alexametrics
24.3 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Dulu Rimbunan Bambu Tumbuh Subur, Kini Berganti Permukiman

Jumat 29 Januari, Bedadung meluap hingga memorakporandakan permukiman warga di bantaran sungai. Kejadian itu mengingatkan sekelompok pencinta alam yang pernah mengarungi Bedadung selama dua hari penuh hingga finis di Puger. Seperti apa kondisi Bedadung tiga dekade silam?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Rimbunan bambu tumbuh subur sepanjang tepian sungai. Orang-orang kampung banyak memanfaatkan air sungai untuk mandi dan cuci-cuci. Beberapa perusahaan tempe juga turut mengotori. Karung kedelai itu dimasukan ke dalam timba besar, kemudian dibersihkan di pinggir sungai. Diinjak-injak dan dibasuh dengan air sungai. Begitulah salah satu isi cerita perjalanan di laporan Ekspedisi Sungai Bedadung pada 1991 silam, yang dilakukan Mahasiswa Pecinta Alam (Mahapena) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember (Unej).

Buku laporan dengan kertas buram dan diketik dengan mesin ketik manual tersebut tersimpan di lemari besar di Sekretariat Mahapena. Ketua Umum Mahapena Agil Febrian mengaku, ekspedisi ini membuat cikal bakal semangat mengenal lebih dekat Sungai Bedadung dengan segala potensinya, arung jeram, sekaligus memperhatikan lingkungannya.

Dia menjelaskan, pada 2008 pernah ada kegiatan bersih-bersih Sungai Bedadung, tapi fokusnya hanya di sungai sekitar kampus. Namun, berbeda sekali dengan ekspedisi yang dilakukan tahun 1991 itu, yang finis sampai Puger.

Mobile_AP_Rectangle 2

Jawa Pos Radar Jember akhirnya berjumpa dengan pelaku ekspedisi Sungai Bedadung. Salah satunya adalah Nur Hidayat. Pria berkulit sawo matang dan berperawakan tinggi tegap tersebut menuturkan, luapan Bedadung akhir Januari lalu tentu saja mengingatkan dirinya dengan ekspedisi ‘gila’ 30 tahun silam. Bagaimana tidak, perahu yang digunakan hanya terbuat dari dua ban traktor yang dijadikan satu. “Pakai ban dalam traktor dijadikan satu dan ditutupi terpal. Jadi, seperti donat raksasa,” kenangnya.

Di usianya yang kini lebih setengah abad itu, Nur Hidayat sedikit lupa kapan pelaksanaan ekspedisi tersebut. “Oh, bukan tahun 1990, tapi Januari 1991, yaitu 17-18 Januari. Sementara, 1990 itu awal bentuk tim dan melakukan survei, dan lainnya,” terangnya.

Start di Desa Kotok, Kecamatan Kalisat, tim ekspedisi Sungai Bedadung 1991 itu mulai turun. Tim dibagi menjadi dua, tim darat dan tim air. “Tim darat itu ada almarhum Johan Simon, Yudi, Lukas, dan beberapa lagi yang tidak dia ingat. Tugas tim darat back up logistik, serta pengamanan pada jeram berbahaya,” jelasnya.

Sementara itu, tim air tidak selalu tetap, salah satunya ada Sholeh, Happy Waker, Dodik, Budi Karno, Ismangun, Taufik Gufi, dan Nur Hidayat sendiri. “Satu perahu donat itu ada enam orang. Karena masih mahasiswa, saat ada kuliah ya tidak bisa ikut, sehingga gantian,” ungkapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Rimbunan bambu tumbuh subur sepanjang tepian sungai. Orang-orang kampung banyak memanfaatkan air sungai untuk mandi dan cuci-cuci. Beberapa perusahaan tempe juga turut mengotori. Karung kedelai itu dimasukan ke dalam timba besar, kemudian dibersihkan di pinggir sungai. Diinjak-injak dan dibasuh dengan air sungai. Begitulah salah satu isi cerita perjalanan di laporan Ekspedisi Sungai Bedadung pada 1991 silam, yang dilakukan Mahasiswa Pecinta Alam (Mahapena) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember (Unej).

Buku laporan dengan kertas buram dan diketik dengan mesin ketik manual tersebut tersimpan di lemari besar di Sekretariat Mahapena. Ketua Umum Mahapena Agil Febrian mengaku, ekspedisi ini membuat cikal bakal semangat mengenal lebih dekat Sungai Bedadung dengan segala potensinya, arung jeram, sekaligus memperhatikan lingkungannya.

Dia menjelaskan, pada 2008 pernah ada kegiatan bersih-bersih Sungai Bedadung, tapi fokusnya hanya di sungai sekitar kampus. Namun, berbeda sekali dengan ekspedisi yang dilakukan tahun 1991 itu, yang finis sampai Puger.

