alexametrics
24.1 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Siapkan Makan Gratis, Solusi bagi Mahasiswa Perantauan

Pandemi Covid-19 tidak membuat mahasiswa yang bergerak di dunia sosial itu berhenti. Mereka berkumpul membentuk wadah baru untuk memberikan makan gratis. Mereka menamakan diri komunitas Gerakan Sosial Menatap Indonesia.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kemarin pagi (6/6), lalu lalang kendaraan yang melintas di Jembatan Jarwo, Jalan Mastrip, itu masih tampak lengang. Tapi, ada suara anak muda yang nyaring terdengar di pertigaan Jarwo tersebut. “Ayo, makan gratis, makan gratis, silakan,” begitulah ucapan mereka.

Banyak di antara anak muda itu duduk lesehan dengan menikmati hidangan nasi. Walau gembar-gembor gratis, tapi penampilannya seperti rumah makan. Sebab, bukan nasi bungkus yang diberikan, melainkan disiapkan dengan model prasmanan alias mengambil sendiri.

Inilah yang dilakukan sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Komunitas Gerakan Sosial Menatap Indonesia. Satu porsi makanan terdiri atas potongan ayam goreng, sayur terong, mi goreng, sambal matah, dan potongan tempe. Della, salah seorang mahasiswa di Jember, juga turut antre untuk makan gratis. Sedikit ragu-ragu, akhirnya dirinya bersama teman-temannya berhenti, ikut masuk warung makan gratis tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sementara, mahasiswa lainnya, Desi Permatasari mengatakan, adanya warung makan gratis ini dirasa bermanfaat bagi dirinya. Terlebih lagi, bagi mahasiswa perantauan. “Alhamdulillah membantu, karena seperti saya yang perantauan ini bisa mengurangi jatah uang makan. Maaf anak kos,” terang mahasiswi Unej asal Sidoarjo ini.

Pandemi Covid-19, kata Desi, membuat dirinya tidak enak hati untuk selalu meminta uang saku kepada orang tuanya. “Sebenarnya sudah dijatah per bulan sama orang tua. Tapi kasihan orang tua, karena kondisi sekarang ekonomi juga lagi sulit,” paparnya.

Warung makan gratis itu buka dari pukul 06.00-10.00 pagi, dengan menyediakan lebih dari 300 porsi. Warung makan gratis yang bebas untuk siapa saja, tapi banyak juga diminati mahasiswa perantauan. Selain tentunya juga masyarakat umum, khususnya duafa, abang becak, ataupun juga pengemudi ojek daring.

Koordinator Komunitas Gerakan Sosial Menatap Indonesia Muhammad Taufik Hidayatullah mengatakan, adanya warung makan gratis ini diniatkan untuk memberikan makanan secara cuma-cuma bagi seluruh kalangan masyarakat. “Sebenarnya ini inovasi teman-teman, karena dari masyarakat sekitar kami tahu, banyak yang belum mampu makan dan bahkan banyak yang belum makan. Sehingga kami adakan kegiatan ini,” paparnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kemarin pagi (6/6), lalu lalang kendaraan yang melintas di Jembatan Jarwo, Jalan Mastrip, itu masih tampak lengang. Tapi, ada suara anak muda yang nyaring terdengar di pertigaan Jarwo tersebut. “Ayo, makan gratis, makan gratis, silakan,” begitulah ucapan mereka.

Banyak di antara anak muda itu duduk lesehan dengan menikmati hidangan nasi. Walau gembar-gembor gratis, tapi penampilannya seperti rumah makan. Sebab, bukan nasi bungkus yang diberikan, melainkan disiapkan dengan model prasmanan alias mengambil sendiri.

Inilah yang dilakukan sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Komunitas Gerakan Sosial Menatap Indonesia. Satu porsi makanan terdiri atas potongan ayam goreng, sayur terong, mi goreng, sambal matah, dan potongan tempe. Della, salah seorang mahasiswa di Jember, juga turut antre untuk makan gratis. Sedikit ragu-ragu, akhirnya dirinya bersama teman-temannya berhenti, ikut masuk warung makan gratis tersebut.

