alexametrics
23.4 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Pulihkan Trauma Balita, Fokus ke Ibu

Anak Korban Banjir Perlu Pendampingan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Penanganan trauma bencana banjir tidaklah gampang. Terutama pada anak-anak dan balita. Pada dasarnya, balita tidak mengerti kondisi ketika mengalami bencana. Trauma atau tekanan mental yang dialami oleh balita akan dirasakan manakala ibunya dalam situasi panik dan cemas yang berkepanjangan. Hal ini juga berpengaruh pada volume air susu ibu (ASI) yang menjadi asupan bagi balita tersebut.

Kondisi seperti ini yang dialami oleh Halimatus Sa’diyah, warga bantaran Sungai Bedadung yang tinggal di bawah jembatan Jalan Sumatra, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari. Anak Sa’diyah yang terakhir masih balita berusia tiga tahun.

Ketika rumah Sa’diyah roboh dan tak bisa diselamatkan, rasa cemas, bingung, bercampur khawatir selalu dirasakan olehnya. Otomatis, anaknya, Toriq, semakin rewel. Dalam kondisi tertentu, bocah itu selalu mengajak ibunya untuk datang ke rumah yang telah hancur. Walaupun dirinya sudah mengetahui tentang kondisi rumahnya yang terdampak banjir tersebut, tapi Thoriq tetap memaksa untuk tidur dan bermain di rumahnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tak berbeda dengan ibunya, dalam kesehariannya Sa’diyah juga selalu cemas soal tempat tinggal yang akan dihuni. Jika bertahan di tempat pengungsian, lambat laun pemilik akan menanyakan kapan akan pindah tempat. Sementara, ia tidak bisa tinggal di rumahnya karena kondisinya sudah tidak bisa ditempati lagi. “Kemarin yang punya nanya, kapan kira-kira mau pindah. Saya jawab, tunggu ya, Bu,” kata Sa’diyah, kemarin (10/1).

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Penanganan trauma bencana banjir tidaklah gampang. Terutama pada anak-anak dan balita. Pada dasarnya, balita tidak mengerti kondisi ketika mengalami bencana. Trauma atau tekanan mental yang dialami oleh balita akan dirasakan manakala ibunya dalam situasi panik dan cemas yang berkepanjangan. Hal ini juga berpengaruh pada volume air susu ibu (ASI) yang menjadi asupan bagi balita tersebut.

Kondisi seperti ini yang dialami oleh Halimatus Sa’diyah, warga bantaran Sungai Bedadung yang tinggal di bawah jembatan Jalan Sumatra, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari. Anak Sa’diyah yang terakhir masih balita berusia tiga tahun.

Ketika rumah Sa’diyah roboh dan tak bisa diselamatkan, rasa cemas, bingung, bercampur khawatir selalu dirasakan olehnya. Otomatis, anaknya, Toriq, semakin rewel. Dalam kondisi tertentu, bocah itu selalu mengajak ibunya untuk datang ke rumah yang telah hancur. Walaupun dirinya sudah mengetahui tentang kondisi rumahnya yang terdampak banjir tersebut, tapi Thoriq tetap memaksa untuk tidur dan bermain di rumahnya.

Tak berbeda dengan ibunya, dalam kesehariannya Sa’diyah juga selalu cemas soal tempat tinggal yang akan dihuni. Jika bertahan di tempat pengungsian, lambat laun pemilik akan menanyakan kapan akan pindah tempat. Sementara, ia tidak bisa tinggal di rumahnya karena kondisinya sudah tidak bisa ditempati lagi. “Kemarin yang punya nanya, kapan kira-kira mau pindah. Saya jawab, tunggu ya, Bu,” kata Sa’diyah, kemarin (10/1).

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Penanganan trauma bencana banjir tidaklah gampang. Terutama pada anak-anak dan balita. Pada dasarnya, balita tidak mengerti kondisi ketika mengalami bencana. Trauma atau tekanan mental yang dialami oleh balita akan dirasakan manakala ibunya dalam situasi panik dan cemas yang berkepanjangan. Hal ini juga berpengaruh pada volume air susu ibu (ASI) yang menjadi asupan bagi balita tersebut.

Kondisi seperti ini yang dialami oleh Halimatus Sa’diyah, warga bantaran Sungai Bedadung yang tinggal di bawah jembatan Jalan Sumatra, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari. Anak Sa’diyah yang terakhir masih balita berusia tiga tahun.

Ketika rumah Sa’diyah roboh dan tak bisa diselamatkan, rasa cemas, bingung, bercampur khawatir selalu dirasakan olehnya. Otomatis, anaknya, Toriq, semakin rewel. Dalam kondisi tertentu, bocah itu selalu mengajak ibunya untuk datang ke rumah yang telah hancur. Walaupun dirinya sudah mengetahui tentang kondisi rumahnya yang terdampak banjir tersebut, tapi Thoriq tetap memaksa untuk tidur dan bermain di rumahnya.

Tak berbeda dengan ibunya, dalam kesehariannya Sa’diyah juga selalu cemas soal tempat tinggal yang akan dihuni. Jika bertahan di tempat pengungsian, lambat laun pemilik akan menanyakan kapan akan pindah tempat. Sementara, ia tidak bisa tinggal di rumahnya karena kondisinya sudah tidak bisa ditempati lagi. “Kemarin yang punya nanya, kapan kira-kira mau pindah. Saya jawab, tunggu ya, Bu,” kata Sa’diyah, kemarin (10/1).

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/