26.8 C
Jember
Sunday, 2 April 2023

Ternyata, Ini Tujuan Ritual Maut di Pantai Payangan yang Renggut 11 Nyawa

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER.RADARJEMBER.ID- Tragedi ritual maut di Pantai Payangan, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, menyisakan pertanyaan yang hingga kini belum terjawab utuh. Karena sejauh ini, polisi masih mendalami apa sebenarnya yang dilakukan oleh para pengikut kelompok Tunggal Jati Nusantara tersebut.

Para korban yang menamakan dirinya dari Kelompok Tunggal Jati Nusantara ini, memang memiliki beberapa ritual khusus. Di antaranya dengan bersemedi dan mandi di pantai selatan. Ritual yang dilakukan warga itu pun sebenarnya sudah ada cukup lama yaitu sekitar dua tahun belakangan.

Ritual maut yang dipimpin Nur Hasan ini dilakukan dengan dalih untuk mencari ketenangan batin atau membersihkan diri dari segala macam penyakit. Keyakinannya, ritual itu harus dilakukan tengah malam.

Mobile_AP_Rectangle 2

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Jember, motif para anggota dan kelompok Tunggal Jati Nusantara bukan saja untuk mencari ketenangan. Sebuah video yang beredar juga memperlihatkan sejumlah anggota kelompok ini semacam diruqyah atau diobati secara supranatural.

Setelah prosesi itu selesai, keyakinan mereka, pasien harus diobati untuk kali terakhir dengan melakukan mandi di pantai selatan. Hal ini diyakini agar mereka terbebas dari berbagai macam penyakit.

Mengenai informasi tersebut, Polres Jember perlu melakukan pemeriksaan lebih jauh terhadap Nur Hasan, warga asal Dukuhmencek, Kecamatan Sukorambi, yang menjadi pimpinan kelompok tersebut. “Insiden yang terjadi pada dini hari itu memang dilakukan ritual yang dipimpin oleh seorang spiritual,” kata AKBP Hery Purnomo, Kapolres Jember, saat di lokasi kejadian.

Kepolisian belum bisa mengungkap lebih jauh, bagaimana motif guru spiritual dan geliat sebenarnya dari kelompok ini. Karena yang bersangkutan masih dirawat di rumah sakit. Namun┬áberdasarkan informasi yang dihimpun dari masyarakat, lanjut Kapolres, ritual tersebut diketahui untuk menenangkan diri. “Sementara diketahui, ritual itu untuk menenangkan diri. Namun hal itu masih akan kami dikembangkan lagi, nanti yang bersangkutan akan kami mintai keterangan,” tukasnya.

Dalam ritual maut ini, dari sebanyak 11 orang ditemukan tewas. Mereka tersapu ombak ketika bermeditasi di pinggir Pantai Payangan. Mayoritas korban berasal dari Kabupaten Jember. Ada juga yang berasal dari Kabupaten Bondowoso. (*)

 

Reporter: Maulana-Jumai

Fotografer: Jumai

Editor: Mahrus Sholih

- Advertisement -

JEMBER.RADARJEMBER.ID- Tragedi ritual maut di Pantai Payangan, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, menyisakan pertanyaan yang hingga kini belum terjawab utuh. Karena sejauh ini, polisi masih mendalami apa sebenarnya yang dilakukan oleh para pengikut kelompok Tunggal Jati Nusantara tersebut.

Para korban yang menamakan dirinya dari Kelompok Tunggal Jati Nusantara ini, memang memiliki beberapa ritual khusus. Di antaranya dengan bersemedi dan mandi di pantai selatan. Ritual yang dilakukan warga itu pun sebenarnya sudah ada cukup lama yaitu sekitar dua tahun belakangan.

Ritual maut yang dipimpin Nur Hasan ini dilakukan dengan dalih untuk mencari ketenangan batin atau membersihkan diri dari segala macam penyakit. Keyakinannya, ritual itu harus dilakukan tengah malam.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Jember, motif para anggota dan kelompok Tunggal Jati Nusantara bukan saja untuk mencari ketenangan. Sebuah video yang beredar juga memperlihatkan sejumlah anggota kelompok ini semacam diruqyah atau diobati secara supranatural.

Setelah prosesi itu selesai, keyakinan mereka, pasien harus diobati untuk kali terakhir dengan melakukan mandi di pantai selatan. Hal ini diyakini agar mereka terbebas dari berbagai macam penyakit.

