Kisah Istri yang Bantu Suami Kabur saat Jalani Sidang

MUCHAMMAD AINUL BUDI / RADAR JEMBER Foto 1, SAMA-SAMA DI BUI : Tajjudin Oda (baju putih) saat diperiksa sebagai saksi, dan istrinya Atika (rompi orange) berstatus sebagai terdakwa membantu suaminya kabur.

RADARJEMBER.ID – Pengadilan Negeri Jember beberapa waktu lalu sempat heboh. Seorang tahanan narkotika yang tengah menjalani sidang berhasil kabur. Dan rupanya, upaya melarikan diri itu sudah dirancang sebelumnya oleh terdakwa Tajjudin Wafa Oda bersama istrinya.

IKLAN

Kemarin, sang istri juga harus merasakan duduk di kursi pesakitan. Gara-gara ulah nekatnya, dia akhirnya harus juga ikut berurusan dengan para pengadil di meja sidang. Dia didakwa bersekongkol, membantu suaminya kabur.

Sebelum persidangan kemarin, raut wajahnya terlihat gelisah. Memakai hijab warna hitam dan sepertinya ingin meneteskan air mata. Benar saja, saat ditanya hakim ketua selama persidangan, Nurul Atika, 22, warga Semboro, Jember, akhirnya menangis dan dengan lirih menjawab beberapa pertanyaan dari para hakim dalam pemeriksaan saksi Selasa (4/9) di Pengadilan Negeri Jember.

Nurul Atika telah membantu suaminya kabur dari persidangan yang menjerat sang suami di Pengadilan Negeri Jember pada 15 Mei lalu. Suami Atika, yakni Tajjudin Wafa Oda Hasbi, 23, yang juga warga Desa/Kecamatan Semboro, sebelumnya terkena kasus narkotika.

Rencana melarikan diri ini, sudah direncanakan oleh Oda. Bahkan sehari sebelum persidangan, dia sudah menghubungi Atika untuk membawakan baju kemeja. Niat busuk Oda ini sempat ditolak Atika. Karena Atika juga takut apabila dia beserta suami tertangkap melarikan diri.

“Saya takut dimarahi dia. Juga diancam. Katanya, pokoknya kamu harus mau. Kamu jadi istri harus nurut sama suami,” jelas Atika sambil menunduk dalam persidangan.

Dalam kronologinya, usai pembacaan tuntutan Oda atas kasusnya Narkoba (15/5) di dalam ruang persidangan. Atika masuk dengan membawakan kresek berisi baju ganti Oda. Setelah selesai pembacaan tuntutan, Oda membuka rompi tahanan orangenya dan berganti baju pemberian Atika. Saat itu, penjagaan tahanan tidak disertai borgol. Tahanan hanya dikawal dan memakai seragam tahanan. Apalagi, ruang sidang kala itu ramai dengan pengunjung yang masuk.

Atika sendiri sudah menunggu di parkiran, di atas sepeda motor dan bersiap berboncengan untuk kabur. Aksi mereka sempat terekam CCTV PN Jember, dan dari sanalah pihak berwajib mengetahui kalau salah satu tahanan kabur. Mereka berdua akhirnya lari ke arah Rambipuji. Dan menginap di penginapan Yosowilangun, Lumajang, sehari.

“Sebelum kabur istri bawa uang simpanan Rp 600 ribu. Dan juga saya meminjam uang kepada teman saya Rp 2,5 juta untuk alasan bekerja ke Kalimantan. Kerja sebagai buruh tambang,” ungkap Oda.

Usai dari Lumajang, dua sejoli yang sudah memiliki satu buah hati ini, ke kediaman saudaranya yang ada di Malang. Dan akhirnya naik kapal laut dari pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya menuju Desa Kintap, Kecamatan Kintap, Kabupaten Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Persembunyian mereka akhirnya tercium. Tanggal 22 Mei, mereka ditangkap saat sedang tidur terlelap di dalam mess pekerja tambang, pukul 24.00 WITa. “Kami ke Kalimantan hanya bawa identitas surat nikah saja dan sejumlah uang tadi. Kalau baju, kami beli di Malang,” tutur Atika yang selama persidangan meratapi perbuatannya.

Sedangkan si Oda, saat dihadirkan berstatus sebagai saksi kasus membantu pelarian tersebut, tampak sudah biasa menjalani persidangan. Pertanyaan dari hakim, dia jawab dengan lancar, atas kronologi kejadian dan skenarionya. Sebab, sebelum terjerat kasus narkoba dan kabur dari persidangan. Semasa Oda SMA, sudah pernah dibui. Dan kala itu harus mengerjakan ujian nasional dalam sel tahanan Polsek Semboro.

Akibat perbuatan Atika membantu suaminya kabur, menjadikan penghambat proses persidangan dari Oda. Karena Oda tidak menghadiri persidangannya dalam perkara Narkotika. Lanjutan persidangan bacaan tuntutan untuk kasus Atika sendiri akan dilanjutkan pada tanggal 13 September di PN Jember.

Reporter & Fotografer: Muchammad Ainul Budi
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Yerri A Aji

Reporter :

Fotografer :

Editor :