alexametrics
24.1 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Akhirnya RH Buka Suara

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sudah sepekan kasus dugaan pencabulan yang menyeret dosen Universitas Jember (Unej) berinisial RH berjalan. Serangkaian proses juga telah dilalui. RH dipanggil dua kali oleh pihak kepolisian. Pemanggilan pertama berlangsung pada 8 April dan diinterogasi berkisar lima jam. Kedua pada 12 April melalui gelar perkara. Selama ini, RH selalu bungkam tentang kasus yang menjeratnya itu. Kemarin (15/4), melalui keterangan tertulis, RH buka suara.

Jawa Pos Radar Jember berusaha memberi ruang kepada RH untuk mengonfirmasi pemberitaan sebelumnya. Rabu (13/4), RH sempat bersedia melakukan wawancara didampingi oleh pengacaranya. Namun, urung dilakukan. RH memilih untuk memberikan jawaban dalam bentuk tulisan melalui siaran pers. “Tapi kalo pertanyaan tertulis saya mungkin bisa menimbang,” ungkap RH melalui pesan WhatshApp, kemarin (15/4).

Melalui siaran pers tersebut, pihak RH menegaskan, sejak awal berita diturunkan, cara pertama yang ditempuh pihaknya dalam menyelesaikan kasus itu adalah lewat jalur kekeluargaan. RH menganggap, tudingan pencabulan yang menyeretnya merupakan masalah yang didominasi oleh konflik keluarga.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dalam keterangan tertulis itu, RH menyebut, setelah orang tua Nada (bukan nama sebenarnya) bercerai, Nada tidak tinggal dengan ibunya. Nada sempat tinggal di beberapa keluarga terdekat untuk diasuh. Dan yang paling lama mengasuh adalah RH dan istrinya. Klaim RH, pihaknya sudah mengasuh sejak usia 7 tahun.

Versi RH, sebelum orang tuanya bercerai, Nada telah dititipkan oleh orang tuanya agar diasuh oleh RH dan istrinya. Kala itu, mereka berdomisili di Jakarta dan bermasalah secara ekonomi. Karenanya, ayah Nada meminta kepada RH dan istrinya agar mengasuh buah hati mereka. Kala itu, Nada masih 7 tahun atau kelas 2 SD. Dua tahun setelahnya, karena RH harus tugas sekolah ke luar negeri bersama istri, maka Nada dikembalikan kepada orang tuanya.

Ketika RH dan istrinya sedang berada di luar negeri terdengar kabar bahwa orang tua Nada bercerai. Keterangan yang didapat RH, perceraian terjadi lantaran ada orang ketiga hinga membuat hubungan orang tua Nada tidak harmonis. Akhirnya, Nada dan adiknya ikut sang ayah. Kemudian, ketika Nada beranjak ke jenjang SMA pada 2019, ayah Nada kembali menitipkan putrinya ke RH dan istrinya.

Melalui siaran pers yang sama, RH mengungkapkan, belakangan diketahui sejak awal masuk SMA, Nada tidak pernah betah tinggal di Jember. Namun, dia menuding, orang tua Nada tidak memedulikan. Rupanya, sejak awal memang tidak ada kesepakatan antara kedua orang tua Nada mengenai hak asuh yang berujung pada pertikaian internal di keluarga. Sang ibu meminta Nada dikembalikan kepadanya. Namun, sang ayah tidak menyetujui.

Sebelumnya, sang ibu, yang juga merupakan pelapor, sempat menyampaikan bahwa ketika Nada menginjak SMA, putrinya itu hendak tinggal bersama dirinya. Namun, sang ayah tidak setuju, sehingga Nada dititipkan pada keluarga RH. “Anak saya tinggal dengan pelaku itu tanpa persetujuan saya. Hanya papanya,” kata ibu Nada, Rabu (7/4) lalu.

 

Perceraian Berdampak pada Anak

Terlepas dari kasus yang menyeret RH dan klaim konflik di internal keluarga mereka, perceraian memang berdampak pada anak. Pakar psikologi IAIN Jember, Muhib Alwi menjelaskan, perceraian menjadi masalah yang berdampak pada anak karena anak memiliki harapan untuk mendapat perhatian dari orang tuanya.

