alexametrics
26.2 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Jalan dengan Dana Swadaya, Penting Bermanfaat untuk Masyarakat

Biasanya, nama struktur pengurus karang taruna hanya menempel di balai desa. Nyaris tanpa kegiatan. Namun, kondisi itu berbeda dengan Karang Taruna Tunas Bangsa (KTTB) di Desa Wonoasri, Tempurejo. Mereka tetap eksis meski terkadang tak memiliki dana. Apa saja yang mereka kerjakan?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Puluhan orang itu tampak sibuk saling bantu di area hutan Sanenrejo, sekitar Bendungan Dam Rejo (BDR) di Kecamatan Tempurejo. Masing-masing dari mereka membawa satu bibit untuk ditanam. Satu orang bertugas menggali tanah, sebagian lagi memegangi bibit. Ada juga yang sibuk mengabadikan momen melalui ponsel.

Saat itu, ada puluhan bibit yang mereka tanam. Mulai klengkeng, jambu jamaika, alpukat, hingga duren. Ketua KTTB Desa Wonoasri Reza Cahya Dwipantoro menyatakan, bibit-bibit itu bukanlah hasil membeli melainkan bantuan dari seseorang. Ada dermawan kenalan salah seorang temannya yang berkuliah di jurusan pertanian. “Jadi, kami tinggal menanam saja,” katanya.

Menurutnya, kegiatan ini bertujuan untuk menanami area hutan yang gundul itu agar bisa menjadi daerah resapan air. Nantinya, kawasan itu diharapkan mampu menjadi lahan resapan yang dapat mengurangi tingginya intensitas air saat musim hujan. “Sehingga bisa menanggulangi bencana banjir di daerah hilir,” papar pemuda 23 tahun itu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tak hanya menanam bibit, warga RT 08, RW 02, Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, tersebut mengaku, pemuda yang tergabung dalam karang taruna juga melakukan banyak kegiatan akhir-akhir ini. Mulai dari pelatihan, penerimaan anggota baru, budidaya ikan lele, penanaman bibit sayur di sekitar balai desa, membantu korban banjir Wonoasri, bagi-bagi masker, hingga membersihkan sampah.

“Banjir Wonoasri pertama, kami terjun dengan membagikan makanan kepada warga yang terdampak bersama anggota Tagana,” terang Reza. Belum sempat mereda, pihaknya mendapatkan kabar bahwa ada korban banjir luapan Sungai Bedadung. Jadi, mereka menggalang bantuan, lalu ke lokasi terdampak dengan membawa berbagai keperluan. Seperti pakaian bekas, air, dan susu.

Meski begitu, Reza mengaku, tidak semua kegiatan itu menggunakan duit yang bersumber dari pemerintah desa. Sebagian kegiatan ada yang berasal dari dana sendiri. Baik yang berasal dari uang kas, maupun hasil swadaya. Misalnya kegiatan bersih-bersih sampah yang diselenggarakan belum lama ini. “Soalnya, dana dari desa belum cair,” katanya.

Reza menuturkan, aksi bersih-bersih sampah itu lantaran banyak pengendara yang mengeluh saat melintas di gapura Desa Wonoasri. Tumpukan sampah menggunung di pinggir jalan. Kata dia, banyak orang yang membuang sampah sembarangan. Padahal, di sana bukan tempat pembuangan sampah. Menggunakan uang seadanya, karang taruna menggagas aksi sosial itu. Para pemuda mengumpulkannya, lalu membuangnya di tempat pembuangan sampah.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Puluhan orang itu tampak sibuk saling bantu di area hutan Sanenrejo, sekitar Bendungan Dam Rejo (BDR) di Kecamatan Tempurejo. Masing-masing dari mereka membawa satu bibit untuk ditanam. Satu orang bertugas menggali tanah, sebagian lagi memegangi bibit. Ada juga yang sibuk mengabadikan momen melalui ponsel.

Saat itu, ada puluhan bibit yang mereka tanam. Mulai klengkeng, jambu jamaika, alpukat, hingga duren. Ketua KTTB Desa Wonoasri Reza Cahya Dwipantoro menyatakan, bibit-bibit itu bukanlah hasil membeli melainkan bantuan dari seseorang. Ada dermawan kenalan salah seorang temannya yang berkuliah di jurusan pertanian. “Jadi, kami tinggal menanam saja,” katanya.

Menurutnya, kegiatan ini bertujuan untuk menanami area hutan yang gundul itu agar bisa menjadi daerah resapan air. Nantinya, kawasan itu diharapkan mampu menjadi lahan resapan yang dapat mengurangi tingginya intensitas air saat musim hujan. “Sehingga bisa menanggulangi bencana banjir di daerah hilir,” papar pemuda 23 tahun itu.

