alexametrics
28.2 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Ini Kata Tetangga tentang Ritual “Nyeleneh” Sekte Tunggal Jati Nusantara

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER.RADARJEMBER- Rintik hujan membasahi sekitar lingkungan RT 03 RW 003 Dusun Botosari, Desa Dukuhmencek, Kecamatan Sukorambi, Senin (14/2) petang. Di sana tampak sebuah rumah sederhana bertembok merah muda yang terlihat sepi. Ada dua sandal bekas terpakai dan sejumlah tanaman bunga yang terawat menghiasi pelataran rumah tersebut. Rumah inilah milik Nur Hasan, pemimpin kelompok Tunggal Jati Nusantara.

Jika menengok ke dalam dari balik jendela, lampu-lampu rumah saat itu tengah menyala. Termasuk lampu ruang tamu yang terbagi menjadi dua. Satu ruang tamu beralaskan tikar dan yang satunya lagi lengkap dengan meja dan kursi. Tidak ada perkakas mewah yang terpajang di dalamnya. Hanya beberapa hiasan dinding bertuliskan petuah Jawa Kuno dan motor lawas terparkir di tengahnya.

Hari itu, sehari pascatragedi ritual yang menewaskan sebelas orang, rumah Nur Hasan sepi tanpa ada aktivitas. Rumah yang berlokasi persis di pinggir jalan desa itu pun bak rumah kosong yang ditinggal penghuninya. Ya, maklum, Nur Hasan bersama istrinya tidak memadamkan lampu karena tengah malam berangkat ke Pantai Payangan, sehingga lampu rumahnya tetap menyala hingga kemarin.

Mobile_AP_Rectangle 2

Siapa sangka, rumah sederhana yang diapit dua rumah tetangganya itu menjadi pusat kegiatan jamaah kelompok Tunggal Jati Nusantara yang dipimpin Nur Hasan.Sehari-harinya, pria yang akrab disapa Hasan oleh tetangganya tersebut dikenal sering kedatangan sejumlah tamu. Kadang siang, terkadang juga saat malam hari. “Yang paling banyak pada malam Jumat. Tapi tamunya kebanyakan dari luar daerah,” kata Zain, tetangga Nur Hasan.

Para tamu yang datang ke rumah Hasan, diakuinya, dengan maksud dan tujuan bermacam-macam. Ada yang diajak berzikir, salawatan, dan doa bersama hingga larut malam. Namun, tidak jarang pula tamu-tamu yang datang juga sekedar cangkrukan hingga larut malam juga.

Warga setempat tidak mempermasalahkan kegiatan Nur Hasan. Sebab, dia juga sesekali terlihat beraktivitas sosial dengan masyarakat yang lain, meskipun tidak setiap hari. ” Kalau diundang tahlilan, walimahan, Hasan kelihatan datang,” kata Zain. Selain kegiatan-kegiatan itu, Hasan lebih banyak menghabiskan waktu di rumahnya.

Warga setempat mengenal Hasan tidak memiliki pekerjaan tetap. Dia bersama istrinya yang sudah berumahtangga cukup lama belum dikaruniai anak. Kendati begitu, rumah Hasan hampir tidak pernah sepi. Hampir tiap hari kedatangan tamu-tamu yang merupakan anggota jamaah yang dipimpinnya dari berbagai kecamatan. “Kalau pas tidak ada kegiatan, kadang mancing. Kalau di rumah saja, merawat kucing peliharaannya,” timpal seorang ibu-ibu, namun enggan disebut namanya.

Kegiatan bertamu-tamuan itu dilakukan Hasan bukan baru-baru ini saja. Zain dan warga sekitar menyebutkan, itu terjadi sudah cukup lama, sekitar dua tahunan. Sebelum itu, Hasan banyak dikunjungi tamu dari mendiang ayahnya yang juga pernah demikian. “Dulu bapaknya juga sering kedatangan tamu, seperti Hasan itu. Melakukan pengobatan spiritual. Dan sepertinya diteruskan Hasan,” tambah kakek pensiunan guru SD ini.

