alexametrics
23.1 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Ngeri, Saksi Pembacokan Pemuda Kasiyan Jember Tak Bisa Tidur Semalaman

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Kasus pembacokan di Karang Genting, Dusun Penitik, Desa Wonosari, Kecamatan Puger, Jember, menyisakan kengerian bagi saksi. Bahkan, mereka mengaku tidak bisa tidur semalam setelah melihat langsung ketika para pelaku menyabetkan celurit ke korban.

Iksan, salah seorang saksi mata, mengungkapkan, dia tidak mengira jika penghadangan terhadap mobil putih jenis Ertiga itu berakhir dengan pembacokan yang menyebabkan tewasnya korban. Iksan mengira, jika pertengkaran tersebut hanya perkara biasa antara orang yang sudah saling mengenal. “Saya dan istri melihat sendiri ketika pembacokan itu terjadi. Semalam saya tidak bisa tidur akibat teringat kejadian itu,” katanya, Selasa (15/3).

BACA JUGA: Kasus Pembacokan Pemuda Kasiyan Jember Temui Titik Terang

Mobile_AP_Rectangle 2

Saat tragedi itu berlangsung, Iksan sempat berusaha membawa istrinya menjauh ke tempat aman. Sebab, usahanya untuk melerai para pelaku tak digubris. Namun dia gagal membawa istrinya. Perempuan yang setiap hari menjaga warung di sebelah tempat kejadian perkara (TKP) itu, tak bisa bergerak. Tubuhnya lunglai karena melihat pembacokan itu. “Saya khawatir terjadi apa-apa dengan istri saya. Karena punya (penyakit) jantung. Tapi saat mau saya bawa, ternyata tidak bisa. Istri saya sudah lemas,” ucapnya.

Kotimah, sang istri, mengaku, saat itu dirinya takut sekali. Karena seumur-umur baru melihat peristiwa pembacokan secara langsung. Dengan mata kepala sendiri, dia menyaksikan bagaimana kekerasan itu berlangsung. Bahkan, dia juga melihat ketika korban melambaikan tangan setelah tersungkur di areal tanaman padi di persawahan belakang kedainya. “Mungkin korban mau minta tolong. Tapi saya dan suami tidak berani,” tuturnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Kasus pembacokan di Karang Genting, Dusun Penitik, Desa Wonosari, Kecamatan Puger, Jember, menyisakan kengerian bagi saksi. Bahkan, mereka mengaku tidak bisa tidur semalam setelah melihat langsung ketika para pelaku menyabetkan celurit ke korban.

Iksan, salah seorang saksi mata, mengungkapkan, dia tidak mengira jika penghadangan terhadap mobil putih jenis Ertiga itu berakhir dengan pembacokan yang menyebabkan tewasnya korban. Iksan mengira, jika pertengkaran tersebut hanya perkara biasa antara orang yang sudah saling mengenal. “Saya dan istri melihat sendiri ketika pembacokan itu terjadi. Semalam saya tidak bisa tidur akibat teringat kejadian itu,” katanya, Selasa (15/3).

BACA JUGA: Kasus Pembacokan Pemuda Kasiyan Jember Temui Titik Terang

Saat tragedi itu berlangsung, Iksan sempat berusaha membawa istrinya menjauh ke tempat aman. Sebab, usahanya untuk melerai para pelaku tak digubris. Namun dia gagal membawa istrinya. Perempuan yang setiap hari menjaga warung di sebelah tempat kejadian perkara (TKP) itu, tak bisa bergerak. Tubuhnya lunglai karena melihat pembacokan itu. “Saya khawatir terjadi apa-apa dengan istri saya. Karena punya (penyakit) jantung. Tapi saat mau saya bawa, ternyata tidak bisa. Istri saya sudah lemas,” ucapnya.

Kotimah, sang istri, mengaku, saat itu dirinya takut sekali. Karena seumur-umur baru melihat peristiwa pembacokan secara langsung. Dengan mata kepala sendiri, dia menyaksikan bagaimana kekerasan itu berlangsung. Bahkan, dia juga melihat ketika korban melambaikan tangan setelah tersungkur di areal tanaman padi di persawahan belakang kedainya. “Mungkin korban mau minta tolong. Tapi saya dan suami tidak berani,” tuturnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Kasus pembacokan di Karang Genting, Dusun Penitik, Desa Wonosari, Kecamatan Puger, Jember, menyisakan kengerian bagi saksi. Bahkan, mereka mengaku tidak bisa tidur semalam setelah melihat langsung ketika para pelaku menyabetkan celurit ke korban.

Iksan, salah seorang saksi mata, mengungkapkan, dia tidak mengira jika penghadangan terhadap mobil putih jenis Ertiga itu berakhir dengan pembacokan yang menyebabkan tewasnya korban. Iksan mengira, jika pertengkaran tersebut hanya perkara biasa antara orang yang sudah saling mengenal. “Saya dan istri melihat sendiri ketika pembacokan itu terjadi. Semalam saya tidak bisa tidur akibat teringat kejadian itu,” katanya, Selasa (15/3).

BACA JUGA: Kasus Pembacokan Pemuda Kasiyan Jember Temui Titik Terang

Saat tragedi itu berlangsung, Iksan sempat berusaha membawa istrinya menjauh ke tempat aman. Sebab, usahanya untuk melerai para pelaku tak digubris. Namun dia gagal membawa istrinya. Perempuan yang setiap hari menjaga warung di sebelah tempat kejadian perkara (TKP) itu, tak bisa bergerak. Tubuhnya lunglai karena melihat pembacokan itu. “Saya khawatir terjadi apa-apa dengan istri saya. Karena punya (penyakit) jantung. Tapi saat mau saya bawa, ternyata tidak bisa. Istri saya sudah lemas,” ucapnya.

Kotimah, sang istri, mengaku, saat itu dirinya takut sekali. Karena seumur-umur baru melihat peristiwa pembacokan secara langsung. Dengan mata kepala sendiri, dia menyaksikan bagaimana kekerasan itu berlangsung. Bahkan, dia juga melihat ketika korban melambaikan tangan setelah tersungkur di areal tanaman padi di persawahan belakang kedainya. “Mungkin korban mau minta tolong. Tapi saya dan suami tidak berani,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/