alexametrics
23.7 C
Jember
Saturday, 24 September 2022

Komisi C DPRD Jember Minta PT KAI Salurkan CSR untuk Bangun Perlintasan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID Tragedi yang berujung maut di perlintasan kereta api menjadi sorotan publik di Jember. Karena baru tiga hari, ada lima nyawa warga Jember yang melayang.

Dua korban terlibat kecelakaan di perlintasan Jalan Mangga, Kelurahan/Kecamatan Patrang, Kamis (11/8) malam. Sedangkan tiga korban di perlintasan tanpa palang pintu di Desa Sumberlesung, Kecamatan Ledokombo, siang ini.

Meski pada kasus di Jalan Mangga pemerintah daerah dan PT Kereta Api Indonesia (PT) KAI Daop 9 Jember telah merespons dengan menutup pintu perlintasan swadaya itu. Namun, tindakan tersebut dinilai belum cukup. Perlu ada langkah konkret dan menyeluruh.

Mobile_AP_Rectangle 2

BACA JUGA: Mengenaskan, Tiga Bocah di Jember Meninggal Tertabrak Kereta Api

Misalnya dengan membangun palang pintu di perlintasan yang cukup ramai, serta menyiagakan petugas khusus yang berkompeten. Biayanya bisa diambilkan dari Corporate Sosial Responsibility (CRS) atau tanggung jawab perusahaan kepada lingkungan dengan menyalurkan dana sosial.

“Ini bukan kejadian pertama. Sudah berulang kali. Seharusnya PT KAI mengusulkan jalan yang sudah ramai agar dianggarkan dalam APBD atau langsung dari atas,” seru Budi Wicaksono, anggota DPRD Jember.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, politisi yang juga Ketua Komisi C DPRD Jember, yang salah satunya membidangi perhubungan itu menyebut, palang pintu perlintasan swadaya masyarakat akan sulit memiliki petugas kompeten tanpa campur tangan pemerintah dan PT KAI.

“Apalagi jika petugas penjaga itu juga diberi imbalan ala kadarnya atau tidak sesuai UMK. Hal ini yang perlu menjadi PR agar pemerintah dan PT KAI memperhatikan hal itu,” katanya.

BACA JUGA: Ibu dan Bocah 8 Tahun yang Tertabrak Kereta di Jember Akhirnya Meninggal

Ini, kata dia, demi mendapatkan penjaga kompeten dan tidak dibiarkan sampai bertahun-tahun lamanya. “Kalau sudah tahu penjaganya tidak kompeten, sebaiknya jalan ditutup sampai ada yang dinyatakan kompeten. Ini sudah berapa tahun jalan itu dibuka. Kalau jalan sudah ramai, PT KAI layak mengusulkan dan menjaga perlintasan,” imbuhnya.

Budi meminta agar pemerintah dan PT KAI turun tangan dan menyediakan petugas kompeten untuk menjaga perlintasan kereta api. Termasuk membangun palang pintu di perlintasan lain yang belum tersedia.

“Tahun ini, dewan mengusulkan agar ada pembangunan perlintasan yang diambilkan dari dana APBD. Selain itu, dana CSR juga bisa dipakai untuk kepentingan palang pintu perlintasan,” ujarnya.

BACA JUGA: Tiga Hari, Lima Nyawa Warga Jember Melayang di Perlintasan Kereta

Pada kasus kecelakaan di Jalan Mangga, Patrang, sejumlah pihak telah bereaksi. Demi mencegah kecelakaan maut itu terulang, pintu perlintasan swadaya masyarakat itu ditutup. Penutupan itu dilakukan Dinas Perhubungan, PT KAI, TNI, Polri, serta masyarakat setempat melalui rapat koordinasi pascainsiden yang merenggut nyawa seorang ibu dan putrinya.

“Ditutup sampai kami merekrut penjaga palang perlintasan kereta api yang kompeten,” kata Tohari, Plt Humas PT KAI Daop 9 Jember. Tindakan itu, merupakan respons pascaterjadinya kecelakaan di perlintasan Jalan Mangga.

PT KAI secara kelembagaan menyesalkan kecelakaan itu. Tohari menyebut, kereta api memiliki jalur sendiri dan tidak bisa berhenti secara mendadak. Dengan demikian, pengguna jalan harus mendahulukan perjalanan kereta api.

