alexametrics
28.2 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Problemnya Sangat Kompleks

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bukan rahasia lagi bahwa peredaraan narkoba saat ini tidak hanya menyasar kalangan yang tinggal di perkotaan. Namun, juga warga di perdesaan. Apa sebenarnya faktor yang melatarbelakangi masifnya peredaran barang haram tersebut? Pemerhati kriminologi Hery Prasetyo menjelaskan, banyak faktor yang memengaruhi. Terlebih saat ini, melihat tren kejahatan, sudah tidak ada lagi batasan antara desa dan kota. Baik varian maupun jumlahnya.

Khusus masalah narkoba, kata dia, problemnya sangat kompleks. Mulai dari produksi hingga rantai distribusi. Bahkan, jenisnya juga beragam. Ada narkoba sintetis dan semisintetis. Inilah yang menurutnya banyak menarik perhatian orang. Di sisi lain, faktor keuntungan besar dan penciptaan lapangan pekerjaan. Dua hal ini yang mendorong orang untuk terlibat dan menjadikannya sebagai mata pencaharian. Dan untuk mendapat keuntungan itu, perlu diciptakan pasar. Tak dibatasi apakah itu desa atau kota.

Laju pembangunan yang massif dan diikuti dengan akumulasi modal, kata Hery, selalu disertai dengan cacat bawaan. Ketimpangan, penyimpangan, dan terciptanya kesempatan untuk praktik-praktik kejahatan. Apalagi, dia menambahkan, desa di Jember hari ini sudah tidak bisa lagi dilihat sebagai perdesaan beberapa tahun silam, yang menjadikan pertanian sebagai pekerjaan utama.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Maksud saya, meski secara data mata pencarian warga desa diwarnai pertanian, tetapi di dalamnya selalu ada pekerjaan-pekerjaan yang memungkinkan untuk mobilitas sosial,” ujar dosen Fakultas Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember (Unej) tersebut.

Menurut dia, adanya kebutuhan untuk mendapatkan kesejahteraan seiring adanya pembangunan, berkontribusi pada perubahan karakter, dan model perilaku sosial yang ada. Contohnya, masuknya anak dan remaja desa yang terjebak pada jaringan narkoba sintetis dan semisintetis. “Karena ada uang yang berputar di sana,” paparnya. Kendati begitu, Hery menggarisbawahi, tidak semua desa bisa digeneralisasi dengan situasi seperti ini.

Faktor penyebab lainnya, kata Hery, adalah kepala keluarga yang bekerja merantau keluar desa. Kondisi ini menyebabkan pengawasan pada anak semakin longgar. Biasanya adalah keluarga muda di perdesaan yang tidak memiliki pekerjaan di sektor pertanian. Mereka harus berkerja ke kota dengan mengadu nasib pada sektor informal. Ditambah lagi konstruksi media sosial yang berefek pada penyeragaman “gaya hidup”.

Mereka yang berjarak dan jauh dari pengawasan keluarga ini menciptakan ruang privatnya sendiri. Dan menghabiskan waktu bersama teman sebaya. Ketika itu terjadi, maka kehendak anak dan remaja menjadi pusat perhatian, atau menjadi bagian dari kelompok sosial mendorong hasrat mereka untuk melawan kemapanan yang berujung pada pelanggaran aturan hukum. “Mereka mengonsumsi untuk menjadi bagian dari kelompok. Dan membuktikan bahwa mereka memiliki dunia yang sama dengan sebayanya,” imbuhnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bukan rahasia lagi bahwa peredaraan narkoba saat ini tidak hanya menyasar kalangan yang tinggal di perkotaan. Namun, juga warga di perdesaan. Apa sebenarnya faktor yang melatarbelakangi masifnya peredaran barang haram tersebut? Pemerhati kriminologi Hery Prasetyo menjelaskan, banyak faktor yang memengaruhi. Terlebih saat ini, melihat tren kejahatan, sudah tidak ada lagi batasan antara desa dan kota. Baik varian maupun jumlahnya.

Khusus masalah narkoba, kata dia, problemnya sangat kompleks. Mulai dari produksi hingga rantai distribusi. Bahkan, jenisnya juga beragam. Ada narkoba sintetis dan semisintetis. Inilah yang menurutnya banyak menarik perhatian orang. Di sisi lain, faktor keuntungan besar dan penciptaan lapangan pekerjaan. Dua hal ini yang mendorong orang untuk terlibat dan menjadikannya sebagai mata pencaharian. Dan untuk mendapat keuntungan itu, perlu diciptakan pasar. Tak dibatasi apakah itu desa atau kota.

Laju pembangunan yang massif dan diikuti dengan akumulasi modal, kata Hery, selalu disertai dengan cacat bawaan. Ketimpangan, penyimpangan, dan terciptanya kesempatan untuk praktik-praktik kejahatan. Apalagi, dia menambahkan, desa di Jember hari ini sudah tidak bisa lagi dilihat sebagai perdesaan beberapa tahun silam, yang menjadikan pertanian sebagai pekerjaan utama.

