alexametrics
23.5 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Dulu Rimbunan Bambu Tumbuh Subur, Kini Berganti Permukiman

Jumat 29 Januari, Bedadung meluap hingga memorakporandakan permukiman warga di bantaran sungai. Kejadian itu mengingatkan sekelompok pencinta alam yang pernah mengarungi Bedadung selama dua hari penuh hingga finis di Puger. Seperti apa kondisi Bedadung tiga dekade silam?

Mobile_AP_Rectangle 1

Dia menjelaskan, ekspedisi pada Januari tersebut karena pada bulan itu adalah tinggi-tingginya debit air sungai. “Kalau musim kemarau, perahu sering nyangkut ke batu-batu,” ujarnya. Bahkan, dalam cerita perjalanan pada 1991, ketika musim hujan, Sungai Bedadung juga sering banjir. Apalagi, pada Januari dan Februari, cuaca tidak menentu.

Nur Hidayat menjelaskan, Sungai Bedadung itu disuplai oleh dua gunung, Raung dan Argopuro. Bahkan, sungai kecil dari lereng Argopuro juga menyuplai. Ditambah lagi, Pegunungan Argopuro bagian timur hampir setiap hari diguyur hujan pada Januari-Februari. Sehingga, debit air Bedadung bisa cepat naik walau di kota tidak hujan.

Dia menjelaskan, persoalan Bedadung dari dulu sampai sekarang hampir sama. “Dari dulu buang sampah di sungai ya tetap ada,” ucapnya. Permukiman penduduk yang tinggal di bantaran sungai juga terjadi. Namun, itu hanya di daerah kota. Perbedaan mencolok sekarang, kata dia, permukiman penduduk semakin banyak. Bahkan, lokasi yang dulunya rimbunan bambu telah berubah jadi rumah warga.

Mobile_AP_Rectangle 2

Nur Hidayat mencontohkan, seperti di belakang Taman Makam Pahlawan (TMP) Patrang. Bahkan, dia berujar, juga ada permukiman penduduk tumbuh di bawah dinding sungai. Karenanya, jelas berbahaya bila debit air Bedadung meninggi seperti akhir Januari lalu.

Apalagi, Sungai Bedadung itu tidak lurus, tapi meliuk-meliuk. Karena itu, hempasan air ke dinding sungai juga kian meningkat. Untuk jeramnya sendiri, Sungai Bedadung cukup asyik bila air itu besar. Bahkan, batu-batu sebesar lemari menjadi rintangan tersendiri. Tapi jeram-jeram menawan itu tidak selalu ada sampai garis finis di Puger. Sebab, setelah Dam Rowotamtu di Rambipuji, air sungai flat hingga Puger. Bahkan, dam itu tidak berani dilewati karena cukup tinggi. “Perahu digotong ke darat dan masuk lagi ke air setelah Dam Rowotamtu,” ungkapnya.

Namun, sebelum ke dam, tim ekspedisi bermalam di Desa Bedadung Wetan, dekat Terminal Tawang Alun. Ketika bermalam tersebut, banyak cerita oleh warga setempat pada tahun 1991. Yaitu, Sungai Bedadung dulu pernah banjir bandang besar. Akibat kejadian itu, banyak penduduk hilang digulung derasnya sungai. Bahkan, dalam cerita penduduk, dulu saat musim kemarau, terkadang buaya menampakkan dirinya.

Sampai di Balung, sungai tetap saja flat. Tapi ada pemandangan lain, yaitu warga memanfaatkan sungai untuk merendam bambu. Sampai ke Puger, panas semakin menyengat ditambah kilauan putih dari gunung kapur di Grenden. Mendekati finis, hilir mudik perahu kayu jadi pemandangan. Bahkan, setiap ada nelayan melintas mereka selalu bertanya yang tidak akan dilupakan oleh Nur Hidayat. “Nelayan itu selalu tanya, bertemu buaya apa tidak,” pungkasnya.

- Advertisement -

Dia menjelaskan, ekspedisi pada Januari tersebut karena pada bulan itu adalah tinggi-tingginya debit air sungai. “Kalau musim kemarau, perahu sering nyangkut ke batu-batu,” ujarnya. Bahkan, dalam cerita perjalanan pada 1991, ketika musim hujan, Sungai Bedadung juga sering banjir. Apalagi, pada Januari dan Februari, cuaca tidak menentu.

Nur Hidayat menjelaskan, Sungai Bedadung itu disuplai oleh dua gunung, Raung dan Argopuro. Bahkan, sungai kecil dari lereng Argopuro juga menyuplai. Ditambah lagi, Pegunungan Argopuro bagian timur hampir setiap hari diguyur hujan pada Januari-Februari. Sehingga, debit air Bedadung bisa cepat naik walau di kota tidak hujan.

Dia menjelaskan, persoalan Bedadung dari dulu sampai sekarang hampir sama. “Dari dulu buang sampah di sungai ya tetap ada,” ucapnya. Permukiman penduduk yang tinggal di bantaran sungai juga terjadi. Namun, itu hanya di daerah kota. Perbedaan mencolok sekarang, kata dia, permukiman penduduk semakin banyak. Bahkan, lokasi yang dulunya rimbunan bambu telah berubah jadi rumah warga.

