alexametrics
28.4 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Awalnya Minder Tugas Bareng Polisi, Kini Malah Tertantang

Beberapa bulan ini, tiap rilis kasus di kepolisian kerap menghadirkan juru bahasa isyarat (JBI). Mereka dilibatkan untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat golongan khusus. Rupanya, banyak sisi lain yang tersaji di dalamnya. Seperti apa ceritanya?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Di pojok ruangan Reserse Kriminal Polsek Wuluhan, Anis Yulia Rachman duduk menyendiri. Sesaat sebelum gelar pers rilis, Rabu (26/5) lalu. Ia berpenampilan berbeda dari kebanyakan orang yang hadir kala itu. Serba kehitaman. Bukan datang dari acara melayat, namun itulah salah satu atribut yang harus ia kenakan saat bertugas. “Atribut ini salah satu kode etik saya saat bertugas,” katanya.

Rupanya, gadis berkerudung ini seorang juru bahasa isyarat atau JBI. Dia dilibatkan oleh kepolisian saat gelar kasus bersama awak media. Saat pers rilis mulai dilangsungkan, Yulia mulai mengambil posisi. Gelang, cincin, arloji, dan semua yang melekat di lengan dan jemarinya mulai ia tanggalkan. Lalu, disambung melepaskan masker dan menggantinya dengan face shield. Sepertinya hal itu juga menjadi salah satu kode etik seorang JBI, agar informasi yang disampaikan dengan bahasa isyarat benar-benar jelas dan sampai.

Saat itu, polisi tengah mengungkap kasus Badrodin Haiti KW yang baru-baru ini menggegerkan warga Jember. Ia pun mengambil posisi tepat di sebelah Kabid Humas Polres Jember, yang saat itu mendampingi Kapolsek Wuluhan, Kasatreskrim Polres Jember, dan Wakapolres Jember. Jari-jemarinya pun mulai bermain, diikuti oleh mimik ekspresi wajah saat menerjemahkan narasi yang disampaikan petugas kala rilis media itu berlangsung.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sepertinya, Yulia cukup piawai dan menguasai betul informasi yang diterimanya. Kemudian, ia terjemahkan ke dalam bahasa isyarat. Bahasa-bahasa hukum hingga sorotan kamera dari sejumlah awak media, seolah membuat dia menjiwai betul profesinya itu.

Sekitar 10 menit berjalan, gelar pers telah rampung. Wajah Yulia masih terlihat segar dan penuh semangat. Seolah hari itu ia tengah mendapat tangkapan besar. “Dari kasus yang kesekian kalinya saya ikuti, ini beda. Kasusnya besar, dan menarik,” ujar Yulia, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember di sela-sela istirahatnya.

Perempuan berkacamata itu menceritakan perjalanannya sebagai JBI. Katanya, pers rilis saat itu merupakan yang kelima kalinya diikuti. Kendati terbilang baru terjun di JBI kepolisian, namun pengalamannya dalam JBI sudah lumayan lama.

Tepatnya sejak 2017 lalu, Yulia mulai belajar dan mulai aktif sebagai seorang JBI. Ia juga sering mengisi bahasa isyarat dalam tiap event, acara-acara webinar, seminar, dan sejenisnya. Karenanya, ia sudah paham betul, bagaimana seluk-beluk sampai suka dukannya menjadi JBI. “Hanya saja, kalau tugas bareng polisi, awalnya minder. Karena banyak kata-kata baru dalam kasus-kasus hukum dan kriminal. Tapi, lambat laun sudah tidak minder lagi,” aku gadis 25 tahun ini.

Yulia mengakui, rasa groginya itu tidak bertahan lama. Sebab, seiring semakin seringnya ia bertugas bareng Pak Polisi, Yulia justru mengaku semakin tertantang. Terlebih, alumnus Jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) IKIP Jember ini juga mengaku sangat menaruh kepedulian tinggi terhadap sebagian masyarakat golongan khusus, utamanya kalangan tunarungu dan tunawicara.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Di pojok ruangan Reserse Kriminal Polsek Wuluhan, Anis Yulia Rachman duduk menyendiri. Sesaat sebelum gelar pers rilis, Rabu (26/5) lalu. Ia berpenampilan berbeda dari kebanyakan orang yang hadir kala itu. Serba kehitaman. Bukan datang dari acara melayat, namun itulah salah satu atribut yang harus ia kenakan saat bertugas. “Atribut ini salah satu kode etik saya saat bertugas,” katanya.

Rupanya, gadis berkerudung ini seorang juru bahasa isyarat atau JBI. Dia dilibatkan oleh kepolisian saat gelar kasus bersama awak media. Saat pers rilis mulai dilangsungkan, Yulia mulai mengambil posisi. Gelang, cincin, arloji, dan semua yang melekat di lengan dan jemarinya mulai ia tanggalkan. Lalu, disambung melepaskan masker dan menggantinya dengan face shield. Sepertinya hal itu juga menjadi salah satu kode etik seorang JBI, agar informasi yang disampaikan dengan bahasa isyarat benar-benar jelas dan sampai.

Saat itu, polisi tengah mengungkap kasus Badrodin Haiti KW yang baru-baru ini menggegerkan warga Jember. Ia pun mengambil posisi tepat di sebelah Kabid Humas Polres Jember, yang saat itu mendampingi Kapolsek Wuluhan, Kasatreskrim Polres Jember, dan Wakapolres Jember. Jari-jemarinya pun mulai bermain, diikuti oleh mimik ekspresi wajah saat menerjemahkan narasi yang disampaikan petugas kala rilis media itu berlangsung.