Mengenai ritual yang baru saja dilakukan Hasan hingga berujung maut, para tetangga tidak mengetahui secara persis. Mereka tahu setelah ada kabar maut, Minggu pagi. Warga setempat terkejut mendengar informasi bahwa Nur Hasan, istrinya, dan para jamaahnya terseret arus di Pantai Payangan. Pada malam hari sebelum kejadian, warga hanya tahu ada mobil minibus Avanza yang di dalamnya ada anggota polisi dari Polres Bondowoso menjemputnya. “Nur Hasan dijemput mobil tengah malam kemarin. Kalau rombongannya bukan berangkat dari sini,” terang Zain. Penelusuran Jawa Pos Radar Jember, setelah dijemput secara estafet, rombongan kemudian sempat berkumpul di kawasan Panti sebelum menuju Pantai Payangan.

Warga sekitar rumah Nur Hasan hanya memahami jika mereka kerap berkumpul dan membaca bacaan salawat, zikir, serta bacaan-bacaan yang umum dilakukan oleh umat Islam. Namun demikian, warga tidak mengetahui jika ada ritual penyucian di pinggir pantai yang dilakukan dengan cara semedi hingga membahayakan diri dengan mandi di laut.

- Advertisement -

JEMBER.RADARJEMBER- Rintik hujan membasahi sekitar lingkungan RT 03 RW 003 Dusun Botosari, Desa Dukuhmencek, Kecamatan Sukorambi, Senin (14/2) petang. Di sana tampak sebuah rumah sederhana bertembok merah muda yang terlihat sepi. Ada dua sandal bekas terpakai dan sejumlah tanaman bunga yang terawat menghiasi pelataran rumah tersebut. Rumah inilah milik Nur Hasan, pemimpin kelompok Tunggal Jati Nusantara.

Jika menengok ke dalam dari balik jendela, lampu-lampu rumah saat itu tengah menyala. Termasuk lampu ruang tamu yang terbagi menjadi dua. Satu ruang tamu beralaskan tikar dan yang satunya lagi lengkap dengan meja dan kursi. Tidak ada perkakas mewah yang terpajang di dalamnya. Hanya beberapa hiasan dinding bertuliskan petuah Jawa Kuno dan motor lawas terparkir di tengahnya.

Hari itu, sehari pascatragedi ritual yang menewaskan sebelas orang, rumah Nur Hasan sepi tanpa ada aktivitas. Rumah yang berlokasi persis di pinggir jalan desa itu pun bak rumah kosong yang ditinggal penghuninya. Ya, maklum, Nur Hasan bersama istrinya tidak memadamkan lampu karena tengah malam berangkat ke Pantai Payangan, sehingga lampu rumahnya tetap menyala hingga kemarin.

Siapa sangka, rumah sederhana yang diapit dua rumah tetangganya itu menjadi pusat kegiatan jamaah kelompok Tunggal Jati Nusantara yang dipimpin Nur Hasan.Sehari-harinya, pria yang akrab disapa Hasan oleh tetangganya tersebut dikenal sering kedatangan sejumlah tamu. Kadang siang, terkadang juga saat malam hari. “Yang paling banyak pada malam Jumat. Tapi tamunya kebanyakan dari luar daerah,” kata Zain, tetangga Nur Hasan.

Para tamu yang datang ke rumah Hasan, diakuinya, dengan maksud dan tujuan bermacam-macam. Ada yang diajak berzikir, salawatan, dan doa bersama hingga larut malam. Namun, tidak jarang pula tamu-tamu yang datang juga sekedar cangkrukan hingga larut malam juga.

