alexametrics
32.2 C
Jember
Monday, 16 May 2022

Bertekad Bangkit Sendiri, Minta Pemerintah Peduli Pendidikan Anak

Ada banyak perempuan yang harus menjadi tulang punggung keluarganya, pasca-sang suami meninggal. Ifa Susiati adalah salah satunya. Perempuan ini harus berjuang demi masa depan Kinanti Naswa, putrinya. Bagaimana kisahnya?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Keceriaan terpancar di wajah anak-anak yang berkumpul di Pendapa Wahyawibawagraha, kemarin (11/5). Salah satunya ditunjukkan oleh Kinanti Naswa, seorang anak yatim yang ikut dalam acara santunan itu. Anak perempuan yang berusia sekitar lima tahun itu berlari menuju ibunya, seusai diberi santunan.

Namanya saja anak-anak. Di tengah sejumlah anak yatim yang lain, Naswa langsung minta digendong ibunya, Ifa Susiati. Sambil menunggu acara selesai, sang ibu menggendongnya sambil berdiri. Naswa tak mau diturunkan. Anak dan ibu itu tetap berdiri di tengah acara yang juga dihadiri oleh Bupati Hendy Siswanto serta istrinya, Kasih Fajarini.

Pada kesempatan itu, banyak anak dan ibu yang memang terlihat ceria. Namun, sejatinya mereka memiliki kisah yang bermacam-macam. Termasuk urusan perekonomian keluarga mereka juga berbeda-beda.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ifa menyebut, pada saat suaminya meninggal dunia, Naswa masih berusia sekitar dua tahun. Naswa yang saat itu sudah cukup pandai bermain, tak henti-hentinya menanyakan di mana sang ayah. “Sejak meninggal, tanya-tanya terus. Sementara saya, masih cukup syok,” kenang perempuan yang tinggal di Kelurahan Tegal Besar, Kaliwates, tersebut.

Rasa sedih yang dialami Ifa masih sangat dirasakan berbulan-bulan. Sekitar empat bulan setelah itu, Naswa pun masih sering menanyakan ke mana sang ayah. “Begitu saya ditanya, saya tidak bisa jawab apa-apa,” katanya.

Memasuki kurun waktu lima bulan, Ifa kemudian menyadari betul bahwa dirinya telah menjadi tulang punggung sepenuhnya untuk keluarga kecilnya. Dia pun dituntut bisa bekerja dan menghasilkan uang untuk membesarkan dan memikirkan masa depan anak. Akhirnya, dia mulai beranjak untuk mencari pekerjaan. “Saya sempat kerja menjaga toko. Kemudian, saya putuskan untuk berjualan jilbab. Itu pun atas saran teman dan tetangga saya. Kalau tidak, masalah keuangan saya akan tambah sulit,” tuturnya.

Sulitnya perekonomian yang dihadapi Ifa tentu pernah dialami perempuan lain yang suaminya meninggal. Untuk itu, Ifa meminta agar pemerintah memberi perhatian bagi mereka yang nasibnya serupa. “Setelah suami meninggal, perempuan otomatis menjadi kepala keluarga. Saya yakin, banyak perempuan yang belum siap dan itu butuh bantuan,” ujarnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Keceriaan terpancar di wajah anak-anak yang berkumpul di Pendapa Wahyawibawagraha, kemarin (11/5). Salah satunya ditunjukkan oleh Kinanti Naswa, seorang anak yatim yang ikut dalam acara santunan itu. Anak perempuan yang berusia sekitar lima tahun itu berlari menuju ibunya, seusai diberi santunan.

Namanya saja anak-anak. Di tengah sejumlah anak yatim yang lain, Naswa langsung minta digendong ibunya, Ifa Susiati. Sambil menunggu acara selesai, sang ibu menggendongnya sambil berdiri. Naswa tak mau diturunkan. Anak dan ibu itu tetap berdiri di tengah acara yang juga dihadiri oleh Bupati Hendy Siswanto serta istrinya, Kasih Fajarini.

Pada kesempatan itu, banyak anak dan ibu yang memang terlihat ceria. Namun, sejatinya mereka memiliki kisah yang bermacam-macam. Termasuk urusan perekonomian keluarga mereka juga berbeda-beda.