BACA JUGA: Saksi Ungkap Fakta Baru Kecelakaan Kereta di Jember yang Tewaskan Ibu-Anak

“Seluruh pengguna jalan wajib mendahulukan perjalanan kereta api saat melalui perlintasan sebidang. Itu sudah diatur dalam undang-undang,” jelasnya. Oleh karena itu, diharapkan masyarakat lebih berhati-hati meskipun ada palang pintu pada perlintasan tersebut.

Terjadinya peristiwa kecelakaan yang melibatkan kereta api dan pengendara motor di perlintasan Jalan Mangga, menurutnya, bukan serta-merta kesalahan PT KAI. Masyarakat enggan berhati-hati saat melintasi jalur kereta api juga merupakan penyebab utama terjadinya kecelakaan.

Tohari mengakui, penjaga perlintasan kereta api di Jalan Mangga kurang kompeten. Perlintasan kereta api dijaga oleh seorang yang ditugaskan oleh masyarakat, bukan dari PT KAI.

Menurutnya, untuk menjadi penjaga perlintasan kereta api ada tahapan tes dari PT KAI yang harus dilalui. “Ada beberapa tes yang harus dilalui untuk benar-benar bisa menjadi seorang penjaga perlintasan kereta api,” pungkasnya. (*)

Reporter: Azzqal Azqiya’ Achmad

Foto      : Azzqal Azqiya’ Achmad

Editor   : Mahrus Sholih

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID Tragedi yang berujung maut di perlintasan kereta api menjadi sorotan publik di Jember. Karena baru tiga hari, ada lima nyawa warga Jember yang melayang.

Dua korban terlibat kecelakaan di perlintasan Jalan Mangga, Kelurahan/Kecamatan Patrang, Kamis (11/8) malam. Sedangkan tiga korban di perlintasan tanpa palang pintu di Desa Sumberlesung, Kecamatan Ledokombo, siang ini.

Meski pada kasus di Jalan Mangga pemerintah daerah dan PT Kereta Api Indonesia (PT) KAI Daop 9 Jember telah merespons dengan menutup pintu perlintasan swadaya itu. Namun, tindakan tersebut dinilai belum cukup. Perlu ada langkah konkret dan menyeluruh.

BACA JUGA: Mengenaskan, Tiga Bocah di Jember Meninggal Tertabrak Kereta Api

Misalnya dengan membangun palang pintu di perlintasan yang cukup ramai, serta menyiagakan petugas khusus yang berkompeten. Biayanya bisa diambilkan dari Corporate Sosial Responsibility (CRS) atau tanggung jawab perusahaan kepada lingkungan dengan menyalurkan dana sosial.

“Ini bukan kejadian pertama. Sudah berulang kali. Seharusnya PT KAI mengusulkan jalan yang sudah ramai agar dianggarkan dalam APBD atau langsung dari atas,” seru Budi Wicaksono, anggota DPRD Jember.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, politisi yang juga Ketua Komisi C DPRD Jember, yang salah satunya membidangi perhubungan itu menyebut, palang pintu perlintasan swadaya masyarakat akan sulit memiliki petugas kompeten tanpa campur tangan pemerintah dan PT KAI.

“Apalagi jika petugas penjaga itu juga diberi imbalan ala kadarnya atau tidak sesuai UMK. Hal ini yang perlu menjadi PR agar pemerintah dan PT KAI memperhatikan hal itu,” katanya.

BACA JUGA: Ibu dan Bocah 8 Tahun yang Tertabrak Kereta di Jember Akhirnya Meninggal

Ini, kata dia, demi mendapatkan penjaga kompeten dan tidak dibiarkan sampai bertahun-tahun lamanya. “Kalau sudah tahu penjaganya tidak kompeten, sebaiknya jalan ditutup sampai ada yang dinyatakan kompeten. Ini sudah berapa tahun jalan itu dibuka. Kalau jalan sudah ramai, PT KAI layak mengusulkan dan menjaga perlintasan,” imbuhnya.

Budi meminta agar pemerintah dan PT KAI turun tangan dan menyediakan petugas kompeten untuk menjaga perlintasan kereta api. Termasuk membangun palang pintu di perlintasan lain yang belum tersedia.

