alexametrics
29 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Pulang Akibat Pandemi, Pengalaman Berlatih di Ibu Kota Jadi Motivasi

Abkharin Fauziyah menjadi salah satu pebulu tangkis putri andalan Jember. Kini, dia telah kembali ke Kota Suwar-Suwir setelah mencicipi sekolah di PB Jaya Raya, Jakarta. Walau pulang akibat pandemi, dia tidak mau berhenti dan tetap menjalani latihan di tanah kelahirannya.

Mobile_AP_Rectangle 1

Baginya, suasana hangat perkawanan seperti di Jember tidak mudah di dapat. Sebab, anak-anaknya berasal dari semua daerah. Jadi, harus pintar cara bersosialisasi. Karena itu, walau hanya tiga bulan mencoba latihan di PB Jaya Raya Jakarta, Karin mendapatkan hal istimewa, yaitu membuat dirinya lebih dewasa. Sebab, harus pintar atur waktu dan tentunya keuangan. Bahkan, bila ingin masuk PB Jaya Raya, tidak boleh asal-asalan. “Niatnya harus dikuatkan, jangan hanya main saja,” jelasnya.

Karin mengaku, PB yang berdiri 1976 oleh pengusaha properti Ciputra tersebut begitu ketat. Baik latihannya maupun terhadap atletnya. “Sehari itu bisa latihan tiga sampai empat kali. Saat latihan, atlet juga dilarang keras pegang handphone. Jadi, HP mulai pagi itu disita. Karena latihan dimulai pagi pukul delapan,” tuturnya.

Sementara itu, libur latihan hanya hari Minggu. Khusus di hari libur, atlet dibebaskan. Boleh main HP dan lainnya. Kondisi itu berbeda jauh dengan Jember, yang masih memperbolehkan atletnya memegang HP di tengah istirahat latihan. “Kalau di Jember, rata-rata latihannya sehari satu kali. Tapi kalau saya itu ditambahi fisik sendiri,” paparnya.

- Advertisement -

Baginya, suasana hangat perkawanan seperti di Jember tidak mudah di dapat. Sebab, anak-anaknya berasal dari semua daerah. Jadi, harus pintar cara bersosialisasi. Karena itu, walau hanya tiga bulan mencoba latihan di PB Jaya Raya Jakarta, Karin mendapatkan hal istimewa, yaitu membuat dirinya lebih dewasa. Sebab, harus pintar atur waktu dan tentunya keuangan. Bahkan, bila ingin masuk PB Jaya Raya, tidak boleh asal-asalan. “Niatnya harus dikuatkan, jangan hanya main saja,” jelasnya.

Karin mengaku, PB yang berdiri 1976 oleh pengusaha properti Ciputra tersebut begitu ketat. Baik latihannya maupun terhadap atletnya. “Sehari itu bisa latihan tiga sampai empat kali. Saat latihan, atlet juga dilarang keras pegang handphone. Jadi, HP mulai pagi itu disita. Karena latihan dimulai pagi pukul delapan,” tuturnya.

Sementara itu, libur latihan hanya hari Minggu. Khusus di hari libur, atlet dibebaskan. Boleh main HP dan lainnya. Kondisi itu berbeda jauh dengan Jember, yang masih memperbolehkan atletnya memegang HP di tengah istirahat latihan. “Kalau di Jember, rata-rata latihannya sehari satu kali. Tapi kalau saya itu ditambahi fisik sendiri,” paparnya.

Baginya, suasana hangat perkawanan seperti di Jember tidak mudah di dapat. Sebab, anak-anaknya berasal dari semua daerah. Jadi, harus pintar cara bersosialisasi. Karena itu, walau hanya tiga bulan mencoba latihan di PB Jaya Raya Jakarta, Karin mendapatkan hal istimewa, yaitu membuat dirinya lebih dewasa. Sebab, harus pintar atur waktu dan tentunya keuangan. Bahkan, bila ingin masuk PB Jaya Raya, tidak boleh asal-asalan. “Niatnya harus dikuatkan, jangan hanya main saja,” jelasnya.

Karin mengaku, PB yang berdiri 1976 oleh pengusaha properti Ciputra tersebut begitu ketat. Baik latihannya maupun terhadap atletnya. “Sehari itu bisa latihan tiga sampai empat kali. Saat latihan, atlet juga dilarang keras pegang handphone. Jadi, HP mulai pagi itu disita. Karena latihan dimulai pagi pukul delapan,” tuturnya.

Sementara itu, libur latihan hanya hari Minggu. Khusus di hari libur, atlet dibebaskan. Boleh main HP dan lainnya. Kondisi itu berbeda jauh dengan Jember, yang masih memperbolehkan atletnya memegang HP di tengah istirahat latihan. “Kalau di Jember, rata-rata latihannya sehari satu kali. Tapi kalau saya itu ditambahi fisik sendiri,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/