alexametrics
24.6 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Perempuan Rentan Terima Pelecehan Verbal

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Setiap 8 Maret diperingati sebagai Hari Perempuan Sedunia atau International Women’s Day. Sejumlah aksi dilakukan, salah satunya yang digelar oleh Women March Jember. Mereka melakukan parade konser dukungan pengesahan rancangan undang-undang penghapusan kekerasan seksual (RUU PKS). Sebab, sampai hari ini perempuan masih rentan menjadi korban kekerasan, termasuk pelecehan verbal di tempat umum.

“Parade konser dilakukan untuk merayakan International Women’s Day,” ungkap Lisa Oktaviani, anggota Women March Jember, kemarin (8/3). Peringatan ini cukup penting, mengingat ancaman kekerasan dan pelecehan seksual kepada perempuan begitu nyata. Yang paling umum adalah catcalling atau pelecehan seksual verbal di jalanan dan tempat umum.

Catcalling inilah yang dialami oleh Yoralisa Novita. Dia mengungkapkan, selama ini dirinya dengan komunitas bus kerap menerima pelecehan verbal itu. “Banyak guyonan-guyonan yang berbau saru (tak senonoh, Red) ketika kita naik bus. Kadang saya dan teman-teman lainnya bingung, masak nggak ada guyonan lainnya,” beber Yoralisa, yang juga merupakan mahasiswi di Universitas Jember ini.

Mobile_AP_Rectangle 2

Lisa Oktaviani menyampaikan alasan kenapa pihaknya mendesak pengesahan RUU PKS. Sebab, RUU itu sempat masuk dalam program legislasi nasional (prolegnas) prioritas 2020, tetapi harus terlempar kembali oleh Badan Legislatif (Baleg) DPR RI pada Juli 2020. Sehingga sampai kini belum disahkan.

Selain RUU PKS, parade virtual itu juga menyoroti situasi pandemi Covid-19 yang membuat perempuan lebih banyak melakukan pekerjaan rumah dibandingkan laki-laki. Impitan ekonomi dan beban mental yang berat membuat perempuan menjadi sasaran kekerasan. “Banyak kasus yang muncul di mana perempuan yang jadi korbannya,” ungkapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Setiap 8 Maret diperingati sebagai Hari Perempuan Sedunia atau International Women’s Day. Sejumlah aksi dilakukan, salah satunya yang digelar oleh Women March Jember. Mereka melakukan parade konser dukungan pengesahan rancangan undang-undang penghapusan kekerasan seksual (RUU PKS). Sebab, sampai hari ini perempuan masih rentan menjadi korban kekerasan, termasuk pelecehan verbal di tempat umum.

“Parade konser dilakukan untuk merayakan International Women’s Day,” ungkap Lisa Oktaviani, anggota Women March Jember, kemarin (8/3). Peringatan ini cukup penting, mengingat ancaman kekerasan dan pelecehan seksual kepada perempuan begitu nyata. Yang paling umum adalah catcalling atau pelecehan seksual verbal di jalanan dan tempat umum.

Catcalling inilah yang dialami oleh Yoralisa Novita. Dia mengungkapkan, selama ini dirinya dengan komunitas bus kerap menerima pelecehan verbal itu. “Banyak guyonan-guyonan yang berbau saru (tak senonoh, Red) ketika kita naik bus. Kadang saya dan teman-teman lainnya bingung, masak nggak ada guyonan lainnya,” beber Yoralisa, yang juga merupakan mahasiswi di Universitas Jember ini.

Lisa Oktaviani menyampaikan alasan kenapa pihaknya mendesak pengesahan RUU PKS. Sebab, RUU itu sempat masuk dalam program legislasi nasional (prolegnas) prioritas 2020, tetapi harus terlempar kembali oleh Badan Legislatif (Baleg) DPR RI pada Juli 2020. Sehingga sampai kini belum disahkan.

Selain RUU PKS, parade virtual itu juga menyoroti situasi pandemi Covid-19 yang membuat perempuan lebih banyak melakukan pekerjaan rumah dibandingkan laki-laki. Impitan ekonomi dan beban mental yang berat membuat perempuan menjadi sasaran kekerasan. “Banyak kasus yang muncul di mana perempuan yang jadi korbannya,” ungkapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Setiap 8 Maret diperingati sebagai Hari Perempuan Sedunia atau International Women’s Day. Sejumlah aksi dilakukan, salah satunya yang digelar oleh Women March Jember. Mereka melakukan parade konser dukungan pengesahan rancangan undang-undang penghapusan kekerasan seksual (RUU PKS). Sebab, sampai hari ini perempuan masih rentan menjadi korban kekerasan, termasuk pelecehan verbal di tempat umum.

“Parade konser dilakukan untuk merayakan International Women’s Day,” ungkap Lisa Oktaviani, anggota Women March Jember, kemarin (8/3). Peringatan ini cukup penting, mengingat ancaman kekerasan dan pelecehan seksual kepada perempuan begitu nyata. Yang paling umum adalah catcalling atau pelecehan seksual verbal di jalanan dan tempat umum.

Catcalling inilah yang dialami oleh Yoralisa Novita. Dia mengungkapkan, selama ini dirinya dengan komunitas bus kerap menerima pelecehan verbal itu. “Banyak guyonan-guyonan yang berbau saru (tak senonoh, Red) ketika kita naik bus. Kadang saya dan teman-teman lainnya bingung, masak nggak ada guyonan lainnya,” beber Yoralisa, yang juga merupakan mahasiswi di Universitas Jember ini.

Lisa Oktaviani menyampaikan alasan kenapa pihaknya mendesak pengesahan RUU PKS. Sebab, RUU itu sempat masuk dalam program legislasi nasional (prolegnas) prioritas 2020, tetapi harus terlempar kembali oleh Badan Legislatif (Baleg) DPR RI pada Juli 2020. Sehingga sampai kini belum disahkan.

Selain RUU PKS, parade virtual itu juga menyoroti situasi pandemi Covid-19 yang membuat perempuan lebih banyak melakukan pekerjaan rumah dibandingkan laki-laki. Impitan ekonomi dan beban mental yang berat membuat perempuan menjadi sasaran kekerasan. “Banyak kasus yang muncul di mana perempuan yang jadi korbannya,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/