“Tahun ini, dewan mengusulkan agar ada pembangunan perlintasan yang diambilkan dari dana APBD. Selain itu, dana CSR juga bisa dipakai untuk kepentingan palang pintu perlintasan,” ujarnya.

BACA JUGA: Tiga Hari, Lima Nyawa Warga Jember Melayang di Perlintasan Kereta

Pada kasus kecelakaan di Jalan Mangga, Patrang, sejumlah pihak telah bereaksi. Demi mencegah kecelakaan maut itu terulang, pintu perlintasan swadaya masyarakat itu ditutup. Penutupan itu dilakukan Dinas Perhubungan, PT KAI, TNI, Polri, serta masyarakat setempat melalui rapat koordinasi pascainsiden yang merenggut nyawa seorang ibu dan putrinya.

“Ditutup sampai kami merekrut penjaga palang perlintasan kereta api yang kompeten,” kata Tohari, Plt Humas PT KAI Daop 9 Jember. Tindakan itu, merupakan respons pascaterjadinya kecelakaan di perlintasan Jalan Mangga.

PT KAI secara kelembagaan menyesalkan kecelakaan itu. Tohari menyebut, kereta api memiliki jalur sendiri dan tidak bisa berhenti secara mendadak. Dengan demikian, pengguna jalan harus mendahulukan perjalanan kereta api.

BACA JUGA: Saksi Ungkap Fakta Baru Kecelakaan Kereta di Jember yang Tewaskan Ibu-Anak

“Seluruh pengguna jalan wajib mendahulukan perjalanan kereta api saat melalui perlintasan sebidang. Itu sudah diatur dalam undang-undang,” jelasnya. Oleh karena itu, diharapkan masyarakat lebih berhati-hati meskipun ada palang pintu pada perlintasan tersebut.

Terjadinya peristiwa kecelakaan yang melibatkan kereta api dan pengendara motor di perlintasan Jalan Mangga, menurutnya, bukan serta-merta kesalahan PT KAI. Masyarakat enggan berhati-hati saat melintasi jalur kereta api juga merupakan penyebab utama terjadinya kecelakaan.

Tohari mengakui, penjaga perlintasan kereta api di Jalan Mangga kurang kompeten. Perlintasan kereta api dijaga oleh seorang yang ditugaskan oleh masyarakat, bukan dari PT KAI.

Menurutnya, untuk menjadi penjaga perlintasan kereta api ada tahapan tes dari PT KAI yang harus dilalui. “Ada beberapa tes yang harus dilalui untuk benar-benar bisa menjadi seorang penjaga perlintasan kereta api,” pungkasnya. (*)

Reporter: Azzqal Azqiya’ Achmad

Foto      : Azzqal Azqiya’ Achmad

Editor   : Mahrus Sholih

JEMBER, RADARJEMBER.ID Tragedi yang berujung maut di perlintasan kereta api menjadi sorotan publik di Jember. Karena baru tiga hari, ada lima nyawa warga Jember yang melayang.

Dua korban terlibat kecelakaan di perlintasan Jalan Mangga, Kelurahan/Kecamatan Patrang, Kamis (11/8) malam. Sedangkan tiga korban di perlintasan tanpa palang pintu di Desa Sumberlesung, Kecamatan Ledokombo, siang ini.

Meski pada kasus di Jalan Mangga pemerintah daerah dan PT Kereta Api Indonesia (PT) KAI Daop 9 Jember telah merespons dengan menutup pintu perlintasan swadaya itu. Namun, tindakan tersebut dinilai belum cukup. Perlu ada langkah konkret dan menyeluruh.

BACA JUGA: Mengenaskan, Tiga Bocah di Jember Meninggal Tertabrak Kereta Api

Misalnya dengan membangun palang pintu di perlintasan yang cukup ramai, serta menyiagakan petugas khusus yang berkompeten. Biayanya bisa diambilkan dari Corporate Sosial Responsibility (CRS) atau tanggung jawab perusahaan kepada lingkungan dengan menyalurkan dana sosial.

