alexametrics
25 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Mau Bangun Rusun di Mana?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Relokasi warga yang tinggal di bantaran Sungai Bedadung disebut menjadi salah satu solusi mencegah banjir. Namun, sejauh ini, pemerintah daerah belum mewacanakan hal itu. Namun, apakah mereka setuju jika pemerintah memindahkan warga yang tinggal di bantaran sungai ke rumah susun (rusun) atau tempat lebih layak?

Jawa Pos Radar Jember mendatangi dua lokasi permukiman di bantaran yang terdampak banjir. Keduanya berada di kecamatan kota. Yakni bawah Jembatan Semanggi dan Jalan Sumatera, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari. Warga yang terdampak tak menjawab secara gamblang. Mereka justru pesimistis tentang relokasi itu. Sebab, pemerintah dinilai lamban menangani dampak banjir Bedadung.

Siang itu, Robi Firmansyah, terlihat sibuk merapikan berbagai peralatan yang masih berantakan akibat terjangan aliran Sungai Bedadung, Jumat (29/1) lalu. Robi kembali teringat sesaat sebelum banjir menerjang rumahnya di bawah Jembatan Semanggi, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kala itu, dia bercerita, dirinya sedang tak di rumah. Dia tengah berada di Kecamatan Genteng, Banyuwangi. Dering telepon malam itu mengubah raut wajahnya. Mukanya memucat saat dia tahu bahwa istrinya meneleponnya puluhan kali. “Banjir, Mas. Banjir,” suara dalam telepon itu membuat pikirannya semakin tak karuan. “Air Sungai Bedadung meluap,” kata sang istri dalam panggilan itu.

Robi pun langsung tancap gas. Sekitar pukul 18.30, dia tiba di rumah. Laju motornya terhenti lantaran jalan menuju rumahnya tak bisa dilewati. Air sudah sampai atas. “Saya tak banyak pikir waktu itu. Yang paling penting, saya harus segera menyelamatkan istri dan ketiga anak saya. Dua di antaranya masih balita,” terang pria 33 tahun itu.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Relokasi warga yang tinggal di bantaran Sungai Bedadung disebut menjadi salah satu solusi mencegah banjir. Namun, sejauh ini, pemerintah daerah belum mewacanakan hal itu. Namun, apakah mereka setuju jika pemerintah memindahkan warga yang tinggal di bantaran sungai ke rumah susun (rusun) atau tempat lebih layak?

Jawa Pos Radar Jember mendatangi dua lokasi permukiman di bantaran yang terdampak banjir. Keduanya berada di kecamatan kota. Yakni bawah Jembatan Semanggi dan Jalan Sumatera, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari. Warga yang terdampak tak menjawab secara gamblang. Mereka justru pesimistis tentang relokasi itu. Sebab, pemerintah dinilai lamban menangani dampak banjir Bedadung.

Siang itu, Robi Firmansyah, terlihat sibuk merapikan berbagai peralatan yang masih berantakan akibat terjangan aliran Sungai Bedadung, Jumat (29/1) lalu. Robi kembali teringat sesaat sebelum banjir menerjang rumahnya di bawah Jembatan Semanggi, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari.

Kala itu, dia bercerita, dirinya sedang tak di rumah. Dia tengah berada di Kecamatan Genteng, Banyuwangi. Dering telepon malam itu mengubah raut wajahnya. Mukanya memucat saat dia tahu bahwa istrinya meneleponnya puluhan kali. “Banjir, Mas. Banjir,” suara dalam telepon itu membuat pikirannya semakin tak karuan. “Air Sungai Bedadung meluap,” kata sang istri dalam panggilan itu.

Robi pun langsung tancap gas. Sekitar pukul 18.30, dia tiba di rumah. Laju motornya terhenti lantaran jalan menuju rumahnya tak bisa dilewati. Air sudah sampai atas. “Saya tak banyak pikir waktu itu. Yang paling penting, saya harus segera menyelamatkan istri dan ketiga anak saya. Dua di antaranya masih balita,” terang pria 33 tahun itu.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Relokasi warga yang tinggal di bantaran Sungai Bedadung disebut menjadi salah satu solusi mencegah banjir. Namun, sejauh ini, pemerintah daerah belum mewacanakan hal itu. Namun, apakah mereka setuju jika pemerintah memindahkan warga yang tinggal di bantaran sungai ke rumah susun (rusun) atau tempat lebih layak?

Jawa Pos Radar Jember mendatangi dua lokasi permukiman di bantaran yang terdampak banjir. Keduanya berada di kecamatan kota. Yakni bawah Jembatan Semanggi dan Jalan Sumatera, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari. Warga yang terdampak tak menjawab secara gamblang. Mereka justru pesimistis tentang relokasi itu. Sebab, pemerintah dinilai lamban menangani dampak banjir Bedadung.

Siang itu, Robi Firmansyah, terlihat sibuk merapikan berbagai peralatan yang masih berantakan akibat terjangan aliran Sungai Bedadung, Jumat (29/1) lalu. Robi kembali teringat sesaat sebelum banjir menerjang rumahnya di bawah Jembatan Semanggi, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari.

Kala itu, dia bercerita, dirinya sedang tak di rumah. Dia tengah berada di Kecamatan Genteng, Banyuwangi. Dering telepon malam itu mengubah raut wajahnya. Mukanya memucat saat dia tahu bahwa istrinya meneleponnya puluhan kali. “Banjir, Mas. Banjir,” suara dalam telepon itu membuat pikirannya semakin tak karuan. “Air Sungai Bedadung meluap,” kata sang istri dalam panggilan itu.

Robi pun langsung tancap gas. Sekitar pukul 18.30, dia tiba di rumah. Laju motornya terhenti lantaran jalan menuju rumahnya tak bisa dilewati. Air sudah sampai atas. “Saya tak banyak pikir waktu itu. Yang paling penting, saya harus segera menyelamatkan istri dan ketiga anak saya. Dua di antaranya masih balita,” terang pria 33 tahun itu.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/