alexametrics
25.6 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Jadi Penyumbang AKI AKB, Ini Langkah DP3AKB Jember Cegah Pernikahan Dini

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI.RADARJEMBER.ID- Jurnalisme warga di Jember, semakin menunjukkan eksistensinya. Seperti yang dilakukan dua jurnalis warga dari Gerakan Peduli Perempuan (GPP) Jember, Nurhayati dan Nurul. Keduanya meliput tentang upaya pencegahan pernikahan dini yang menjadi salah satu faktor penyumbang tingginya angka kematian ibu dan bayi (AKI AKB) di Jember.

Dalam laporan tertulisnya, Nurhayati mencatat, ada tiga kecamatan di wilayah utara Jember yang menjadi lumbung pernikahan usia anak. Yakni Kecamatan Kalisat, Sukowono, dan Ledokombo. Aktivis perempuan yang juga Ketua Gerakan untuk Kesejahteraan Tuli Indonesia (Gerkatin) Jember ini, mewawancarai J Anto Budi N, Plt Kepala Bidang Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kabid KBKS DP3AKB) Jember.

“Masih banyak generasi muda yang belum memahami tentang kesehatan reproduksi. Jadi tingginya kasus pernikahan dini yang terjadi di berbagai desa tersebut karena minimnya pemahaman mereka tentang kesehatan reproduksi tersebut,” terang Anto, kepada Jurnalis Warga GPP Jember, Kamis (10/6).

Mobile_AP_Rectangle 2

Selain menjadi penyumbang AKIKBBL, pernikahan di usia muda juga berpengaruh terhadap kesejahteraan keluarga. Bahkan, pada beberapa kasus, perkawinan dini juga menyebabkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Karena secara emosional, mereka belum siap menghadapi permasalahan dalam keluarga.

Menurut Anto, kehamilan maupun proses persalinan pada usia muda memiliki risiko yang berbahaya. Karena kurang siapnya organ reproduksi. Oleh karenanya, DP3AKB memiliki program untuk mengurangi angka pernikahan dini dan AKI AKB itu, di antaranya kegiatan pembinaan pelayanan keluarga berencana.

Selain itu, juga pembinaan institusi masyarakat perdesaan, kelompok ketahanan dan kesejahteraan keluarga atau bina keluarga balita, dan usaha peningkatan keluarga sejahtera. “Selain itu kami juga terus menyosialisasikan program Generasi Berencana (Genre) yang di dalamnya adal PIK-R atau pusat informasi dan konseling remaja,” jelasnya.

Jurnalis warga yang lain, Nurul, melaporkan, saat ini Jember telah memiliki 112 PIKR. Sebanyak 98 di antaranya terdapat di sekolah-sekolah. Sisanya, berada di tersebar di beberapa kecamatan.

Nurul yang juga mewawancarai Plt Kabid KBKB DP3AKB Jember J Anto Budi N, menyebutkan, tingginya AKI AKB di Jember telah menjadi isu sentral yang harus mendapat perhatian. Dan DP3AKB tak bisa bekerja sendiri dalam menuntaskan hal itu. Melainkan berkolaborasi dengan berbagai pihak. Baik di internal pemerintahan dengan lintas sektoral, maupun menggandeng elemen masyarakat.

- Advertisement -

SUMBERSARI.RADARJEMBER.ID- Jurnalisme warga di Jember, semakin menunjukkan eksistensinya. Seperti yang dilakukan dua jurnalis warga dari Gerakan Peduli Perempuan (GPP) Jember, Nurhayati dan Nurul. Keduanya meliput tentang upaya pencegahan pernikahan dini yang menjadi salah satu faktor penyumbang tingginya angka kematian ibu dan bayi (AKI AKB) di Jember.

Dalam laporan tertulisnya, Nurhayati mencatat, ada tiga kecamatan di wilayah utara Jember yang menjadi lumbung pernikahan usia anak. Yakni Kecamatan Kalisat, Sukowono, dan Ledokombo. Aktivis perempuan yang juga Ketua Gerakan untuk Kesejahteraan Tuli Indonesia (Gerkatin) Jember ini, mewawancarai J Anto Budi N, Plt Kepala Bidang Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kabid KBKS DP3AKB) Jember.

“Masih banyak generasi muda yang belum memahami tentang kesehatan reproduksi. Jadi tingginya kasus pernikahan dini yang terjadi di berbagai desa tersebut karena minimnya pemahaman mereka tentang kesehatan reproduksi tersebut,” terang Anto, kepada Jurnalis Warga GPP Jember, Kamis (10/6).

