alexametrics
31.3 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Libatkan Masyarakat Cegah Deforestasi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Laju kerusakan hutan di Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) harus dicegah bersama-sama. Sebab, jika tidak, imbas kerusakan hutan itu bisa mengancam keberlangsungan hidup masyarakat secara keseluruhan. Itu karena deforestasi bisa menyebabkan bencana hidrologi. Jika melihat pada data opened area, di TNMB terdapat kawasan yang terdeforestasi sekitar 6,5 persen atau seluas 3.382 hektare dari keseluruhan areal konservasi 52.626,04 hektare. Ini akibat adanya penjarahan hutan dan perambahan.

Mencegah laju deforestasi itu, masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan tak boleh ditinggal. Sebab, mereka mempunyai peran penting dan perlu dilibatkan dalam upaya pelestarian. Salah satunya dengan membangun pola kemitraan konservasi untuk pemulihan ekosistem di kawasan yang masuk zona rehabilitasi. Kendati begitu, kemitraan tersebut juga harus dibarengi dengan upaya pemberdayaan untuk memperkuat ekonomi. Dengan demikian, mereka bisa sejahtera dengan kondisi hutan yang tetap lestari.

Kepala Balai TNMB Maman Surahman menuturkan, saat ini pihaknya tengah merajut kembali pola kemitraan konservasi bersama masyarakat di beberapa desa penyangga kawasan hutan. Muaranya untuk pemulihan ekosistem hingga peningkatan ekonomi. Kawasan konservasi tersebut, menurutnya, memiliki potensi dan nilai penting karena merupakan penyangga kehidupan bagi masyarakat sekitar.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Kami sudah sepakat dengan masyarakat untuk bekerja sama dan sama-sama bekerja demi kelestarian hutan, sekaligus peningkatan ekonomi,” kata Maman, seusai meneken kerja sama kemitraan konservasi bersama kelompok masyarakat di Balai Desa Curahnongko, Kecamatan Tempurejo, kemarin (9/3). Desa Curahnongko merupakan salah satu desa penyangga kawasan TNMB.

Selama ini, masyarakat sekitar hutan memang dikenal rentan mengalami kemiskinan. Acap kali, mereka menggantungkan hidup dengan hasil kayu, sehingga berdampak terhadap kelestarian hutan. Untuk itu, pola pemberdayaan masyarakat nantinya lebih mendorong mereka agar penghasilan yang didapat berasal dari hasil hutan selain kayu. Misalnya, pengembangan usaha ekonomi produktif berbasis kelompok masyarakat.

Penjabat Kepala Desa Curahnongko, Kecamatan Tempurejo, Bambang Bukadi menjelaskan, kawasan TNMB merupakan sistem penyangga kehidupan masyarakat setempat. Oleh karena itu, keberadaannya sebagai sumber hidrologi harus dijaga sebaik-baiknya. Sehingga, peristiwa bencana banjir dan longsor yang terjadi beberapa waktu lalu, tidak terulang kembali dan tidak menjadi siklus tahunan.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Laju kerusakan hutan di Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) harus dicegah bersama-sama. Sebab, jika tidak, imbas kerusakan hutan itu bisa mengancam keberlangsungan hidup masyarakat secara keseluruhan. Itu karena deforestasi bisa menyebabkan bencana hidrologi. Jika melihat pada data opened area, di TNMB terdapat kawasan yang terdeforestasi sekitar 6,5 persen atau seluas 3.382 hektare dari keseluruhan areal konservasi 52.626,04 hektare. Ini akibat adanya penjarahan hutan dan perambahan.

Mencegah laju deforestasi itu, masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan tak boleh ditinggal. Sebab, mereka mempunyai peran penting dan perlu dilibatkan dalam upaya pelestarian. Salah satunya dengan membangun pola kemitraan konservasi untuk pemulihan ekosistem di kawasan yang masuk zona rehabilitasi. Kendati begitu, kemitraan tersebut juga harus dibarengi dengan upaya pemberdayaan untuk memperkuat ekonomi. Dengan demikian, mereka bisa sejahtera dengan kondisi hutan yang tetap lestari.

Kepala Balai TNMB Maman Surahman menuturkan, saat ini pihaknya tengah merajut kembali pola kemitraan konservasi bersama masyarakat di beberapa desa penyangga kawasan hutan. Muaranya untuk pemulihan ekosistem hingga peningkatan ekonomi. Kawasan konservasi tersebut, menurutnya, memiliki potensi dan nilai penting karena merupakan penyangga kehidupan bagi masyarakat sekitar.