Menurutnya, ketika anak sudah memosisikan dirinya pada perilaku lekat, yakni meniru, kemudian menyandarkan diri pada orang tuanya, dan ternyata orang tuanya berpisah, maka muncul kekecewaan. Biasanya dilampiaskan dalam berbagai bentuk sikap.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sudah sepekan kasus dugaan pencabulan yang menyeret dosen Universitas Jember (Unej) berinisial RH berjalan. Serangkaian proses juga telah dilalui. RH dipanggil dua kali oleh pihak kepolisian. Pemanggilan pertama berlangsung pada 8 April dan diinterogasi berkisar lima jam. Kedua pada 12 April melalui gelar perkara. Selama ini, RH selalu bungkam tentang kasus yang menjeratnya itu. Kemarin (15/4), melalui keterangan tertulis, RH buka suara.

Jawa Pos Radar Jember berusaha memberi ruang kepada RH untuk mengonfirmasi pemberitaan sebelumnya. Rabu (13/4), RH sempat bersedia melakukan wawancara didampingi oleh pengacaranya. Namun, urung dilakukan. RH memilih untuk memberikan jawaban dalam bentuk tulisan melalui siaran pers. “Tapi kalo pertanyaan tertulis saya mungkin bisa menimbang,” ungkap RH melalui pesan WhatshApp, kemarin (15/4).

Melalui siaran pers tersebut, pihak RH menegaskan, sejak awal berita diturunkan, cara pertama yang ditempuh pihaknya dalam menyelesaikan kasus itu adalah lewat jalur kekeluargaan. RH menganggap, tudingan pencabulan yang menyeretnya merupakan masalah yang didominasi oleh konflik keluarga.

Dalam keterangan tertulis itu, RH menyebut, setelah orang tua Nada (bukan nama sebenarnya) bercerai, Nada tidak tinggal dengan ibunya. Nada sempat tinggal di beberapa keluarga terdekat untuk diasuh. Dan yang paling lama mengasuh adalah RH dan istrinya. Klaim RH, pihaknya sudah mengasuh sejak usia 7 tahun.

Versi RH, sebelum orang tuanya bercerai, Nada telah dititipkan oleh orang tuanya agar diasuh oleh RH dan istrinya. Kala itu, mereka berdomisili di Jakarta dan bermasalah secara ekonomi. Karenanya, ayah Nada meminta kepada RH dan istrinya agar mengasuh buah hati mereka. Kala itu, Nada masih 7 tahun atau kelas 2 SD. Dua tahun setelahnya, karena RH harus tugas sekolah ke luar negeri bersama istri, maka Nada dikembalikan kepada orang tuanya.

Ketika RH dan istrinya sedang berada di luar negeri terdengar kabar bahwa orang tua Nada bercerai. Keterangan yang didapat RH, perceraian terjadi lantaran ada orang ketiga hinga membuat hubungan orang tua Nada tidak harmonis. Akhirnya, Nada dan adiknya ikut sang ayah. Kemudian, ketika Nada beranjak ke jenjang SMA pada 2019, ayah Nada kembali menitipkan putrinya ke RH dan istrinya.

Melalui siaran pers yang sama, RH mengungkapkan, belakangan diketahui sejak awal masuk SMA, Nada tidak pernah betah tinggal di Jember. Namun, dia menuding, orang tua Nada tidak memedulikan. Rupanya, sejak awal memang tidak ada kesepakatan antara kedua orang tua Nada mengenai hak asuh yang berujung pada pertikaian internal di keluarga. Sang ibu meminta Nada dikembalikan kepadanya. Namun, sang ayah tidak menyetujui.

Sebelumnya, sang ibu, yang juga merupakan pelapor, sempat menyampaikan bahwa ketika Nada menginjak SMA, putrinya itu hendak tinggal bersama dirinya. Namun, sang ayah tidak setuju, sehingga Nada dititipkan pada keluarga RH. “Anak saya tinggal dengan pelaku itu tanpa persetujuan saya. Hanya papanya,” kata ibu Nada, Rabu (7/4) lalu.

 

Perceraian Berdampak pada Anak

Terlepas dari kasus yang menyeret RH dan klaim konflik di internal keluarga mereka, perceraian memang berdampak pada anak. Pakar psikologi IAIN Jember, Muhib Alwi menjelaskan, perceraian menjadi masalah yang berdampak pada anak karena anak memiliki harapan untuk mendapat perhatian dari orang tuanya.

