuk air bersih.

Lalu bagaimana jika sudah terkena bencana kekeringan? BPBD Bali memberikan setidaknya empat saran yang bisa dilakukan masyarakat terdampak.

Pertama, membuat sumur bor untuk mendapatkan air bersih. Kedua, menyediakan air bersih dengan mobil tangki yang sudah disediakan oleh dinas terkait.

Ketiga, melakukan penyemaian awan di daerah tangkapan hujan. Keempat menyediakan pompa air dan melakukan pengaturan pemberian air bagi pertanian.

“Kampanye dan tips siaga kekeringan sudah lama kami sosialaisasikan kepada publik. Mungkin ini bisa dijadikan point-point untuk langkah atau upaya

yang kami lakukan sebagai tindakan preventif pada saat menghadapi kemarau panjang seperti kali ini,” ujar Kepala BPBD Provinsi Bali I Made Rentin.

(rb/ara/mus/JPR)