alexametrics
26.8 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Dampak Gempa Terbaru, 55 Bangunan Rusak

Penyebabnya, Kualitas Struktur Bangunan Lemah

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jumlah bangunan rusak akibat gempa dengan kekuatan 6,7 skala Richter (SR) di selatan Pulau Jawa, akhir pekan kemarin, terus bertambah. Data setelah gempa melanda ada 10 rumah yang rusak. Kini, jumlahnya telah mencapai 55 bangunan. Rusaknya bangunan yang menyebar di berbagai lokasi, terutama perdesaan, menandakan kualitas struktur bangunan masih lemah karena tidak kuat menahan getaran.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badang Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember Penta Satria mengatakan, data BPBD Jember per 13 April kemarin, jumlah rumah yang terdampak terus bertambah dibandingkan awal gempa terjadi. Walau begitu, sejauh ini belum ada laporan korban jiwa akibat lindu tersebut. Hanya ada dua warga yang mengalami luka-luka. “Sekarang ada 55 bangunan rusak akibat gempa dan tersebar di 19 kecamatan, 32 desa, dan tiga kelurahan,” paparnya.

Menurut Penta, 55 bangunan rusak akibat gempa itu terdiri atas 32 rumah rusak ringan, 19 rumah rusak sedang, dan empat rumah rusak berat. Sementara itu, fasilitas ibadah dan kesehatan masing-masing dua bangunan yang rusak. Empat rumah rusak berat tersebut, dua rumah di Klungkung, Sukorambi, satu rumah di Desa Badean, Bangsalsari, dan satu rumah di Desa Glundengan, Wuluhan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sementara, untuk fasilitas kesehatan yang terdampak ada di dua pelayanan kesehatan masyarakat (PKM), yaitu di Sumbersari dan Puger. Sedangkan fasilitas ibadah berupa musala di Desa Klungkung, Sukorambi, dan masjid di Desa Panduman, Jelbuk.

Kerusakan bangunan akibat gempa tersebut menyebar di berbagai titik. Tidak satu lokasi atau lokasi yang paling berdekatan dengan pusat gempa. Bila melihat data rumah rusak akibat gempa, justru banyak ditemukan di perdesaan. Bahkan, lokasi desanya pun lebih jauh daripada desa terdekat lokasi gempa seperti wilayah Puger, Gumukmas, atau Kencong.

Melihat kondisi itu, menurut Penta, menandakan bahwa struktur bangunan tersebut kurang kokoh. Selain itu, usia bangunan yang telah tua. “Kalau ada rumah rusak dan tidak karena gempa, berarti melihat dulu kualitas struktur bangunan itu dan usia bangunannya. Bila kerusakan semua rumah rusak dalam satu lokasi, berarti ada struktur tanahnya yang bermasalah,” terangnya.

Sementara, untuk bantuan, Penta menambahkan, walau pada awal tahun belum ada APBD dan baru saja APBD disahkan oleh Gubernur Jawa Timur, namun untuk masyarakat yang terkena dampak bencana, termasuk bencana gempa akhir pekan kemarin, BPBD Jember masih memiliki persediaan barang untuk penyaluran bantuan. “Kami masih punya stok barang persediaan,” ucapnya.

Stok barang bantuan itu adalah sisa pengadaan tahun kemarin. Termasuk juga stok bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BPBD Jatim. Bantuan tersebut di antaranya bahan makanan, serta family kit, yaitu untuk kebutuhan sandang. “Family kit itu ada alat masak, tikar, alat mandi, termasuk juga ada diapers,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jumlah bangunan rusak akibat gempa dengan kekuatan 6,7 skala Richter (SR) di selatan Pulau Jawa, akhir pekan kemarin, terus bertambah. Data setelah gempa melanda ada 10 rumah yang rusak. Kini, jumlahnya telah mencapai 55 bangunan. Rusaknya bangunan yang menyebar di berbagai lokasi, terutama perdesaan, menandakan kualitas struktur bangunan masih lemah karena tidak kuat menahan getaran.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badang Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember Penta Satria mengatakan, data BPBD Jember per 13 April kemarin, jumlah rumah yang terdampak terus bertambah dibandingkan awal gempa terjadi. Walau begitu, sejauh ini belum ada laporan korban jiwa akibat lindu tersebut. Hanya ada dua warga yang mengalami luka-luka. “Sekarang ada 55 bangunan rusak akibat gempa dan tersebar di 19 kecamatan, 32 desa, dan tiga kelurahan,” paparnya.

Menurut Penta, 55 bangunan rusak akibat gempa itu terdiri atas 32 rumah rusak ringan, 19 rumah rusak sedang, dan empat rumah rusak berat. Sementara itu, fasilitas ibadah dan kesehatan masing-masing dua bangunan yang rusak. Empat rumah rusak berat tersebut, dua rumah di Klungkung, Sukorambi, satu rumah di Desa Badean, Bangsalsari, dan satu rumah di Desa Glundengan, Wuluhan.

Sementara, untuk fasilitas kesehatan yang terdampak ada di dua pelayanan kesehatan masyarakat (PKM), yaitu di Sumbersari dan Puger. Sedangkan fasilitas ibadah berupa musala di Desa Klungkung, Sukorambi, dan masjid di Desa Panduman, Jelbuk.

