alexametrics
24.1 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

Seniman Sejak SD, Kerja Ngarit, hingga Berperan Perempuan

Kecintaan Jamhari terhadap kesenian bukan saja di mulut. Namun, jiwa dan tubuhnya juga telah menyatu. Bahkan, pelantun kejung Linkrafin itu sudah bergelut dengan seni sedari kecil. Sejak dirinya duduk di bangku sekolah dasar.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, Jamhari duduk santai di kursi lencak depan rumahnya yang sederhana. Dia menemani sang ibu. Mengobrol hal-hal ringan tentang keseharian. Sesekali, keduanya tertawa karena ada yang lucu. Bahkan, sampai terbahak-bahak.

Jamhari setiap harinya memang suka guyon. Maklum, dirinya seorang seniman. Sehingga, kesan formal jauh dari kehidupan pria yang tinggal di lingkungan Sumber Pakem, Jalan Basuki Rahmat Gang V, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, tersebut.

Jamhari yang mengenakan kaus serta sarung, sebenarnya akan membersihkan peralatan kesenian kuda lumping yang dimilikinya. Maklum, dia sudah selesai mencari rumput atau ngarit untuk ternak sapinya. “Kebetulan sekarang santai,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dalam hidupnya, Jamhari mengaku bahwa kesenian sudah menyatu dengan dirinya. Apalagi, dia bergelut dengan dunia seni sejak kelas 4 SD atau sekitar 46 tahun yang lalu. “Kelas 4 SD itu, saya sudah mulai belajar ngejung, belajar tari, belajar pencak, dan belajar menabuh alat-alat kesenian tradisional,” ucapnya.

Setelah lulus SD pada 1982, dirinya tidak melanjutkan pendidikan karena harus kerja di Jogjakarta. Setahun berlalu, pria dengan nama asli Jamsari tetapi tercatat di KTP Jamhari ini pun pulang ke Jember. Jiwa seninya tak bisa dikibuli. Dia ikut grup kesenian lagi. “Ikut kesenian kuda lumping. Pernah ikut grup Karya Putra, Naga Kuning, dan Naga Biru. Semuanya pencak campur sari. Dulu itu ramai sekali,” kenang Jamhari, yang teringat tokoh-tokoh seniman masa lalu.

Permainan kesenian kuda lumping kala itu kerap dilakukan di atas tanah. Maklum, orang yang mengundang juga jarang menyediakan pentas. Hidup Jamhari pun terus berlangsung dari satu undangan ke undangan yang lain.

Setelah usianya cukup dewasa, Jamhari mulai berani kerja serabutan. Dia belajar ternak kambing, bahkan sapi. Kegiatan beternak itu pun mengharuskan dirinya merumput sendiri. “Setelah ngarit, kadang ada undangan. Ya saya pun ikut main,” ulasnya.

Lantaran grup kesenian tidak semuanya bertahan, dia pun sempat ikut grup Bintang Timur. Dia bahkan sudah mulai menyumbang peralatan seperti gamelan dan gong. Grup ini sempat ramai bahkan di tengah kota Jember. Belakangan, menjadi vakum lagi.

Pada tahun 2000-an, dia dan beberapa seniman mendirikan Asmoro Langen. Kala itu, seseorang bernama Narso menjadi ketua kesenian. Setelah berjalan cukup lama, kaus kebanggaan Asmoro Langen dipakai oleh anggotanya mengamen. Akhirnya, grup menjadi vakum karena sebagian lebih asyik mengamen. “Setelah itu, saya dirikan dengan memperbarui namanya. Yaitu grup Laras Langen Budoyo,” jelasnya.

Sejak pembaruan grup dilakukan, dia pun semakin sibuk. Pagi harus merawat ternak. Sementara, dalam sepekan, kerap diundang oleh orang walimahan atau khitanan. Jamhari yang kala itu bisa dibilang sibuk, tidak otomatis membuat perekonomian grupnya melejit. “Itu karena setiap undangan, saya tidak pernah mematok tarif. Kalau ada yang mengundang, ya silakan sepantasnya saja,” ucapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, Jamhari duduk santai di kursi lencak depan rumahnya yang sederhana. Dia menemani sang ibu. Mengobrol hal-hal ringan tentang keseharian. Sesekali, keduanya tertawa karena ada yang lucu. Bahkan, sampai terbahak-bahak.

Jamhari setiap harinya memang suka guyon. Maklum, dirinya seorang seniman. Sehingga, kesan formal jauh dari kehidupan pria yang tinggal di lingkungan Sumber Pakem, Jalan Basuki Rahmat Gang V, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, tersebut.

Jamhari yang mengenakan kaus serta sarung, sebenarnya akan membersihkan peralatan kesenian kuda lumping yang dimilikinya. Maklum, dia sudah selesai mencari rumput atau ngarit untuk ternak sapinya. “Kebetulan sekarang santai,” katanya.

Dalam hidupnya, Jamhari mengaku bahwa kesenian sudah menyatu dengan dirinya. Apalagi, dia bergelut dengan dunia seni sejak kelas 4 SD atau sekitar 46 tahun yang lalu. “Kelas 4 SD itu, saya sudah mulai belajar ngejung, belajar tari, belajar pencak, dan belajar menabuh alat-alat kesenian tradisional,” ucapnya.

Setelah lulus SD pada 1982, dirinya tidak melanjutkan pendidikan karena harus kerja di Jogjakarta. Setahun berlalu, pria dengan nama asli Jamsari tetapi tercatat di KTP Jamhari ini pun pulang ke Jember. Jiwa seninya tak bisa dikibuli. Dia ikut grup kesenian lagi. “Ikut kesenian kuda lumping. Pernah ikut grup Karya Putra, Naga Kuning, dan Naga Biru. Semuanya pencak campur sari. Dulu itu ramai sekali,” kenang Jamhari, yang teringat tokoh-tokoh seniman masa lalu.

