alexametrics
23.9 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Ibu Korban Sering Tahajud agar Anaknya Tak Ikut Ritual Aneh-Aneh

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER.RADARJEMBER.ID- Anggota Tunggal Jati Nusantara begitu yakin dengan ritual yang dijalaninya. Entah apa yang menjadi doktrin sang pemimpin, Nur Hasan, kepada para anggotanya. Yang jelas, anggota kelompok ini selalu mengikuti ajakan sang imam. Bahkan, ada yang sampai jarang pulang dan mengabaikan keluarganya.

M Feri Luhur Febrianto, salah satu korban selamat dari ritual maut Pantai Payangan, menceritakan hal itu. Dia mengaku mengikuti ritual sudah setahun lebih, yang dipandu oleh Nur Hasan. Pimpinan kelompok asal Dukuh Mencek, Kecamatan Sukorambi. Kadang-kadang ritual itu diikutinya sebulan dua kali. Tidak hanya di langsungkan di pantai sekitar Jember saja, namun di sejumlah pantai beberapa daerah lain. “Di Banyuwangi hingga ke pantai di Bali, juga pernah,” tambah Feri.

Karena seringkali mengikuti ritual hingga ke luar Jember itu, Feri jadi jarang pulang ke rumahnya di Jalan Ahmad Yani Gg Veteran, Kelurahan Kepatihan, Kaliwates. Karena itulah, ia sering disambati sama ibunya agar tidak lagi mengikuti aliran tersebut dan berhenti. “Saya ikut aliran dan ikut ritual ini bersama puluhan orang lainnya dari berbagai kecamatan. Sudah dilarang oleh ibu (Siti Asiya, Red) karena saya jarang pulang,” sesal Feri.

Mobile_AP_Rectangle 2

Benar saja, di saat bersamaan ketika Feri masih dalam perawatan di IGD Puskesmas Ambulu, ibunya Siti Asiya sempat datang menjenguk anaknya itu. Namun dia tidak masuk ke kamar Feri, hanya menunggu di luar puskesmas. Siti Asiya sepertinya masih belum terima ulah anaknya itu yang selama ini sering membuatnya khawatir. “Dia jarang pulang,” ketus Asiya, saat ditanya Jawa Pos Radar Jember mengapa tidak masuk menemui Feri.

Siti Asiya mengaku selama ini sering menasehati Feri agar tidak mengikuti kelompok atau aliran yang aneh-aneh. Karena sering keluyuran dan jarang pulang itu, Asiya merasa mereka sudah lupa sama keluarganya karena sering mengikuti ritual bersama puluhan orang lainnya yang menjadi korban saat itu. “Saya hampir tiap malam salat tahajud, memohon agar Feri berhenti untuk tidak ikut-ikutan ritual. Ritualnya bukan hanya di pantai Jember, tetapi juga ke Banyuwangi, Pasir Putih dan Bali. Ya ikut Pak Hasan ini,” keluh ibu yang sehari-harinya penjual pecel ini.

Sementara itu korban selamat lainnya, ada nama Bintang, perempuan 19 tahun asal Jalan Kaca Piring Piring, Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang. Bintang inilah yang diakui Feri yang sempat menarik kakinya, hingga Bintang berhasil ikutan selamat. Saat ditemui itu, kondisi Bintang terlihat sangat depresi lantaran ibunya, Sulastri, turut menjadi korban ritual maut tersebut.

- Advertisement -

JEMBER.RADARJEMBER.ID- Anggota Tunggal Jati Nusantara begitu yakin dengan ritual yang dijalaninya. Entah apa yang menjadi doktrin sang pemimpin, Nur Hasan, kepada para anggotanya. Yang jelas, anggota kelompok ini selalu mengikuti ajakan sang imam. Bahkan, ada yang sampai jarang pulang dan mengabaikan keluarganya.

M Feri Luhur Febrianto, salah satu korban selamat dari ritual maut Pantai Payangan, menceritakan hal itu. Dia mengaku mengikuti ritual sudah setahun lebih, yang dipandu oleh Nur Hasan. Pimpinan kelompok asal Dukuh Mencek, Kecamatan Sukorambi. Kadang-kadang ritual itu diikutinya sebulan dua kali. Tidak hanya di langsungkan di pantai sekitar Jember saja, namun di sejumlah pantai beberapa daerah lain. “Di Banyuwangi hingga ke pantai di Bali, juga pernah,” tambah Feri.

Karena seringkali mengikuti ritual hingga ke luar Jember itu, Feri jadi jarang pulang ke rumahnya di Jalan Ahmad Yani Gg Veteran, Kelurahan Kepatihan, Kaliwates. Karena itulah, ia sering disambati sama ibunya agar tidak lagi mengikuti aliran tersebut dan berhenti. “Saya ikut aliran dan ikut ritual ini bersama puluhan orang lainnya dari berbagai kecamatan. Sudah dilarang oleh ibu (Siti Asiya, Red) karena saya jarang pulang,” sesal Feri.

