alexametrics
23.3 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Kaget Saat Tahu Napza Telah Masuk dan Digunakan Anak Desa

Narkoba bahaya laten, kata-kata itu kerap kali tertulis dan terlontar. Itu tidak sekadar kata-kata, tapi kenyataan. Sebab, bahaya napza (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif) tidak hanya di kota, juga di perdesaan. Inilah yang membuat relawan Habilis Rehabilitation Centre (HRC) tergerak untuk terus lakukan penyadaran ke masyarakat.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jember menjadi pusat di daerah Tapal Kuda. Pusat ekonomi, juga termasuk pusat pendidikan. Sayangnya, kasus penyalahgunaan narkoba di Jember juga cukup tinggi di daerah Tapal Kuda. Karenanya, untuk mengatasi bahaya laten narkoba dan zat adiktif berbahaya lainnya, tidak sekadar menangkap dan memasukan pelakunya ke penjara. Namun, juga perlu rehabilitasi, hingga upaya pencegahan dengan terus mengedukasi masyarakat.

Humas Habilis Rehabilitation Centre (HRC) Intan Safira mengatakan, terjun menjadi relawan di bidang napza tidak lain karena sinkron dengan jurusan kuliahnya, yaitu Kesejahteraan Sosial (KS) di FISIP Unej. Intan juga berinisiatif mengajak teman-temanya di kampus.

Semangat Intan terjun di relawan HRC dan mengajak teman-temannya tidak lain ingin lingkungannya terhindar dari bahaya napza. “Apalagi jaringan napza ini juga terselubung. Apakah di kampus itu ada pemakainya atau tidak juga tidak tahu juga,” paparnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Visi dan misi Intan dan teman-temannya sama, untuk menghindari napza serta bersama ada tindakan preventif untuk mengurangi kasus narkoba. Maka dari itu, dirinya beserta relawan HRC mulai terjun untuk sosialisasi dari desa ke desa.

Pertama kali menjadi relawan HRC, Intan Safira mengaku, ada hal yang membuat dirinya tak terpikirkan selama ini. “Saya sempat kaget awal kali ikut. Ternyata narkoba dan sejenisnya itu juga banyak diperjualbelikan di desa. Saya pikir di perkotaan saja,” paparnya.

Dari wawasan yang didapat tersebut, Intan beserta teman-temannya semakin yakin untuk memberikan penjelasan bahaya narkoba di warga perdesaan. “Jadi, narkoba itu benar-benar bahaya laten. Karena sampai ke desa,” paparnya.

Dia mengaku, saat sosialisasi ke masyarakat desa banyak yang tidak paham membedakan napza itu apa. Mereka, kata dia, masih tidak paham pil koplo atau sejenisnya. Masih mengira itu obat-obatan biasa. “Jadi, orang desa masih tidak paham, pil untuk obat atau pil napza,” jelasnya.

Intan mengaku, saat sosialisasi rata-rata masyarakat desa itu menanyakan ciri-ciri bila terkena narkoba. Salah satunya, tidak bisa tidur dan kecanduan terus, terus terbayang. Sehingga, dia berharap orang tua juga perlu paham dalam mengawasi anaknya. Hal yang sederhana adalah, bila di kamar atau tas anaknya banyak ditemukan hal ganjal, yaitu ditemukan banyak obat batuk, maka perlu diwaspadai.

Direktur HRC M Arif Ibra menambahkan, Kabupaten Jember kini memiliki rumah rehabilitasi korban penyalahgunaan narkotika dan obat-obat terlarang. “Kehadiran HRC menjadi jawaban keresahan masyarakat atas semakin maraknya kasus penyalahgunaan narkoba dan adiktif gawai di Jember,” katanya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jember menjadi pusat di daerah Tapal Kuda. Pusat ekonomi, juga termasuk pusat pendidikan. Sayangnya, kasus penyalahgunaan narkoba di Jember juga cukup tinggi di daerah Tapal Kuda. Karenanya, untuk mengatasi bahaya laten narkoba dan zat adiktif berbahaya lainnya, tidak sekadar menangkap dan memasukan pelakunya ke penjara. Namun, juga perlu rehabilitasi, hingga upaya pencegahan dengan terus mengedukasi masyarakat.

Humas Habilis Rehabilitation Centre (HRC) Intan Safira mengatakan, terjun menjadi relawan di bidang napza tidak lain karena sinkron dengan jurusan kuliahnya, yaitu Kesejahteraan Sosial (KS) di FISIP Unej. Intan juga berinisiatif mengajak teman-temanya di kampus.

Semangat Intan terjun di relawan HRC dan mengajak teman-temannya tidak lain ingin lingkungannya terhindar dari bahaya napza. “Apalagi jaringan napza ini juga terselubung. Apakah di kampus itu ada pemakainya atau tidak juga tidak tahu juga,” paparnya.

Visi dan misi Intan dan teman-temannya sama, untuk menghindari napza serta bersama ada tindakan preventif untuk mengurangi kasus narkoba. Maka dari itu, dirinya beserta relawan HRC mulai terjun untuk sosialisasi dari desa ke desa.

