alexametrics
23.4 C
Jember
Monday, 27 June 2022

Miliki Koleksi Buku Kuno hingga Radio Produksi Tahun 1830

Panggilan jiwa membuat Hartono menjadi kolektor barang antik sejak usia sekolah. Bahkan, pria berperawakan kurus itu sampai menganggap benda langka tersebut sebagai istri keduanya. Kenapa dia bisa jatuh hati dengan benda-benda jadul itu?

Mobile_AP_Rectangle 1

Ruangan sempit itu tampak dipenuhi barang-barang lawas. Oleh pria yang lahir di Desa Suco, Kecamatan Mumbulsari, ini ruangan itu difungsikan untuk menaruh 18 radio jadul dengan beragam ukuran, dan beberapa buku berbahasa Belanda.

Tak hanya itu, di ruangan yang sama, suami Anik Nur Rahmawati tersebut juga memiliki koleksi barang antik lain. Seperti sepeda, mesin telepon, samurai, senapan, jam beker, jam dinding, mesin jahit, serta berbagai patung. Dibantu sang istri, dia setiap hari tidak pernah lupa membersihkan isi ruangan tersebut agar tidak berdebu. “Untung istriku memiliki kecintaan pula terhadap benda-benda kuno ini. Jadi, untuk membersihkan ruangan ini tidak terlampau berat,” ungkapnya.

Meski hobinya ini sudah ada sejak usia sekolah, tapi kegemaran mengumpulkan benda bersejarah itu semakin getol dilakukan Hartono ketika ia menetap di Kediri, awal 2000 lalu. Apalagi di kota itu, dulu pernah berdiri kerajaan sehingga dirinya tidak susah memperoleh benda-benda peninggalan yang bersejarah. Hartono pun mulai berburu benda antik untuk memenuhi keinginannya sebagai kolektor. Mulai mendatangi langsung pemilik barang kuno, hingga melibatkan teman dan saudara untuk mendapatkan benda tersebut. “Butuh dana tidak sedikit untuk bisa mendapatkan puluhan barang antik. Bagiku, itu sudah risiko seorang kolektor,” terangnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ketika sudah berada di ruangan mirip museum itu, Hartono mengaku betah. Dia sampai menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk merawat benda-benda tersebut. Bahkan, dirinya sampai menganggap benda-benda tersebut sebagai istri kedua.

- Advertisement -

Ruangan sempit itu tampak dipenuhi barang-barang lawas. Oleh pria yang lahir di Desa Suco, Kecamatan Mumbulsari, ini ruangan itu difungsikan untuk menaruh 18 radio jadul dengan beragam ukuran, dan beberapa buku berbahasa Belanda.

Tak hanya itu, di ruangan yang sama, suami Anik Nur Rahmawati tersebut juga memiliki koleksi barang antik lain. Seperti sepeda, mesin telepon, samurai, senapan, jam beker, jam dinding, mesin jahit, serta berbagai patung. Dibantu sang istri, dia setiap hari tidak pernah lupa membersihkan isi ruangan tersebut agar tidak berdebu. “Untung istriku memiliki kecintaan pula terhadap benda-benda kuno ini. Jadi, untuk membersihkan ruangan ini tidak terlampau berat,” ungkapnya.

Meski hobinya ini sudah ada sejak usia sekolah, tapi kegemaran mengumpulkan benda bersejarah itu semakin getol dilakukan Hartono ketika ia menetap di Kediri, awal 2000 lalu. Apalagi di kota itu, dulu pernah berdiri kerajaan sehingga dirinya tidak susah memperoleh benda-benda peninggalan yang bersejarah. Hartono pun mulai berburu benda antik untuk memenuhi keinginannya sebagai kolektor. Mulai mendatangi langsung pemilik barang kuno, hingga melibatkan teman dan saudara untuk mendapatkan benda tersebut. “Butuh dana tidak sedikit untuk bisa mendapatkan puluhan barang antik. Bagiku, itu sudah risiko seorang kolektor,” terangnya.

Ketika sudah berada di ruangan mirip museum itu, Hartono mengaku betah. Dia sampai menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk merawat benda-benda tersebut. Bahkan, dirinya sampai menganggap benda-benda tersebut sebagai istri kedua.

Ruangan sempit itu tampak dipenuhi barang-barang lawas. Oleh pria yang lahir di Desa Suco, Kecamatan Mumbulsari, ini ruangan itu difungsikan untuk menaruh 18 radio jadul dengan beragam ukuran, dan beberapa buku berbahasa Belanda.

Tak hanya itu, di ruangan yang sama, suami Anik Nur Rahmawati tersebut juga memiliki koleksi barang antik lain. Seperti sepeda, mesin telepon, samurai, senapan, jam beker, jam dinding, mesin jahit, serta berbagai patung. Dibantu sang istri, dia setiap hari tidak pernah lupa membersihkan isi ruangan tersebut agar tidak berdebu. “Untung istriku memiliki kecintaan pula terhadap benda-benda kuno ini. Jadi, untuk membersihkan ruangan ini tidak terlampau berat,” ungkapnya.

Meski hobinya ini sudah ada sejak usia sekolah, tapi kegemaran mengumpulkan benda bersejarah itu semakin getol dilakukan Hartono ketika ia menetap di Kediri, awal 2000 lalu. Apalagi di kota itu, dulu pernah berdiri kerajaan sehingga dirinya tidak susah memperoleh benda-benda peninggalan yang bersejarah. Hartono pun mulai berburu benda antik untuk memenuhi keinginannya sebagai kolektor. Mulai mendatangi langsung pemilik barang kuno, hingga melibatkan teman dan saudara untuk mendapatkan benda tersebut. “Butuh dana tidak sedikit untuk bisa mendapatkan puluhan barang antik. Bagiku, itu sudah risiko seorang kolektor,” terangnya.

Ketika sudah berada di ruangan mirip museum itu, Hartono mengaku betah. Dia sampai menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk merawat benda-benda tersebut. Bahkan, dirinya sampai menganggap benda-benda tersebut sebagai istri kedua.

Previous articleSemakin Sepi, Tambah Khusyuk
Next article

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/