Permainan kesenian kuda lumping kala itu kerap dilakukan di atas tanah. Maklum, orang yang mengundang juga jarang menyediakan pentas. Hidup Jamhari pun terus berlangsung dari satu undangan ke undangan yang lain.

Setelah usianya cukup dewasa, Jamhari mulai berani kerja serabutan. Dia belajar ternak kambing, bahkan sapi. Kegiatan beternak itu pun mengharuskan dirinya merumput sendiri. “Setelah ngarit, kadang ada undangan. Ya saya pun ikut main,” ulasnya.

Lantaran grup kesenian tidak semuanya bertahan, dia pun sempat ikut grup Bintang Timur. Dia bahkan sudah mulai menyumbang peralatan seperti gamelan dan gong. Grup ini sempat ramai bahkan di tengah kota Jember. Belakangan, menjadi vakum lagi.

Pada tahun 2000-an, dia dan beberapa seniman mendirikan Asmoro Langen. Kala itu, seseorang bernama Narso menjadi ketua kesenian. Setelah berjalan cukup lama, kaus kebanggaan Asmoro Langen dipakai oleh anggotanya mengamen. Akhirnya, grup menjadi vakum karena sebagian lebih asyik mengamen. “Setelah itu, saya dirikan dengan memperbarui namanya. Yaitu grup Laras Langen Budoyo,” jelasnya.

Sejak pembaruan grup dilakukan, dia pun semakin sibuk. Pagi harus merawat ternak. Sementara, dalam sepekan, kerap diundang oleh orang walimahan atau khitanan. Jamhari yang kala itu bisa dibilang sibuk, tidak otomatis membuat perekonomian grupnya melejit. “Itu karena setiap undangan, saya tidak pernah mematok tarif. Kalau ada yang mengundang, ya silakan sepantasnya saja,” ucapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, Jamhari duduk santai di kursi lencak depan rumahnya yang sederhana. Dia menemani sang ibu. Mengobrol hal-hal ringan tentang keseharian. Sesekali, keduanya tertawa karena ada yang lucu. Bahkan, sampai terbahak-bahak.

Jamhari setiap harinya memang suka guyon. Maklum, dirinya seorang seniman. Sehingga, kesan formal jauh dari kehidupan pria yang tinggal di lingkungan Sumber Pakem, Jalan Basuki Rahmat Gang V, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, tersebut.

Jamhari yang mengenakan kaus serta sarung, sebenarnya akan membersihkan peralatan kesenian kuda lumping yang dimilikinya. Maklum, dia sudah selesai mencari rumput atau ngarit untuk ternak sapinya. “Kebetulan sekarang santai,” katanya.

Dalam hidupnya, Jamhari mengaku bahwa kesenian sudah menyatu dengan dirinya. Apalagi, dia bergelut dengan dunia seni sejak kelas 4 SD atau sekitar 46 tahun yang lalu. “Kelas 4 SD itu, saya sudah mulai belajar ngejung, belajar tari, belajar pencak, dan belajar menabuh alat-alat kesenian tradisional,” ucapnya.

Setelah lulus SD pada 1982, dirinya tidak melanjutkan pendidikan karena harus kerja di Jogjakarta. Setahun berlalu, pria dengan nama asli Jamsari tetapi tercatat di KTP Jamhari ini pun pulang ke Jember. Jiwa seninya tak bisa dikibuli. Dia ikut grup kesenian lagi. “Ikut kesenian kuda lumping. Pernah ikut grup Karya Putra, Naga Kuning, dan Naga Biru. Semuanya pencak campur sari. Dulu itu ramai sekali,” kenang Jamhari, yang teringat tokoh-tokoh seniman masa lalu.

Permainan kesenian kuda lumping kala itu kerap dilakukan di atas tanah. Maklum, orang yang mengundang juga jarang menyediakan pentas. Hidup Jamhari pun terus berlangsung dari satu undangan ke undangan yang lain.

Setelah usianya cukup dewasa, Jamhari mulai berani kerja serabutan. Dia belajar ternak kambing, bahkan sapi. Kegiatan beternak itu pun mengharuskan dirinya merumput sendiri. “Setelah ngarit, kadang ada undangan. Ya saya pun ikut main,” ulasnya.

Lantaran grup kesenian tidak semuanya bertahan, dia pun sempat ikut grup Bintang Timur. Dia bahkan sudah mulai menyumbang peralatan seperti gamelan dan gong. Grup ini sempat ramai bahkan di tengah kota Jember. Belakangan, menjadi vakum lagi.

Pada tahun 2000-an, dia dan beberapa seniman mendirikan Asmoro Langen. Kala itu, seseorang bernama Narso menjadi ketua kesenian. Setelah berjalan cukup lama, kaus kebanggaan Asmoro Langen dipakai oleh anggotanya mengamen. Akhirnya, grup menjadi vakum karena sebagian lebih asyik mengamen. “Setelah itu, saya dirikan dengan memperbarui namanya. Yaitu grup Laras Langen Budoyo,” jelasnya.

Sejak pembaruan grup dilakukan, dia pun semakin sibuk. Pagi harus merawat ternak. Sementara, dalam sepekan, kerap diundang oleh orang walimahan atau khitanan. Jamhari yang kala itu bisa dibilang sibuk, tidak otomatis membuat perekonomian grupnya melejit. “Itu karena setiap undangan, saya tidak pernah mematok tarif. Kalau ada yang mengundang, ya silakan sepantasnya saja,” ucapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/