alexametrics
23.7 C
Jember
Sunday, 25 September 2022

Bikin Haru, Alasan Pria di Jember Curi Motor demi Biaya Sekolah Anaknya

Ditangkap Saat Menemani Buah Hatinya Belajar di Teras

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Proses penyidikan kasus pencurian motor di Polsek Tempurejo, Jember, diwarnai suasana haru. Saat polisi meminta keterangan Joko Supa’at, tersangka kasus pencurian itu, dia tiba-tiba sesenggukan.

Pria 34 tahun ini menangis setelah mengingat anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Apalagi, aksi pencurian itu dia lakukan untuk membiaya kebutuhan sekolah buah hatinya tersebut.

Kasus pencurian yang satu ini memang berbeda dengan yang lain. Karena saat polisi menangkap warga Dusun Karangtemplek, Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu ini, dia tengah menemani sang anak belajar di teras rumah.

Mobile_AP_Rectangle 2

Bahkan, ketika melihat polisi datang menghampirinya, pria pekerja serabutan ini bukannya lari, tapi justru menyambut para petugas tersebut. Dia juga tak melawan dan pasrah saat dibawa ke Polsek Tempurejo.

“Saya tahu kalau anggota polisi yang datang untuk menangkap. Saya hanya pasrah karena saya memang salah. Dan apa yang saya lakukan ini karena sangat terdesak kebutuhan untuk membiayai sekolah anak,”ujar Joko, sambil menangis.

Joko mengaku, saat ini anaknya masih duduk di bangku kelas enam di salah satu SD di Kecamatan Ambulu. Tangisnya kembali pecah ketika mengingat proses penangkapan dirinya. Kala itu, Joko sedang menemani sang anak belajar.

“Saya tidak kuat menahan tangis karena masih ingat saat saya dijemput polisi sedang menemani anak belajar di teras. Saya jujur, uang hasil penjualan motor yang saya curi sebesar Rp 2,8 juta untuk biaya sekolah anak,” ucap Joko, saat dimintai keterangan di Polsek Tempurejo, Selasa (16/8).

Tersangka ditangkap karena mencuri Honda Beat pada Mei lalu. Saat itu, korban M Rizki Galih Wicaksono, 27, warga Dusun Kebonsari, Desa Sabrang, Kecamatan Ambulu, sedang memasang terop di rumah Budi, Desa Sidodadi, Kecamatan Tempurejo. Setelah memasang terop, motor yang diparkir sudah raib.

Terungkapnya kasus pencurian ini juga unik. Karena korban sendiri yang mengungkap pencurian tersebut. Saat dirinya memasang terop di wilayah Tempurejo pada 8 Agustus, dia meminjam motor ke salah seorang panitia pengajian. Tak disangka, motor yang ia pinjam ternyata adalah miliknya yang hilang tiga bulan sebelumnya.

Korban lantas melaporkan hal itu ke Polsek Tempurejo. Tak lama kemudian, polisi bergerak dengan menangkap tersangka dan menyita barang bukti motor tersebut.

“Setelah mendapat laporan, kami langsung melakukan penyelidikan. Ternyata motor yang dikendarai itu dibeli dari Joko Supa’at yang kini sudah kami tetapkan sebagai tersangka,” jelas Aipda M Nur Afandi, Kanit Reskrim Polsek Tempurejo. (*)

Reporter: Jumai

Foto      : Jumai

Editor   : Mahrus Sholih

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Proses penyidikan kasus pencurian motor di Polsek Tempurejo, Jember, diwarnai suasana haru. Saat polisi meminta keterangan Joko Supa’at, tersangka kasus pencurian itu, dia tiba-tiba sesenggukan.

Pria 34 tahun ini menangis setelah mengingat anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Apalagi, aksi pencurian itu dia lakukan untuk membiaya kebutuhan sekolah buah hatinya tersebut.

Kasus pencurian yang satu ini memang berbeda dengan yang lain. Karena saat polisi menangkap warga Dusun Karangtemplek, Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu ini, dia tengah menemani sang anak belajar di teras rumah.

Bahkan, ketika melihat polisi datang menghampirinya, pria pekerja serabutan ini bukannya lari, tapi justru menyambut para petugas tersebut. Dia juga tak melawan dan pasrah saat dibawa ke Polsek Tempurejo.

“Saya tahu kalau anggota polisi yang datang untuk menangkap. Saya hanya pasrah karena saya memang salah. Dan apa yang saya lakukan ini karena sangat terdesak kebutuhan untuk membiayai sekolah anak,”ujar Joko, sambil menangis.

Joko mengaku, saat ini anaknya masih duduk di bangku kelas enam di salah satu SD di Kecamatan Ambulu. Tangisnya kembali pecah ketika mengingat proses penangkapan dirinya. Kala itu, Joko sedang menemani sang anak belajar.

