alexametrics
23.4 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Pola Sedekah Perlu Diubah

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bagi umat Islam, bulan Ramadan adalah bulan yang penuh keberkahan. Sebuah bulan di mana setiap amal ibadah akan dilipatgandakan pahalanya. Itulah yang kemudian menjadikan masyarakat berlomba-lomba untuk memperbanyak amal ibadah. Salah satunya bersedekah.

Dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Jember Kris Hendrijanto mengungkapkan, situasi seperti itulah yang dimanfaatkan oleh pengemis untuk meminta-minta. Padahal, mereka belum tentu benar-benar dalam keadaan miskin. Karena itu, menurutnya, muncullah fenomena pengemis di mana-mana, yang jumlahnya akan lebih banyak saat bulan puasa. “Saya kira belum tentu mereka benar-benar miskin,” katanya, kemarin (11/4).

Menurut dia, hal ini bukan semata-mata salah pemerintah. Sebab, pemerintah tidak bisa begitu saja melarang masyarakat untuk beramal. Juga melarang masyarakat mencari pahala sebanyak-banyaknya, terutama di bulan Ramadan, dengan beramal kepada para pengemis. “Namun, pemerintah daerah dalam hal ini dapat menyediakan regulasi untuk perbaikan sistem social protection-nya,” imbuhnya lagi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pemerintah melalui regulasinya harus mendorong tersedianya wadah-wadah yang akuntabel bagi masyarakat untuk beramal. Pemerintah juga harus menyosialisasikan dan mengedukasi masyarakat agar menyalurkan bantuan dan sedekahnya melalui institusi resmi yang akuntabel.

Selanjutnya, institusi-institusi itulah yang nanti akan menyalurkan bantuan dan donasi dari masyarakat kepada pihak-pihak yang membutuhkan. Termasuk menyalurkannya kepada masyarakat yang dianggap miskin. Dengan demikian, akan dapat meminimalkan pemberian sumbangan yang bersifat person to person. “Bantuan, sumbangan, sedekah, atau apa pun namanya itu harus diinstitusionalisasikan,” tegasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bagi umat Islam, bulan Ramadan adalah bulan yang penuh keberkahan. Sebuah bulan di mana setiap amal ibadah akan dilipatgandakan pahalanya. Itulah yang kemudian menjadikan masyarakat berlomba-lomba untuk memperbanyak amal ibadah. Salah satunya bersedekah.

Dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Jember Kris Hendrijanto mengungkapkan, situasi seperti itulah yang dimanfaatkan oleh pengemis untuk meminta-minta. Padahal, mereka belum tentu benar-benar dalam keadaan miskin. Karena itu, menurutnya, muncullah fenomena pengemis di mana-mana, yang jumlahnya akan lebih banyak saat bulan puasa. “Saya kira belum tentu mereka benar-benar miskin,” katanya, kemarin (11/4).

Menurut dia, hal ini bukan semata-mata salah pemerintah. Sebab, pemerintah tidak bisa begitu saja melarang masyarakat untuk beramal. Juga melarang masyarakat mencari pahala sebanyak-banyaknya, terutama di bulan Ramadan, dengan beramal kepada para pengemis. “Namun, pemerintah daerah dalam hal ini dapat menyediakan regulasi untuk perbaikan sistem social protection-nya,” imbuhnya lagi.

Pemerintah melalui regulasinya harus mendorong tersedianya wadah-wadah yang akuntabel bagi masyarakat untuk beramal. Pemerintah juga harus menyosialisasikan dan mengedukasi masyarakat agar menyalurkan bantuan dan sedekahnya melalui institusi resmi yang akuntabel.

Selanjutnya, institusi-institusi itulah yang nanti akan menyalurkan bantuan dan donasi dari masyarakat kepada pihak-pihak yang membutuhkan. Termasuk menyalurkannya kepada masyarakat yang dianggap miskin. Dengan demikian, akan dapat meminimalkan pemberian sumbangan yang bersifat person to person. “Bantuan, sumbangan, sedekah, atau apa pun namanya itu harus diinstitusionalisasikan,” tegasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bagi umat Islam, bulan Ramadan adalah bulan yang penuh keberkahan. Sebuah bulan di mana setiap amal ibadah akan dilipatgandakan pahalanya. Itulah yang kemudian menjadikan masyarakat berlomba-lomba untuk memperbanyak amal ibadah. Salah satunya bersedekah.

Dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Jember Kris Hendrijanto mengungkapkan, situasi seperti itulah yang dimanfaatkan oleh pengemis untuk meminta-minta. Padahal, mereka belum tentu benar-benar dalam keadaan miskin. Karena itu, menurutnya, muncullah fenomena pengemis di mana-mana, yang jumlahnya akan lebih banyak saat bulan puasa. “Saya kira belum tentu mereka benar-benar miskin,” katanya, kemarin (11/4).

Menurut dia, hal ini bukan semata-mata salah pemerintah. Sebab, pemerintah tidak bisa begitu saja melarang masyarakat untuk beramal. Juga melarang masyarakat mencari pahala sebanyak-banyaknya, terutama di bulan Ramadan, dengan beramal kepada para pengemis. “Namun, pemerintah daerah dalam hal ini dapat menyediakan regulasi untuk perbaikan sistem social protection-nya,” imbuhnya lagi.

Pemerintah melalui regulasinya harus mendorong tersedianya wadah-wadah yang akuntabel bagi masyarakat untuk beramal. Pemerintah juga harus menyosialisasikan dan mengedukasi masyarakat agar menyalurkan bantuan dan sedekahnya melalui institusi resmi yang akuntabel.

Selanjutnya, institusi-institusi itulah yang nanti akan menyalurkan bantuan dan donasi dari masyarakat kepada pihak-pihak yang membutuhkan. Termasuk menyalurkannya kepada masyarakat yang dianggap miskin. Dengan demikian, akan dapat meminimalkan pemberian sumbangan yang bersifat person to person. “Bantuan, sumbangan, sedekah, atau apa pun namanya itu harus diinstitusionalisasikan,” tegasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/