alexametrics
23.4 C
Jember
Monday, 27 June 2022

Kaget Saat Tahu Napza Telah Masuk dan Digunakan Anak Desa

Narkoba bahaya laten, kata-kata itu kerap kali tertulis dan terlontar. Itu tidak sekadar kata-kata, tapi kenyataan. Sebab, bahaya napza (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif) tidak hanya di kota, juga di perdesaan. Inilah yang membuat relawan Habilis Rehabilitation Centre (HRC) tergerak untuk terus lakukan penyadaran ke masyarakat.

Mobile_AP_Rectangle 1

Menurutnya, HRC merupakan lembaga rehabilitasi sosial yang bertujuan untuk mengembalikan fungsi sosial para korban penyalahgunaan napza dan adiktif gawai dengan sinergi berbagai pihak. “Cita-cita besar dan mimpi kami adalah Jember bebas napza,” tuturnya,

Untuk sekarang ini, HRC masih fokus pada sosialisasi ke masyarakat, terutama di perdesaan. Sebab, untuk melakukan pendampingan rehabilitasi pemakai napza belum bisa dilakukan karena masih menunggu pengesahan Balai Rehabilitasi Satria dari Batu Raden, Jawa Tengah. “Aktivitas sekarang promotif dan edukatif,” jelasnya.

Tanpa disadari, napza ini sudah mengkhawatirkan. Karena merangsek ke perdesaan. “Berdasarkan kajian, risiko tinggi terkena napza justru di usia pelajar, yaitu SMP dan SMA. Bahkan banyak ke pelosok desa,” paparnya. Mengapa anak di kota tidak begitu banyak terkena napza. Menurut Arif, karena di kota telah banyak edukasi dan sosialisasi bahaya narkoba dan zat adiktif lainnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Mengapa anak desa cenderung punya risiko tinggi terhadap napza? Selain pengawasan orang tua dan edukasi napza yang kurang, menurutnya, ada juga karena pengaruh gawai. “Salah satu anak mengenal napza itu dari gadget juga. Makanya perlu membentengi tentang edukasi penggunaan gadget dan informasi tentang napza,” tuturnya.

HRC sendiri juga ada dalam naungan besar Yayasan Habilis Indonesia. Karena itu, tidak hanya berbicara rehabilitasi. Namun, juga ada lembaga bantuan hukum, pemberdayaan ekonomi masyarakat, desa binaan, lembaga riset, hingga pelatihan untuk anak-anak.

Sejauh ini, kata dia, banyak dari pemakai narkoba yang dijadikan sebagai pelaku dan tidak mendapatkan rehabilitasi secara mental yang baik, sehingga memungkinkan untuk kembali menggunakan narkotika dan obat-obatan terlarang. Tantangan sekarang, juga terkait kehadiran konselor adiktif di Jember. “Susah mencari konselor adiktif di Jember. Selama ini konselor adiktif itu dari Surabaya,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Dwi Siswanto
Fotografer : Istimewa
Redaktur : Mahrus Sholih

- Advertisement -

Menurutnya, HRC merupakan lembaga rehabilitasi sosial yang bertujuan untuk mengembalikan fungsi sosial para korban penyalahgunaan napza dan adiktif gawai dengan sinergi berbagai pihak. “Cita-cita besar dan mimpi kami adalah Jember bebas napza,” tuturnya,

Untuk sekarang ini, HRC masih fokus pada sosialisasi ke masyarakat, terutama di perdesaan. Sebab, untuk melakukan pendampingan rehabilitasi pemakai napza belum bisa dilakukan karena masih menunggu pengesahan Balai Rehabilitasi Satria dari Batu Raden, Jawa Tengah. “Aktivitas sekarang promotif dan edukatif,” jelasnya.

