alexametrics
28.4 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Produksi Tempe Lebih Tahan Lama, Berpeluang Dijual ke Tiongkok

Tempe sudah tidak asing lagi di telinga warga Jember. Namun, tempe yang beredar tidak dapat bertahan lama. Di Lingkungan Pattimura, Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates, ada warga yang membikin tempe tak biasa. Konsumen bisa menentukan waktu masaknya.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mencari tempe bukanlah sesuatu yang sulit. Apalagi, mulai di pasar induk hingga pedagang peracangan banyak menjualnya. Akan tetapi, semua tempe umumnya harus langsung dimasak agar tidak rusak.

Melihat keberadaan tempe yang tidak tahan lama, Seger Warsono melakukan berbagai percobaan. Tujuannya untuk membuat tempe yang tahan lama. “Pembuatan tempe rata-rata empat hari sudah masak dan siap dijual. Saat dijual, tempe hanya bertahan sekitar dua hari,” kata pria yang tinggal di sebuah gang yang hanya bisa dilewati sepeda motor di Lingkungan Pattimura, Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates, itu.

Akibat proses pembuatan tempe tergolong singkat dan tidak tahan lama, dia pun melakukan beberapa percobaan. Hasilnya, tempe yang sudah dalam kondisi masak akan bertahan seperti tempe pada umumnya. Yaitu bertahan sekitar dua sampai tiga hari saja. “Kecuali pakai pendingin, baru bisa bertahan lebih,” ucapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Lantaran tempe masak hanya bisa bertahan dua harian, Seger pun mencoba melakukan proses pembuatan hingga masaknya tempe. Nah, pada kesempatan ini, dia selanjutnya bisa membuat tempe yang baru masak seminggu. “Saya buat sekarang, baru bisa masak dan siap dijual tujuh hari lagi,” ucapnya.

Dengan proses yang demikian, tempe pun berpeluang untuk dijual dengan jarak yang lebih jauh. Bisa ke Jakarta, bahkan peluang ekspor pun menjadi terbuka. Sebab, tempe bisa ditentukan kapan harus masak. “Jadi, masaknya tempe bisa di tempat tujuan,” ulasnya.

Dalam melakukan percobaan, Seger juga berhasil membuat tempe yang bisa masak dalam sepuluh hari ke depan. Artinya, jika tempe itu diekspor, maka dapat disesuaikan dengan waktu pengiriman. Contohnya, apabila tempe dikirim ke luar negeri dengan waktu perjalanan 10 hari, maka racikan tempe bisa dibuat sesuai waktu pengiriman tersebut.

“Kalau mau dijual ke Cina dengan waktu perjalanan seminggu atau lebih, ini sangat mungkin dilakukan. Dengan begitu, jangkauan penjualan tempe tidak hanya berputar di dalam kota dan kabupaten tetangga. Bisa lebih jauh,” ucap pria tiga anak tersebut.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mencari tempe bukanlah sesuatu yang sulit. Apalagi, mulai di pasar induk hingga pedagang peracangan banyak menjualnya. Akan tetapi, semua tempe umumnya harus langsung dimasak agar tidak rusak.

Melihat keberadaan tempe yang tidak tahan lama, Seger Warsono melakukan berbagai percobaan. Tujuannya untuk membuat tempe yang tahan lama. “Pembuatan tempe rata-rata empat hari sudah masak dan siap dijual. Saat dijual, tempe hanya bertahan sekitar dua hari,” kata pria yang tinggal di sebuah gang yang hanya bisa dilewati sepeda motor di Lingkungan Pattimura, Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates, itu.

Akibat proses pembuatan tempe tergolong singkat dan tidak tahan lama, dia pun melakukan beberapa percobaan. Hasilnya, tempe yang sudah dalam kondisi masak akan bertahan seperti tempe pada umumnya. Yaitu bertahan sekitar dua sampai tiga hari saja. “Kecuali pakai pendingin, baru bisa bertahan lebih,” ucapnya.