Pertama kali menjadi relawan HRC, Intan Safira mengaku, ada hal yang membuat dirinya tak terpikirkan selama ini. “Saya sempat kaget awal kali ikut. Ternyata narkoba dan sejenisnya itu juga banyak diperjualbelikan di desa. Saya pikir di perkotaan saja,” paparnya.

Dari wawasan yang didapat tersebut, Intan beserta teman-temannya semakin yakin untuk memberikan penjelasan bahaya narkoba di warga perdesaan. “Jadi, narkoba itu benar-benar bahaya laten. Karena sampai ke desa,” paparnya.

Dia mengaku, saat sosialisasi ke masyarakat desa banyak yang tidak paham membedakan napza itu apa. Mereka, kata dia, masih tidak paham pil koplo atau sejenisnya. Masih mengira itu obat-obatan biasa. “Jadi, orang desa masih tidak paham, pil untuk obat atau pil napza,” jelasnya.

Intan mengaku, saat sosialisasi rata-rata masyarakat desa itu menanyakan ciri-ciri bila terkena narkoba. Salah satunya, tidak bisa tidur dan kecanduan terus, terus terbayang. Sehingga, dia berharap orang tua juga perlu paham dalam mengawasi anaknya. Hal yang sederhana adalah, bila di kamar atau tas anaknya banyak ditemukan hal ganjal, yaitu ditemukan banyak obat batuk, maka perlu diwaspadai.

Direktur HRC M Arif Ibra menambahkan, Kabupaten Jember kini memiliki rumah rehabilitasi korban penyalahgunaan narkotika dan obat-obat terlarang. “Kehadiran HRC menjadi jawaban keresahan masyarakat atas semakin maraknya kasus penyalahgunaan narkoba dan adiktif gawai di Jember,” katanya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jember menjadi pusat di daerah Tapal Kuda. Pusat ekonomi, juga termasuk pusat pendidikan. Sayangnya, kasus penyalahgunaan narkoba di Jember juga cukup tinggi di daerah Tapal Kuda. Karenanya, untuk mengatasi bahaya laten narkoba dan zat adiktif berbahaya lainnya, tidak sekadar menangkap dan memasukan pelakunya ke penjara. Namun, juga perlu rehabilitasi, hingga upaya pencegahan dengan terus mengedukasi masyarakat.

Humas Habilis Rehabilitation Centre (HRC) Intan Safira mengatakan, terjun menjadi relawan di bidang napza tidak lain karena sinkron dengan jurusan kuliahnya, yaitu Kesejahteraan Sosial (KS) di FISIP Unej. Intan juga berinisiatif mengajak teman-temanya di kampus.

Semangat Intan terjun di relawan HRC dan mengajak teman-temannya tidak lain ingin lingkungannya terhindar dari bahaya napza. “Apalagi jaringan napza ini juga terselubung. Apakah di kampus itu ada pemakainya atau tidak juga tidak tahu juga,” paparnya.

Visi dan misi Intan dan teman-temannya sama, untuk menghindari napza serta bersama ada tindakan preventif untuk mengurangi kasus narkoba. Maka dari itu, dirinya beserta relawan HRC mulai terjun untuk sosialisasi dari desa ke desa.

Pertama kali menjadi relawan HRC, Intan Safira mengaku, ada hal yang membuat dirinya tak terpikirkan selama ini. “Saya sempat kaget awal kali ikut. Ternyata narkoba dan sejenisnya itu juga banyak diperjualbelikan di desa. Saya pikir di perkotaan saja,” paparnya.

Dari wawasan yang didapat tersebut, Intan beserta teman-temannya semakin yakin untuk memberikan penjelasan bahaya narkoba di warga perdesaan. “Jadi, narkoba itu benar-benar bahaya laten. Karena sampai ke desa,” paparnya.

Dia mengaku, saat sosialisasi ke masyarakat desa banyak yang tidak paham membedakan napza itu apa. Mereka, kata dia, masih tidak paham pil koplo atau sejenisnya. Masih mengira itu obat-obatan biasa. “Jadi, orang desa masih tidak paham, pil untuk obat atau pil napza,” jelasnya.

Intan mengaku, saat sosialisasi rata-rata masyarakat desa itu menanyakan ciri-ciri bila terkena narkoba. Salah satunya, tidak bisa tidur dan kecanduan terus, terus terbayang. Sehingga, dia berharap orang tua juga perlu paham dalam mengawasi anaknya. Hal yang sederhana adalah, bila di kamar atau tas anaknya banyak ditemukan hal ganjal, yaitu ditemukan banyak obat batuk, maka perlu diwaspadai.

Direktur HRC M Arif Ibra menambahkan, Kabupaten Jember kini memiliki rumah rehabilitasi korban penyalahgunaan narkotika dan obat-obat terlarang. “Kehadiran HRC menjadi jawaban keresahan masyarakat atas semakin maraknya kasus penyalahgunaan narkoba dan adiktif gawai di Jember,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/