Sementara, mahasiswa lainnya, Desi Permatasari mengatakan, adanya warung makan gratis ini dirasa bermanfaat bagi dirinya. Terlebih lagi, bagi mahasiswa perantauan. “Alhamdulillah membantu, karena seperti saya yang perantauan ini bisa mengurangi jatah uang makan. Maaf anak kos,” terang mahasiswi Unej asal Sidoarjo ini.

Pandemi Covid-19, kata Desi, membuat dirinya tidak enak hati untuk selalu meminta uang saku kepada orang tuanya. “Sebenarnya sudah dijatah per bulan sama orang tua. Tapi kasihan orang tua, karena kondisi sekarang ekonomi juga lagi sulit,” paparnya.

Warung makan gratis itu buka dari pukul 06.00-10.00 pagi, dengan menyediakan lebih dari 300 porsi. Warung makan gratis yang bebas untuk siapa saja, tapi banyak juga diminati mahasiswa perantauan. Selain tentunya juga masyarakat umum, khususnya duafa, abang becak, ataupun juga pengemudi ojek daring.

Koordinator Komunitas Gerakan Sosial Menatap Indonesia Muhammad Taufik Hidayatullah mengatakan, adanya warung makan gratis ini diniatkan untuk memberikan makanan secara cuma-cuma bagi seluruh kalangan masyarakat. “Sebenarnya ini inovasi teman-teman, karena dari masyarakat sekitar kami tahu, banyak yang belum mampu makan dan bahkan banyak yang belum makan. Sehingga kami adakan kegiatan ini,” paparnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kemarin pagi (6/6), lalu lalang kendaraan yang melintas di Jembatan Jarwo, Jalan Mastrip, itu masih tampak lengang. Tapi, ada suara anak muda yang nyaring terdengar di pertigaan Jarwo tersebut. “Ayo, makan gratis, makan gratis, silakan,” begitulah ucapan mereka.

Banyak di antara anak muda itu duduk lesehan dengan menikmati hidangan nasi. Walau gembar-gembor gratis, tapi penampilannya seperti rumah makan. Sebab, bukan nasi bungkus yang diberikan, melainkan disiapkan dengan model prasmanan alias mengambil sendiri.

Inilah yang dilakukan sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Komunitas Gerakan Sosial Menatap Indonesia. Satu porsi makanan terdiri atas potongan ayam goreng, sayur terong, mi goreng, sambal matah, dan potongan tempe. Della, salah seorang mahasiswa di Jember, juga turut antre untuk makan gratis. Sedikit ragu-ragu, akhirnya dirinya bersama teman-temannya berhenti, ikut masuk warung makan gratis tersebut.

Sementara, mahasiswa lainnya, Desi Permatasari mengatakan, adanya warung makan gratis ini dirasa bermanfaat bagi dirinya. Terlebih lagi, bagi mahasiswa perantauan. “Alhamdulillah membantu, karena seperti saya yang perantauan ini bisa mengurangi jatah uang makan. Maaf anak kos,” terang mahasiswi Unej asal Sidoarjo ini.

Pandemi Covid-19, kata Desi, membuat dirinya tidak enak hati untuk selalu meminta uang saku kepada orang tuanya. “Sebenarnya sudah dijatah per bulan sama orang tua. Tapi kasihan orang tua, karena kondisi sekarang ekonomi juga lagi sulit,” paparnya.

Warung makan gratis itu buka dari pukul 06.00-10.00 pagi, dengan menyediakan lebih dari 300 porsi. Warung makan gratis yang bebas untuk siapa saja, tapi banyak juga diminati mahasiswa perantauan. Selain tentunya juga masyarakat umum, khususnya duafa, abang becak, ataupun juga pengemudi ojek daring.

Koordinator Komunitas Gerakan Sosial Menatap Indonesia Muhammad Taufik Hidayatullah mengatakan, adanya warung makan gratis ini diniatkan untuk memberikan makanan secara cuma-cuma bagi seluruh kalangan masyarakat. “Sebenarnya ini inovasi teman-teman, karena dari masyarakat sekitar kami tahu, banyak yang belum mampu makan dan bahkan banyak yang belum makan. Sehingga kami adakan kegiatan ini,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/