Selain menjadi penyumbang AKIKBBL, pernikahan di usia muda juga berpengaruh terhadap kesejahteraan keluarga. Bahkan, pada beberapa kasus, perkawinan dini juga menyebabkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Karena secara emosional, mereka belum siap menghadapi permasalahan dalam keluarga.

Menurut Anto, kehamilan maupun proses persalinan pada usia muda memiliki risiko yang berbahaya. Karena kurang siapnya organ reproduksi. Oleh karenanya, DP3AKB memiliki program untuk mengurangi angka pernikahan dini dan AKI AKB itu, di antaranya kegiatan pembinaan pelayanan keluarga berencana.

Selain itu, juga pembinaan institusi masyarakat perdesaan, kelompok ketahanan dan kesejahteraan keluarga atau bina keluarga balita, dan usaha peningkatan keluarga sejahtera. “Selain itu kami juga terus menyosialisasikan program Generasi Berencana (Genre) yang di dalamnya adal PIK-R atau pusat informasi dan konseling remaja,” jelasnya.

Jurnalis warga yang lain, Nurul, melaporkan, saat ini Jember telah memiliki 112 PIKR. Sebanyak 98 di antaranya terdapat di sekolah-sekolah. Sisanya, berada di tersebar di beberapa kecamatan.

Nurul yang juga mewawancarai Plt Kabid KBKB DP3AKB Jember J Anto Budi N, menyebutkan, tingginya AKI AKB di Jember telah menjadi isu sentral yang harus mendapat perhatian. Dan DP3AKB tak bisa bekerja sendiri dalam menuntaskan hal itu. Melainkan berkolaborasi dengan berbagai pihak. Baik di internal pemerintahan dengan lintas sektoral, maupun menggandeng elemen masyarakat.

SUMBERSARI.RADARJEMBER.ID- Jurnalisme warga di Jember, semakin menunjukkan eksistensinya. Seperti yang dilakukan dua jurnalis warga dari Gerakan Peduli Perempuan (GPP) Jember, Nurhayati dan Nurul. Keduanya meliput tentang upaya pencegahan pernikahan dini yang menjadi salah satu faktor penyumbang tingginya angka kematian ibu dan bayi (AKI AKB) di Jember.

Dalam laporan tertulisnya, Nurhayati mencatat, ada tiga kecamatan di wilayah utara Jember yang menjadi lumbung pernikahan usia anak. Yakni Kecamatan Kalisat, Sukowono, dan Ledokombo. Aktivis perempuan yang juga Ketua Gerakan untuk Kesejahteraan Tuli Indonesia (Gerkatin) Jember ini, mewawancarai J Anto Budi N, Plt Kepala Bidang Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kabid KBKS DP3AKB) Jember.

“Masih banyak generasi muda yang belum memahami tentang kesehatan reproduksi. Jadi tingginya kasus pernikahan dini yang terjadi di berbagai desa tersebut karena minimnya pemahaman mereka tentang kesehatan reproduksi tersebut,” terang Anto, kepada Jurnalis Warga GPP Jember, Kamis (10/6).

Selain menjadi penyumbang AKIKBBL, pernikahan di usia muda juga berpengaruh terhadap kesejahteraan keluarga. Bahkan, pada beberapa kasus, perkawinan dini juga menyebabkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Karena secara emosional, mereka belum siap menghadapi permasalahan dalam keluarga.

Menurut Anto, kehamilan maupun proses persalinan pada usia muda memiliki risiko yang berbahaya. Karena kurang siapnya organ reproduksi. Oleh karenanya, DP3AKB memiliki program untuk mengurangi angka pernikahan dini dan AKI AKB itu, di antaranya kegiatan pembinaan pelayanan keluarga berencana.

Selain itu, juga pembinaan institusi masyarakat perdesaan, kelompok ketahanan dan kesejahteraan keluarga atau bina keluarga balita, dan usaha peningkatan keluarga sejahtera. “Selain itu kami juga terus menyosialisasikan program Generasi Berencana (Genre) yang di dalamnya adal PIK-R atau pusat informasi dan konseling remaja,” jelasnya.

Jurnalis warga yang lain, Nurul, melaporkan, saat ini Jember telah memiliki 112 PIKR. Sebanyak 98 di antaranya terdapat di sekolah-sekolah. Sisanya, berada di tersebar di beberapa kecamatan.

Nurul yang juga mewawancarai Plt Kabid KBKB DP3AKB Jember J Anto Budi N, menyebutkan, tingginya AKI AKB di Jember telah menjadi isu sentral yang harus mendapat perhatian. Dan DP3AKB tak bisa bekerja sendiri dalam menuntaskan hal itu. Melainkan berkolaborasi dengan berbagai pihak. Baik di internal pemerintahan dengan lintas sektoral, maupun menggandeng elemen masyarakat.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/