alexametrics
24.6 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Waswas Berhadapan dengan Penyintas, Sulit Mencari Pendonor

Tak mudah menjadi petugas donor darah. Apalagi, bagi mereka yang menjadi ujung tombak pelayanan donor plasma konvalesen. Tingginya intensitas bertemu dengan penyintas, tentu membuat waswas. Bagaimana cara mereka mengatasi hal tersebut?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Gurita Dwi Kuning Arum hampir 16 tahun mengabdikan diri sebagai petugas donor darah. Ini bukan tugas yang mudah. Terlebih sejak 2020 lalu, ada tantangan besar. Pandemi mengharuskan dirinya maju di garda terdepan. Ya, dia menjadi petugas donor plasma konvalesen, yang mengharuskannya untuk berhadapan langsung dengan para penyintas Covid-19. Memang berat. Namun, dengan begitu, perempuan 39 tahun ini justru bersyukur, karena tenaganya dapat membantu menyelamatkan pasien dari virus yang mematikan itu.

Belakangan ini, terapi plasma konvalesen kerap terdengar di telinga masyarakat. Ya, sejak merebaknya pandemi virus korona, terapi plasma konvalesen gencar dilakukan bagi pasien Covid-19. Terapi ini hanya bisa dilakukan jika pasien Covid-19 mendapatkan donor plasma konvalesen dari penyintas yang telah sembuh.

Namun, kali ini bukan tentang bagaimana terapi konvalesen itu dapat dilakukan. Melainkan perjuangan di balik donor plasma konvalesen oleh petugas. Seperti yang dilakukan wanita yang akrab disapa Rita tersebut. Dia merupakan petugas donor darah dan plasma konvalesen di Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) Jember.

Mobile_AP_Rectangle 2

Wanita asal Desa Jubung, Kelurahan Sukorambi, ini mengaku sempat dihantui perasaan khawatir saat bertugas. Sebab, yang ia hadapi adalah penyintas Covid-19. Namun, keluarga dan orang-orang di sekitarnya selalu menguatkan agar tetap berjuang, dan membantu menyalurkan plasma konvalesen kepada pasien Covid-19 yang membutuhkan pertolongan.

“Kalau waswas pasti ada. Tapi alhamdulillah, keluarga saya sebagian memiliki latar belakang kesehatan. Jadi, selain saling menasihati, kami juga sudah bisa berhati-hati saat bekerja karena mengetahui risikonya,” ungkapnya.

Selama belasan tahun bertugas, diakuinya, masa pandemi ini menjadi saat yang berat baginya. Bagaimana tidak, karena mencari pendonor plasma konvalesen tak semudah mencari pendonor darah seperti biasanya. Berbeda dengan donor darah pada umumnya, pendonor plasma konvalesen harus memenuhi banyak ketentuan.

Terlebih, tidak semua penyintas Covid-19 bisa mendonorkan plasmanya. Sebab, harus ada hasil screening terhadap antibodi golongan darah negatif, serta tidak memiliki riwayat transfusi plasma sebelumnya. “Dan harus menjalani prosedur plasmaferesis. Karena yang diharapkan adalah antibodi pendonor,” imbuh ibu satu anak itu.

Menjadi petugas donor konvalesen tidak hanya bertugas mentransfer antibodi pendonor. Namun, juga mencari siapa yang siap menjadi relawan dalam melawan virus yang mematikan itu. Saat tak menemukan pendonor, dirinya harus bekerja keras menjaring plasma konvalesen hingga keluar kota. Yang paling sering ke Lumajang dan Surabaya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Gurita Dwi Kuning Arum hampir 16 tahun mengabdikan diri sebagai petugas donor darah. Ini bukan tugas yang mudah. Terlebih sejak 2020 lalu, ada tantangan besar. Pandemi mengharuskan dirinya maju di garda terdepan. Ya, dia menjadi petugas donor plasma konvalesen, yang mengharuskannya untuk berhadapan langsung dengan para penyintas Covid-19. Memang berat. Namun, dengan begitu, perempuan 39 tahun ini justru bersyukur, karena tenaganya dapat membantu menyelamatkan pasien dari virus yang mematikan itu.

Belakangan ini, terapi plasma konvalesen kerap terdengar di telinga masyarakat. Ya, sejak merebaknya pandemi virus korona, terapi plasma konvalesen gencar dilakukan bagi pasien Covid-19. Terapi ini hanya bisa dilakukan jika pasien Covid-19 mendapatkan donor plasma konvalesen dari penyintas yang telah sembuh.

Namun, kali ini bukan tentang bagaimana terapi konvalesen itu dapat dilakukan. Melainkan perjuangan di balik donor plasma konvalesen oleh petugas. Seperti yang dilakukan wanita yang akrab disapa Rita tersebut. Dia merupakan petugas donor darah dan plasma konvalesen di Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) Jember.