Lantaran tempe masak hanya bisa bertahan dua harian, Seger pun mencoba melakukan proses pembuatan hingga masaknya tempe. Nah, pada kesempatan ini, dia selanjutnya bisa membuat tempe yang baru masak seminggu. “Saya buat sekarang, baru bisa masak dan siap dijual tujuh hari lagi,” ucapnya.

Dengan proses yang demikian, tempe pun berpeluang untuk dijual dengan jarak yang lebih jauh. Bisa ke Jakarta, bahkan peluang ekspor pun menjadi terbuka. Sebab, tempe bisa ditentukan kapan harus masak. “Jadi, masaknya tempe bisa di tempat tujuan,” ulasnya.

Dalam melakukan percobaan, Seger juga berhasil membuat tempe yang bisa masak dalam sepuluh hari ke depan. Artinya, jika tempe itu diekspor, maka dapat disesuaikan dengan waktu pengiriman. Contohnya, apabila tempe dikirim ke luar negeri dengan waktu perjalanan 10 hari, maka racikan tempe bisa dibuat sesuai waktu pengiriman tersebut.

“Kalau mau dijual ke Cina dengan waktu perjalanan seminggu atau lebih, ini sangat mungkin dilakukan. Dengan begitu, jangkauan penjualan tempe tidak hanya berputar di dalam kota dan kabupaten tetangga. Bisa lebih jauh,” ucap pria tiga anak tersebut.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mencari tempe bukanlah sesuatu yang sulit. Apalagi, mulai di pasar induk hingga pedagang peracangan banyak menjualnya. Akan tetapi, semua tempe umumnya harus langsung dimasak agar tidak rusak.

Melihat keberadaan tempe yang tidak tahan lama, Seger Warsono melakukan berbagai percobaan. Tujuannya untuk membuat tempe yang tahan lama. “Pembuatan tempe rata-rata empat hari sudah masak dan siap dijual. Saat dijual, tempe hanya bertahan sekitar dua hari,” kata pria yang tinggal di sebuah gang yang hanya bisa dilewati sepeda motor di Lingkungan Pattimura, Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates, itu.

Akibat proses pembuatan tempe tergolong singkat dan tidak tahan lama, dia pun melakukan beberapa percobaan. Hasilnya, tempe yang sudah dalam kondisi masak akan bertahan seperti tempe pada umumnya. Yaitu bertahan sekitar dua sampai tiga hari saja. “Kecuali pakai pendingin, baru bisa bertahan lebih,” ucapnya.

Lantaran tempe masak hanya bisa bertahan dua harian, Seger pun mencoba melakukan proses pembuatan hingga masaknya tempe. Nah, pada kesempatan ini, dia selanjutnya bisa membuat tempe yang baru masak seminggu. “Saya buat sekarang, baru bisa masak dan siap dijual tujuh hari lagi,” ucapnya.

Dengan proses yang demikian, tempe pun berpeluang untuk dijual dengan jarak yang lebih jauh. Bisa ke Jakarta, bahkan peluang ekspor pun menjadi terbuka. Sebab, tempe bisa ditentukan kapan harus masak. “Jadi, masaknya tempe bisa di tempat tujuan,” ulasnya.

Dalam melakukan percobaan, Seger juga berhasil membuat tempe yang bisa masak dalam sepuluh hari ke depan. Artinya, jika tempe itu diekspor, maka dapat disesuaikan dengan waktu pengiriman. Contohnya, apabila tempe dikirim ke luar negeri dengan waktu perjalanan 10 hari, maka racikan tempe bisa dibuat sesuai waktu pengiriman tersebut.

“Kalau mau dijual ke Cina dengan waktu perjalanan seminggu atau lebih, ini sangat mungkin dilakukan. Dengan begitu, jangkauan penjualan tempe tidak hanya berputar di dalam kota dan kabupaten tetangga. Bisa lebih jauh,” ucap pria tiga anak tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/