Sepertinya, Yulia cukup piawai dan menguasai betul informasi yang diterimanya. Kemudian, ia terjemahkan ke dalam bahasa isyarat. Bahasa-bahasa hukum hingga sorotan kamera dari sejumlah awak media, seolah membuat dia menjiwai betul profesinya itu.

Sekitar 10 menit berjalan, gelar pers telah rampung. Wajah Yulia masih terlihat segar dan penuh semangat. Seolah hari itu ia tengah mendapat tangkapan besar. “Dari kasus yang kesekian kalinya saya ikuti, ini beda. Kasusnya besar, dan menarik,” ujar Yulia, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember di sela-sela istirahatnya.

Perempuan berkacamata itu menceritakan perjalanannya sebagai JBI. Katanya, pers rilis saat itu merupakan yang kelima kalinya diikuti. Kendati terbilang baru terjun di JBI kepolisian, namun pengalamannya dalam JBI sudah lumayan lama.

Tepatnya sejak 2017 lalu, Yulia mulai belajar dan mulai aktif sebagai seorang JBI. Ia juga sering mengisi bahasa isyarat dalam tiap event, acara-acara webinar, seminar, dan sejenisnya. Karenanya, ia sudah paham betul, bagaimana seluk-beluk sampai suka dukannya menjadi JBI. “Hanya saja, kalau tugas bareng polisi, awalnya minder. Karena banyak kata-kata baru dalam kasus-kasus hukum dan kriminal. Tapi, lambat laun sudah tidak minder lagi,” aku gadis 25 tahun ini.

Yulia mengakui, rasa groginya itu tidak bertahan lama. Sebab, seiring semakin seringnya ia bertugas bareng Pak Polisi, Yulia justru mengaku semakin tertantang. Terlebih, alumnus Jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) IKIP Jember ini juga mengaku sangat menaruh kepedulian tinggi terhadap sebagian masyarakat golongan khusus, utamanya kalangan tunarungu dan tunawicara.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Di pojok ruangan Reserse Kriminal Polsek Wuluhan, Anis Yulia Rachman duduk menyendiri. Sesaat sebelum gelar pers rilis, Rabu (26/5) lalu. Ia berpenampilan berbeda dari kebanyakan orang yang hadir kala itu. Serba kehitaman. Bukan datang dari acara melayat, namun itulah salah satu atribut yang harus ia kenakan saat bertugas. “Atribut ini salah satu kode etik saya saat bertugas,” katanya.

Rupanya, gadis berkerudung ini seorang juru bahasa isyarat atau JBI. Dia dilibatkan oleh kepolisian saat gelar kasus bersama awak media. Saat pers rilis mulai dilangsungkan, Yulia mulai mengambil posisi. Gelang, cincin, arloji, dan semua yang melekat di lengan dan jemarinya mulai ia tanggalkan. Lalu, disambung melepaskan masker dan menggantinya dengan face shield. Sepertinya hal itu juga menjadi salah satu kode etik seorang JBI, agar informasi yang disampaikan dengan bahasa isyarat benar-benar jelas dan sampai.

Saat itu, polisi tengah mengungkap kasus Badrodin Haiti KW yang baru-baru ini menggegerkan warga Jember. Ia pun mengambil posisi tepat di sebelah Kabid Humas Polres Jember, yang saat itu mendampingi Kapolsek Wuluhan, Kasatreskrim Polres Jember, dan Wakapolres Jember. Jari-jemarinya pun mulai bermain, diikuti oleh mimik ekspresi wajah saat menerjemahkan narasi yang disampaikan petugas kala rilis media itu berlangsung.

Sepertinya, Yulia cukup piawai dan menguasai betul informasi yang diterimanya. Kemudian, ia terjemahkan ke dalam bahasa isyarat. Bahasa-bahasa hukum hingga sorotan kamera dari sejumlah awak media, seolah membuat dia menjiwai betul profesinya itu.

Sekitar 10 menit berjalan, gelar pers telah rampung. Wajah Yulia masih terlihat segar dan penuh semangat. Seolah hari itu ia tengah mendapat tangkapan besar. “Dari kasus yang kesekian kalinya saya ikuti, ini beda. Kasusnya besar, dan menarik,” ujar Yulia, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember di sela-sela istirahatnya.

Perempuan berkacamata itu menceritakan perjalanannya sebagai JBI. Katanya, pers rilis saat itu merupakan yang kelima kalinya diikuti. Kendati terbilang baru terjun di JBI kepolisian, namun pengalamannya dalam JBI sudah lumayan lama.

Tepatnya sejak 2017 lalu, Yulia mulai belajar dan mulai aktif sebagai seorang JBI. Ia juga sering mengisi bahasa isyarat dalam tiap event, acara-acara webinar, seminar, dan sejenisnya. Karenanya, ia sudah paham betul, bagaimana seluk-beluk sampai suka dukannya menjadi JBI. “Hanya saja, kalau tugas bareng polisi, awalnya minder. Karena banyak kata-kata baru dalam kasus-kasus hukum dan kriminal. Tapi, lambat laun sudah tidak minder lagi,” aku gadis 25 tahun ini.

Yulia mengakui, rasa groginya itu tidak bertahan lama. Sebab, seiring semakin seringnya ia bertugas bareng Pak Polisi, Yulia justru mengaku semakin tertantang. Terlebih, alumnus Jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) IKIP Jember ini juga mengaku sangat menaruh kepedulian tinggi terhadap sebagian masyarakat golongan khusus, utamanya kalangan tunarungu dan tunawicara.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/