Mengenai informasi tersebut, Polres Jember perlu melakukan pemeriksaan lebih jauh terhadap Nur Hasan, warga asal Dukuhmencek, Kecamatan Sukorambi, yang menjadi pimpinan kelompok tersebut. “Insiden yang terjadi pada dini hari itu memang dilakukan ritual yang dipimpin oleh seorang spiritual,” kata AKBP Hery Purnomo, Kapolres Jember, saat di lokasi kejadian.

Kepolisian belum bisa mengungkap lebih jauh, bagaimana motif guru spiritual dan geliat sebenarnya dari kelompok ini. Karena yang bersangkutan masih dirawat di rumah sakit. Namun┬áberdasarkan informasi yang dihimpun dari masyarakat, lanjut Kapolres, ritual tersebut diketahui untuk menenangkan diri. “Sementara diketahui, ritual itu untuk menenangkan diri. Namun hal itu masih akan kami dikembangkan lagi, nanti yang bersangkutan akan kami mintai keterangan,” tukasnya.

Dalam ritual maut ini, dari sebanyak 11 orang ditemukan tewas. Mereka tersapu ombak ketika bermeditasi di pinggir Pantai Payangan. Mayoritas korban berasal dari Kabupaten Jember. Ada juga yang berasal dari Kabupaten Bondowoso. (*)

 

Reporter: Maulana-Jumai

Fotografer: Jumai

Editor: Mahrus Sholih

JEMBER.RADARJEMBER.ID- Tragedi ritual maut di Pantai Payangan, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, menyisakan pertanyaan yang hingga kini belum terjawab utuh. Karena sejauh ini, polisi masih mendalami apa sebenarnya yang dilakukan oleh para pengikut kelompok Tunggal Jati Nusantara tersebut.

Para korban yang menamakan dirinya dari Kelompok Tunggal Jati Nusantara ini, memang memiliki beberapa ritual khusus. Di antaranya dengan bersemedi dan mandi di pantai selatan. Ritual yang dilakukan warga itu pun sebenarnya sudah ada cukup lama yaitu sekitar dua tahun belakangan.

Ritual maut yang dipimpin Nur Hasan ini dilakukan dengan dalih untuk mencari ketenangan batin atau membersihkan diri dari segala macam penyakit. Keyakinannya, ritual itu harus dilakukan tengah malam.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Jember, motif para anggota dan kelompok Tunggal Jati Nusantara bukan saja untuk mencari ketenangan. Sebuah video yang beredar juga memperlihatkan sejumlah anggota kelompok ini semacam diruqyah atau diobati secara supranatural.

Setelah prosesi itu selesai, keyakinan mereka, pasien harus diobati untuk kali terakhir dengan melakukan mandi di pantai selatan. Hal ini diyakini agar mereka terbebas dari berbagai macam penyakit.

Mengenai informasi tersebut, Polres Jember perlu melakukan pemeriksaan lebih jauh terhadap Nur Hasan, warga asal Dukuhmencek, Kecamatan Sukorambi, yang menjadi pimpinan kelompok tersebut. “Insiden yang terjadi pada dini hari itu memang dilakukan ritual yang dipimpin oleh seorang spiritual,” kata AKBP Hery Purnomo, Kapolres Jember, saat di lokasi kejadian.

Kepolisian belum bisa mengungkap lebih jauh, bagaimana motif guru spiritual dan geliat sebenarnya dari kelompok ini. Karena yang bersangkutan masih dirawat di rumah sakit. Namun┬áberdasarkan informasi yang dihimpun dari masyarakat, lanjut Kapolres, ritual tersebut diketahui untuk menenangkan diri. “Sementara diketahui, ritual itu untuk menenangkan diri. Namun hal itu masih akan kami dikembangkan lagi, nanti yang bersangkutan akan kami mintai keterangan,” tukasnya.

Dalam ritual maut ini, dari sebanyak 11 orang ditemukan tewas. Mereka tersapu ombak ketika bermeditasi di pinggir Pantai Payangan. Mayoritas korban berasal dari Kabupaten Jember. Ada juga yang berasal dari Kabupaten Bondowoso. (*)

 

Reporter: Maulana-Jumai

Fotografer: Jumai

Editor: Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca