alexametrics
30.3 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Semakin Sepi, Tambah Khusyuk

Perayaan Imlek di Tengah Pandemi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID –  Tahun baru Imlek adalah momen yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Tionghoa. Biasanya, semua keluarga berkumpul dan berbahagia sembari melaksanakan sembahyang bersama di tempat ibadah. Namun, pada perayaan Imlek kali ini, kondisinya berbeda dan tampak sepi. Hampir tak ada kerumunan keluarga. Seperti yang terlihat di Kelenteng Pay Lien San di Dusun Karang Asem, Desa Glagahwero, Kecamatan Panti.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, satu per satu umat yang memakai baju berwarna merah memasuki kelenteng. Sebagian ada yang membeli dupa di kelenteng terlebih dulu. Sebagian lagi membawanya dari rumah. Lalu, mereka melakukan sembahyang di dalam Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) tersebut.

Biasanya, seusai melakukan sembahyang, para jemaat melakukan tradisi makan-makan di ruang belakang kelenteng. Mereka menikmati sajian serta kudapan khas Imlek. Namun, kali ini tak seperti itu. Hidangan yang disajikan tak begitu banyak. Sebab, pengurus kelenteng sudah memprediksi jumlah jemaat yang datang tak sebanyak tahun-tahun sebelumnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Jemaat yang datang memang tak seramai tahun lalu. Mereka yang datang juga tak bergerombol satu keluarga. Yang datang hanya satu hingga tiga orang. Pada pukul 08.00, misalnya, total hanya 12 jemaat yang bersembahyamg. Padahal sebelumnya, di jam-jam tersebut jemaat yang hadir bisa mencapai ratusan.

Wakil Ketua Kelenteng Pay Lien San, Jap Swie Liong alias Hery Nofem Stadiono, mengatakan, perayaan Imlek tahun ini cukup sepi. Jemaatnya menyusut hingga tiga per empat. Di tahun normal, jumlah jemaat yang datang ke Kelenteng bisa mencapai 400 orang. “Sekarang mungkin hanya sekitar 100 orang,” ungkapnya, kemarin (12/2).

Jap Swie Liong menuturkan, penurunan jemaat memang terjadi sejak awal pandemi. Dan hingga sekarang, penurunan semakin banyak. Masyarakat Tionghoa juga melakukan pembatasan sosial, termasuk untuk datang ke tempat ibadah. “Para jemaat menyadari dengan imbauan agar tetap di rumah,” imbuhnya.

Dia menambahkan, pelaksanaan peribadatan dibuka hingga dua pekan ke depan. Namun, setiap umat yang datang hanya diperbolehkan untuk melakukan peribadatan secara pribadi dan tidak diizinkan berjemaat.

“Hakikatnya, ibadah ini dapat dilakukan di rumah. Namun, jika dikerjakan di kelenteng akan lebih khusyuk,” ungkap Melina, salah seorang jemaat asal Bondowoso yang melakukan sembahyang di Kelenteng Pay Lien San. Selama pandemi, dirinya mengaku lebih banyak sembahyang di rumah bersama keluarganya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID –  Tahun baru Imlek adalah momen yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Tionghoa. Biasanya, semua keluarga berkumpul dan berbahagia sembari melaksanakan sembahyang bersama di tempat ibadah. Namun, pada perayaan Imlek kali ini, kondisinya berbeda dan tampak sepi. Hampir tak ada kerumunan keluarga. Seperti yang terlihat di Kelenteng Pay Lien San di Dusun Karang Asem, Desa Glagahwero, Kecamatan Panti.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, satu per satu umat yang memakai baju berwarna merah memasuki kelenteng. Sebagian ada yang membeli dupa di kelenteng terlebih dulu. Sebagian lagi membawanya dari rumah. Lalu, mereka melakukan sembahyang di dalam Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) tersebut.

Biasanya, seusai melakukan sembahyang, para jemaat melakukan tradisi makan-makan di ruang belakang kelenteng. Mereka menikmati sajian serta kudapan khas Imlek. Namun, kali ini tak seperti itu. Hidangan yang disajikan tak begitu banyak. Sebab, pengurus kelenteng sudah memprediksi jumlah jemaat yang datang tak sebanyak tahun-tahun sebelumnya.

Jemaat yang datang memang tak seramai tahun lalu. Mereka yang datang juga tak bergerombol satu keluarga. Yang datang hanya satu hingga tiga orang. Pada pukul 08.00, misalnya, total hanya 12 jemaat yang bersembahyamg. Padahal sebelumnya, di jam-jam tersebut jemaat yang hadir bisa mencapai ratusan.

Wakil Ketua Kelenteng Pay Lien San, Jap Swie Liong alias Hery Nofem Stadiono, mengatakan, perayaan Imlek tahun ini cukup sepi. Jemaatnya menyusut hingga tiga per empat. Di tahun normal, jumlah jemaat yang datang ke Kelenteng bisa mencapai 400 orang. “Sekarang mungkin hanya sekitar 100 orang,” ungkapnya, kemarin (12/2).

Jap Swie Liong menuturkan, penurunan jemaat memang terjadi sejak awal pandemi. Dan hingga sekarang, penurunan semakin banyak. Masyarakat Tionghoa juga melakukan pembatasan sosial, termasuk untuk datang ke tempat ibadah. “Para jemaat menyadari dengan imbauan agar tetap di rumah,” imbuhnya.

Dia menambahkan, pelaksanaan peribadatan dibuka hingga dua pekan ke depan. Namun, setiap umat yang datang hanya diperbolehkan untuk melakukan peribadatan secara pribadi dan tidak diizinkan berjemaat.

“Hakikatnya, ibadah ini dapat dilakukan di rumah. Namun, jika dikerjakan di kelenteng akan lebih khusyuk,” ungkap Melina, salah seorang jemaat asal Bondowoso yang melakukan sembahyang di Kelenteng Pay Lien San. Selama pandemi, dirinya mengaku lebih banyak sembahyang di rumah bersama keluarganya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID –  Tahun baru Imlek adalah momen yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Tionghoa. Biasanya, semua keluarga berkumpul dan berbahagia sembari melaksanakan sembahyang bersama di tempat ibadah. Namun, pada perayaan Imlek kali ini, kondisinya berbeda dan tampak sepi. Hampir tak ada kerumunan keluarga. Seperti yang terlihat di Kelenteng Pay Lien San di Dusun Karang Asem, Desa Glagahwero, Kecamatan Panti.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, satu per satu umat yang memakai baju berwarna merah memasuki kelenteng. Sebagian ada yang membeli dupa di kelenteng terlebih dulu. Sebagian lagi membawanya dari rumah. Lalu, mereka melakukan sembahyang di dalam Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) tersebut.

Biasanya, seusai melakukan sembahyang, para jemaat melakukan tradisi makan-makan di ruang belakang kelenteng. Mereka menikmati sajian serta kudapan khas Imlek. Namun, kali ini tak seperti itu. Hidangan yang disajikan tak begitu banyak. Sebab, pengurus kelenteng sudah memprediksi jumlah jemaat yang datang tak sebanyak tahun-tahun sebelumnya.

Jemaat yang datang memang tak seramai tahun lalu. Mereka yang datang juga tak bergerombol satu keluarga. Yang datang hanya satu hingga tiga orang. Pada pukul 08.00, misalnya, total hanya 12 jemaat yang bersembahyamg. Padahal sebelumnya, di jam-jam tersebut jemaat yang hadir bisa mencapai ratusan.

Wakil Ketua Kelenteng Pay Lien San, Jap Swie Liong alias Hery Nofem Stadiono, mengatakan, perayaan Imlek tahun ini cukup sepi. Jemaatnya menyusut hingga tiga per empat. Di tahun normal, jumlah jemaat yang datang ke Kelenteng bisa mencapai 400 orang. “Sekarang mungkin hanya sekitar 100 orang,” ungkapnya, kemarin (12/2).

Jap Swie Liong menuturkan, penurunan jemaat memang terjadi sejak awal pandemi. Dan hingga sekarang, penurunan semakin banyak. Masyarakat Tionghoa juga melakukan pembatasan sosial, termasuk untuk datang ke tempat ibadah. “Para jemaat menyadari dengan imbauan agar tetap di rumah,” imbuhnya.

Dia menambahkan, pelaksanaan peribadatan dibuka hingga dua pekan ke depan. Namun, setiap umat yang datang hanya diperbolehkan untuk melakukan peribadatan secara pribadi dan tidak diizinkan berjemaat.

“Hakikatnya, ibadah ini dapat dilakukan di rumah. Namun, jika dikerjakan di kelenteng akan lebih khusyuk,” ungkap Melina, salah seorang jemaat asal Bondowoso yang melakukan sembahyang di Kelenteng Pay Lien San. Selama pandemi, dirinya mengaku lebih banyak sembahyang di rumah bersama keluarganya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/