alexametrics
29.5 C
Jember
Wednesday, 10 August 2022

Sering Dianggap Vandalisme hingga Kerap Mendapat Perlakuan Kasar

Menjadi seorang seniman grafiti sering dianggap sebagai pelaku seni ilegal. Dimas Feliawan salah satunya. Lelaki asal Kaliurang, Sumbersari, ini beberapa kali mendapat perlakuan kasar dari warga akibat membuat lukisan grafiti. Padahal, gambar itu dibuat untuk memperindah tembok kota dan menyampaikan pesan edukasi.

Mobile_AP_Rectangle 1

Setiap pembuatan grafiti, ia mampu menghabiskan ratusan hingga mendekati jutaan rupiah untuk membeli bahan. Seperti cat dengan berbagai warna, serta kuasnya. Di tengah pandemi seperti saat ini, Dimas mengaku, selain tak ada wadah dari pemerintah, masyarakat juga jarang sekali memesan jasanya. Karena itu, untuk mengaplikasikan imajinasinya, dia harus mengeluarkan dana yang tak sedikit. “Pernah, saking pinginnya menggambar, aku menjual peralatan rumah. AC saya jual, karena kebetulan jarang dipakai juga,” ungkapnya.

Yang dia sayangkan hingga saat ini, bukan hanya pola pikir masyarakat, namun legalitas dan wadah dari pemerintah. Sebab, dalam membuat grafiti, ada nilai edukasi yang ingin dia sampaikan. “Tujuan kami ingin mengekspresikan imajinasi melalui gambar, dan kita punya pesan edukasi di sana. Karena pendidikan gak melulu harus di sekolah. Di jalanan juga bisa menjadi media edukasi,” paparnya.

 

Mobile_AP_Rectangle 2

 

Jurnalis : Delfi Nihayah
Fotografer : Delfi Nihayah
Redaktur : Mahrus Sholih

- Advertisement -

Setiap pembuatan grafiti, ia mampu menghabiskan ratusan hingga mendekati jutaan rupiah untuk membeli bahan. Seperti cat dengan berbagai warna, serta kuasnya. Di tengah pandemi seperti saat ini, Dimas mengaku, selain tak ada wadah dari pemerintah, masyarakat juga jarang sekali memesan jasanya. Karena itu, untuk mengaplikasikan imajinasinya, dia harus mengeluarkan dana yang tak sedikit. “Pernah, saking pinginnya menggambar, aku menjual peralatan rumah. AC saya jual, karena kebetulan jarang dipakai juga,” ungkapnya.

Yang dia sayangkan hingga saat ini, bukan hanya pola pikir masyarakat, namun legalitas dan wadah dari pemerintah. Sebab, dalam membuat grafiti, ada nilai edukasi yang ingin dia sampaikan. “Tujuan kami ingin mengekspresikan imajinasi melalui gambar, dan kita punya pesan edukasi di sana. Karena pendidikan gak melulu harus di sekolah. Di jalanan juga bisa menjadi media edukasi,” paparnya.

 

 

Jurnalis : Delfi Nihayah
Fotografer : Delfi Nihayah
Redaktur : Mahrus Sholih

Setiap pembuatan grafiti, ia mampu menghabiskan ratusan hingga mendekati jutaan rupiah untuk membeli bahan. Seperti cat dengan berbagai warna, serta kuasnya. Di tengah pandemi seperti saat ini, Dimas mengaku, selain tak ada wadah dari pemerintah, masyarakat juga jarang sekali memesan jasanya. Karena itu, untuk mengaplikasikan imajinasinya, dia harus mengeluarkan dana yang tak sedikit. “Pernah, saking pinginnya menggambar, aku menjual peralatan rumah. AC saya jual, karena kebetulan jarang dipakai juga,” ungkapnya.

Yang dia sayangkan hingga saat ini, bukan hanya pola pikir masyarakat, namun legalitas dan wadah dari pemerintah. Sebab, dalam membuat grafiti, ada nilai edukasi yang ingin dia sampaikan. “Tujuan kami ingin mengekspresikan imajinasi melalui gambar, dan kita punya pesan edukasi di sana. Karena pendidikan gak melulu harus di sekolah. Di jalanan juga bisa menjadi media edukasi,” paparnya.

 

 

Jurnalis : Delfi Nihayah
Fotografer : Delfi Nihayah
Redaktur : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/