Menurutnya, ketika anak sudah memosisikan dirinya pada perilaku lekat, yakni meniru, kemudian menyandarkan diri pada orang tuanya, dan ternyata orang tuanya berpisah, maka muncul kekecewaan. Biasanya dilampiaskan dalam berbagai bentuk sikap.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sudah sepekan kasus dugaan pencabulan yang menyeret dosen Universitas Jember (Unej) berinisial RH berjalan. Serangkaian proses juga telah dilalui. RH dipanggil dua kali oleh pihak kepolisian. Pemanggilan pertama berlangsung pada 8 April dan diinterogasi berkisar lima jam. Kedua pada 12 April melalui gelar perkara. Selama ini, RH selalu bungkam tentang kasus yang menjeratnya itu. Kemarin (15/4), melalui keterangan tertulis, RH buka suara.

Jawa Pos Radar Jember berusaha memberi ruang kepada RH untuk mengonfirmasi pemberitaan sebelumnya. Rabu (13/4), RH sempat bersedia melakukan wawancara didampingi oleh pengacaranya. Namun, urung dilakukan. RH memilih untuk memberikan jawaban dalam bentuk tulisan melalui siaran pers. “Tapi kalo pertanyaan tertulis saya mungkin bisa menimbang,” ungkap RH melalui pesan WhatshApp, kemarin (15/4).

Melalui siaran pers tersebut, pihak RH menegaskan, sejak awal berita diturunkan, cara pertama yang ditempuh pihaknya dalam menyelesaikan kasus itu adalah lewat jalur kekeluargaan. RH menganggap, tudingan pencabulan yang menyeretnya merupakan masalah yang didominasi oleh konflik keluarga.

Dalam keterangan tertulis itu, RH menyebut, setelah orang tua Nada (bukan nama sebenarnya) bercerai, Nada tidak tinggal dengan ibunya. Nada sempat tinggal di beberapa keluarga terdekat untuk diasuh. Dan yang paling lama mengasuh adalah RH dan istrinya. Klaim RH, pihaknya sudah mengasuh sejak usia 7 tahun.

Versi RH, sebelum orang tuanya bercerai, Nada telah dititipkan oleh orang tuanya agar diasuh oleh RH dan istrinya. Kala itu, mereka berdomisili di Jakarta dan bermasalah secara ekonomi. Karenanya, ayah Nada meminta kepada RH dan istrinya agar mengasuh buah hati mereka. Kala itu, Nada masih 7 tahun atau kelas 2 SD. Dua tahun setelahnya, karena RH harus tugas sekolah ke luar negeri bersama istri, maka Nada dikembalikan kepada orang tuanya.

Ketika RH dan istrinya sedang berada di luar negeri terdengar kabar bahwa orang tua Nada bercerai. Keterangan yang didapat RH, perceraian terjadi lantaran ada orang ketiga hinga membuat hubungan orang tua Nada tidak harmonis. Akhirnya, Nada dan adiknya ikut sang ayah. Kemudian, ketika Nada beranjak ke jenjang SMA pada 2019, ayah Nada kembali menitipkan putrinya ke RH dan istrinya.

Melalui siaran pers yang sama, RH mengungkapkan, belakangan diketahui sejak awal masuk SMA, Nada tidak pernah betah tinggal di Jember. Namun, dia menuding, orang tua Nada tidak memedulikan. Rupanya, sejak awal memang tidak ada kesepakatan antara kedua orang tua Nada mengenai hak asuh yang berujung pada pertikaian internal di keluarga. Sang ibu meminta Nada dikembalikan kepadanya. Namun, sang ayah tidak menyetujui.

Sebelumnya, sang ibu, yang juga merupakan pelapor, sempat menyampaikan bahwa ketika Nada menginjak SMA, putrinya itu hendak tinggal bersama dirinya. Namun, sang ayah tidak setuju, sehingga Nada dititipkan pada keluarga RH. “Anak saya tinggal dengan pelaku itu tanpa persetujuan saya. Hanya papanya,” kata ibu Nada, Rabu (7/4) lalu.

 

Perceraian Berdampak pada Anak

Terlepas dari kasus yang menyeret RH dan klaim konflik di internal keluarga mereka, perceraian memang berdampak pada anak. Pakar psikologi IAIN Jember, Muhib Alwi menjelaskan, perceraian menjadi masalah yang berdampak pada anak karena anak memiliki harapan untuk mendapat perhatian dari orang tuanya.

Menurutnya, ketika anak sudah memosisikan dirinya pada perilaku lekat, yakni meniru, kemudian menyandarkan diri pada orang tuanya, dan ternyata orang tuanya berpisah, maka muncul kekecewaan. Biasanya dilampiaskan dalam berbagai bentuk sikap.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/