BIKIN SENGSARA: Air PDAM yang menyembur dari titik pipa yang bocor di Kawasan Manukan kemarin (14/10). (Riana Setiawan/Jawa Pos)

JawaPos.com – Air PDAM di kawasan Manukan Kasman, RT 7, RW 10, Kelurahan Manukan Kulon, Tandes, hampir dua minggu ini tidak mengalir. Pipa PDAM di Jalan Manukan Kulon bocor imbas pengerjaan proyek box culvert Sememi. Warga terpaksa ngirit air setiap hari.

IKLAN

Dewi Herawati, warga Manukan Kasman 1 Nomor 16 A, RT 7, RW 10, mengatakan, sebelum pengerjaan proyek melewati jembatan Manukan Kulon, air yang mengalir ke rumahnya lancar-lancar saja. Namun, setelah ada pembongkaran jembatan, airnya langsung berhenti mengalir.

Menurut dia, selama hampir dua minggu itu, air hanya mengalir sekali. Itu pun kecil dan tidak lama. ”Gemericik gitu mas. Itu pun sekali. Selanjutnya mati sampai sekarang,” terangnya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Dewi terpaksa membeli air seharga Rp 5 ribu per jeriken.

Air jeriken itu digunakan untuk kebutuhan mandi dan cuci. Untuk kebutuhan memasak dan minum, dia membeli air galon isi ulang seharga Rp 4 ribu–Rp 5 ribu per galon. Karena air yang terbatas itulah, Dewi dan anak serta cucunya hanya bisa mandi sekali sehari. Itu pun harus irit. Bahkan, Jefren, cucunya yang biasanya mandi sendiri, harus dimandikan. ”Ya kalau dibiarkan mandi sendiri, air cepat habis,” ujarnya.

Hal serupa dialami Kamsiani. Perempuan warga Manukan Kasman tersebut mengaku krisis air. Suaminya sampai jarang mandi di rumah. Dia terpaksa mandi di tempat kerjanya di Jalan Arjuno. ”Demi air untuk anak-anaknya yang sekolah, ya suami saya ngalah. Mandi di gereja tempat dia bekerja,” tutur Kamsiani.

Sebelumnya, jika air PDAM mati, biasanya tidak lama, dia dan warga lain bisa mengambil air di sumur tetangga untuk kebutuhan sehari-hari. Nah, air sumur itu ternyata sudah berbau. Ttidak layak pakai. Akhirnya warga mengandalkan air galon dan jeriken.

Warga sebenarnya kewalahan. Karena harus mengeluarkan uang lebih banyak dari biasanya. ”Bayangkan. Harga air 10 jeriken Rp 50 ribu, habis dua hari. ditambah galon, berapa coba pengaluaran saya,” ujarnya.

Sementara itu, Manager Humas PDAM Surabaya Adi Nugroho membenarkan bahwa distribusi air ke pelanggan sekitar Manukan Kasman atau di sekitar Jalan Kyai Amir memang tidak lancar. Hal itu disebabkan adanya kebocoran pipa diameter 200 akibat aktivitas pengerukan peralatan berat proyek box culvert Sememi.

Adi menambahkan, air di sana memang belum bisa normal. Sebab, hingga tadi malam, PDAM masih memasang pipa alternatif ukuran 200 milimeter dan 300 milimeter di sekitar proyek box culvert. Pipa itu digunakan untuk mendistribusikan air ke pelanggan yang terdampak

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : his/c25/eko