alexametrics
25.2 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Sehari Satu Tersangka

Dibanding dengan data 2020 kemarin, tren peningkatan berbagai kasus penyalahgunaan dan peredaran narkoba mencapai hampir 40-50 persen. Masifnya peredaran narkoba di Kota Tembakau ini layak menjadi atensi semua pihak dan kalangan. Tidak hanya kepolisian, namun juga pemerintah terkait.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dibanding dengan data 2020 kemarin, tren peningkatan berbagai kasus penyalahgunaan dan peredaran narkoba mencapai hampir 40-50 persen. Masifnya peredaran narkoba di Kota Tembakau ini layak menjadi atensi semua pihak dan kalangan. Tidak hanya kepolisian, namun juga pemerintah terkait.

Satuan Reserse Narkoba (Satreskoba) Polres Jember mencatat, selama Mei 2021 saja, jumlah kasus narkoba cukup mencengangkan. Mencapai 27 kasus dengan total 32 tersangka. Itu artinya, dalam sehari rata-rata polisi menangkap satu tersangka. “Rata-rata dari pelaku narkoba dan okerbaya yang kita tangkap ini adalah pengedar,” ungkap Ipda Edi Santoso, Kepala Bagian Operasional (KBO) Satreskoba Polres Jember.

Kasus yang terungkap itu tak hanya yang ditangani oleh satreskoba yang berada di tingkatan polres. Namun, juga oleh polsek jajaran. Selama sebulan kemarin, dari 27 kasus dan 32 tersangka, empat kasus dan lima tersangka di antaranya merupakan hasil buruan polsek jajaran. Ini artinya, di wilayah perdesaan, peredaran narkoba juga sudah ditemukan. Bahkan, bukan hal baru lagi dan jamak diketahui masyarakat.

Mobile_AP_Rectangle 2

Edi menjelaskan, beberapa tersangka yang terlibat di dalamnya memang didominasi pengedar. Mereka awalnya berstatus sebagai pengguna aktif, lalu kecanduan, hingga tergiur menjadi pengedar. Edi juga menyebut, alasan pelaku doyan berbisnis pil koplo dan barang haram itu lantaran ada keuntungan. Tak heran, mereka banting setir dari pengguna ke pengedar. “Pelaku rata-rata pemain baru. Pemain lama ada, tapi sedikit. Yang pemain baru ini, karena sudah pemakai, akhirnya jadi pengedar,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Para pelaku itu ditangkap dengan berbagai modus dan aksi yang bermacam-macam pula. Ada yang melancarkan aksinya melaui ekspedisi atau paketan, dan jual beli daring. Bahkan, ada pula yang bertransaksi secara terang-terangan dari tangan ke tangan.

Begitu masifnya peredaran pil koplo dan obat keras berbahaya ini memunculkan opini publik: mengapa pelaku tampak sedemikian leluasa bertransaksi terang-terangan di tempat umum? Apakah ada bekingan aparat? Mengenai dugaan bekingan ini, Edi menampiknya.

Menurut dia, selama ini, perkembangan kasus narkoba memang diakuinya tinggi. Namun, hal itu sejalan dengan temuan-temuan yang terus diungkap kepolisian. Bahkan, ia menyebut, saat ada temuan, polisi menyelidiki lebih dalam atau lebih jauh hingga ke pengedarnya. Kalau perlu ke bandar-bandarnya.

“Opini seperti itu tidak benar. Selama ini yang kami tangkap tidak ada pelaku yang membekingi. Malah saat kami tangkap dan diproses, kami lakukan pendalaman dengan mencari kemungkinan adanya pengedar atau bandarnya,” ucapnya.

Pihaknya pun mengimbau agar masyarakat lebih waspada dan hati-hati dalam peredaran kasus narkoba dan okerbaya ini. Sebab, selama ini, beberapa kasus yang ditangani kepolisian, pelakunya justru didominasi dari kalangan kelompok usia dewasa dan produktif. Rentang usianya antara 26-35 tahun.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dibanding dengan data 2020 kemarin, tren peningkatan berbagai kasus penyalahgunaan dan peredaran narkoba mencapai hampir 40-50 persen. Masifnya peredaran narkoba di Kota Tembakau ini layak menjadi atensi semua pihak dan kalangan. Tidak hanya kepolisian, namun juga pemerintah terkait.

Satuan Reserse Narkoba (Satreskoba) Polres Jember mencatat, selama Mei 2021 saja, jumlah kasus narkoba cukup mencengangkan. Mencapai 27 kasus dengan total 32 tersangka. Itu artinya, dalam sehari rata-rata polisi menangkap satu tersangka. “Rata-rata dari pelaku narkoba dan okerbaya yang kita tangkap ini adalah pengedar,” ungkap Ipda Edi Santoso, Kepala Bagian Operasional (KBO) Satreskoba Polres Jember.

Kasus yang terungkap itu tak hanya yang ditangani oleh satreskoba yang berada di tingkatan polres. Namun, juga oleh polsek jajaran. Selama sebulan kemarin, dari 27 kasus dan 32 tersangka, empat kasus dan lima tersangka di antaranya merupakan hasil buruan polsek jajaran. Ini artinya, di wilayah perdesaan, peredaran narkoba juga sudah ditemukan. Bahkan, bukan hal baru lagi dan jamak diketahui masyarakat.

