alexametrics
22.9 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Agar Tak Cemari Lingkungan, Olah Popok Diaper Jadi Pot Bunga

Orang tak akan pernah mengira, pot bunga yang ditata rapi di atas meja itu terbuat dari sampah. Rasa heran pun semakin menjadi begitu mengetahui bahan utama pembuatan pot itu adalah popok sekali pakai alias diaper.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sebuah pot bunga nyaris saja jatuh ke lantai. Beruntung, perempuan yang menyenggolnya di atas meja refleks dan segera memegangnya. Seketika, perempuan itu terkejut, berat pot bunga yang berhasil ditangkap tak seberat pot bunga yang terbuat dari semen.

Tanpa berpikir lama, perempuan bernama Farida itu menanyakan bahan apa yang dipakai untuk membuat pot tersebut. “Kok ringan pot bunga ini?” tanya perempuan tersebut. Dia pun menghampiri beberapa perempuan lain yang menjaga pot bunga dalam pameran produk lokal di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari, baru-baru ini.

Farida pun mengamatinya secara saksama. Sepertinya, perempuan itu penasaran dengan cara pembuatannya. Dia kemudian menengok ke belakang. Kebetulan Farida kenal dengan wartawan Jawa Pos Radar Jember yang datang ke lokasi tersebut. Dia kembali menanyakan hal serupa.

Mobile_AP_Rectangle 2

Salah seorang perempuan yang menjaga stan, Siti Romlah, mengatakan, pot bunga itu terbuat dari diaper. Popok bekas pakai yang telah menjadi sampah itu disulap menjadi pot bunga. “Ini terbuat dari diaper,” ucapnya.

Diaper yang telah menjadi sampah sejatinya merupakan limbah. Biasanya limbah itu dibuang sembarangan. Bahkan, pada beberapa catatan aktivis lingkungan, limbah diaper sudah tak terkendali hingga mencemari sungai. Namun, di tangan mereka yang kreatif, sampah diaper itu bisa berubah menjadi barang yang berguna dan bernilai rupiah.

Romlah menyebut, dia dan sejumlah orang datang ke TPA Pakusari untuk mengikuti pameran produk olahan dari bahan bekas. Kepada sejumlah orang, dia tak segan menjelaskan proses pembuatannya. “Setelah dihancurkan, kemudian dicetak. Untuk pengeringannya butuh waktu rata-rata tiga hari,” bebernya.

Pot bunga itu banyak diminati orang. Baik warga asal Jember maupun dari luar kota. Produksi pot bunga berbahan diaper itu juga secara kontinu dilakukan. “Buatnya di Panti. Di Bank Sampah Larahan Makmur,” jelas perempuan asal Desa Suci, Panti, tersebut.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sebuah pot bunga nyaris saja jatuh ke lantai. Beruntung, perempuan yang menyenggolnya di atas meja refleks dan segera memegangnya. Seketika, perempuan itu terkejut, berat pot bunga yang berhasil ditangkap tak seberat pot bunga yang terbuat dari semen.

Tanpa berpikir lama, perempuan bernama Farida itu menanyakan bahan apa yang dipakai untuk membuat pot tersebut. “Kok ringan pot bunga ini?” tanya perempuan tersebut. Dia pun menghampiri beberapa perempuan lain yang menjaga pot bunga dalam pameran produk lokal di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari, baru-baru ini.

Farida pun mengamatinya secara saksama. Sepertinya, perempuan itu penasaran dengan cara pembuatannya. Dia kemudian menengok ke belakang. Kebetulan Farida kenal dengan wartawan Jawa Pos Radar Jember yang datang ke lokasi tersebut. Dia kembali menanyakan hal serupa.

Salah seorang perempuan yang menjaga stan, Siti Romlah, mengatakan, pot bunga itu terbuat dari diaper. Popok bekas pakai yang telah menjadi sampah itu disulap menjadi pot bunga. “Ini terbuat dari diaper,” ucapnya.

Diaper yang telah menjadi sampah sejatinya merupakan limbah. Biasanya limbah itu dibuang sembarangan. Bahkan, pada beberapa catatan aktivis lingkungan, limbah diaper sudah tak terkendali hingga mencemari sungai. Namun, di tangan mereka yang kreatif, sampah diaper itu bisa berubah menjadi barang yang berguna dan bernilai rupiah.

Romlah menyebut, dia dan sejumlah orang datang ke TPA Pakusari untuk mengikuti pameran produk olahan dari bahan bekas. Kepada sejumlah orang, dia tak segan menjelaskan proses pembuatannya. “Setelah dihancurkan, kemudian dicetak. Untuk pengeringannya butuh waktu rata-rata tiga hari,” bebernya.

Pot bunga itu banyak diminati orang. Baik warga asal Jember maupun dari luar kota. Produksi pot bunga berbahan diaper itu juga secara kontinu dilakukan. “Buatnya di Panti. Di Bank Sampah Larahan Makmur,” jelas perempuan asal Desa Suci, Panti, tersebut.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sebuah pot bunga nyaris saja jatuh ke lantai. Beruntung, perempuan yang menyenggolnya di atas meja refleks dan segera memegangnya. Seketika, perempuan itu terkejut, berat pot bunga yang berhasil ditangkap tak seberat pot bunga yang terbuat dari semen.

Tanpa berpikir lama, perempuan bernama Farida itu menanyakan bahan apa yang dipakai untuk membuat pot tersebut. “Kok ringan pot bunga ini?” tanya perempuan tersebut. Dia pun menghampiri beberapa perempuan lain yang menjaga pot bunga dalam pameran produk lokal di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari, baru-baru ini.

Farida pun mengamatinya secara saksama. Sepertinya, perempuan itu penasaran dengan cara pembuatannya. Dia kemudian menengok ke belakang. Kebetulan Farida kenal dengan wartawan Jawa Pos Radar Jember yang datang ke lokasi tersebut. Dia kembali menanyakan hal serupa.

Salah seorang perempuan yang menjaga stan, Siti Romlah, mengatakan, pot bunga itu terbuat dari diaper. Popok bekas pakai yang telah menjadi sampah itu disulap menjadi pot bunga. “Ini terbuat dari diaper,” ucapnya.

Diaper yang telah menjadi sampah sejatinya merupakan limbah. Biasanya limbah itu dibuang sembarangan. Bahkan, pada beberapa catatan aktivis lingkungan, limbah diaper sudah tak terkendali hingga mencemari sungai. Namun, di tangan mereka yang kreatif, sampah diaper itu bisa berubah menjadi barang yang berguna dan bernilai rupiah.

Romlah menyebut, dia dan sejumlah orang datang ke TPA Pakusari untuk mengikuti pameran produk olahan dari bahan bekas. Kepada sejumlah orang, dia tak segan menjelaskan proses pembuatannya. “Setelah dihancurkan, kemudian dicetak. Untuk pengeringannya butuh waktu rata-rata tiga hari,” bebernya.

Pot bunga itu banyak diminati orang. Baik warga asal Jember maupun dari luar kota. Produksi pot bunga berbahan diaper itu juga secara kontinu dilakukan. “Buatnya di Panti. Di Bank Sampah Larahan Makmur,” jelas perempuan asal Desa Suci, Panti, tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/