Warga setempat tidak mempermasalahkan kegiatan Nur Hasan. Sebab, dia juga sesekali terlihat beraktivitas sosial dengan masyarakat yang lain, meskipun tidak setiap hari. ” Kalau diundang tahlilan, walimahan, Hasan kelihatan datang,” kata Zain. Selain kegiatan-kegiatan itu, Hasan lebih banyak menghabiskan waktu di rumahnya.

Warga setempat mengenal Hasan tidak memiliki pekerjaan tetap. Dia bersama istrinya yang sudah berumahtangga cukup lama belum dikaruniai anak. Kendati begitu, rumah Hasan hampir tidak pernah sepi. Hampir tiap hari kedatangan tamu-tamu yang merupakan anggota jamaah yang dipimpinnya dari berbagai kecamatan. “Kalau pas tidak ada kegiatan, kadang mancing. Kalau di rumah saja, merawat kucing peliharaannya,” timpal seorang ibu-ibu, namun enggan disebut namanya.

Kegiatan bertamu-tamuan itu dilakukan Hasan bukan baru-baru ini saja. Zain dan warga sekitar menyebutkan, itu terjadi sudah cukup lama, sekitar dua tahunan. Sebelum itu, Hasan banyak dikunjungi tamu dari mendiang ayahnya yang juga pernah demikian. “Dulu bapaknya juga sering kedatangan tamu, seperti Hasan itu. Melakukan pengobatan spiritual. Dan sepertinya diteruskan Hasan,” tambah kakek pensiunan guru SD ini.

Mengenai ritual yang baru saja dilakukan Hasan hingga berujung maut, para tetangga tidak mengetahui secara persis. Mereka tahu setelah ada kabar maut, Minggu pagi. Warga setempat terkejut mendengar informasi bahwa Nur Hasan, istrinya, dan para jamaahnya terseret arus di Pantai Payangan. Pada malam hari sebelum kejadian, warga hanya tahu ada mobil minibus Avanza yang di dalamnya ada anggota polisi dari Polres Bondowoso menjemputnya. “Nur Hasan dijemput mobil tengah malam kemarin. Kalau rombongannya bukan berangkat dari sini,” terang Zain. Penelusuran Jawa Pos Radar Jember, setelah dijemput secara estafet, rombongan kemudian sempat berkumpul di kawasan Panti sebelum menuju Pantai Payangan.

Warga sekitar rumah Nur Hasan hanya memahami jika mereka kerap berkumpul dan membaca bacaan salawat, zikir, serta bacaan-bacaan yang umum dilakukan oleh umat Islam. Namun demikian, warga tidak mengetahui jika ada ritual penyucian di pinggir pantai yang dilakukan dengan cara semedi hingga membahayakan diri dengan mandi di laut.

JEMBER.RADARJEMBER- Rintik hujan membasahi sekitar lingkungan RT 03 RW 003 Dusun Botosari, Desa Dukuhmencek, Kecamatan Sukorambi, Senin (14/2) petang. Di sana tampak sebuah rumah sederhana bertembok merah muda yang terlihat sepi. Ada dua sandal bekas terpakai dan sejumlah tanaman bunga yang terawat menghiasi pelataran rumah tersebut. Rumah inilah milik Nur Hasan, pemimpin kelompok Tunggal Jati Nusantara.

Jika menengok ke dalam dari balik jendela, lampu-lampu rumah saat itu tengah menyala. Termasuk lampu ruang tamu yang terbagi menjadi dua. Satu ruang tamu beralaskan tikar dan yang satunya lagi lengkap dengan meja dan kursi. Tidak ada perkakas mewah yang terpajang di dalamnya. Hanya beberapa hiasan dinding bertuliskan petuah Jawa Kuno dan motor lawas terparkir di tengahnya.