Wanita asal Desa Jubung, Kelurahan Sukorambi, ini mengaku sempat dihantui perasaan khawatir saat bertugas. Sebab, yang ia hadapi adalah penyintas Covid-19. Namun, keluarga dan orang-orang di sekitarnya selalu menguatkan agar tetap berjuang, dan membantu menyalurkan plasma konvalesen kepada pasien Covid-19 yang membutuhkan pertolongan.

“Kalau waswas pasti ada. Tapi alhamdulillah, keluarga saya sebagian memiliki latar belakang kesehatan. Jadi, selain saling menasihati, kami juga sudah bisa berhati-hati saat bekerja karena mengetahui risikonya,” ungkapnya.

Selama belasan tahun bertugas, diakuinya, masa pandemi ini menjadi saat yang berat baginya. Bagaimana tidak, karena mencari pendonor plasma konvalesen tak semudah mencari pendonor darah seperti biasanya. Berbeda dengan donor darah pada umumnya, pendonor plasma konvalesen harus memenuhi banyak ketentuan.

Terlebih, tidak semua penyintas Covid-19 bisa mendonorkan plasmanya. Sebab, harus ada hasil screening terhadap antibodi golongan darah negatif, serta tidak memiliki riwayat transfusi plasma sebelumnya. “Dan harus menjalani prosedur plasmaferesis. Karena yang diharapkan adalah antibodi pendonor,” imbuh ibu satu anak itu.

Menjadi petugas donor konvalesen tidak hanya bertugas mentransfer antibodi pendonor. Namun, juga mencari siapa yang siap menjadi relawan dalam melawan virus yang mematikan itu. Saat tak menemukan pendonor, dirinya harus bekerja keras menjaring plasma konvalesen hingga keluar kota. Yang paling sering ke Lumajang dan Surabaya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Gurita Dwi Kuning Arum hampir 16 tahun mengabdikan diri sebagai petugas donor darah. Ini bukan tugas yang mudah. Terlebih sejak 2020 lalu, ada tantangan besar. Pandemi mengharuskan dirinya maju di garda terdepan. Ya, dia menjadi petugas donor plasma konvalesen, yang mengharuskannya untuk berhadapan langsung dengan para penyintas Covid-19. Memang berat. Namun, dengan begitu, perempuan 39 tahun ini justru bersyukur, karena tenaganya dapat membantu menyelamatkan pasien dari virus yang mematikan itu.

Belakangan ini, terapi plasma konvalesen kerap terdengar di telinga masyarakat. Ya, sejak merebaknya pandemi virus korona, terapi plasma konvalesen gencar dilakukan bagi pasien Covid-19. Terapi ini hanya bisa dilakukan jika pasien Covid-19 mendapatkan donor plasma konvalesen dari penyintas yang telah sembuh.

Namun, kali ini bukan tentang bagaimana terapi konvalesen itu dapat dilakukan. Melainkan perjuangan di balik donor plasma konvalesen oleh petugas. Seperti yang dilakukan wanita yang akrab disapa Rita tersebut. Dia merupakan petugas donor darah dan plasma konvalesen di Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) Jember.

Wanita asal Desa Jubung, Kelurahan Sukorambi, ini mengaku sempat dihantui perasaan khawatir saat bertugas. Sebab, yang ia hadapi adalah penyintas Covid-19. Namun, keluarga dan orang-orang di sekitarnya selalu menguatkan agar tetap berjuang, dan membantu menyalurkan plasma konvalesen kepada pasien Covid-19 yang membutuhkan pertolongan.

“Kalau waswas pasti ada. Tapi alhamdulillah, keluarga saya sebagian memiliki latar belakang kesehatan. Jadi, selain saling menasihati, kami juga sudah bisa berhati-hati saat bekerja karena mengetahui risikonya,” ungkapnya.

Selama belasan tahun bertugas, diakuinya, masa pandemi ini menjadi saat yang berat baginya. Bagaimana tidak, karena mencari pendonor plasma konvalesen tak semudah mencari pendonor darah seperti biasanya. Berbeda dengan donor darah pada umumnya, pendonor plasma konvalesen harus memenuhi banyak ketentuan.

Terlebih, tidak semua penyintas Covid-19 bisa mendonorkan plasmanya. Sebab, harus ada hasil screening terhadap antibodi golongan darah negatif, serta tidak memiliki riwayat transfusi plasma sebelumnya. “Dan harus menjalani prosedur plasmaferesis. Karena yang diharapkan adalah antibodi pendonor,” imbuh ibu satu anak itu.

Menjadi petugas donor konvalesen tidak hanya bertugas mentransfer antibodi pendonor. Namun, juga mencari siapa yang siap menjadi relawan dalam melawan virus yang mematikan itu. Saat tak menemukan pendonor, dirinya harus bekerja keras menjaring plasma konvalesen hingga keluar kota. Yang paling sering ke Lumajang dan Surabaya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/