“Kami sudah sepakat dengan masyarakat untuk bekerja sama dan sama-sama bekerja demi kelestarian hutan, sekaligus peningkatan ekonomi,” kata Maman, seusai meneken kerja sama kemitraan konservasi bersama kelompok masyarakat di Balai Desa Curahnongko, Kecamatan Tempurejo, kemarin (9/3). Desa Curahnongko merupakan salah satu desa penyangga kawasan TNMB.

Selama ini, masyarakat sekitar hutan memang dikenal rentan mengalami kemiskinan. Acap kali, mereka menggantungkan hidup dengan hasil kayu, sehingga berdampak terhadap kelestarian hutan. Untuk itu, pola pemberdayaan masyarakat nantinya lebih mendorong mereka agar penghasilan yang didapat berasal dari hasil hutan selain kayu. Misalnya, pengembangan usaha ekonomi produktif berbasis kelompok masyarakat.

Penjabat Kepala Desa Curahnongko, Kecamatan Tempurejo, Bambang Bukadi menjelaskan, kawasan TNMB merupakan sistem penyangga kehidupan masyarakat setempat. Oleh karena itu, keberadaannya sebagai sumber hidrologi harus dijaga sebaik-baiknya. Sehingga, peristiwa bencana banjir dan longsor yang terjadi beberapa waktu lalu, tidak terulang kembali dan tidak menjadi siklus tahunan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Laju kerusakan hutan di Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) harus dicegah bersama-sama. Sebab, jika tidak, imbas kerusakan hutan itu bisa mengancam keberlangsungan hidup masyarakat secara keseluruhan. Itu karena deforestasi bisa menyebabkan bencana hidrologi. Jika melihat pada data opened area, di TNMB terdapat kawasan yang terdeforestasi sekitar 6,5 persen atau seluas 3.382 hektare dari keseluruhan areal konservasi 52.626,04 hektare. Ini akibat adanya penjarahan hutan dan perambahan.

Mencegah laju deforestasi itu, masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan tak boleh ditinggal. Sebab, mereka mempunyai peran penting dan perlu dilibatkan dalam upaya pelestarian. Salah satunya dengan membangun pola kemitraan konservasi untuk pemulihan ekosistem di kawasan yang masuk zona rehabilitasi. Kendati begitu, kemitraan tersebut juga harus dibarengi dengan upaya pemberdayaan untuk memperkuat ekonomi. Dengan demikian, mereka bisa sejahtera dengan kondisi hutan yang tetap lestari.

Kepala Balai TNMB Maman Surahman menuturkan, saat ini pihaknya tengah merajut kembali pola kemitraan konservasi bersama masyarakat di beberapa desa penyangga kawasan hutan. Muaranya untuk pemulihan ekosistem hingga peningkatan ekonomi. Kawasan konservasi tersebut, menurutnya, memiliki potensi dan nilai penting karena merupakan penyangga kehidupan bagi masyarakat sekitar.

“Kami sudah sepakat dengan masyarakat untuk bekerja sama dan sama-sama bekerja demi kelestarian hutan, sekaligus peningkatan ekonomi,” kata Maman, seusai meneken kerja sama kemitraan konservasi bersama kelompok masyarakat di Balai Desa Curahnongko, Kecamatan Tempurejo, kemarin (9/3). Desa Curahnongko merupakan salah satu desa penyangga kawasan TNMB.

Selama ini, masyarakat sekitar hutan memang dikenal rentan mengalami kemiskinan. Acap kali, mereka menggantungkan hidup dengan hasil kayu, sehingga berdampak terhadap kelestarian hutan. Untuk itu, pola pemberdayaan masyarakat nantinya lebih mendorong mereka agar penghasilan yang didapat berasal dari hasil hutan selain kayu. Misalnya, pengembangan usaha ekonomi produktif berbasis kelompok masyarakat.

Penjabat Kepala Desa Curahnongko, Kecamatan Tempurejo, Bambang Bukadi menjelaskan, kawasan TNMB merupakan sistem penyangga kehidupan masyarakat setempat. Oleh karena itu, keberadaannya sebagai sumber hidrologi harus dijaga sebaik-baiknya. Sehingga, peristiwa bencana banjir dan longsor yang terjadi beberapa waktu lalu, tidak terulang kembali dan tidak menjadi siklus tahunan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/