alexametrics
29.5 C
Jember
Wednesday, 5 October 2022

Alarm EWS Perlintasan Tak Berfungsi, Dua Pekan Terjadi Dua Kecelakaan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Kecelakaan di perlintasan kereta api Dusun Karangkebun, Desa Sumberlesung, Kecamatan Ledokombo, Jember, ternyata tidak hanya terjadi kemarin saja. Penuturan warga, dalam dua pekan di bulan Agustus ini, sudah terjadi dua kecelakaan. Peristiwa kedua mengakibatkan tiga nyawa bocah melayang.

Informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Jember, insiden pertama terjadi pada awal Agustus lalu. Kala itu, seorang pengendara motor tersambar kereta api yang sedang melintas. Beruntung, saat itu korban selamat dan hanya motornya saja yang mengalami rusak berat.

BACA JUGA: Tiga Hari, Lima Nyawa Warga Jember Melayang di Perlintasan Kereta

Mobile_AP_Rectangle 2

Kejadian berikutnya, Sabtu (13/8) kemarin. Tiga bocah yang berboncengan pakai Honda Vario tertabrak Kereta Api (KA) Pandanwangi yang melaju dari arah Banyuwangi ke Stasiun Jember. Satu korban meninggal di lokasi, dua lainnya meninggal saat menjalani perawatan di rumah sakit.

Sebenarnya, pada perlintasan kereta api di jalan yang menghubungkan dua desa di Kecamatan Ledokombo tersebut, sudah terpasang Early Warning System (EWS) atau sistem peringatan dini. Hanya saja, EWS yang berbunyi nyaring seperti alarm itu tidak berfungsi.

Sehingga, ketika ada kereta yang akan melintas sirine tidak berbunyi. Padahal semua perangkatnya terlihat masih lengkap. Idealnya, EWS yang dipasang di perlintasan tanpa palang pintu itu harus berfungsi. Apalagi, sebelumnya tidak ada petugas jaga yang bersiaga di sana.

BACA JUGA: Mengenaskan, Tiga Bocah di Jember Meninggal Tertabrak Kereta Api

Sebelumnya, Kanit Laka Lantas Polres Jember Ipda Edy Purwanto menengarai, kecelakaan itu akibat perlintasan yang kondisinya tanpa palang pintu dan tanpa petugas jaga.

Selain itu, faktor penyebab lainnya adalah EWS atau sirine yang sudah tidak berfungsi lagi. Terlebih, pandangan pengendara juga terhalang tanaman jagung yang cukup tinggi. “Kami masih menyelidiki penyebab pasti kecelakaan ini. Hasilnya nanti akan kami sampaikan,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin.

Pasca kecelakaan kereta Pandanwangi kemarin, terlihat banyak pengendara yang lebih berhati-hati ketika akan melintas. Siang ini, ketika Jawa Pos Radar Jember memantau lokasi, para pengendara memilih berhenti sebelum melewati lintasan. Hal ini demi menjaga keselamatan pengendara sendiri.

BACA JUGA: Ibu dan Bocah 8 Tahun yang Tertabrak Kereta di Jember Akhirnya Meninggal

Hari ini,di lokasi yang sama, juga terlihat Security Stasiun Ledokombo yang bersiaga. Dia menggunakan rompi khusus yang menandakan sebagai petugas stasiun. Pria yang rompinya bertuliskan nama Roby Angga itu langsung berdiri di jalan aspal ketika ada pengendara yang akan lewat di perlintasan. (*)

Reporter: Jumai

Foto      : Jumai

Editor    : Mahrus Sholih

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Kecelakaan di perlintasan kereta api Dusun Karangkebun, Desa Sumberlesung, Kecamatan Ledokombo, Jember, ternyata tidak hanya terjadi kemarin saja. Penuturan warga, dalam dua pekan di bulan Agustus ini, sudah terjadi dua kecelakaan. Peristiwa kedua mengakibatkan tiga nyawa bocah melayang.

Informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Jember, insiden pertama terjadi pada awal Agustus lalu. Kala itu, seorang pengendara motor tersambar kereta api yang sedang melintas. Beruntung, saat itu korban selamat dan hanya motornya saja yang mengalami rusak berat.

BACA JUGA: Tiga Hari, Lima Nyawa Warga Jember Melayang di Perlintasan Kereta

Kejadian berikutnya, Sabtu (13/8) kemarin. Tiga bocah yang berboncengan pakai Honda Vario tertabrak Kereta Api (KA) Pandanwangi yang melaju dari arah Banyuwangi ke Stasiun Jember. Satu korban meninggal di lokasi, dua lainnya meninggal saat menjalani perawatan di rumah sakit.

Sebenarnya, pada perlintasan kereta api di jalan yang menghubungkan dua desa di Kecamatan Ledokombo tersebut, sudah terpasang Early Warning System (EWS) atau sistem peringatan dini. Hanya saja, EWS yang berbunyi nyaring seperti alarm itu tidak berfungsi.