Hari itu, sehari pascatragedi ritual yang menewaskan sebelas orang, rumah Nur Hasan sepi tanpa ada aktivitas. Rumah yang berlokasi persis di pinggir jalan desa itu pun bak rumah kosong yang ditinggal penghuninya. Ya, maklum, Nur Hasan bersama istrinya tidak memadamkan lampu karena tengah malam berangkat ke Pantai Payangan, sehingga lampu rumahnya tetap menyala hingga kemarin.

Siapa sangka, rumah sederhana yang diapit dua rumah tetangganya itu menjadi pusat kegiatan jamaah kelompok Tunggal Jati Nusantara yang dipimpin Nur Hasan.Sehari-harinya, pria yang akrab disapa Hasan oleh tetangganya tersebut dikenal sering kedatangan sejumlah tamu. Kadang siang, terkadang juga saat malam hari. “Yang paling banyak pada malam Jumat. Tapi tamunya kebanyakan dari luar daerah,” kata Zain, tetangga Nur Hasan.

Para tamu yang datang ke rumah Hasan, diakuinya, dengan maksud dan tujuan bermacam-macam. Ada yang diajak berzikir, salawatan, dan doa bersama hingga larut malam. Namun, tidak jarang pula tamu-tamu yang datang juga sekedar cangkrukan hingga larut malam juga.

Warga setempat tidak mempermasalahkan kegiatan Nur Hasan. Sebab, dia juga sesekali terlihat beraktivitas sosial dengan masyarakat yang lain, meskipun tidak setiap hari. ” Kalau diundang tahlilan, walimahan, Hasan kelihatan datang,” kata Zain. Selain kegiatan-kegiatan itu, Hasan lebih banyak menghabiskan waktu di rumahnya.

Warga setempat mengenal Hasan tidak memiliki pekerjaan tetap. Dia bersama istrinya yang sudah berumahtangga cukup lama belum dikaruniai anak. Kendati begitu, rumah Hasan hampir tidak pernah sepi. Hampir tiap hari kedatangan tamu-tamu yang merupakan anggota jamaah yang dipimpinnya dari berbagai kecamatan. “Kalau pas tidak ada kegiatan, kadang mancing. Kalau di rumah saja, merawat kucing peliharaannya,” timpal seorang ibu-ibu, namun enggan disebut namanya.

Kegiatan bertamu-tamuan itu dilakukan Hasan bukan baru-baru ini saja. Zain dan warga sekitar menyebutkan, itu terjadi sudah cukup lama, sekitar dua tahunan. Sebelum itu, Hasan banyak dikunjungi tamu dari mendiang ayahnya yang juga pernah demikian. “Dulu bapaknya juga sering kedatangan tamu, seperti Hasan itu. Melakukan pengobatan spiritual. Dan sepertinya diteruskan Hasan,” tambah kakek pensiunan guru SD ini.

Mengenai ritual yang baru saja dilakukan Hasan hingga berujung maut, para tetangga tidak mengetahui secara persis. Mereka tahu setelah ada kabar maut, Minggu pagi. Warga setempat terkejut mendengar informasi bahwa Nur Hasan, istrinya, dan para jamaahnya terseret arus di Pantai Payangan. Pada malam hari sebelum kejadian, warga hanya tahu ada mobil minibus Avanza yang di dalamnya ada anggota polisi dari Polres Bondowoso menjemputnya. “Nur Hasan dijemput mobil tengah malam kemarin. Kalau rombongannya bukan berangkat dari sini,” terang Zain. Penelusuran Jawa Pos Radar Jember, setelah dijemput secara estafet, rombongan kemudian sempat berkumpul di kawasan Panti sebelum menuju Pantai Payangan.

Warga sekitar rumah Nur Hasan hanya memahami jika mereka kerap berkumpul dan membaca bacaan salawat, zikir, serta bacaan-bacaan yang umum dilakukan oleh umat Islam. Namun demikian, warga tidak mengetahui jika ada ritual penyucian di pinggir pantai yang dilakukan dengan cara semedi hingga membahayakan diri dengan mandi di laut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/