“Ini bukan kejadian pertama. Sudah berulang kali. Seharusnya PT KAI mengusulkan jalan yang sudah ramai agar dianggarkan dalam APBD atau langsung dari atas,” seru Budi Wicaksono, anggota DPRD Jember.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, politisi yang juga Ketua Komisi C DPRD Jember, yang salah satunya membidangi perhubungan itu menyebut, palang pintu perlintasan swadaya masyarakat akan sulit memiliki petugas kompeten tanpa campur tangan pemerintah dan PT KAI.

“Apalagi jika petugas penjaga itu juga diberi imbalan ala kadarnya atau tidak sesuai UMK. Hal ini yang perlu menjadi PR agar pemerintah dan PT KAI memperhatikan hal itu,” katanya.

BACA JUGA: Ibu dan Bocah 8 Tahun yang Tertabrak Kereta di Jember Akhirnya Meninggal

Ini, kata dia, demi mendapatkan penjaga kompeten dan tidak dibiarkan sampai bertahun-tahun lamanya. “Kalau sudah tahu penjaganya tidak kompeten, sebaiknya jalan ditutup sampai ada yang dinyatakan kompeten. Ini sudah berapa tahun jalan itu dibuka. Kalau jalan sudah ramai, PT KAI layak mengusulkan dan menjaga perlintasan,” imbuhnya.

Budi meminta agar pemerintah dan PT KAI turun tangan dan menyediakan petugas kompeten untuk menjaga perlintasan kereta api. Termasuk membangun palang pintu di perlintasan lain yang belum tersedia.

“Tahun ini, dewan mengusulkan agar ada pembangunan perlintasan yang diambilkan dari dana APBD. Selain itu, dana CSR juga bisa dipakai untuk kepentingan palang pintu perlintasan,” ujarnya.

BACA JUGA: Tiga Hari, Lima Nyawa Warga Jember Melayang di Perlintasan Kereta

Pada kasus kecelakaan di Jalan Mangga, Patrang, sejumlah pihak telah bereaksi. Demi mencegah kecelakaan maut itu terulang, pintu perlintasan swadaya masyarakat itu ditutup. Penutupan itu dilakukan Dinas Perhubungan, PT KAI, TNI, Polri, serta masyarakat setempat melalui rapat koordinasi pascainsiden yang merenggut nyawa seorang ibu dan putrinya.

“Ditutup sampai kami merekrut penjaga palang perlintasan kereta api yang kompeten,” kata Tohari, Plt Humas PT KAI Daop 9 Jember. Tindakan itu, merupakan respons pascaterjadinya kecelakaan di perlintasan Jalan Mangga.

PT KAI secara kelembagaan menyesalkan kecelakaan itu. Tohari menyebut, kereta api memiliki jalur sendiri dan tidak bisa berhenti secara mendadak. Dengan demikian, pengguna jalan harus mendahulukan perjalanan kereta api.

BACA JUGA: Saksi Ungkap Fakta Baru Kecelakaan Kereta di Jember yang Tewaskan Ibu-Anak

“Seluruh pengguna jalan wajib mendahulukan perjalanan kereta api saat melalui perlintasan sebidang. Itu sudah diatur dalam undang-undang,” jelasnya. Oleh karena itu, diharapkan masyarakat lebih berhati-hati meskipun ada palang pintu pada perlintasan tersebut.

Terjadinya peristiwa kecelakaan yang melibatkan kereta api dan pengendara motor di perlintasan Jalan Mangga, menurutnya, bukan serta-merta kesalahan PT KAI. Masyarakat enggan berhati-hati saat melintasi jalur kereta api juga merupakan penyebab utama terjadinya kecelakaan.

Tohari mengakui, penjaga perlintasan kereta api di Jalan Mangga kurang kompeten. Perlintasan kereta api dijaga oleh seorang yang ditugaskan oleh masyarakat, bukan dari PT KAI.

Menurutnya, untuk menjadi penjaga perlintasan kereta api ada tahapan tes dari PT KAI yang harus dilalui. “Ada beberapa tes yang harus dilalui untuk benar-benar bisa menjadi seorang penjaga perlintasan kereta api,” pungkasnya. (*)

Reporter: Azzqal Azqiya’ Achmad

Foto      : Azzqal Azqiya’ Achmad

Editor   : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/