Nur Hidayat mencontohkan, seperti di belakang Taman Makam Pahlawan (TMP) Patrang. Bahkan, dia berujar, juga ada permukiman penduduk tumbuh di bawah dinding sungai. Karenanya, jelas berbahaya bila debit air Bedadung meninggi seperti akhir Januari lalu.

Apalagi, Sungai Bedadung itu tidak lurus, tapi meliuk-meliuk. Karena itu, hempasan air ke dinding sungai juga kian meningkat. Untuk jeramnya sendiri, Sungai Bedadung cukup asyik bila air itu besar. Bahkan, batu-batu sebesar lemari menjadi rintangan tersendiri. Tapi jeram-jeram menawan itu tidak selalu ada sampai garis finis di Puger. Sebab, setelah Dam Rowotamtu di Rambipuji, air sungai flat hingga Puger. Bahkan, dam itu tidak berani dilewati karena cukup tinggi. “Perahu digotong ke darat dan masuk lagi ke air setelah Dam Rowotamtu,” ungkapnya.

Namun, sebelum ke dam, tim ekspedisi bermalam di Desa Bedadung Wetan, dekat Terminal Tawang Alun. Ketika bermalam tersebut, banyak cerita oleh warga setempat pada tahun 1991. Yaitu, Sungai Bedadung dulu pernah banjir bandang besar. Akibat kejadian itu, banyak penduduk hilang digulung derasnya sungai. Bahkan, dalam cerita penduduk, dulu saat musim kemarau, terkadang buaya menampakkan dirinya.

Sampai di Balung, sungai tetap saja flat. Tapi ada pemandangan lain, yaitu warga memanfaatkan sungai untuk merendam bambu. Sampai ke Puger, panas semakin menyengat ditambah kilauan putih dari gunung kapur di Grenden. Mendekati finis, hilir mudik perahu kayu jadi pemandangan. Bahkan, setiap ada nelayan melintas mereka selalu bertanya yang tidak akan dilupakan oleh Nur Hidayat. “Nelayan itu selalu tanya, bertemu buaya apa tidak,” pungkasnya.

Dia menjelaskan, ekspedisi pada Januari tersebut karena pada bulan itu adalah tinggi-tingginya debit air sungai. “Kalau musim kemarau, perahu sering nyangkut ke batu-batu,” ujarnya. Bahkan, dalam cerita perjalanan pada 1991, ketika musim hujan, Sungai Bedadung juga sering banjir. Apalagi, pada Januari dan Februari, cuaca tidak menentu.

Nur Hidayat menjelaskan, Sungai Bedadung itu disuplai oleh dua gunung, Raung dan Argopuro. Bahkan, sungai kecil dari lereng Argopuro juga menyuplai. Ditambah lagi, Pegunungan Argopuro bagian timur hampir setiap hari diguyur hujan pada Januari-Februari. Sehingga, debit air Bedadung bisa cepat naik walau di kota tidak hujan.

Dia menjelaskan, persoalan Bedadung dari dulu sampai sekarang hampir sama. “Dari dulu buang sampah di sungai ya tetap ada,” ucapnya. Permukiman penduduk yang tinggal di bantaran sungai juga terjadi. Namun, itu hanya di daerah kota. Perbedaan mencolok sekarang, kata dia, permukiman penduduk semakin banyak. Bahkan, lokasi yang dulunya rimbunan bambu telah berubah jadi rumah warga.

Nur Hidayat mencontohkan, seperti di belakang Taman Makam Pahlawan (TMP) Patrang. Bahkan, dia berujar, juga ada permukiman penduduk tumbuh di bawah dinding sungai. Karenanya, jelas berbahaya bila debit air Bedadung meninggi seperti akhir Januari lalu.

Apalagi, Sungai Bedadung itu tidak lurus, tapi meliuk-meliuk. Karena itu, hempasan air ke dinding sungai juga kian meningkat. Untuk jeramnya sendiri, Sungai Bedadung cukup asyik bila air itu besar. Bahkan, batu-batu sebesar lemari menjadi rintangan tersendiri. Tapi jeram-jeram menawan itu tidak selalu ada sampai garis finis di Puger. Sebab, setelah Dam Rowotamtu di Rambipuji, air sungai flat hingga Puger. Bahkan, dam itu tidak berani dilewati karena cukup tinggi. “Perahu digotong ke darat dan masuk lagi ke air setelah Dam Rowotamtu,” ungkapnya.

Namun, sebelum ke dam, tim ekspedisi bermalam di Desa Bedadung Wetan, dekat Terminal Tawang Alun. Ketika bermalam tersebut, banyak cerita oleh warga setempat pada tahun 1991. Yaitu, Sungai Bedadung dulu pernah banjir bandang besar. Akibat kejadian itu, banyak penduduk hilang digulung derasnya sungai. Bahkan, dalam cerita penduduk, dulu saat musim kemarau, terkadang buaya menampakkan dirinya.

Sampai di Balung, sungai tetap saja flat. Tapi ada pemandangan lain, yaitu warga memanfaatkan sungai untuk merendam bambu. Sampai ke Puger, panas semakin menyengat ditambah kilauan putih dari gunung kapur di Grenden. Mendekati finis, hilir mudik perahu kayu jadi pemandangan. Bahkan, setiap ada nelayan melintas mereka selalu bertanya yang tidak akan dilupakan oleh Nur Hidayat. “Nelayan itu selalu tanya, bertemu buaya apa tidak,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/