“Saya tidak kuat menahan tangis karena masih ingat saat saya dijemput polisi sedang menemani anak belajar di teras. Saya jujur, uang hasil penjualan motor yang saya curi sebesar Rp 2,8 juta untuk biaya sekolah anak,” ucap Joko, saat dimintai keterangan di Polsek Tempurejo, Selasa (16/8).

Tersangka ditangkap karena mencuri Honda Beat pada Mei lalu. Saat itu, korban M Rizki Galih Wicaksono, 27, warga Dusun Kebonsari, Desa Sabrang, Kecamatan Ambulu, sedang memasang terop di rumah Budi, Desa Sidodadi, Kecamatan Tempurejo. Setelah memasang terop, motor yang diparkir sudah raib.

Terungkapnya kasus pencurian ini juga unik. Karena korban sendiri yang mengungkap pencurian tersebut. Saat dirinya memasang terop di wilayah Tempurejo pada 8 Agustus, dia meminjam motor ke salah seorang panitia pengajian. Tak disangka, motor yang ia pinjam ternyata adalah miliknya yang hilang tiga bulan sebelumnya.

Korban lantas melaporkan hal itu ke Polsek Tempurejo. Tak lama kemudian, polisi bergerak dengan menangkap tersangka dan menyita barang bukti motor tersebut.

“Setelah mendapat laporan, kami langsung melakukan penyelidikan. Ternyata motor yang dikendarai itu dibeli dari Joko Supa’at yang kini sudah kami tetapkan sebagai tersangka,” jelas Aipda M Nur Afandi, Kanit Reskrim Polsek Tempurejo. (*)

Reporter: Jumai

Foto      : Jumai

Editor   : Mahrus Sholih

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Proses penyidikan kasus pencurian motor di Polsek Tempurejo, Jember, diwarnai suasana haru. Saat polisi meminta keterangan Joko Supa’at, tersangka kasus pencurian itu, dia tiba-tiba sesenggukan.

Pria 34 tahun ini menangis setelah mengingat anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Apalagi, aksi pencurian itu dia lakukan untuk membiaya kebutuhan sekolah buah hatinya tersebut.

Kasus pencurian yang satu ini memang berbeda dengan yang lain. Karena saat polisi menangkap warga Dusun Karangtemplek, Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu ini, dia tengah menemani sang anak belajar di teras rumah.

Bahkan, ketika melihat polisi datang menghampirinya, pria pekerja serabutan ini bukannya lari, tapi justru menyambut para petugas tersebut. Dia juga tak melawan dan pasrah saat dibawa ke Polsek Tempurejo.

“Saya tahu kalau anggota polisi yang datang untuk menangkap. Saya hanya pasrah karena saya memang salah. Dan apa yang saya lakukan ini karena sangat terdesak kebutuhan untuk membiayai sekolah anak,”ujar Joko, sambil menangis.

Joko mengaku, saat ini anaknya masih duduk di bangku kelas enam di salah satu SD di Kecamatan Ambulu. Tangisnya kembali pecah ketika mengingat proses penangkapan dirinya. Kala itu, Joko sedang menemani sang anak belajar.

“Saya tidak kuat menahan tangis karena masih ingat saat saya dijemput polisi sedang menemani anak belajar di teras. Saya jujur, uang hasil penjualan motor yang saya curi sebesar Rp 2,8 juta untuk biaya sekolah anak,” ucap Joko, saat dimintai keterangan di Polsek Tempurejo, Selasa (16/8).

Tersangka ditangkap karena mencuri Honda Beat pada Mei lalu. Saat itu, korban M Rizki Galih Wicaksono, 27, warga Dusun Kebonsari, Desa Sabrang, Kecamatan Ambulu, sedang memasang terop di rumah Budi, Desa Sidodadi, Kecamatan Tempurejo. Setelah memasang terop, motor yang diparkir sudah raib.

Terungkapnya kasus pencurian ini juga unik. Karena korban sendiri yang mengungkap pencurian tersebut. Saat dirinya memasang terop di wilayah Tempurejo pada 8 Agustus, dia meminjam motor ke salah seorang panitia pengajian. Tak disangka, motor yang ia pinjam ternyata adalah miliknya yang hilang tiga bulan sebelumnya.

Korban lantas melaporkan hal itu ke Polsek Tempurejo. Tak lama kemudian, polisi bergerak dengan menangkap tersangka dan menyita barang bukti motor tersebut.

“Setelah mendapat laporan, kami langsung melakukan penyelidikan. Ternyata motor yang dikendarai itu dibeli dari Joko Supa’at yang kini sudah kami tetapkan sebagai tersangka,” jelas Aipda M Nur Afandi, Kanit Reskrim Polsek Tempurejo. (*)

Reporter: Jumai

Foto      : Jumai

Editor   : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/