Edi menjelaskan, beberapa tersangka yang terlibat di dalamnya memang didominasi pengedar. Mereka awalnya berstatus sebagai pengguna aktif, lalu kecanduan, hingga tergiur menjadi pengedar. Edi juga menyebut, alasan pelaku doyan berbisnis pil koplo dan barang haram itu lantaran ada keuntungan. Tak heran, mereka banting setir dari pengguna ke pengedar. “Pelaku rata-rata pemain baru. Pemain lama ada, tapi sedikit. Yang pemain baru ini, karena sudah pemakai, akhirnya jadi pengedar,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Para pelaku itu ditangkap dengan berbagai modus dan aksi yang bermacam-macam pula. Ada yang melancarkan aksinya melaui ekspedisi atau paketan, dan jual beli daring. Bahkan, ada pula yang bertransaksi secara terang-terangan dari tangan ke tangan.

Begitu masifnya peredaran pil koplo dan obat keras berbahaya ini memunculkan opini publik: mengapa pelaku tampak sedemikian leluasa bertransaksi terang-terangan di tempat umum? Apakah ada bekingan aparat? Mengenai dugaan bekingan ini, Edi menampiknya.

Menurut dia, selama ini, perkembangan kasus narkoba memang diakuinya tinggi. Namun, hal itu sejalan dengan temuan-temuan yang terus diungkap kepolisian. Bahkan, ia menyebut, saat ada temuan, polisi menyelidiki lebih dalam atau lebih jauh hingga ke pengedarnya. Kalau perlu ke bandar-bandarnya.

“Opini seperti itu tidak benar. Selama ini yang kami tangkap tidak ada pelaku yang membekingi. Malah saat kami tangkap dan diproses, kami lakukan pendalaman dengan mencari kemungkinan adanya pengedar atau bandarnya,” ucapnya.

Pihaknya pun mengimbau agar masyarakat lebih waspada dan hati-hati dalam peredaran kasus narkoba dan okerbaya ini. Sebab, selama ini, beberapa kasus yang ditangani kepolisian, pelakunya justru didominasi dari kalangan kelompok usia dewasa dan produktif. Rentang usianya antara 26-35 tahun.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dibanding dengan data 2020 kemarin, tren peningkatan berbagai kasus penyalahgunaan dan peredaran narkoba mencapai hampir 40-50 persen. Masifnya peredaran narkoba di Kota Tembakau ini layak menjadi atensi semua pihak dan kalangan. Tidak hanya kepolisian, namun juga pemerintah terkait.

Satuan Reserse Narkoba (Satreskoba) Polres Jember mencatat, selama Mei 2021 saja, jumlah kasus narkoba cukup mencengangkan. Mencapai 27 kasus dengan total 32 tersangka. Itu artinya, dalam sehari rata-rata polisi menangkap satu tersangka. “Rata-rata dari pelaku narkoba dan okerbaya yang kita tangkap ini adalah pengedar,” ungkap Ipda Edi Santoso, Kepala Bagian Operasional (KBO) Satreskoba Polres Jember.

Kasus yang terungkap itu tak hanya yang ditangani oleh satreskoba yang berada di tingkatan polres. Namun, juga oleh polsek jajaran. Selama sebulan kemarin, dari 27 kasus dan 32 tersangka, empat kasus dan lima tersangka di antaranya merupakan hasil buruan polsek jajaran. Ini artinya, di wilayah perdesaan, peredaran narkoba juga sudah ditemukan. Bahkan, bukan hal baru lagi dan jamak diketahui masyarakat.

Edi menjelaskan, beberapa tersangka yang terlibat di dalamnya memang didominasi pengedar. Mereka awalnya berstatus sebagai pengguna aktif, lalu kecanduan, hingga tergiur menjadi pengedar. Edi juga menyebut, alasan pelaku doyan berbisnis pil koplo dan barang haram itu lantaran ada keuntungan. Tak heran, mereka banting setir dari pengguna ke pengedar. “Pelaku rata-rata pemain baru. Pemain lama ada, tapi sedikit. Yang pemain baru ini, karena sudah pemakai, akhirnya jadi pengedar,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Para pelaku itu ditangkap dengan berbagai modus dan aksi yang bermacam-macam pula. Ada yang melancarkan aksinya melaui ekspedisi atau paketan, dan jual beli daring. Bahkan, ada pula yang bertransaksi secara terang-terangan dari tangan ke tangan.

Begitu masifnya peredaran pil koplo dan obat keras berbahaya ini memunculkan opini publik: mengapa pelaku tampak sedemikian leluasa bertransaksi terang-terangan di tempat umum? Apakah ada bekingan aparat? Mengenai dugaan bekingan ini, Edi menampiknya.

Menurut dia, selama ini, perkembangan kasus narkoba memang diakuinya tinggi. Namun, hal itu sejalan dengan temuan-temuan yang terus diungkap kepolisian. Bahkan, ia menyebut, saat ada temuan, polisi menyelidiki lebih dalam atau lebih jauh hingga ke pengedarnya. Kalau perlu ke bandar-bandarnya.

“Opini seperti itu tidak benar. Selama ini yang kami tangkap tidak ada pelaku yang membekingi. Malah saat kami tangkap dan diproses, kami lakukan pendalaman dengan mencari kemungkinan adanya pengedar atau bandarnya,” ucapnya.

Pihaknya pun mengimbau agar masyarakat lebih waspada dan hati-hati dalam peredaran kasus narkoba dan okerbaya ini. Sebab, selama ini, beberapa kasus yang ditangani kepolisian, pelakunya justru didominasi dari kalangan kelompok usia dewasa dan produktif. Rentang usianya antara 26-35 tahun.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/