Jawa Pos Radar Jember akhirnya berjumpa dengan pelaku ekspedisi Sungai Bedadung. Salah satunya adalah Nur Hidayat. Pria berkulit sawo matang dan berperawakan tinggi tegap tersebut menuturkan, luapan Bedadung akhir Januari lalu tentu saja mengingatkan dirinya dengan ekspedisi ‘gila’ 30 tahun silam. Bagaimana tidak, perahu yang digunakan hanya terbuat dari dua ban traktor yang dijadikan satu. “Pakai ban dalam traktor dijadikan satu dan ditutupi terpal. Jadi, seperti donat raksasa,” kenangnya.

Di usianya yang kini lebih setengah abad itu, Nur Hidayat sedikit lupa kapan pelaksanaan ekspedisi tersebut. “Oh, bukan tahun 1990, tapi Januari 1991, yaitu 17-18 Januari. Sementara, 1990 itu awal bentuk tim dan melakukan survei, dan lainnya,” terangnya.

Start di Desa Kotok, Kecamatan Kalisat, tim ekspedisi Sungai Bedadung 1991 itu mulai turun. Tim dibagi menjadi dua, tim darat dan tim air. “Tim darat itu ada almarhum Johan Simon, Yudi, Lukas, dan beberapa lagi yang tidak dia ingat. Tugas tim darat back up logistik, serta pengamanan pada jeram berbahaya,” jelasnya.

Sementara itu, tim air tidak selalu tetap, salah satunya ada Sholeh, Happy Waker, Dodik, Budi Karno, Ismangun, Taufik Gufi, dan Nur Hidayat sendiri. “Satu perahu donat itu ada enam orang. Karena masih mahasiswa, saat ada kuliah ya tidak bisa ikut, sehingga gantian,” ungkapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Rimbunan bambu tumbuh subur sepanjang tepian sungai. Orang-orang kampung banyak memanfaatkan air sungai untuk mandi dan cuci-cuci. Beberapa perusahaan tempe juga turut mengotori. Karung kedelai itu dimasukan ke dalam timba besar, kemudian dibersihkan di pinggir sungai. Diinjak-injak dan dibasuh dengan air sungai. Begitulah salah satu isi cerita perjalanan di laporan Ekspedisi Sungai Bedadung pada 1991 silam, yang dilakukan Mahasiswa Pecinta Alam (Mahapena) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember (Unej).

Buku laporan dengan kertas buram dan diketik dengan mesin ketik manual tersebut tersimpan di lemari besar di Sekretariat Mahapena. Ketua Umum Mahapena Agil Febrian mengaku, ekspedisi ini membuat cikal bakal semangat mengenal lebih dekat Sungai Bedadung dengan segala potensinya, arung jeram, sekaligus memperhatikan lingkungannya.

Dia menjelaskan, pada 2008 pernah ada kegiatan bersih-bersih Sungai Bedadung, tapi fokusnya hanya di sungai sekitar kampus. Namun, berbeda sekali dengan ekspedisi yang dilakukan tahun 1991 itu, yang finis sampai Puger.

Jawa Pos Radar Jember akhirnya berjumpa dengan pelaku ekspedisi Sungai Bedadung. Salah satunya adalah Nur Hidayat. Pria berkulit sawo matang dan berperawakan tinggi tegap tersebut menuturkan, luapan Bedadung akhir Januari lalu tentu saja mengingatkan dirinya dengan ekspedisi ‘gila’ 30 tahun silam. Bagaimana tidak, perahu yang digunakan hanya terbuat dari dua ban traktor yang dijadikan satu. “Pakai ban dalam traktor dijadikan satu dan ditutupi terpal. Jadi, seperti donat raksasa,” kenangnya.

Di usianya yang kini lebih setengah abad itu, Nur Hidayat sedikit lupa kapan pelaksanaan ekspedisi tersebut. “Oh, bukan tahun 1990, tapi Januari 1991, yaitu 17-18 Januari. Sementara, 1990 itu awal bentuk tim dan melakukan survei, dan lainnya,” terangnya.

Start di Desa Kotok, Kecamatan Kalisat, tim ekspedisi Sungai Bedadung 1991 itu mulai turun. Tim dibagi menjadi dua, tim darat dan tim air. “Tim darat itu ada almarhum Johan Simon, Yudi, Lukas, dan beberapa lagi yang tidak dia ingat. Tugas tim darat back up logistik, serta pengamanan pada jeram berbahaya,” jelasnya.

Sementara itu, tim air tidak selalu tetap, salah satunya ada Sholeh, Happy Waker, Dodik, Budi Karno, Ismangun, Taufik Gufi, dan Nur Hidayat sendiri. “Satu perahu donat itu ada enam orang. Karena masih mahasiswa, saat ada kuliah ya tidak bisa ikut, sehingga gantian,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/