“Maksud saya, meski secara data mata pencarian warga desa diwarnai pertanian, tetapi di dalamnya selalu ada pekerjaan-pekerjaan yang memungkinkan untuk mobilitas sosial,” ujar dosen Fakultas Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember (Unej) tersebut.

Menurut dia, adanya kebutuhan untuk mendapatkan kesejahteraan seiring adanya pembangunan, berkontribusi pada perubahan karakter, dan model perilaku sosial yang ada. Contohnya, masuknya anak dan remaja desa yang terjebak pada jaringan narkoba sintetis dan semisintetis. “Karena ada uang yang berputar di sana,” paparnya. Kendati begitu, Hery menggarisbawahi, tidak semua desa bisa digeneralisasi dengan situasi seperti ini.

Faktor penyebab lainnya, kata Hery, adalah kepala keluarga yang bekerja merantau keluar desa. Kondisi ini menyebabkan pengawasan pada anak semakin longgar. Biasanya adalah keluarga muda di perdesaan yang tidak memiliki pekerjaan di sektor pertanian. Mereka harus berkerja ke kota dengan mengadu nasib pada sektor informal. Ditambah lagi konstruksi media sosial yang berefek pada penyeragaman “gaya hidup”.

Mereka yang berjarak dan jauh dari pengawasan keluarga ini menciptakan ruang privatnya sendiri. Dan menghabiskan waktu bersama teman sebaya. Ketika itu terjadi, maka kehendak anak dan remaja menjadi pusat perhatian, atau menjadi bagian dari kelompok sosial mendorong hasrat mereka untuk melawan kemapanan yang berujung pada pelanggaran aturan hukum. “Mereka mengonsumsi untuk menjadi bagian dari kelompok. Dan membuktikan bahwa mereka memiliki dunia yang sama dengan sebayanya,” imbuhnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bukan rahasia lagi bahwa peredaraan narkoba saat ini tidak hanya menyasar kalangan yang tinggal di perkotaan. Namun, juga warga di perdesaan. Apa sebenarnya faktor yang melatarbelakangi masifnya peredaran barang haram tersebut? Pemerhati kriminologi Hery Prasetyo menjelaskan, banyak faktor yang memengaruhi. Terlebih saat ini, melihat tren kejahatan, sudah tidak ada lagi batasan antara desa dan kota. Baik varian maupun jumlahnya.

Khusus masalah narkoba, kata dia, problemnya sangat kompleks. Mulai dari produksi hingga rantai distribusi. Bahkan, jenisnya juga beragam. Ada narkoba sintetis dan semisintetis. Inilah yang menurutnya banyak menarik perhatian orang. Di sisi lain, faktor keuntungan besar dan penciptaan lapangan pekerjaan. Dua hal ini yang mendorong orang untuk terlibat dan menjadikannya sebagai mata pencaharian. Dan untuk mendapat keuntungan itu, perlu diciptakan pasar. Tak dibatasi apakah itu desa atau kota.

Laju pembangunan yang massif dan diikuti dengan akumulasi modal, kata Hery, selalu disertai dengan cacat bawaan. Ketimpangan, penyimpangan, dan terciptanya kesempatan untuk praktik-praktik kejahatan. Apalagi, dia menambahkan, desa di Jember hari ini sudah tidak bisa lagi dilihat sebagai perdesaan beberapa tahun silam, yang menjadikan pertanian sebagai pekerjaan utama.

“Maksud saya, meski secara data mata pencarian warga desa diwarnai pertanian, tetapi di dalamnya selalu ada pekerjaan-pekerjaan yang memungkinkan untuk mobilitas sosial,” ujar dosen Fakultas Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember (Unej) tersebut.

Menurut dia, adanya kebutuhan untuk mendapatkan kesejahteraan seiring adanya pembangunan, berkontribusi pada perubahan karakter, dan model perilaku sosial yang ada. Contohnya, masuknya anak dan remaja desa yang terjebak pada jaringan narkoba sintetis dan semisintetis. “Karena ada uang yang berputar di sana,” paparnya. Kendati begitu, Hery menggarisbawahi, tidak semua desa bisa digeneralisasi dengan situasi seperti ini.

Faktor penyebab lainnya, kata Hery, adalah kepala keluarga yang bekerja merantau keluar desa. Kondisi ini menyebabkan pengawasan pada anak semakin longgar. Biasanya adalah keluarga muda di perdesaan yang tidak memiliki pekerjaan di sektor pertanian. Mereka harus berkerja ke kota dengan mengadu nasib pada sektor informal. Ditambah lagi konstruksi media sosial yang berefek pada penyeragaman “gaya hidup”.

Mereka yang berjarak dan jauh dari pengawasan keluarga ini menciptakan ruang privatnya sendiri. Dan menghabiskan waktu bersama teman sebaya. Ketika itu terjadi, maka kehendak anak dan remaja menjadi pusat perhatian, atau menjadi bagian dari kelompok sosial mendorong hasrat mereka untuk melawan kemapanan yang berujung pada pelanggaran aturan hukum. “Mereka mengonsumsi untuk menjadi bagian dari kelompok. Dan membuktikan bahwa mereka memiliki dunia yang sama dengan sebayanya,” imbuhnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/