Benar saja, di saat bersamaan ketika Feri masih dalam perawatan di IGD Puskesmas Ambulu, ibunya Siti Asiya sempat datang menjenguk anaknya itu. Namun dia tidak masuk ke kamar Feri, hanya menunggu di luar puskesmas. Siti Asiya sepertinya masih belum terima ulah anaknya itu yang selama ini sering membuatnya khawatir. “Dia jarang pulang,” ketus Asiya, saat ditanya Jawa Pos Radar Jember mengapa tidak masuk menemui Feri.

Siti Asiya mengaku selama ini sering menasehati Feri agar tidak mengikuti kelompok atau aliran yang aneh-aneh. Karena sering keluyuran dan jarang pulang itu, Asiya merasa mereka sudah lupa sama keluarganya karena sering mengikuti ritual bersama puluhan orang lainnya yang menjadi korban saat itu. “Saya hampir tiap malam salat tahajud, memohon agar Feri berhenti untuk tidak ikut-ikutan ritual. Ritualnya bukan hanya di pantai Jember, tetapi juga ke Banyuwangi, Pasir Putih dan Bali. Ya ikut Pak Hasan ini,” keluh ibu yang sehari-harinya penjual pecel ini.

Sementara itu korban selamat lainnya, ada nama Bintang, perempuan 19 tahun asal Jalan Kaca Piring Piring, Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang. Bintang inilah yang diakui Feri yang sempat menarik kakinya, hingga Bintang berhasil ikutan selamat. Saat ditemui itu, kondisi Bintang terlihat sangat depresi lantaran ibunya, Sulastri, turut menjadi korban ritual maut tersebut.

JEMBER.RADARJEMBER.ID- Anggota Tunggal Jati Nusantara begitu yakin dengan ritual yang dijalaninya. Entah apa yang menjadi doktrin sang pemimpin, Nur Hasan, kepada para anggotanya. Yang jelas, anggota kelompok ini selalu mengikuti ajakan sang imam. Bahkan, ada yang sampai jarang pulang dan mengabaikan keluarganya.

M Feri Luhur Febrianto, salah satu korban selamat dari ritual maut Pantai Payangan, menceritakan hal itu. Dia mengaku mengikuti ritual sudah setahun lebih, yang dipandu oleh Nur Hasan. Pimpinan kelompok asal Dukuh Mencek, Kecamatan Sukorambi. Kadang-kadang ritual itu diikutinya sebulan dua kali. Tidak hanya di langsungkan di pantai sekitar Jember saja, namun di sejumlah pantai beberapa daerah lain. “Di Banyuwangi hingga ke pantai di Bali, juga pernah,” tambah Feri.

Karena seringkali mengikuti ritual hingga ke luar Jember itu, Feri jadi jarang pulang ke rumahnya di Jalan Ahmad Yani Gg Veteran, Kelurahan Kepatihan, Kaliwates. Karena itulah, ia sering disambati sama ibunya agar tidak lagi mengikuti aliran tersebut dan berhenti. “Saya ikut aliran dan ikut ritual ini bersama puluhan orang lainnya dari berbagai kecamatan. Sudah dilarang oleh ibu (Siti Asiya, Red) karena saya jarang pulang,” sesal Feri.

Benar saja, di saat bersamaan ketika Feri masih dalam perawatan di IGD Puskesmas Ambulu, ibunya Siti Asiya sempat datang menjenguk anaknya itu. Namun dia tidak masuk ke kamar Feri, hanya menunggu di luar puskesmas. Siti Asiya sepertinya masih belum terima ulah anaknya itu yang selama ini sering membuatnya khawatir. “Dia jarang pulang,” ketus Asiya, saat ditanya Jawa Pos Radar Jember mengapa tidak masuk menemui Feri.

Siti Asiya mengaku selama ini sering menasehati Feri agar tidak mengikuti kelompok atau aliran yang aneh-aneh. Karena sering keluyuran dan jarang pulang itu, Asiya merasa mereka sudah lupa sama keluarganya karena sering mengikuti ritual bersama puluhan orang lainnya yang menjadi korban saat itu. “Saya hampir tiap malam salat tahajud, memohon agar Feri berhenti untuk tidak ikut-ikutan ritual. Ritualnya bukan hanya di pantai Jember, tetapi juga ke Banyuwangi, Pasir Putih dan Bali. Ya ikut Pak Hasan ini,” keluh ibu yang sehari-harinya penjual pecel ini.

Sementara itu korban selamat lainnya, ada nama Bintang, perempuan 19 tahun asal Jalan Kaca Piring Piring, Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang. Bintang inilah yang diakui Feri yang sempat menarik kakinya, hingga Bintang berhasil ikutan selamat. Saat ditemui itu, kondisi Bintang terlihat sangat depresi lantaran ibunya, Sulastri, turut menjadi korban ritual maut tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/