Tanpa disadari, napza ini sudah mengkhawatirkan. Karena merangsek ke perdesaan. “Berdasarkan kajian, risiko tinggi terkena napza justru di usia pelajar, yaitu SMP dan SMA. Bahkan banyak ke pelosok desa,” paparnya. Mengapa anak di kota tidak begitu banyak terkena napza. Menurut Arif, karena di kota telah banyak edukasi dan sosialisasi bahaya narkoba dan zat adiktif lainnya.

Mengapa anak desa cenderung punya risiko tinggi terhadap napza? Selain pengawasan orang tua dan edukasi napza yang kurang, menurutnya, ada juga karena pengaruh gawai. “Salah satu anak mengenal napza itu dari gadget juga. Makanya perlu membentengi tentang edukasi penggunaan gadget dan informasi tentang napza,” tuturnya.

HRC sendiri juga ada dalam naungan besar Yayasan Habilis Indonesia. Karena itu, tidak hanya berbicara rehabilitasi. Namun, juga ada lembaga bantuan hukum, pemberdayaan ekonomi masyarakat, desa binaan, lembaga riset, hingga pelatihan untuk anak-anak.

Sejauh ini, kata dia, banyak dari pemakai narkoba yang dijadikan sebagai pelaku dan tidak mendapatkan rehabilitasi secara mental yang baik, sehingga memungkinkan untuk kembali menggunakan narkotika dan obat-obatan terlarang. Tantangan sekarang, juga terkait kehadiran konselor adiktif di Jember. “Susah mencari konselor adiktif di Jember. Selama ini konselor adiktif itu dari Surabaya,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Dwi Siswanto
Fotografer : Istimewa
Redaktur : Mahrus Sholih

Menurutnya, HRC merupakan lembaga rehabilitasi sosial yang bertujuan untuk mengembalikan fungsi sosial para korban penyalahgunaan napza dan adiktif gawai dengan sinergi berbagai pihak. “Cita-cita besar dan mimpi kami adalah Jember bebas napza,” tuturnya,

Untuk sekarang ini, HRC masih fokus pada sosialisasi ke masyarakat, terutama di perdesaan. Sebab, untuk melakukan pendampingan rehabilitasi pemakai napza belum bisa dilakukan karena masih menunggu pengesahan Balai Rehabilitasi Satria dari Batu Raden, Jawa Tengah. “Aktivitas sekarang promotif dan edukatif,” jelasnya.

Tanpa disadari, napza ini sudah mengkhawatirkan. Karena merangsek ke perdesaan. “Berdasarkan kajian, risiko tinggi terkena napza justru di usia pelajar, yaitu SMP dan SMA. Bahkan banyak ke pelosok desa,” paparnya. Mengapa anak di kota tidak begitu banyak terkena napza. Menurut Arif, karena di kota telah banyak edukasi dan sosialisasi bahaya narkoba dan zat adiktif lainnya.

Mengapa anak desa cenderung punya risiko tinggi terhadap napza? Selain pengawasan orang tua dan edukasi napza yang kurang, menurutnya, ada juga karena pengaruh gawai. “Salah satu anak mengenal napza itu dari gadget juga. Makanya perlu membentengi tentang edukasi penggunaan gadget dan informasi tentang napza,” tuturnya.

HRC sendiri juga ada dalam naungan besar Yayasan Habilis Indonesia. Karena itu, tidak hanya berbicara rehabilitasi. Namun, juga ada lembaga bantuan hukum, pemberdayaan ekonomi masyarakat, desa binaan, lembaga riset, hingga pelatihan untuk anak-anak.

Sejauh ini, kata dia, banyak dari pemakai narkoba yang dijadikan sebagai pelaku dan tidak mendapatkan rehabilitasi secara mental yang baik, sehingga memungkinkan untuk kembali menggunakan narkotika dan obat-obatan terlarang. Tantangan sekarang, juga terkait kehadiran konselor adiktif di Jember. “Susah mencari konselor adiktif di Jember. Selama ini konselor adiktif itu dari Surabaya,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Dwi Siswanto
Fotografer : Istimewa
Redaktur : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/