alexametrics
23.4 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Berjuang Hapus Stigma Miring, Tak Ingin Selamanya Dicap Perusuh

Kompetisi sepak bola belum dihelat. Para suporter bola pun absen dari aktivitas di tribune. Selama ini, mereka dikenal garang membela klub kesayangannya saat berlaga. Tak heran, stigma tukang onar sampai perusuh begitu melekat. Namun, bagaimana mereka ketika di luar lapangan?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Drum, drum, duk! Drum drum duk! Bunyi drum band menggelegar di sekitar Jalan Gajah Mada Kaliwates, beberapa waktu lalu. Suara tetabuhan itu seperti mengejutkan pengguna jalan yang melintas. Tak sedikit di antara mereka menoleh sambil senyum-senyum. Ada juga yang sampai melambaikan tangan.

Sesaat kemudian, lampu merah menyala. Lalu, sekelompok pemuda berkaus serba hitam dan hijau turun ke jalan sambil menenteng kardus bertuliskan ‘Peduli Korban Banjir Jember.’ Rupanya, mereka tengah menggalang dana dari para pengguna jalan yang melintas saat itu. “Permisi, ini bantuan untuk korban banjir,” sapa salah satu anak yang menenteng kardus itu ke seorang pengendara.

Beberapa anak pun terlihat turun ke jalan. Sementara lainnya berada di pinggiran. Sisanya menabuh drum band. Mereka, para penabuh drum band, seperti mencoba membakar semangat. Bedanya, jika biasanya membakar semangat klub kesayangannya saat berlaga di lapangan hijau, tapi kala itu tidak. Mereka menyemangati teman-temannya yang sedang menggalang bantuan. “Selain menyemangati, juga agar pengendara motor terhibur,” ucap salah seorang penabuh drum band itu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Diketahui, puluhan pemuda itu berasal dari komunitas suporter sepak bola Bonek Mania Jember. Melalui Tim Gerak Cepat (TGC) yang dibentuknya, aksi galang dana dengan tetabuhan itu menjadi api penyemangat tersendiri. Sebab, sejak liga 1 tidak diputar akibat pandemi, mereka tidak bisa lagi nribun untuk mendukung klub kesayangannya.

Terlebih, bencana banjir beberapa kali terjadi di Jember. Mulai di Bangsalsari, Tempurejo, Puger, dan terakhir banjir karena luapan Sungai Bedadung. “Kami sengaja turun ke jalan ingin membantu korban banjir di Jember ini,” kata Jakfar Shadiq, Ketua Umum Republik Bonek Jember.

Meski mereka kerap membela Persebaya, klub asal Kota Pahlawan itu, namun soal kepeduliannya di tanah kelahiran, Jember, tetap tidak pudar. Hal itu mereka buktikan dengan melakukan penggalangan dana untuk korban banjir. Bahkan, penggalangan itu bukan sekali dua kali, tapi sudah beberapa kali. “Terakhir, kami penggalangan dana dan menyalurkan bantuan ke korban banjir Sungai Bedadung. Tidak banyak, tapi insyaallah bisa membantu,” tambah Jojo, sapaan akrabnya.

Ia mengatakan, anggotanya di Jember cukup banyak. Sekitar 55 koordinator wilayah (korwil). Mereka tergabung dalam Bonek Raung Jember dan Bonek Sektor Selatan. Dari kesekian anggotanya itu, kata Jojo, memang mereka berbeda karakter dan sifat.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Drum, drum, duk! Drum drum duk! Bunyi drum band menggelegar di sekitar Jalan Gajah Mada Kaliwates, beberapa waktu lalu. Suara tetabuhan itu seperti mengejutkan pengguna jalan yang melintas. Tak sedikit di antara mereka menoleh sambil senyum-senyum. Ada juga yang sampai melambaikan tangan.

Sesaat kemudian, lampu merah menyala. Lalu, sekelompok pemuda berkaus serba hitam dan hijau turun ke jalan sambil menenteng kardus bertuliskan ‘Peduli Korban Banjir Jember.’ Rupanya, mereka tengah menggalang dana dari para pengguna jalan yang melintas saat itu. “Permisi, ini bantuan untuk korban banjir,” sapa salah satu anak yang menenteng kardus itu ke seorang pengendara.

Beberapa anak pun terlihat turun ke jalan. Sementara lainnya berada di pinggiran. Sisanya menabuh drum band. Mereka, para penabuh drum band, seperti mencoba membakar semangat. Bedanya, jika biasanya membakar semangat klub kesayangannya saat berlaga di lapangan hijau, tapi kala itu tidak. Mereka menyemangati teman-temannya yang sedang menggalang bantuan. “Selain menyemangati, juga agar pengendara motor terhibur,” ucap salah seorang penabuh drum band itu.

