alexametrics
31.1 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Korban Tolak Upaya Mediasi

Kasus Pencabulan yang Menyeret Dosen

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus pelecehan seksual yang menyeret nama salah satu dosen di Universitas Jember (Unej) berinisial RH masih terus berlanjut. Kuasa Hukum RH, Ansorul Huda, menyebut, banyak pemberitaan tentang kronologi kejadian yang tidak seutuhnya benar. Namun, dia tidak membeberkan secara terperinci bagian mana yang tidak benar itu.

Ansorul hanya mengatakan bahwa korban sudah dianggap anak oleh RH. Dalam wawancara yang berdurasi 15 menit 32 detik tersebut, Ansorul sampai menyebut empat kali kalimat “sudah dianggap anak” itu. Ia juga tidak memberikan penjelasan bagian mana yang tidak sesuai terkait kronologis pencabulan tersebut.

“Terkait kalimat yang beredar di media yaitu, nyuwun sewu, pencabulan, saya kira tidak ada ya untuk itu. Karena si anak sudah diasuh sejak kelas 1 SD. Jadi, yang pertama klarifikasi terkait apa yang beredar di media tidak ada. Sudah dianggap anak,” ungkapnya, ketika dikonfirmasi melalui sambungan telepon, kemarin (9/4).

Mobile_AP_Rectangle 2

Lebih lanjut, Ansorul mengungkapkan, secara global, kutipan iktikad tidak baik ini yang dinilainya tidak sesuai dengan fakta. Sebab, jika diawali dengan kalimat iktikad tidak baik, maka kalimat selanjutnya berupa kalimat negatif. “Diawali dengan iktikad tidak baik. Sehingga kalimat selanjutnya berupa negatif,” imbuhnya.

Pernyataan Ansorul yang menyebut korban sudah diasuh oleh RH sejak kelas 1 SD dibantah oleh Yamini, kuasa hukum korban, dari LBH Jentera. Dia mengatakan, korban diasuh ketika sudah SMA. Sebab, ayah dan ibunya bercerai saat korban atau penyintas berusia 10 tahun. Baru pada 2019 korban diasuh oleh RH.

Selanjutnya, ketika dikonfirmasi benar tidaknya RH memberikan jurnal tentang penyakit payudara kepada korban, Ansorul enggan menjelaskan. “Kalau itu sudah masuk materi pemeriksaan. Tidak semua informasi kami sampaikan,” ungkapnya. Hingga saat ini, pihak RH mengupayakan agar bisa melakukan mediasi dengan korban. Sebab, keluarga korban telah di-vorce, sehingga upaya mediasi juga alot. Kata dia, ada subjektif tersendiri dari korban.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus pelecehan seksual yang menyeret nama salah satu dosen di Universitas Jember (Unej) berinisial RH masih terus berlanjut. Kuasa Hukum RH, Ansorul Huda, menyebut, banyak pemberitaan tentang kronologi kejadian yang tidak seutuhnya benar. Namun, dia tidak membeberkan secara terperinci bagian mana yang tidak benar itu.

Ansorul hanya mengatakan bahwa korban sudah dianggap anak oleh RH. Dalam wawancara yang berdurasi 15 menit 32 detik tersebut, Ansorul sampai menyebut empat kali kalimat “sudah dianggap anak” itu. Ia juga tidak memberikan penjelasan bagian mana yang tidak sesuai terkait kronologis pencabulan tersebut.

“Terkait kalimat yang beredar di media yaitu, nyuwun sewu, pencabulan, saya kira tidak ada ya untuk itu. Karena si anak sudah diasuh sejak kelas 1 SD. Jadi, yang pertama klarifikasi terkait apa yang beredar di media tidak ada. Sudah dianggap anak,” ungkapnya, ketika dikonfirmasi melalui sambungan telepon, kemarin (9/4).

Lebih lanjut, Ansorul mengungkapkan, secara global, kutipan iktikad tidak baik ini yang dinilainya tidak sesuai dengan fakta. Sebab, jika diawali dengan kalimat iktikad tidak baik, maka kalimat selanjutnya berupa kalimat negatif. “Diawali dengan iktikad tidak baik. Sehingga kalimat selanjutnya berupa negatif,” imbuhnya.

Pernyataan Ansorul yang menyebut korban sudah diasuh oleh RH sejak kelas 1 SD dibantah oleh Yamini, kuasa hukum korban, dari LBH Jentera. Dia mengatakan, korban diasuh ketika sudah SMA. Sebab, ayah dan ibunya bercerai saat korban atau penyintas berusia 10 tahun. Baru pada 2019 korban diasuh oleh RH.

Selanjutnya, ketika dikonfirmasi benar tidaknya RH memberikan jurnal tentang penyakit payudara kepada korban, Ansorul enggan menjelaskan. “Kalau itu sudah masuk materi pemeriksaan. Tidak semua informasi kami sampaikan,” ungkapnya. Hingga saat ini, pihak RH mengupayakan agar bisa melakukan mediasi dengan korban. Sebab, keluarga korban telah di-vorce, sehingga upaya mediasi juga alot. Kata dia, ada subjektif tersendiri dari korban.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus pelecehan seksual yang menyeret nama salah satu dosen di Universitas Jember (Unej) berinisial RH masih terus berlanjut. Kuasa Hukum RH, Ansorul Huda, menyebut, banyak pemberitaan tentang kronologi kejadian yang tidak seutuhnya benar. Namun, dia tidak membeberkan secara terperinci bagian mana yang tidak benar itu.

Ansorul hanya mengatakan bahwa korban sudah dianggap anak oleh RH. Dalam wawancara yang berdurasi 15 menit 32 detik tersebut, Ansorul sampai menyebut empat kali kalimat “sudah dianggap anak” itu. Ia juga tidak memberikan penjelasan bagian mana yang tidak sesuai terkait kronologis pencabulan tersebut.

“Terkait kalimat yang beredar di media yaitu, nyuwun sewu, pencabulan, saya kira tidak ada ya untuk itu. Karena si anak sudah diasuh sejak kelas 1 SD. Jadi, yang pertama klarifikasi terkait apa yang beredar di media tidak ada. Sudah dianggap anak,” ungkapnya, ketika dikonfirmasi melalui sambungan telepon, kemarin (9/4).

Lebih lanjut, Ansorul mengungkapkan, secara global, kutipan iktikad tidak baik ini yang dinilainya tidak sesuai dengan fakta. Sebab, jika diawali dengan kalimat iktikad tidak baik, maka kalimat selanjutnya berupa kalimat negatif. “Diawali dengan iktikad tidak baik. Sehingga kalimat selanjutnya berupa negatif,” imbuhnya.

Pernyataan Ansorul yang menyebut korban sudah diasuh oleh RH sejak kelas 1 SD dibantah oleh Yamini, kuasa hukum korban, dari LBH Jentera. Dia mengatakan, korban diasuh ketika sudah SMA. Sebab, ayah dan ibunya bercerai saat korban atau penyintas berusia 10 tahun. Baru pada 2019 korban diasuh oleh RH.

Selanjutnya, ketika dikonfirmasi benar tidaknya RH memberikan jurnal tentang penyakit payudara kepada korban, Ansorul enggan menjelaskan. “Kalau itu sudah masuk materi pemeriksaan. Tidak semua informasi kami sampaikan,” ungkapnya. Hingga saat ini, pihak RH mengupayakan agar bisa melakukan mediasi dengan korban. Sebab, keluarga korban telah di-vorce, sehingga upaya mediasi juga alot. Kata dia, ada subjektif tersendiri dari korban.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/