Ifa menyebut, pada saat suaminya meninggal dunia, Naswa masih berusia sekitar dua tahun. Naswa yang saat itu sudah cukup pandai bermain, tak henti-hentinya menanyakan di mana sang ayah. “Sejak meninggal, tanya-tanya terus. Sementara saya, masih cukup syok,” kenang perempuan yang tinggal di Kelurahan Tegal Besar, Kaliwates, tersebut.

Rasa sedih yang dialami Ifa masih sangat dirasakan berbulan-bulan. Sekitar empat bulan setelah itu, Naswa pun masih sering menanyakan ke mana sang ayah. “Begitu saya ditanya, saya tidak bisa jawab apa-apa,” katanya.

Memasuki kurun waktu lima bulan, Ifa kemudian menyadari betul bahwa dirinya telah menjadi tulang punggung sepenuhnya untuk keluarga kecilnya. Dia pun dituntut bisa bekerja dan menghasilkan uang untuk membesarkan dan memikirkan masa depan anak. Akhirnya, dia mulai beranjak untuk mencari pekerjaan. “Saya sempat kerja menjaga toko. Kemudian, saya putuskan untuk berjualan jilbab. Itu pun atas saran teman dan tetangga saya. Kalau tidak, masalah keuangan saya akan tambah sulit,” tuturnya.

Sulitnya perekonomian yang dihadapi Ifa tentu pernah dialami perempuan lain yang suaminya meninggal. Untuk itu, Ifa meminta agar pemerintah memberi perhatian bagi mereka yang nasibnya serupa. “Setelah suami meninggal, perempuan otomatis menjadi kepala keluarga. Saya yakin, banyak perempuan yang belum siap dan itu butuh bantuan,” ujarnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Keceriaan terpancar di wajah anak-anak yang berkumpul di Pendapa Wahyawibawagraha, kemarin (11/5). Salah satunya ditunjukkan oleh Kinanti Naswa, seorang anak yatim yang ikut dalam acara santunan itu. Anak perempuan yang berusia sekitar lima tahun itu berlari menuju ibunya, seusai diberi santunan.

Namanya saja anak-anak. Di tengah sejumlah anak yatim yang lain, Naswa langsung minta digendong ibunya, Ifa Susiati. Sambil menunggu acara selesai, sang ibu menggendongnya sambil berdiri. Naswa tak mau diturunkan. Anak dan ibu itu tetap berdiri di tengah acara yang juga dihadiri oleh Bupati Hendy Siswanto serta istrinya, Kasih Fajarini.

Pada kesempatan itu, banyak anak dan ibu yang memang terlihat ceria. Namun, sejatinya mereka memiliki kisah yang bermacam-macam. Termasuk urusan perekonomian keluarga mereka juga berbeda-beda.

Ifa menyebut, pada saat suaminya meninggal dunia, Naswa masih berusia sekitar dua tahun. Naswa yang saat itu sudah cukup pandai bermain, tak henti-hentinya menanyakan di mana sang ayah. “Sejak meninggal, tanya-tanya terus. Sementara saya, masih cukup syok,” kenang perempuan yang tinggal di Kelurahan Tegal Besar, Kaliwates, tersebut.

Rasa sedih yang dialami Ifa masih sangat dirasakan berbulan-bulan. Sekitar empat bulan setelah itu, Naswa pun masih sering menanyakan ke mana sang ayah. “Begitu saya ditanya, saya tidak bisa jawab apa-apa,” katanya.

Memasuki kurun waktu lima bulan, Ifa kemudian menyadari betul bahwa dirinya telah menjadi tulang punggung sepenuhnya untuk keluarga kecilnya. Dia pun dituntut bisa bekerja dan menghasilkan uang untuk membesarkan dan memikirkan masa depan anak. Akhirnya, dia mulai beranjak untuk mencari pekerjaan. “Saya sempat kerja menjaga toko. Kemudian, saya putuskan untuk berjualan jilbab. Itu pun atas saran teman dan tetangga saya. Kalau tidak, masalah keuangan saya akan tambah sulit,” tuturnya.

Sulitnya perekonomian yang dihadapi Ifa tentu pernah dialami perempuan lain yang suaminya meninggal. Untuk itu, Ifa meminta agar pemerintah memberi perhatian bagi mereka yang nasibnya serupa. “Setelah suami meninggal, perempuan otomatis menjadi kepala keluarga. Saya yakin, banyak perempuan yang belum siap dan itu butuh bantuan,” ujarnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/