Tak hanya menanam bibit, warga RT 08, RW 02, Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, tersebut mengaku, pemuda yang tergabung dalam karang taruna juga melakukan banyak kegiatan akhir-akhir ini. Mulai dari pelatihan, penerimaan anggota baru, budidaya ikan lele, penanaman bibit sayur di sekitar balai desa, membantu korban banjir Wonoasri, bagi-bagi masker, hingga membersihkan sampah.

“Banjir Wonoasri pertama, kami terjun dengan membagikan makanan kepada warga yang terdampak bersama anggota Tagana,” terang Reza. Belum sempat mereda, pihaknya mendapatkan kabar bahwa ada korban banjir luapan Sungai Bedadung. Jadi, mereka menggalang bantuan, lalu ke lokasi terdampak dengan membawa berbagai keperluan. Seperti pakaian bekas, air, dan susu.

Meski begitu, Reza mengaku, tidak semua kegiatan itu menggunakan duit yang bersumber dari pemerintah desa. Sebagian kegiatan ada yang berasal dari dana sendiri. Baik yang berasal dari uang kas, maupun hasil swadaya. Misalnya kegiatan bersih-bersih sampah yang diselenggarakan belum lama ini. “Soalnya, dana dari desa belum cair,” katanya.

Reza menuturkan, aksi bersih-bersih sampah itu lantaran banyak pengendara yang mengeluh saat melintas di gapura Desa Wonoasri. Tumpukan sampah menggunung di pinggir jalan. Kata dia, banyak orang yang membuang sampah sembarangan. Padahal, di sana bukan tempat pembuangan sampah. Menggunakan uang seadanya, karang taruna menggagas aksi sosial itu. Para pemuda mengumpulkannya, lalu membuangnya di tempat pembuangan sampah.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Puluhan orang itu tampak sibuk saling bantu di area hutan Sanenrejo, sekitar Bendungan Dam Rejo (BDR) di Kecamatan Tempurejo. Masing-masing dari mereka membawa satu bibit untuk ditanam. Satu orang bertugas menggali tanah, sebagian lagi memegangi bibit. Ada juga yang sibuk mengabadikan momen melalui ponsel.

Saat itu, ada puluhan bibit yang mereka tanam. Mulai klengkeng, jambu jamaika, alpukat, hingga duren. Ketua KTTB Desa Wonoasri Reza Cahya Dwipantoro menyatakan, bibit-bibit itu bukanlah hasil membeli melainkan bantuan dari seseorang. Ada dermawan kenalan salah seorang temannya yang berkuliah di jurusan pertanian. “Jadi, kami tinggal menanam saja,” katanya.

Menurutnya, kegiatan ini bertujuan untuk menanami area hutan yang gundul itu agar bisa menjadi daerah resapan air. Nantinya, kawasan itu diharapkan mampu menjadi lahan resapan yang dapat mengurangi tingginya intensitas air saat musim hujan. “Sehingga bisa menanggulangi bencana banjir di daerah hilir,” papar pemuda 23 tahun itu.

Tak hanya menanam bibit, warga RT 08, RW 02, Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, tersebut mengaku, pemuda yang tergabung dalam karang taruna juga melakukan banyak kegiatan akhir-akhir ini. Mulai dari pelatihan, penerimaan anggota baru, budidaya ikan lele, penanaman bibit sayur di sekitar balai desa, membantu korban banjir Wonoasri, bagi-bagi masker, hingga membersihkan sampah.

“Banjir Wonoasri pertama, kami terjun dengan membagikan makanan kepada warga yang terdampak bersama anggota Tagana,” terang Reza. Belum sempat mereda, pihaknya mendapatkan kabar bahwa ada korban banjir luapan Sungai Bedadung. Jadi, mereka menggalang bantuan, lalu ke lokasi terdampak dengan membawa berbagai keperluan. Seperti pakaian bekas, air, dan susu.

Meski begitu, Reza mengaku, tidak semua kegiatan itu menggunakan duit yang bersumber dari pemerintah desa. Sebagian kegiatan ada yang berasal dari dana sendiri. Baik yang berasal dari uang kas, maupun hasil swadaya. Misalnya kegiatan bersih-bersih sampah yang diselenggarakan belum lama ini. “Soalnya, dana dari desa belum cair,” katanya.

Reza menuturkan, aksi bersih-bersih sampah itu lantaran banyak pengendara yang mengeluh saat melintas di gapura Desa Wonoasri. Tumpukan sampah menggunung di pinggir jalan. Kata dia, banyak orang yang membuang sampah sembarangan. Padahal, di sana bukan tempat pembuangan sampah. Menggunakan uang seadanya, karang taruna menggagas aksi sosial itu. Para pemuda mengumpulkannya, lalu membuangnya di tempat pembuangan sampah.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/