alexametrics
23.7 C
Jember
Sunday, 3 July 2022

Sering Dianggap Vandalisme hingga Kerap Mendapat Perlakuan Kasar

Menjadi seorang seniman grafiti sering dianggap sebagai pelaku seni ilegal. Dimas Feliawan salah satunya. Lelaki asal Kaliurang, Sumbersari, ini beberapa kali mendapat perlakuan kasar dari warga akibat membuat lukisan grafiti. Padahal, gambar itu dibuat untuk memperindah tembok kota dan menyampaikan pesan edukasi.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dianggap vandalisme, seniman ilegal, dipukuli, bahkan disiram air comberan. Semuanya pernah dialami oleh Dimas Feliawan. Lelaki asal Jember yang bergelut di dunia seni grafiti.

“Aku ditempeleng pernah. Waktu menggambar. Kelirunya, memang nggak izin dulu. Tapi, kami menggambar karena di situ memang kotor, banyak coretan. Niatnya mau diperbagus, kami hias dengan font menarik,” ungkap Dimas kepada Jawa Pos Radar Jember.

Menjadi seorang seniman lukis tembok bukanlah cita-cita Dimas. Sejak mengenyam pendidikan di bangku SD, dia memang gemar menggambar. Namun, tak pernah terpikir sebelumnya, dirinya bakal jadi pelukis dengan cat kaleng seperti saat ini.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sebelumnya, pada 2013 dan 2014 lalu, pria yang kerap disapa Dimsi ini justru profesional membuat lukisan mural. Yakni seni melukis tembok dengan menggunakan kuas dan cat tembok. Bahkan, pada saat itu, dia sempat kebanjiran job melukis hingga ke luar pulau. Seperti Kalimantan dan Bali. “Dulu ngejob banyak di kafe, kantor, tempat workshop pertanian, bahkan tempat ibadah. Tapi aku tolak, karena tanggung jawabnya besar, dan itu sakral,” katanya.

Karena sering berkumpul dengan komunitas seni di kampusnya, dan mereka berfokus pada seni grafiti, akhirnya Dimas memutuskan untuk turut menekuni lukisan grafiti. Dari sinilah, Dimas mulai menyukai seni grafiti dan sering mengekspresikannya di tembok-tembok kotor yang penuh coretan. “Dulu, spot utama kami di tembok Jembatan Semanggi. Setelah diberi akrilik, kami nggak berani juga mau menggambar,” kata Dimas, yang juga anggota Komunitas Jember Grafiti itu.

Sejak saat itu, dia merasa bahwa pemerintah tak pernah memberi perhatian terhadap seniman jalanan seperti dirinya. Entah karena dianggap merusak keindahan kota, atau karena memang tak suka. “Jadi, kami merasa nggak ada ruang buat berekspresi,” imbuhnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dianggap vandalisme, seniman ilegal, dipukuli, bahkan disiram air comberan. Semuanya pernah dialami oleh Dimas Feliawan. Lelaki asal Jember yang bergelut di dunia seni grafiti.

“Aku ditempeleng pernah. Waktu menggambar. Kelirunya, memang nggak izin dulu. Tapi, kami menggambar karena di situ memang kotor, banyak coretan. Niatnya mau diperbagus, kami hias dengan font menarik,” ungkap Dimas kepada Jawa Pos Radar Jember.

Menjadi seorang seniman lukis tembok bukanlah cita-cita Dimas. Sejak mengenyam pendidikan di bangku SD, dia memang gemar menggambar. Namun, tak pernah terpikir sebelumnya, dirinya bakal jadi pelukis dengan cat kaleng seperti saat ini.

Sebelumnya, pada 2013 dan 2014 lalu, pria yang kerap disapa Dimsi ini justru profesional membuat lukisan mural. Yakni seni melukis tembok dengan menggunakan kuas dan cat tembok. Bahkan, pada saat itu, dia sempat kebanjiran job melukis hingga ke luar pulau. Seperti Kalimantan dan Bali. “Dulu ngejob banyak di kafe, kantor, tempat workshop pertanian, bahkan tempat ibadah. Tapi aku tolak, karena tanggung jawabnya besar, dan itu sakral,” katanya.

Karena sering berkumpul dengan komunitas seni di kampusnya, dan mereka berfokus pada seni grafiti, akhirnya Dimas memutuskan untuk turut menekuni lukisan grafiti. Dari sinilah, Dimas mulai menyukai seni grafiti dan sering mengekspresikannya di tembok-tembok kotor yang penuh coretan. “Dulu, spot utama kami di tembok Jembatan Semanggi. Setelah diberi akrilik, kami nggak berani juga mau menggambar,” kata Dimas, yang juga anggota Komunitas Jember Grafiti itu.

Sejak saat itu, dia merasa bahwa pemerintah tak pernah memberi perhatian terhadap seniman jalanan seperti dirinya. Entah karena dianggap merusak keindahan kota, atau karena memang tak suka. “Jadi, kami merasa nggak ada ruang buat berekspresi,” imbuhnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dianggap vandalisme, seniman ilegal, dipukuli, bahkan disiram air comberan. Semuanya pernah dialami oleh Dimas Feliawan. Lelaki asal Jember yang bergelut di dunia seni grafiti.

“Aku ditempeleng pernah. Waktu menggambar. Kelirunya, memang nggak izin dulu. Tapi, kami menggambar karena di situ memang kotor, banyak coretan. Niatnya mau diperbagus, kami hias dengan font menarik,” ungkap Dimas kepada Jawa Pos Radar Jember.

Menjadi seorang seniman lukis tembok bukanlah cita-cita Dimas. Sejak mengenyam pendidikan di bangku SD, dia memang gemar menggambar. Namun, tak pernah terpikir sebelumnya, dirinya bakal jadi pelukis dengan cat kaleng seperti saat ini.

Sebelumnya, pada 2013 dan 2014 lalu, pria yang kerap disapa Dimsi ini justru profesional membuat lukisan mural. Yakni seni melukis tembok dengan menggunakan kuas dan cat tembok. Bahkan, pada saat itu, dia sempat kebanjiran job melukis hingga ke luar pulau. Seperti Kalimantan dan Bali. “Dulu ngejob banyak di kafe, kantor, tempat workshop pertanian, bahkan tempat ibadah. Tapi aku tolak, karena tanggung jawabnya besar, dan itu sakral,” katanya.

Karena sering berkumpul dengan komunitas seni di kampusnya, dan mereka berfokus pada seni grafiti, akhirnya Dimas memutuskan untuk turut menekuni lukisan grafiti. Dari sinilah, Dimas mulai menyukai seni grafiti dan sering mengekspresikannya di tembok-tembok kotor yang penuh coretan. “Dulu, spot utama kami di tembok Jembatan Semanggi. Setelah diberi akrilik, kami nggak berani juga mau menggambar,” kata Dimas, yang juga anggota Komunitas Jember Grafiti itu.

Sejak saat itu, dia merasa bahwa pemerintah tak pernah memberi perhatian terhadap seniman jalanan seperti dirinya. Entah karena dianggap merusak keindahan kota, atau karena memang tak suka. “Jadi, kami merasa nggak ada ruang buat berekspresi,” imbuhnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/