Kerusakan bangunan akibat gempa tersebut menyebar di berbagai titik. Tidak satu lokasi atau lokasi yang paling berdekatan dengan pusat gempa. Bila melihat data rumah rusak akibat gempa, justru banyak ditemukan di perdesaan. Bahkan, lokasi desanya pun lebih jauh daripada desa terdekat lokasi gempa seperti wilayah Puger, Gumukmas, atau Kencong.

Melihat kondisi itu, menurut Penta, menandakan bahwa struktur bangunan tersebut kurang kokoh. Selain itu, usia bangunan yang telah tua. “Kalau ada rumah rusak dan tidak karena gempa, berarti melihat dulu kualitas struktur bangunan itu dan usia bangunannya. Bila kerusakan semua rumah rusak dalam satu lokasi, berarti ada struktur tanahnya yang bermasalah,” terangnya.

Sementara, untuk bantuan, Penta menambahkan, walau pada awal tahun belum ada APBD dan baru saja APBD disahkan oleh Gubernur Jawa Timur, namun untuk masyarakat yang terkena dampak bencana, termasuk bencana gempa akhir pekan kemarin, BPBD Jember masih memiliki persediaan barang untuk penyaluran bantuan. “Kami masih punya stok barang persediaan,” ucapnya.

Stok barang bantuan itu adalah sisa pengadaan tahun kemarin. Termasuk juga stok bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BPBD Jatim. Bantuan tersebut di antaranya bahan makanan, serta family kit, yaitu untuk kebutuhan sandang. “Family kit itu ada alat masak, tikar, alat mandi, termasuk juga ada diapers,” jelasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jumlah bangunan rusak akibat gempa dengan kekuatan 6,7 skala Richter (SR) di selatan Pulau Jawa, akhir pekan kemarin, terus bertambah. Data setelah gempa melanda ada 10 rumah yang rusak. Kini, jumlahnya telah mencapai 55 bangunan. Rusaknya bangunan yang menyebar di berbagai lokasi, terutama perdesaan, menandakan kualitas struktur bangunan masih lemah karena tidak kuat menahan getaran.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badang Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember Penta Satria mengatakan, data BPBD Jember per 13 April kemarin, jumlah rumah yang terdampak terus bertambah dibandingkan awal gempa terjadi. Walau begitu, sejauh ini belum ada laporan korban jiwa akibat lindu tersebut. Hanya ada dua warga yang mengalami luka-luka. “Sekarang ada 55 bangunan rusak akibat gempa dan tersebar di 19 kecamatan, 32 desa, dan tiga kelurahan,” paparnya.

Menurut Penta, 55 bangunan rusak akibat gempa itu terdiri atas 32 rumah rusak ringan, 19 rumah rusak sedang, dan empat rumah rusak berat. Sementara itu, fasilitas ibadah dan kesehatan masing-masing dua bangunan yang rusak. Empat rumah rusak berat tersebut, dua rumah di Klungkung, Sukorambi, satu rumah di Desa Badean, Bangsalsari, dan satu rumah di Desa Glundengan, Wuluhan.

Sementara, untuk fasilitas kesehatan yang terdampak ada di dua pelayanan kesehatan masyarakat (PKM), yaitu di Sumbersari dan Puger. Sedangkan fasilitas ibadah berupa musala di Desa Klungkung, Sukorambi, dan masjid di Desa Panduman, Jelbuk.

Kerusakan bangunan akibat gempa tersebut menyebar di berbagai titik. Tidak satu lokasi atau lokasi yang paling berdekatan dengan pusat gempa. Bila melihat data rumah rusak akibat gempa, justru banyak ditemukan di perdesaan. Bahkan, lokasi desanya pun lebih jauh daripada desa terdekat lokasi gempa seperti wilayah Puger, Gumukmas, atau Kencong.

Melihat kondisi itu, menurut Penta, menandakan bahwa struktur bangunan tersebut kurang kokoh. Selain itu, usia bangunan yang telah tua. “Kalau ada rumah rusak dan tidak karena gempa, berarti melihat dulu kualitas struktur bangunan itu dan usia bangunannya. Bila kerusakan semua rumah rusak dalam satu lokasi, berarti ada struktur tanahnya yang bermasalah,” terangnya.

Sementara, untuk bantuan, Penta menambahkan, walau pada awal tahun belum ada APBD dan baru saja APBD disahkan oleh Gubernur Jawa Timur, namun untuk masyarakat yang terkena dampak bencana, termasuk bencana gempa akhir pekan kemarin, BPBD Jember masih memiliki persediaan barang untuk penyaluran bantuan. “Kami masih punya stok barang persediaan,” ucapnya.

Stok barang bantuan itu adalah sisa pengadaan tahun kemarin. Termasuk juga stok bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BPBD Jatim. Bantuan tersebut di antaranya bahan makanan, serta family kit, yaitu untuk kebutuhan sandang. “Family kit itu ada alat masak, tikar, alat mandi, termasuk juga ada diapers,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/