alexametrics
26.7 C
Jember
Saturday, 25 June 2022

Masih Ingat Kasus Dosen Cabul (RH) ? Kini Ada Penambahan Dakwaan!

Sidang Kasus Dosen Cabul Berlanjut Pekan Depan

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jember kembali mengagendakan sidang terdakwa RH, dengan agenda mendengarkan eksepsi atau pembelaan melalui penasihat hukum (PH) terdakwa, kemarin (5/8). Sidang kasus pencabulan yang menyeret dosen nonaktif di salah satu perguruan tinggi di Jember itu berlangsung tertutup di Ruang Sidang Sari PN setempat.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Jember Adik Sri Sumiarsih mengatakan, dalam sidang tersebut, penasihat hukum terdakwa mengajukan eksepsi terhadap surat dakwaan penuntut umum. Sebab, dalam penyidikan Polres Jember, Dosen nonaktif RH dijerat dengan kasus pencabulan. Lalu, dalam fakta persidangan sebelumnya, Rabu (21/7), jaksa mendakwa Dosen nonaktif ini dengan dakwaan alternatif menggunakan pasal Undang-Undang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT). “Dakwaan itu alternatif. Karena beda unsur-unsurnya,” terang Adik.

Penambahan dakwaan itu karena jaksa menilai RH, Dosen nonaktif itu telah melakukan pencabulan terhadap korban yang tak lain adalah kemenakannya sendiri, yang tinggal dalam lingkup keluarga. Korban juga diasuh beberapa tahun oleh Dosen nonaktif ini. Artinya, surat dakwaan alternatif itu dibuat oleh jaksa yang menuduhkan seseorang telah melakukan dua tindak pidana atau lebih, yang mana dalam surat dakwaan alternatif dua tindak pidana tersebut saling mengecualikan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut Adik, penuntut umum diberi pilihan untuk membuktikan dakwaan mana yang terbukti nantinya, sesuai fakta di persidangan, ataupun berdasarkan keterangan saksi-saksi. “Kalau dakwaan yang satu sudah terbukti, untuk dakwaan lainnya tidak perlu kami buktikan lagi,” terangnya saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Jember, kemarin.

Namun, dalam fakta persidangan, kemarin, beber Adik, penasihat hukum terdakwa berpendapat bahwa tidak ada unsur perbuatan melanggar hukum. Karena itu, memohon kepada hakim untuk menolak semua dakwaan penuntut umum. Sementara itu, penasihat hukum RH, Ansorul, enggan menanggapi hasil sidang itu saat Jawa Pos Radar Jember mencoba mengonfirmasinya.

- Advertisement -

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jember kembali mengagendakan sidang terdakwa RH, dengan agenda mendengarkan eksepsi atau pembelaan melalui penasihat hukum (PH) terdakwa, kemarin (5/8). Sidang kasus pencabulan yang menyeret dosen nonaktif di salah satu perguruan tinggi di Jember itu berlangsung tertutup di Ruang Sidang Sari PN setempat.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Jember Adik Sri Sumiarsih mengatakan, dalam sidang tersebut, penasihat hukum terdakwa mengajukan eksepsi terhadap surat dakwaan penuntut umum. Sebab, dalam penyidikan Polres Jember, Dosen nonaktif RH dijerat dengan kasus pencabulan. Lalu, dalam fakta persidangan sebelumnya, Rabu (21/7), jaksa mendakwa Dosen nonaktif ini dengan dakwaan alternatif menggunakan pasal Undang-Undang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT). “Dakwaan itu alternatif. Karena beda unsur-unsurnya,” terang Adik.

Penambahan dakwaan itu karena jaksa menilai RH, Dosen nonaktif itu telah melakukan pencabulan terhadap korban yang tak lain adalah kemenakannya sendiri, yang tinggal dalam lingkup keluarga. Korban juga diasuh beberapa tahun oleh Dosen nonaktif ini. Artinya, surat dakwaan alternatif itu dibuat oleh jaksa yang menuduhkan seseorang telah melakukan dua tindak pidana atau lebih, yang mana dalam surat dakwaan alternatif dua tindak pidana tersebut saling mengecualikan.

Menurut Adik, penuntut umum diberi pilihan untuk membuktikan dakwaan mana yang terbukti nantinya, sesuai fakta di persidangan, ataupun berdasarkan keterangan saksi-saksi. “Kalau dakwaan yang satu sudah terbukti, untuk dakwaan lainnya tidak perlu kami buktikan lagi,” terangnya saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Jember, kemarin.

Namun, dalam fakta persidangan, kemarin, beber Adik, penasihat hukum terdakwa berpendapat bahwa tidak ada unsur perbuatan melanggar hukum. Karena itu, memohon kepada hakim untuk menolak semua dakwaan penuntut umum. Sementara itu, penasihat hukum RH, Ansorul, enggan menanggapi hasil sidang itu saat Jawa Pos Radar Jember mencoba mengonfirmasinya.

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jember kembali mengagendakan sidang terdakwa RH, dengan agenda mendengarkan eksepsi atau pembelaan melalui penasihat hukum (PH) terdakwa, kemarin (5/8). Sidang kasus pencabulan yang menyeret dosen nonaktif di salah satu perguruan tinggi di Jember itu berlangsung tertutup di Ruang Sidang Sari PN setempat.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Jember Adik Sri Sumiarsih mengatakan, dalam sidang tersebut, penasihat hukum terdakwa mengajukan eksepsi terhadap surat dakwaan penuntut umum. Sebab, dalam penyidikan Polres Jember, Dosen nonaktif RH dijerat dengan kasus pencabulan. Lalu, dalam fakta persidangan sebelumnya, Rabu (21/7), jaksa mendakwa Dosen nonaktif ini dengan dakwaan alternatif menggunakan pasal Undang-Undang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT). “Dakwaan itu alternatif. Karena beda unsur-unsurnya,” terang Adik.

Penambahan dakwaan itu karena jaksa menilai RH, Dosen nonaktif itu telah melakukan pencabulan terhadap korban yang tak lain adalah kemenakannya sendiri, yang tinggal dalam lingkup keluarga. Korban juga diasuh beberapa tahun oleh Dosen nonaktif ini. Artinya, surat dakwaan alternatif itu dibuat oleh jaksa yang menuduhkan seseorang telah melakukan dua tindak pidana atau lebih, yang mana dalam surat dakwaan alternatif dua tindak pidana tersebut saling mengecualikan.

Menurut Adik, penuntut umum diberi pilihan untuk membuktikan dakwaan mana yang terbukti nantinya, sesuai fakta di persidangan, ataupun berdasarkan keterangan saksi-saksi. “Kalau dakwaan yang satu sudah terbukti, untuk dakwaan lainnya tidak perlu kami buktikan lagi,” terangnya saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Jember, kemarin.

Namun, dalam fakta persidangan, kemarin, beber Adik, penasihat hukum terdakwa berpendapat bahwa tidak ada unsur perbuatan melanggar hukum. Karena itu, memohon kepada hakim untuk menolak semua dakwaan penuntut umum. Sementara itu, penasihat hukum RH, Ansorul, enggan menanggapi hasil sidang itu saat Jawa Pos Radar Jember mencoba mengonfirmasinya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/