alexametrics
23.3 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Miliki Koleksi Buku Kuno hingga Radio Produksi Tahun 1830

Panggilan jiwa membuat Hartono menjadi kolektor barang antik sejak usia sekolah. Bahkan, pria berperawakan kurus itu sampai menganggap benda langka tersebut sebagai istri keduanya. Kenapa dia bisa jatuh hati dengan benda-benda jadul itu?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dari tampilan bangunan di Perumahan Graha Citra Mas blok B-12, Kelurahan Tegalbesar, Kecamatan Kaliwates, orang langsung bisa menebak bila sang pemilik rumah memiliki darah seni. Rumah yang didominasi cat warna kuning keemasan itu tampilannya cukup nyentrik. Sebab, di lantai dua rumah terpasang sebuah dokar, sarana transportasi tempo dulu.

“Saya belinya di Kecamatan Kalisat. Sebenarnya dokar ini cuma sebagai tetenger untuk memudahkan orang menemukan rumahku. Karena di sini hanya ada satu rumah yang terdapat hiasan dokar,” kelakar Hartono, membuka percakapan ketika Jawa Pos Radar Jember mengunjungi rumahnya, belum lama ini.

Rupanya, darah seni ayah tiga anak ini tak hanya diwujudkan dalam dekorasi rumahnya, tapi juga disalurkan melalui hobinya. Ya, Hartono adalah seorang kolektor benda antik dan kuno. Bahkan, dia memiliki ruangan khusus berukuran 4×5 meter yang berisikan barang antik. Mulai dari radio buatan tahun 1830 hingga buku tentang konstruksi bangunan berbahasa Belanda terbitan tahun 1911.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Radio koleksiku masih bisa didengarkan dan pernah ditawar orang, termasuk buku kuno ini. Berkali-kali ditawar orang, tapi aku berat bila benda-benda bersejarah ini berpindah tangan,” imbuh lelaki kelahiran Jember, 17 Agustus 1976, itu.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dari tampilan bangunan di Perumahan Graha Citra Mas blok B-12, Kelurahan Tegalbesar, Kecamatan Kaliwates, orang langsung bisa menebak bila sang pemilik rumah memiliki darah seni. Rumah yang didominasi cat warna kuning keemasan itu tampilannya cukup nyentrik. Sebab, di lantai dua rumah terpasang sebuah dokar, sarana transportasi tempo dulu.

“Saya belinya di Kecamatan Kalisat. Sebenarnya dokar ini cuma sebagai tetenger untuk memudahkan orang menemukan rumahku. Karena di sini hanya ada satu rumah yang terdapat hiasan dokar,” kelakar Hartono, membuka percakapan ketika Jawa Pos Radar Jember mengunjungi rumahnya, belum lama ini.

Rupanya, darah seni ayah tiga anak ini tak hanya diwujudkan dalam dekorasi rumahnya, tapi juga disalurkan melalui hobinya. Ya, Hartono adalah seorang kolektor benda antik dan kuno. Bahkan, dia memiliki ruangan khusus berukuran 4×5 meter yang berisikan barang antik. Mulai dari radio buatan tahun 1830 hingga buku tentang konstruksi bangunan berbahasa Belanda terbitan tahun 1911.

“Radio koleksiku masih bisa didengarkan dan pernah ditawar orang, termasuk buku kuno ini. Berkali-kali ditawar orang, tapi aku berat bila benda-benda bersejarah ini berpindah tangan,” imbuh lelaki kelahiran Jember, 17 Agustus 1976, itu.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dari tampilan bangunan di Perumahan Graha Citra Mas blok B-12, Kelurahan Tegalbesar, Kecamatan Kaliwates, orang langsung bisa menebak bila sang pemilik rumah memiliki darah seni. Rumah yang didominasi cat warna kuning keemasan itu tampilannya cukup nyentrik. Sebab, di lantai dua rumah terpasang sebuah dokar, sarana transportasi tempo dulu.

“Saya belinya di Kecamatan Kalisat. Sebenarnya dokar ini cuma sebagai tetenger untuk memudahkan orang menemukan rumahku. Karena di sini hanya ada satu rumah yang terdapat hiasan dokar,” kelakar Hartono, membuka percakapan ketika Jawa Pos Radar Jember mengunjungi rumahnya, belum lama ini.

Rupanya, darah seni ayah tiga anak ini tak hanya diwujudkan dalam dekorasi rumahnya, tapi juga disalurkan melalui hobinya. Ya, Hartono adalah seorang kolektor benda antik dan kuno. Bahkan, dia memiliki ruangan khusus berukuran 4×5 meter yang berisikan barang antik. Mulai dari radio buatan tahun 1830 hingga buku tentang konstruksi bangunan berbahasa Belanda terbitan tahun 1911.

“Radio koleksiku masih bisa didengarkan dan pernah ditawar orang, termasuk buku kuno ini. Berkali-kali ditawar orang, tapi aku berat bila benda-benda bersejarah ini berpindah tangan,” imbuh lelaki kelahiran Jember, 17 Agustus 1976, itu.

Previous articleSemakin Sepi, Tambah Khusyuk
Next article

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/