Sehingga, ketika ada kereta yang akan melintas sirine tidak berbunyi. Padahal semua perangkatnya terlihat masih lengkap. Idealnya, EWS yang dipasang di perlintasan tanpa palang pintu itu harus berfungsi. Apalagi, sebelumnya tidak ada petugas jaga yang bersiaga di sana.

BACA JUGA: Mengenaskan, Tiga Bocah di Jember Meninggal Tertabrak Kereta Api

Sebelumnya, Kanit Laka Lantas Polres Jember Ipda Edy Purwanto menengarai, kecelakaan itu akibat perlintasan yang kondisinya tanpa palang pintu dan tanpa petugas jaga.

Selain itu, faktor penyebab lainnya adalah EWS atau sirine yang sudah tidak berfungsi lagi. Terlebih, pandangan pengendara juga terhalang tanaman jagung yang cukup tinggi. “Kami masih menyelidiki penyebab pasti kecelakaan ini. Hasilnya nanti akan kami sampaikan,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin.

Pasca kecelakaan kereta Pandanwangi kemarin, terlihat banyak pengendara yang lebih berhati-hati ketika akan melintas. Siang ini, ketika Jawa Pos Radar Jember memantau lokasi, para pengendara memilih berhenti sebelum melewati lintasan. Hal ini demi menjaga keselamatan pengendara sendiri.

BACA JUGA: Ibu dan Bocah 8 Tahun yang Tertabrak Kereta di Jember Akhirnya Meninggal

Hari ini,di lokasi yang sama, juga terlihat Security Stasiun Ledokombo yang bersiaga. Dia menggunakan rompi khusus yang menandakan sebagai petugas stasiun. Pria yang rompinya bertuliskan nama Roby Angga itu langsung berdiri di jalan aspal ketika ada pengendara yang akan lewat di perlintasan. (*)

Reporter: Jumai

Foto      : Jumai

Editor    : Mahrus Sholih

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Kecelakaan di perlintasan kereta api Dusun Karangkebun, Desa Sumberlesung, Kecamatan Ledokombo, Jember, ternyata tidak hanya terjadi kemarin saja. Penuturan warga, dalam dua pekan di bulan Agustus ini, sudah terjadi dua kecelakaan. Peristiwa kedua mengakibatkan tiga nyawa bocah melayang.

Informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Jember, insiden pertama terjadi pada awal Agustus lalu. Kala itu, seorang pengendara motor tersambar kereta api yang sedang melintas. Beruntung, saat itu korban selamat dan hanya motornya saja yang mengalami rusak berat.

BACA JUGA: Tiga Hari, Lima Nyawa Warga Jember Melayang di Perlintasan Kereta

Kejadian berikutnya, Sabtu (13/8) kemarin. Tiga bocah yang berboncengan pakai Honda Vario tertabrak Kereta Api (KA) Pandanwangi yang melaju dari arah Banyuwangi ke Stasiun Jember. Satu korban meninggal di lokasi, dua lainnya meninggal saat menjalani perawatan di rumah sakit.

Sebenarnya, pada perlintasan kereta api di jalan yang menghubungkan dua desa di Kecamatan Ledokombo tersebut, sudah terpasang Early Warning System (EWS) atau sistem peringatan dini. Hanya saja, EWS yang berbunyi nyaring seperti alarm itu tidak berfungsi.

Sehingga, ketika ada kereta yang akan melintas sirine tidak berbunyi. Padahal semua perangkatnya terlihat masih lengkap. Idealnya, EWS yang dipasang di perlintasan tanpa palang pintu itu harus berfungsi. Apalagi, sebelumnya tidak ada petugas jaga yang bersiaga di sana.

BACA JUGA: Mengenaskan, Tiga Bocah di Jember Meninggal Tertabrak Kereta Api

Sebelumnya, Kanit Laka Lantas Polres Jember Ipda Edy Purwanto menengarai, kecelakaan itu akibat perlintasan yang kondisinya tanpa palang pintu dan tanpa petugas jaga.

Selain itu, faktor penyebab lainnya adalah EWS atau sirine yang sudah tidak berfungsi lagi. Terlebih, pandangan pengendara juga terhalang tanaman jagung yang cukup tinggi. “Kami masih menyelidiki penyebab pasti kecelakaan ini. Hasilnya nanti akan kami sampaikan,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin.

Pasca kecelakaan kereta Pandanwangi kemarin, terlihat banyak pengendara yang lebih berhati-hati ketika akan melintas. Siang ini, ketika Jawa Pos Radar Jember memantau lokasi, para pengendara memilih berhenti sebelum melewati lintasan. Hal ini demi menjaga keselamatan pengendara sendiri.

BACA JUGA: Ibu dan Bocah 8 Tahun yang Tertabrak Kereta di Jember Akhirnya Meninggal

Hari ini,di lokasi yang sama, juga terlihat Security Stasiun Ledokombo yang bersiaga. Dia menggunakan rompi khusus yang menandakan sebagai petugas stasiun. Pria yang rompinya bertuliskan nama Roby Angga itu langsung berdiri di jalan aspal ketika ada pengendara yang akan lewat di perlintasan. (*)

Reporter: Jumai

Foto      : Jumai

Editor    : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/