Diketahui, puluhan pemuda itu berasal dari komunitas suporter sepak bola Bonek Mania Jember. Melalui Tim Gerak Cepat (TGC) yang dibentuknya, aksi galang dana dengan tetabuhan itu menjadi api penyemangat tersendiri. Sebab, sejak liga 1 tidak diputar akibat pandemi, mereka tidak bisa lagi nribun untuk mendukung klub kesayangannya.

Terlebih, bencana banjir beberapa kali terjadi di Jember. Mulai di Bangsalsari, Tempurejo, Puger, dan terakhir banjir karena luapan Sungai Bedadung. “Kami sengaja turun ke jalan ingin membantu korban banjir di Jember ini,” kata Jakfar Shadiq, Ketua Umum Republik Bonek Jember.

Meski mereka kerap membela Persebaya, klub asal Kota Pahlawan itu, namun soal kepeduliannya di tanah kelahiran, Jember, tetap tidak pudar. Hal itu mereka buktikan dengan melakukan penggalangan dana untuk korban banjir. Bahkan, penggalangan itu bukan sekali dua kali, tapi sudah beberapa kali. “Terakhir, kami penggalangan dana dan menyalurkan bantuan ke korban banjir Sungai Bedadung. Tidak banyak, tapi insyaallah bisa membantu,” tambah Jojo, sapaan akrabnya.

Ia mengatakan, anggotanya di Jember cukup banyak. Sekitar 55 koordinator wilayah (korwil). Mereka tergabung dalam Bonek Raung Jember dan Bonek Sektor Selatan. Dari kesekian anggotanya itu, kata Jojo, memang mereka berbeda karakter dan sifat.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Drum, drum, duk! Drum drum duk! Bunyi drum band menggelegar di sekitar Jalan Gajah Mada Kaliwates, beberapa waktu lalu. Suara tetabuhan itu seperti mengejutkan pengguna jalan yang melintas. Tak sedikit di antara mereka menoleh sambil senyum-senyum. Ada juga yang sampai melambaikan tangan.

Sesaat kemudian, lampu merah menyala. Lalu, sekelompok pemuda berkaus serba hitam dan hijau turun ke jalan sambil menenteng kardus bertuliskan ‘Peduli Korban Banjir Jember.’ Rupanya, mereka tengah menggalang dana dari para pengguna jalan yang melintas saat itu. “Permisi, ini bantuan untuk korban banjir,” sapa salah satu anak yang menenteng kardus itu ke seorang pengendara.

Beberapa anak pun terlihat turun ke jalan. Sementara lainnya berada di pinggiran. Sisanya menabuh drum band. Mereka, para penabuh drum band, seperti mencoba membakar semangat. Bedanya, jika biasanya membakar semangat klub kesayangannya saat berlaga di lapangan hijau, tapi kala itu tidak. Mereka menyemangati teman-temannya yang sedang menggalang bantuan. “Selain menyemangati, juga agar pengendara motor terhibur,” ucap salah seorang penabuh drum band itu.

Diketahui, puluhan pemuda itu berasal dari komunitas suporter sepak bola Bonek Mania Jember. Melalui Tim Gerak Cepat (TGC) yang dibentuknya, aksi galang dana dengan tetabuhan itu menjadi api penyemangat tersendiri. Sebab, sejak liga 1 tidak diputar akibat pandemi, mereka tidak bisa lagi nribun untuk mendukung klub kesayangannya.

Terlebih, bencana banjir beberapa kali terjadi di Jember. Mulai di Bangsalsari, Tempurejo, Puger, dan terakhir banjir karena luapan Sungai Bedadung. “Kami sengaja turun ke jalan ingin membantu korban banjir di Jember ini,” kata Jakfar Shadiq, Ketua Umum Republik Bonek Jember.

Meski mereka kerap membela Persebaya, klub asal Kota Pahlawan itu, namun soal kepeduliannya di tanah kelahiran, Jember, tetap tidak pudar. Hal itu mereka buktikan dengan melakukan penggalangan dana untuk korban banjir. Bahkan, penggalangan itu bukan sekali dua kali, tapi sudah beberapa kali. “Terakhir, kami penggalangan dana dan menyalurkan bantuan ke korban banjir Sungai Bedadung. Tidak banyak, tapi insyaallah bisa membantu,” tambah Jojo, sapaan akrabnya.

Ia mengatakan, anggotanya di Jember cukup banyak. Sekitar 55 koordinator wilayah (korwil). Mereka tergabung dalam Bonek Raung Jember dan Bonek Sektor Selatan. Dari kesekian anggotanya itu, kata Jojo, memang mereka berbeda karakter dan sifat.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/